3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muda Berbagi: Urun Daya Anak Muda Bali Utara Hadapi Corona

Julio Saputra by Julio Saputra
July 1, 2020
in Khas
Muda Berbagi: Urun Daya Anak Muda Bali Utara Hadapi Corona

“Berbagi: memberi tanpa pamrih kepada sesama yang membutuhkan” – Satya

Kamis, 9 April 2020, 15 menit sebelum jam 11 malam, di salah satu grup Whastapp yang saya miliki, salah seorang teman mengirimkan sebuah poster lengkap dengan segala keterangan yang menyertainya. Poster tersebut berisikan informasi tentang sebuah gerakan sosial bernama Muda Berbagi yang mengajak siapa saja untuk ikut berdonasi, saling mengulurkan tangan, menggalang dana secara sukarela untuk membantu kebutuhan ekonomi masyarakat kecil dan pekerja informal yang terdampak Covid-19 di Bali Utara. Sekilas saya membaca nama-nama yang terpampang di sana satu per satu. Sungguh, nama-nama tersebut terasa sangat tidak asing bagi saya, mulai dari nama-nama pemilik bank yang digunakan untuk menerima donasi sampai nama-nama narahubung yang bisa dihubungi. Setelah memutar otak beberapa saat, barulah saya ingat. Mereka semua adalah adik-adik kelas saya dulu semasa duduk di bangku putih abu di SMA Negeri 1 Singaraja, salah satu sekolah unggulan kebanggan kota di utara peta. Wah, dipikir-pikir mantap betul mereka ini. Saya pun akhirnya ikut membagikan poster tersebut ke semua grup yang ada di semua laman media sosial yang saya punya. Hitung-hitung sambil membantu mereka juga. Berdonasi tidaknya saya biarkan saya dan Tuhan yang tahu.

Jujur saya juga penasaran dengan gerakan yang mereka buat. Saya pun akhirnya tertarik untuk tahu lebih jauh tentang gerakan sosial yang dibuat oleh adik-adik kelas saya itu. Layaknya seorang wakil rakyat kondang yang konon gemar memantau situasi dan kondisi di lapangan, saya mulai memantau tipis-tipis, mencari tahu segala sesuatu tentang gerakan mereka. Awalnya hanya lewat akun Instagram atas nama Muda Berbagi yang mereka buat, pun akun Instagram pribadi mereka masing-masing. Sampai akhirnya pada minggu terakhir di bulan Mei, saya mengobrol lewat pesan Whastapp bersama Satya Nugraha, kordinator Muda Berbagi yang pertama kali memprakarsai terbentuknya gerakan sosial tersebut. Saya japri nomornya, sambil bertanya kabar seperti “Kengken kabare?” dan semacamnya.

Obrolan saya bersama Satya kala itu bisa dikatakan sebagai obrolan yang anyar, alias obrolan pertama yang pernah kami lakukan sejak sama-sama menjalani pendidikan di almamater yang sama. Saya kakak kelasnya, satu tingkat di atas angkatannya. Saya juga pernah ikut menjadi panitia masa orientasi sekolah untuk angkatannya. Tapi tak satu pun ingatan saya mengatakan saya pernah berbicara sepatah dua patah kata dengannya. Yang saya ingat kita hanya saling tahu. Ia tahu saya kakak kelasnya dan ia menyapa saya dengan sebutan “Bli”, sapaan khas orang Bali yang ditujukan bagi laki-laki yang dituakan. Saya pun tahu ia adalah adik tingkat saya. Saya ingat betul kelihaiannya bermain futsal yang menjadikannya salah satu pemain inti tim futsal di sekolah. Ia juga pernah menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang selalu sigap bersiaga di belakang barisan siswa saat upacara bendera, jaga-jaga jika ada yang sakit dan jatuh pingsan karena lemas dan lupa sarapan atau karena memang sudah sakit dari awal tapi terlalu dipaksakan.

Terbentuknya Muda Berbagi

Menurut penuturannya, di awal bulan April kemarin, tepatnya pada tanggal 4, 5, dan 6, ia mengumpulkan dan mengajak beberapa teman seangkatannya semasa SMA untuk membahas sebuah gerakan sosial dan edukasi di tengah pandemi Covid-19 yang sedang mewabah. Pembahasan awal mereka untuk membentuk sebuah gerakan bisa dikatakan matang dan mengakar. Penyebaran virus corona di Indonesia terus meluas bahkan sampai saat ini. Ribuan orang dinyatakan positif terjangkit Covid-19 dan mau tak mau harus berada dalam pengawasan. Parahnya lagi, ratusan orang telah meninggal dunia. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, sudah berupaya menurunkan resiko penularan dengan mengimbau masyarakat untuk bekerja dan beraktivitas dari rumah. Salah satu langkah pemerintah yang tentu saja harus diapreasiasi.

