12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepeda, Sejarah dan “Si Taluh Mica”

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
June 28, 2020
in Tualang
Sepeda, Sejarah dan “Si Taluh Mica”

Sepeda, Sejarah dan “Si Taluh Mica” - Cok Bayu Putra

Ubud sore hari lebih cerah dari biasanya. Sesaknya Catuspata Ubud oleh para wisatawan dan kendaraan bermotor tampak tak terlihat. Maklum, sudah tiga bulan semenjak Puri Ubud dan Pasar Seni ditutup akibat ancaman Virus Corona, geliat kepariwisataan di Ubud semakin menurun. Banyak hotel, restoran, butik, dan warung makan menghentikan aktivitas operasionalnnya. Kondisi ini berdampak pada kelangsungan hidup ratusan masyarakat Ubud yang menggantungkan hidupnya pada ”kue” pariwisata. Oleh karenanya, dalam beberapa bulan terakhir Desa Adat disibukkan pada upaya pendistribusian bantuan sosial kepada Krama Adat. Lengangnya ruas jalan protokol Ubud menarik minat banyak khalayak untuk melintasi sepinya jalan dengan berlari dan bersepeda santai, begitu juga dengan Saya.

Berangkat dari Ancak Saji Puri Agung Ubud, Saya bersama tiga saudara lainnya  mengayuh sepeda menuju kearah timur melintasi beberapa batas Desa. Jalanan Ubud yang naik turun memaksa Saya harus mengatur ritme nafas agar tetap stabil. Mendekati batas Desa Peliatan, Kami berbelok kearah selatan melintasi Pura Dalem Puri. Melihat megahnya “Pemuwunan Setra” dan “Candi Bentar” Pura Dalem Puri,sempat terlintas dalam benak Saya “inilah tempat peristirahatan terakhir-Ku kelak, heheee”. Konon, dari beberapa informasi para Penglingsir, Saya mendengar keberadaan Pura Dalem Puri di Sukawati dan di Peliatan diidentikkan dengan bhisama yang diterima oleh seketurunan Ida Dewa Agung Jambe untuk senantiasa eling mendirikan Parhyangan Dalem Puri sebagai bentuk sradha bakti kehadapan Ida Bhatara Dalem Puri di Besakih. Khusus untuk Pura Dalem Puri di Peliatan, konon struktur lengkapnya dibangun pada saat pemerintahan I Dewa Agung Jelantik di Puri Peliatan dan Tjokorda Gde Putu di Puri Ubud. Walaupun informasi tersebut patut dicek keabsahan datanya, namun sampai saat ini hubungan emosional dan sembah bhakti Keluarga Puri Ubud dan Puri Peliatan kehadapan Ida Bhatara Dalem Puri masih berjalan dengan baik.

Sepeda melaju dengan sangat kencang dikarenakan, jalanan Peliatan keselatan sedikit menurun dan akhirnya Saya masuk pada batas Desa Mas. Jalanan terlihat lebih lebar, dengan kuantitas kendaraan yang jauh lebih sedikit daripada Peliatan. Seperti halnya Peliatan, jalanan di Desa Mas lebih landai dan menurun keselatan, sehingga dengan cepat Saya sampai di jantung Desa Mas yang dahulu oleh beberapa catatan sejarah dikenal dengan sebutan “Bumi Mas”. Di Pusat Desa, Saya menyempatkan menghadap ke timur melihat dari kejauhan Pura Taman Pule, Pura yang selalu ramai dipadati Umat setiap hari Raya Kuningan. Keberadaannya dihubungkan dengan Tokoh Tabik Pakulun Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta suci yang juga penasehat Raja Bali Tabik Pakulun Dalem Waturenggong. Konon dahulu, di Pura Taman Pula itulah Pangeran Bandesa Manik Mas mendirikan pasraman untuk Ida Dang Hyang Nirartha. Maka tak heran, setiap pujawali Pura Taman Pule selalu padat dikunjungi oleh Umat Sedharma, utamanya para warih Ida Dang Hyang Nirartha dan Pangeran Bandesa Manik Mas seluruh Bali. Seratus meter kearah selatan dari Pura Taman Pule, terlihat Puri Agung Mas yang bersebelahan dengan Pasar Desa (sebuah tata desa yang masih bertahan antara Catuspata, Puri, Pasar, dan Bencingah).

