3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepeda, Sejarah dan “Si Taluh Mica”

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
June 28, 2020
in Tualang
Sepeda, Sejarah dan “Si Taluh Mica”

Sepeda, Sejarah dan “Si Taluh Mica” - Cok Bayu Putra

Ubud sore hari lebih cerah dari biasanya. Sesaknya Catuspata Ubud oleh para wisatawan dan kendaraan bermotor tampak tak terlihat. Maklum, sudah tiga bulan semenjak Puri Ubud dan Pasar Seni ditutup akibat ancaman Virus Corona, geliat kepariwisataan di Ubud semakin menurun. Banyak hotel, restoran, butik, dan warung makan menghentikan aktivitas operasionalnnya. Kondisi ini berdampak pada kelangsungan hidup ratusan masyarakat Ubud yang menggantungkan hidupnya pada ”kue” pariwisata. Oleh karenanya, dalam beberapa bulan terakhir Desa Adat disibukkan pada upaya pendistribusian bantuan sosial kepada Krama Adat. Lengangnya ruas jalan protokol Ubud menarik minat banyak khalayak untuk melintasi sepinya jalan dengan berlari dan bersepeda santai, begitu juga dengan Saya.

Berangkat dari Ancak Saji Puri Agung Ubud, Saya bersama tiga saudara lainnya  mengayuh sepeda menuju kearah timur melintasi beberapa batas Desa. Jalanan Ubud yang naik turun memaksa Saya harus mengatur ritme nafas agar tetap stabil. Mendekati batas Desa Peliatan, Kami berbelok kearah selatan melintasi Pura Dalem Puri. Melihat megahnya “Pemuwunan Setra” dan “Candi Bentar” Pura Dalem Puri,sempat terlintas dalam benak Saya “inilah tempat peristirahatan terakhir-Ku kelak, heheee”. Konon, dari beberapa informasi para Penglingsir, Saya mendengar keberadaan Pura Dalem Puri di Sukawati dan di Peliatan diidentikkan dengan bhisama yang diterima oleh seketurunan Ida Dewa Agung Jambe untuk senantiasa eling mendirikan Parhyangan Dalem Puri sebagai bentuk sradha bakti kehadapan Ida Bhatara Dalem Puri di Besakih. Khusus untuk Pura Dalem Puri di Peliatan, konon struktur lengkapnya dibangun pada saat pemerintahan I Dewa Agung Jelantik di Puri Peliatan dan Tjokorda Gde Putu di Puri Ubud. Walaupun informasi tersebut patut dicek keabsahan datanya, namun sampai saat ini hubungan emosional dan sembah bhakti Keluarga Puri Ubud dan Puri Peliatan kehadapan Ida Bhatara Dalem Puri masih berjalan dengan baik.

Sepeda melaju dengan sangat kencang dikarenakan, jalanan Peliatan keselatan sedikit menurun dan akhirnya Saya masuk pada batas Desa Mas. Jalanan terlihat lebih lebar, dengan kuantitas kendaraan yang jauh lebih sedikit daripada Peliatan. Seperti halnya Peliatan, jalanan di Desa Mas lebih landai dan menurun keselatan, sehingga dengan cepat Saya sampai di jantung Desa Mas yang dahulu oleh beberapa catatan sejarah dikenal dengan sebutan “Bumi Mas”. Di Pusat Desa, Saya menyempatkan menghadap ke timur melihat dari kejauhan Pura Taman Pule, Pura yang selalu ramai dipadati Umat setiap hari Raya Kuningan. Keberadaannya dihubungkan dengan Tokoh Tabik Pakulun Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta suci yang juga penasehat Raja Bali Tabik Pakulun Dalem Waturenggong. Konon dahulu, di Pura Taman Pula itulah Pangeran Bandesa Manik Mas mendirikan pasraman untuk Ida Dang Hyang Nirartha. Maka tak heran, setiap pujawali Pura Taman Pule selalu padat dikunjungi oleh Umat Sedharma, utamanya para warih Ida Dang Hyang Nirartha dan Pangeran Bandesa Manik Mas seluruh Bali. Seratus meter kearah selatan dari Pura Taman Pule, terlihat Puri Agung Mas yang bersebelahan dengan Pasar Desa (sebuah tata desa yang masih bertahan antara Catuspata, Puri, Pasar, dan Bencingah).