Akan tetapi, ada hal penting lainnya yang juga dirasa harus dipahami oleh siapapun. Di luar sana, banyak masyarakat kecil dan pekerja sektor informal yang mau tidak mau harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak hanya karena sifat pekerjaan yang mengharuskan mereka berada di lapangan, tapi juga karena kemampuan ekonomi yang mereka miliki. Mereka harus bekerja untuk membuat kebutuhan dapur tetap terpenuhi. Tergerak dari kenyataan tersebut, mereka akhirnya membentuk gerakan sosial dan edukasi bernama Muda Berbagi dengan mengajak siapapun untuk membantu kebutuhan ekonomi masyarakat kecil dan pekerja sektor informal yang rawan terdampak Covid-19. Alasan dibalik nama Muda Berbagi rasanya sudah bisa diprediksi. Satya dan teman-temannya adalah anak-anak muda, bujang, perjaka tentu saja belum menikah, dan garis besar pergerakan mereka adalah berbagi sumbangsih, pikiran, tenaga, bahkan materi yang dapat meringakan beban masyarakt terdampak Covid-19.

Gerakan Muda Berbagi sejatinya merupakan adopsi dari gerakan yang diikuti Satya sewaktu menjalani pendidikan profesi di Yogyakarta. Di sana, ia juga mengikuti gerakan serupa, yaitu memberi bantuan dan edukasi kepada masyarakat terdampak Covid-19. Sayangnya, ia terpaksa pulang ke Bali, ke rumahnya di Singaraja karena pandemi yang semakin menjadi-jadi. Ia pun kemudian memutuskan untuk meimplementasikan gerakan tersebut di daerahnya sendiri dengan berbagai pembaharuan yang ia canangkan bersama teman-temannya.

Anggota Muda Berbagi pun boleh dikatakan sedikit. Di awal pembentukannya, Muda Berbagi hanya terdiri dari 7 orang saja, termasuk Satya di dalamnya. Saat ini, jumlah anggotanya juga tak jauh berbeda, hanya bertambah 3 orang, sehingga total anggota Muda Berbagi menjadi 10 orang. Jumlah anggota mereka memang sangat sedikit, sebab dari awal mereka memang sengaja tidak mengadakan open recruitment volunteer. Mereka tidak ingin membuat sebuah perkumpulan yang jumlah orangnya banyak. Di samping untuk memudahkan kordinasi, juga agar lebih gampang mematuhi protocol kesehatan untuk mencegah Covid-19, yaitu salah satunya physical dan social distancing. Karena itu, mereka akan melakukan segala kegiatannya sesuai kemampuan dan kapasitas mereka.

Satya dan teman-temannya memulai gerakan Muda Berbagi dengan menggalang dana dari uang saku mereka sendiri, sekitar Rp.50.000 sampai Rp.100.000, dan akhirnya terkumpul Rp.750.000. Mereka kemudian bergerak mensurvey harga, membeli sembako, dilanjutkan dengan turun ke jalan di seputaran Kota Singaraja memberikan sembako tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti pekerja harian, buruh, pemulung, lansia, atau masyarakat lainnya yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Mereka juga menyebar lefleat (selembar kertas yang dilipat-lipat, mirip brosur) yang berisikan informasi mengenai pencegahan Covid-19. Tak hanya itu, mereka pun turut menyosialisasikan cara cuci tangan yang baik dan benar. Itulah penerjunan pertama mereka ke lapangan dan menjadi salah satu hal yang berkesan bagi mereka. Tentu saja mereka tetap mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah, seperti jaga jarak, cuci tangan, dan menggunakan masker.

Kehadiran Muda Berbagi tentu disambut dengan baik oleh masyarakat sekitar. Kebetulan, aksi sosial yang berfokus pada masyarakat kecil dan tidak mampu terdampak Covid-19 belum begitu banyak dilaksanakan di Singaraja. Di samping itu, Muda Berbagi tidak hanya menyalurkan dan membagikan bantuan, tetapi juga menyebar lefleat dan memberikan edukasi pencegahan Covid-19 yang tentu saja diharapkan dapat memutus rantai penyebarannya. Mereka punyai nilai plus di sana.