Seperti biasa setiap melintas didepan Puri Agung Mas, Saya selalu teringat akan cerita perjalanan leluhur Saya (Tabik Pakulun Ida Tjokorda Gde Putu Kandel–dinasti I Puri Agung Ubud). Dalam salah satu Babad, disebutkan bahwa setelah Ida Dewa Agung Made Agung menempati Peliatan dan mendirikan Keraton disana, putra Beliau (Ida Tjokorda Gde Putu Kandel) ditempatkan sementara di Puri Mas sebelum akhirnya mendiami Ubud. Walupun yang namanya Babad cukup jauh mengandung unsur kepastian, namun perasaan Saya selalu ada yang memanggil setiap melewati Puri Agung Mas. Selanjutnya di Catuspata Desa Mas, Saya berbelok menuju arah barat melintasi Griya Gede Mas. Di Jaba Griya terlihat sangat padat oleh kendaraan yang parkir, mungkin banyak umat yang sedang mewacak. Mewacak yang diidentikkan dengan istilah metenung merupakan rangkaian upacara mebayuh, dimana sebelum sesorang dibayuh biasanya diwacak atau ditenung oleh seorang pemangku, balian, atau pedanda.

Matahari semakin turun dan menabrak wajah dari arah Barat, Saya pun pantang untuk teriak “lelah”. Dari Desa Mas, Saya menuju Pengosekan dan akhirnya masuk kebatas Desa Singakerta sebelah timur. Seperti biasa, disetiap batas desa terlihat Baliho Satgas Gotong Royong Covid-19 Desa Adat memberikan himbauan bagi pengendara untuk menggunakan masker. Memang Covid-19 sedikit membawa perubahan pola hidup baru bagi kita semua dengan wajib menggunakan masker, mencuci tangan dan mengatur jarak satu sama lainnya. Jujur, secara pribadi Saya masih ragu sampai kapan pola hidup baru tersebut akan ditaati oleh masyarakat Bali. Jalanan Singakerta sore itu cukup lengang sehingga dengan cepat Saya sampai di Bale Banjar Katiklantang dan selanjutnya turun kebarat menuju Desa Sayan memasuki jalan setapak persawahan yang dikenal dengan “Jalan Subak”.

Rasa lelah seakan terbayarkan oleh hijaunya hamparan sawah yang membentang luas. Saya pun menyempatkan mengabadikan moment indah ini untuk berfoto ria. Seperti diketahui bahwa wilayah Desa Singakerta dan Desa Sayan masih didominasi oleh luasnya areal sawah produktif. Masyarakat pun hampir 70% menggantungkan hidupnya pada pertanian. Pura Masceti di Desa Adat Sayan dianggap sebagai Simbol pemujaan masyarakat agraris kehadapan Ida Bhatara Sri. Di Luar Krama Subak, keberadaan Pura Masceti tersebut juga dipercaya memberikan kemakmuran bagi seluruh masyarakat di empat Desa Adat yang berada di dua wilayah administrasif Desa (Sayan dan Singakerta), yaitu; Desa Adat Sayan, Desa Adat Penestanan, Desa Adat Tebongkang, dan Desa Adat Singakerta. Secara historis, setelah berakhirnya “Perang Negara” yang dimenangkan oleh Ubud, seluruh wilayah-wilayah tersebut berada pada naungan Punggawa Ubud melalui Mancagra Sayan. Sayan sore itu tampak lebih sepi dari biasanya, dikarenakan semenjak Pandemi Covid-19 banyak hotel-hotel elite di pinggiran Sungai Ayung yang tutup. Akhirnya Saya sampai diujung selatan Pasar Desa Sayan dan memutar haluan menuju kearah barat menyusuri hamparan Tegalan yang sangat luas dan berbukit-bukit. Oleh banyak orang wilayah tersebut dikenal dengan nama “Tegal Djambangan”.