Seperti biasa setiap melintas didepan Puri Agung Mas, Saya selalu teringat akan cerita perjalanan leluhur Saya (Tabik Pakulun Ida Tjokorda Gde Putu Kandel–dinasti I Puri Agung Ubud). Dalam salah satu Babad, disebutkan bahwa setelah Ida Dewa Agung Made Agung menempati Peliatan dan mendirikan Keraton disana, putra Beliau (Ida Tjokorda Gde Putu Kandel) ditempatkan sementara di Puri Mas sebelum akhirnya mendiami Ubud. Walupun yang namanya Babad cukup jauh mengandung unsur kepastian, namun perasaan Saya selalu ada yang memanggil setiap melewati Puri Agung Mas. Selanjutnya di Catuspata Desa Mas, Saya berbelok menuju arah barat melintasi Griya Gede Mas. Di Jaba Griya terlihat sangat padat oleh kendaraan yang parkir, mungkin banyak umat yang sedang mewacak. Mewacak yang diidentikkan dengan istilah metenung merupakan rangkaian upacara mebayuh, dimana sebelum sesorang dibayuh biasanya diwacak atau ditenung oleh seorang pemangku, balian, atau pedanda.

Matahari semakin turun dan menabrak wajah dari arah Barat, Saya pun pantang untuk teriak “lelah”. Dari Desa Mas, Saya menuju Pengosekan dan akhirnya masuk kebatas Desa Singakerta sebelah timur. Seperti biasa, disetiap batas desa terlihat Baliho Satgas Gotong Royong Covid-19 Desa Adat memberikan himbauan bagi pengendara untuk menggunakan masker. Memang Covid-19 sedikit membawa perubahan pola hidup baru bagi kita semua dengan wajib menggunakan masker, mencuci tangan dan mengatur jarak satu sama lainnya. Jujur, secara pribadi Saya masih ragu sampai kapan pola hidup baru tersebut akan ditaati oleh masyarakat Bali. Jalanan Singakerta sore itu cukup lengang sehingga dengan cepat Saya sampai di Bale Banjar Katiklantang dan selanjutnya turun kebarat menuju Desa Sayan memasuki jalan setapak persawahan yang dikenal dengan “Jalan Subak”.

Rasa lelah seakan terbayarkan oleh hijaunya hamparan sawah yang membentang luas. Saya pun menyempatkan mengabadikan moment indah ini untuk berfoto ria. Seperti diketahui bahwa wilayah Desa Singakerta dan Desa Sayan masih didominasi oleh luasnya areal sawah produktif. Masyarakat pun hampir 70% menggantungkan hidupnya pada pertanian. Pura Masceti di Desa Adat Sayan dianggap sebagai Simbol pemujaan masyarakat agraris kehadapan Ida Bhatara Sri. Di Luar Krama Subak, keberadaan Pura Masceti tersebut juga dipercaya memberikan kemakmuran bagi seluruh masyarakat di empat Desa Adat yang berada di dua wilayah administrasif Desa (Sayan dan Singakerta), yaitu; Desa Adat Sayan, Desa Adat Penestanan, Desa Adat Tebongkang, dan Desa Adat Singakerta. Secara historis, setelah berakhirnya “Perang Negara” yang dimenangkan oleh Ubud, seluruh wilayah-wilayah tersebut berada pada naungan Punggawa Ubud melalui Mancagra Sayan. Sayan sore itu tampak lebih sepi dari biasanya, dikarenakan semenjak Pandemi Covid-19 banyak hotel-hotel elite di pinggiran Sungai Ayung yang tutup. Akhirnya Saya sampai diujung selatan Pasar Desa Sayan dan memutar haluan menuju kearah barat menyusuri hamparan Tegalan yang sangat luas dan berbukit-bukit. Oleh banyak orang wilayah tersebut dikenal dengan nama “Tegal Djambangan”.