Selanjutnya mereka menggalang dana dan donasi berupa paket sembako, masker, dan lain sebagainya dengan menyebar poster di berbagai laman media sosial. Total dana yang sudah mereka terima saat ini kurang lebih berjumlah Rp. 5.000.000. Mereka juga menerima hibah 50 Kg beras dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama Bali) untuk dibagikan kepada masyarakat di Kota Singaraja. Dana yang mereka terima pun tidak langsung dihabiskan begitu saja. Mereka menggunakannya secara bertahap, secara berkala dalam kurun waktu tertentu. Biasanya setiap hari Sabtu dan Minggu, mereka turun ke jalan membagikan sembako, lefleat, dan memberikan edukasi pencegahan Covid-19. Terkadang dua minggu sekali, menyesuaikan dengan kesibukan dan kapasitas masing-masing anggota yang akan turun ke jalan. Mereka juga menyasar beberapa desa yang masih dalam jangkauan mereka, kemudian memberikan bantuan secara door to door, dari pintu ke pintu, memberikan bantuan kepada masyarakat tidak mampu, terutama lansia.

Secara nominal, jumlah dana yang mereka galang boleh dikatakan tidak terlalu banyak, namun hal tersebut tentu menjadi sangat berarti bagi masyarakat terdampak Covid-19 yang membutuhkan. Sedikit jumlahnya, banyak artinya. Masyarakat yang menerima bantuan benar-benar berterima kasih kepada Muda Berbagi, bahkan menurut penuturan Satya, ada yang sampai menangis saat diberikan bantuan. Hal tersebut menjadi sebuah kebahagian tersendiri bagi Satya dan teman-temannya. Itulah yang sebenarnya menjadi tujuan dari Muda Berbagi, yaitu membuat orang lain bahagia.

Nah, sama seperti gerakan atau komunitas aksi sosial lainnya, Muda Berbagi juga menghadapi beberapa kendala, terutama saat memilih dan mencari orang-orang yang dirasa tepat untuk menerima bantuan, karena paket sembako yang disediakan tidak terlalu banyak, dan tentu di tengah-tengah situasi sekarang ini banyak yang ingin menerima bantuan. Hal lain yang menjadi kendala bagi mereka adalah kesibukan mereka masing-masing. Ada yang harus mengikuti kuliah daring, ada juga yang harus bekerja dari rumah, sehingga mereka harus benar-benar meluangkan dan mengatur waktu mereka untuk bersama-sama turun ke jalan membagikan bantuan. Kendala sejatinya tentu menjadi hal yang wajar, tetapi mereka menganggap hal tersebut sebagai bagian dari sebuah aksi sosial dan kerelawanan, sehingga bagi mereka kendala-kendala tersebut adalah sebuah tangtangan tersendiri.

Gizi untu Medis

Muda Berbagi juga menjadi perpanjangan tangan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Bali untuk membagikan makanan dan minuman secara gratis kepada para petugas medis yang bertugas selama pandemi Covid-19 ini melalui program ‘Gizi untuk Medis’, sebuah program dari Kagama Muda Bali yang mendapat dukungan penuh dari Pengurus Daerah Kagama Bali dengan tujuan memperkuat daya tahan tubuh para petugas medis melalui asupan makanan. Harapannya, para petugas medis tidak merasa berjuang sendirian, sehingga mereka menjadi lebih semangat dengan dukungan dari masyarakatKebetulan, Satya merupakan salah seorang alumni jurusan ilmu keperawatan Universitas Gadjah Mada dan ia diberi mandat untuk melangsungkan program tersebut di Kabupaten Buleleng. Selain di Buleleng, program tersebut sebelumnya juga telah dilaksanakan di Denpasar, Badung, dan Tabanan.

Karena diberi kepercayaan untuk menjalankan program Gizi untuk Medis di Kabupaten Buleleng, dengan dana Rp.1.300.000 yang diterima, Satya dan teman-temannya kemudian membantu menyiapkan dan mengemas paket makanan, seperti buah, susu, vitamin, dan kue yang terjamin higienitasnya dan tentu saja mengandung gizi yang cukup untuk para tenaga medis yang bertugas, kemudian mengantarkannya ke Rumah Sakit Giri Mas pada Selasa, 16 Mei 2020. Sembari mengantar paket makanan tersebut, mereka juga menanyakan kondisi terkini di Rumah Sakit Giri Mas yang menjadi rumah sakit khusus Covid-19 di Kabupaten Buleleng, terutama tentang ketersediaaan Alat Pelindung Diri (APD) yang menjadi kelengkapan vital bagi petugas medis dalam melindungi diri dari penyebaran Covid-19. Selanjutnya informasi yang mereka dapatkan akan disampaikan kepada Pengurus Daerah Kagama Bali untuk ditindaklanjuti. Kagama Bali hingga saat ini membuat program pengadaan APD, wastafel portable, sembako, dan kegiatan lain yang menjadi agenda bersama melalui tagline #KagamaCare.