Panorama alam Tegal Djambangan sungguh menggoda mata walau dari kejauhan tampak Sang Surya mulai menurun. Seakan hari akan semakin gelap, Saya pun mempercepat ayunan sepeda walau sesekali bokong terasa sakit karena jalanan Tegal Djambangan dipenuhi batu dan berkerikil. Ditengah semaknya areal Tegal Djambangan, Saya teringat akan salah satu Pelinggih di Pemrajan Ageng Puri Saren Kangin Ubud. Tepat ditengah-tengahnya terdapat Pelinggih Pepelik yang pada bagian bawahnya bertuliskan tulisan paras “Djambangan”. Konon, dijamannya pendirian pelinggih ini dibantu oleh beberapa masyarakat yang menghuni Tegal Djambangan. Sekilas diketahui bahwa Pemrajan Ageng Puri Saren Kangin Ubud merupakan tempat pemujaan tua yang dibangun oleh Dinasti I Puri Agung Ubud, Ida Tjokorda Gde Putu Kandel.

Sekeluarnya dari areal Tegal Djambangan, Saya memutar Sepeda menuju kearah utara menelusuri wilayah Baung. Banjar Baung yang masih merupakan bagian dari Desa Adat Sayan dalam catatan sejarah dihuni oleh masyarakat yang sebelumnya eksodus dari wilayah Taro. Konon, keberadaan Pura Sakti di Banjar Baung dianggap sebagai sebuah perlambang pemersatu masyarakat Baung dan tempat menstanakan berbagai perlambang yang dahulunya dibawa dari Taro. Laju sepeda berjalan mulai melambat dan terasa cukup melelahkan, maklum sudah satu jam setengah Saya belum sempat beristirahat. Akhirnya Saya dan rombongan memutuskan beristirahat sejenak dijaba sisi Pura Nagasari yang berada di areal wewidangan Banjar Kutuh, Desa Adat Sayan. Pada papan nama yang terletak di Jaba Sisi terpatri “Pura Dang Kahyangan Nagasari”. Mungkin dahulu keberadaannya dihubungkan dengan perjalanan seorang Pendeta Suci yang melintasi pinggiran Sungai Ayung. Di tempat peristirahatan tersebut, Saya dan rombongan bersepakat setelah sesampainya di Ubud akan bersama-sama menyantap “Taluh Mica” (telur ayam kampung yang direbus setengah matang dan dicampur dengan merica bubuk). Sekedar diketahui semenjak Pandemi Covid-19 melanda Ubud, banyak kemudian bermunculan usaha kerakyatan masyarakat lokal dipinggiran jalan Desa Ubud, salah satunya termasuk dagang “Taluh Mica” di Bencingah Puri Ubud.

Rasa haus, lapar dan ketidaksabaran melahap “Si Taluh Mica” membuat Saya mempercepat lagi ayunan langkah Sepeda walupun melewati naik turunnya jalanan Tjampuhan, Ubud. Baju terlihat sudah berubah warna menjadi gelap oleh derasnya kucuran keringat yang membasahi tubuh. Dari kejauhan tampak terlihat megahnya Bale Tegeh Puri Agung Ubud dan gemerlap lampu Catuspata Ubud. Dan akhirnya, Saya tiba di tempat finish (Ancak Saji Puri Agung Ubud). Fushhhhhh,,,,,!!!! dua jam sudah Saya dan keluarga berkeliling, kini saatnya melahap “Si Taluh Mica”. Tak menunggu lama Saya segera memanggil Si Dagang Taluh yang berjualan tepat di Bencingah Puri “Bli taluh mica telung porsi nggih”. Tak disangka dengan cepat pula Dia menjawab “ampura telas nike”,,,,, Waduhhhhhh!!!!, sedih rasanya batin ini yang dinanti tak bisa hadir. Sungguh perjalanan yang menyenangkan bagi Saya sore itu, walau tak berakhir pada santapan Si Taluh Mica.

Salam sehat,,,

Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Membaca Prasasti Bali

Next Post

Dukung Musik dan Pertunjukan Bali di New Normal – berawal dari pesan berujung gotong royong membangun panggung

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Dukung Musik dan Pertunjukan Bali di New Normal – berawal dari pesan berujung gotong royong membangun panggung

Dukung Musik dan Pertunjukan Bali di New Normal - berawal dari pesan berujung gotong royong membangun panggung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co