Panorama alam Tegal Djambangan sungguh menggoda mata walau dari kejauhan tampak Sang Surya mulai menurun. Seakan hari akan semakin gelap, Saya pun mempercepat ayunan sepeda walau sesekali bokong terasa sakit karena jalanan Tegal Djambangan dipenuhi batu dan berkerikil. Ditengah semaknya areal Tegal Djambangan, Saya teringat akan salah satu Pelinggih di Pemrajan Ageng Puri Saren Kangin Ubud. Tepat ditengah-tengahnya terdapat Pelinggih Pepelik yang pada bagian bawahnya bertuliskan tulisan paras “Djambangan”. Konon, dijamannya pendirian pelinggih ini dibantu oleh beberapa masyarakat yang menghuni Tegal Djambangan. Sekilas diketahui bahwa Pemrajan Ageng Puri Saren Kangin Ubud merupakan tempat pemujaan tua yang dibangun oleh Dinasti I Puri Agung Ubud, Ida Tjokorda Gde Putu Kandel.

Sekeluarnya dari areal Tegal Djambangan, Saya memutar Sepeda menuju kearah utara menelusuri wilayah Baung. Banjar Baung yang masih merupakan bagian dari Desa Adat Sayan dalam catatan sejarah dihuni oleh masyarakat yang sebelumnya eksodus dari wilayah Taro. Konon, keberadaan Pura Sakti di Banjar Baung dianggap sebagai sebuah perlambang pemersatu masyarakat Baung dan tempat menstanakan berbagai perlambang yang dahulunya dibawa dari Taro. Laju sepeda berjalan mulai melambat dan terasa cukup melelahkan, maklum sudah satu jam setengah Saya belum sempat beristirahat. Akhirnya Saya dan rombongan memutuskan beristirahat sejenak dijaba sisi Pura Nagasari yang berada di areal wewidangan Banjar Kutuh, Desa Adat Sayan. Pada papan nama yang terletak di Jaba Sisi terpatri “Pura Dang Kahyangan Nagasari”. Mungkin dahulu keberadaannya dihubungkan dengan perjalanan seorang Pendeta Suci yang melintasi pinggiran Sungai Ayung. Di tempat peristirahatan tersebut, Saya dan rombongan bersepakat setelah sesampainya di Ubud akan bersama-sama menyantap “Taluh Mica” (telur ayam kampung yang direbus setengah matang dan dicampur dengan merica bubuk). Sekedar diketahui semenjak Pandemi Covid-19 melanda Ubud, banyak kemudian bermunculan usaha kerakyatan masyarakat lokal dipinggiran jalan Desa Ubud, salah satunya termasuk dagang “Taluh Mica” di Bencingah Puri Ubud.

Rasa haus, lapar dan ketidaksabaran melahap “Si Taluh Mica” membuat Saya mempercepat lagi ayunan langkah Sepeda walupun melewati naik turunnya jalanan Tjampuhan, Ubud. Baju terlihat sudah berubah warna menjadi gelap oleh derasnya kucuran keringat yang membasahi tubuh. Dari kejauhan tampak terlihat megahnya Bale Tegeh Puri Agung Ubud dan gemerlap lampu Catuspata Ubud. Dan akhirnya, Saya tiba di tempat finish (Ancak Saji Puri Agung Ubud). Fushhhhhh,,,,,!!!! dua jam sudah Saya dan keluarga berkeliling, kini saatnya melahap “Si Taluh Mica”. Tak menunggu lama Saya segera memanggil Si Dagang Taluh yang berjualan tepat di Bencingah Puri “Bli taluh mica telung porsi nggih”. Tak disangka dengan cepat pula Dia menjawab “ampura telas nike”,,,,, Waduhhhhhh!!!!, sedih rasanya batin ini yang dinanti tak bisa hadir. Sungguh perjalanan yang menyenangkan bagi Saya sore itu, walau tak berakhir pada santapan Si Taluh Mica.

Salam sehat,,,

Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Membaca Prasasti Bali

Next Post

Dukung Musik dan Pertunjukan Bali di New Normal – berawal dari pesan berujung gotong royong membangun panggung

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails
Next Post
Dukung Musik dan Pertunjukan Bali di New Normal – berawal dari pesan berujung gotong royong membangun panggung

Dukung Musik dan Pertunjukan Bali di New Normal - berawal dari pesan berujung gotong royong membangun panggung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co