Tentu saja, program tersebut diharapkan dapat terus berlanjut kedepannya dan juga dapat menyentuh seluruh instansi kesehatan yang ada di Kabupaten Buleleng. Satya dan teman-temannya juga berharap gerakan tersebut dapat menggema ke seluruh Bali, sehingga masyarakat dapat berkontribusi memberikan dukungan penuh kepada para tenaga medis yang berjuang dan menjadi garda depan penanganan Covid-19 di tengah situasi saat ini.

Rencana dan Harapan ke Depan

Kedepannya, selama pandemi masih berlangsung, di samping tetap berkordinasi dengan Kagama Bali, Muda Berbagi rencananya akan terus menggalang dana dan donasi kemudian menyalurkan paket bantuan dan sembako serta memberi edukasi kepada masyarakat kecil dan kurang mampu yang terdampak Covid-19, terutama lansia yang sudah tidak bekerja dan tidak memiliki pendapatan. Satya dan teman-teman juga hendak bergandeng tangan bersama Mata Garuda Bali, ikatan alumni penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementrian Keuangan Republik Indonesia untuk menggalang dana dan membeli sayur mayur yang di tanam para petani lokal di Kabupaten Buleleng. Gerakan tersebut diinisiasi untuk membantu meringakan para petani yang yang terancam kerugian akibat pandemi Covid-19 yang membelit. Terlebih, sayur mayur yang ditanam juga sedang memasuki masa panen. Sayur mayur tersebut nantinya akan dibagikan dan didistribusikan kepada masyarakat dan beberapa komunitas lainnya, baik yang sudah diolah atau pun yang masih mentah dan segar. Mereka juga berencana untuk bekerja sama dengan gerakan-gerakan lain dan bisnis-bisnis rumahan yang ada di Kota Singaraja yang dapat mendukung gerakan sosial Muda Berbagi, seperti menyalurkan barang-barang, donasi, dan sebagainya.

Harapan Satya secara pribadi, atau mungkin juga menjadi harapan orang banyak, pandemic Covid-19 lekas berakhir. Orang-orang bisa kembali bekerja, sekolah, kuliah, melamar kerja, atau mencari pasangan yang hilang dan semacamnya. Semuanya kembali normal seperti sedia kali Tapi, di balik pandemi yang sedang mewabah ini, ada sisi positif yang dipetik oleh Satya dan teman-teman. Orang-orang tersentuh hatinya untuk saling bahu membahu, memberi uluran tangan, dan membantu sesama tanpa memandang label agama, ras, etnis, dan semacamnya. Orang-orang mulai sadar dan berbagi satu sama lain. Pandemi ini mengingatkan semuanya akan hal-hal yang sangat mendasar dan esensial, yaitu kemanusiaan., cinta, dan kasih.

Di samping itu, pandemi ini juga memberikan pelajaran yang berharga, bahwa kesehatan itu sangat penting. Kesehatan tidak hanya bisa didapatkan dari minum obat atau vitamin, tapi juga dari pengetahuan dan pemahaman tentang cara-cara menjaga kesehatan. Contohnya seperti sekarang ini. Semakin banyak orang sadar akan common hygiene seperti mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah untuk menghindari infeksi penyakit akibat kuman, virus, atau bakteri.

Pada akhirnya, obrolan saya dengan Satya tentang Muda Berbagi menggiring saya untuk membuat kesimpulan tersendiri. Bagi saya, tidak ada orang-orang hebat sama sekali di dunia ini kecuali mereka yang peduli dan memiliki pengabdian terhadap kemanusiaan. Seperti kata Presiden ke-4 Republik Indonesia, Bapak Abdurahman Wahid, kemanusiaan bahkan lebih penting dari politik. Satya dan teman-temannya saya katakan sebagai orang-orang hebat. Sederhananya, mereka memberi tahu siapa saja untuk tidak menyerah atas nama kemanusiaan, untuk tetap menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. [T]

Tags: aksi sosialpandemipemudavirus corona
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Fana Adalah Ikan, Mancing Abadi

Next Post

“Paspampres” Jualan Nasi Jinggo? Tak Apa, Siapa Tau Pembelinya Paspampres Beneran

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails
Next Post
“Paspampres” Jualan Nasi Jinggo? Tak Apa, Siapa Tau Pembelinya Paspampres Beneran

“Paspampres” Jualan Nasi Jinggo? Tak Apa, Siapa Tau Pembelinya Paspampres Beneran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co