4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karena Pintar Mencuci Tangan Bukanlah Kebanggaan | Kabar dari Jepang

Riris Sanjaya by Riris Sanjaya
January 26, 2021
in Khas
Karena Pintar Mencuci Tangan Bukanlah Kebanggaan | Kabar dari Jepang

Riris Sanjaya (penulis)

Tadi pagi saya benar-benar kangen rumah karena postingan  teman-teman dan keluarga saya yang menampilkan sayur kelor. Ada yang pakai kuah santan, ada yang pakai kuah bening.

Yang bikin perasaan tidak karuan tentu saja sambal. Ya, sambal. Sudah 3 bulan lebih saya tidak makan sambal sesungguhnya. Karena di Jepang jarang orang mengkonsumsi cabai merah segar, apalagi ditambahi terasi, garam, dan tomat, kemudian diulek. Saya pikir musimnya seperti durian, mangga, atau  manggis, tapi kali ini adalah musim kelor.

Tetapi rupanya teman kuliah saya mengatakan kalau di Bali sedang musim menjaga nutrisi agar terhindar dari Covid-19. Dan kelor adalah salah satu sayuran yang diyakini mampu menjaga daya tahan tubuh. Oh, baiklah. Saya, menelan ludah. Tidak kuat melanjutkan ingatan tentang kelor. Saya jadi sepenuhnya sadar saya tidak sedang di rumah, saya sedang bekerja di Jepang.

Saya terdiam sejenak mengingat-ingat upaya apa saja yang saya lakukan untuk menjaga daya tahan tubuh agar juga tidak sampai terhinggapi virus yang menakutkan ini. Idealnya saya melakukan banyak hal baru karena sedang bekerja di luar negeri. Kalau diingat, saya melakukan yoga setiap bangun (entah pagi atau agak siang), kemudian saya minum vitamin, tambah rajin mencuci tangan karena hidup berdampingan dengan orang Jepang.

Sebentar, sebentar. Saya jadi bingung menentukan hal-hal apa saja yang berubah di Jepang sejak Covid-19 merebak. Saya sampai tak menyadarinya.

Memang yang terasa berubah adalah ketika Pemerintah Hokkaido dengan berani mendeklarasi bahwa memang benar daerahnya menjadi kawasan darurat Covid-19, sehingga per hari itu, seluruh hotel termasuk tempat saya bekerja harus menyetujui pembatalan tamu yang menginap dan memberikan pengembalian penuh atas uang yang telah terbayarkan.

Pikiran saya saat itu langsung melayang ke jumlah sisa uang gaji di rekening. Saya harus mengirim kabar ke rumah untuk ancang-ancang.

Saya teringat saat sebelum deklarasi, ketika atasan meminta saya mengambil meja dari salah satu kamar kosong, dan meletakkannya di pintu  masuk lobi. Rupanya hotel segera menyediakan hand sanitizer di pintu masuk dan juga di front desk.

Karyawan juga diijinkan untuk mengenakan masker saat bertugas. Terang saja, karena hotel kami ada di wilayah Niseko, kawasan yang menjadi area ski favorit bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Dinginnya maksimal, menaburkan snow-powder di pegunungan yang cantik.

Kemudian setelah pernyataan dari Pemerintah Hokkaido tersebut serta dicari tahu daerah-daerah dengan case terbanyak, para karyawan dilarang untuk keluar kota untuk sementara waktu. Kami benar-benar diberi gambaran betapa tidak inginnya manajemen mendapati salah satu karyawan menjadi penderita virus ini. Terutama kepada para karyawan muda dan single, yang sehabis gajian biasanya akan mengeksplor objek-objek favorit di pulau paling utara Jepang yang paling dingin ini.

Karyawan seperti saya diizinkan menggunakan masker

Mereka (dan saya) diwanti-wanti agar tidak sampai menjadi pembawa virus pulang ke negara masing-masing saat musim dingin berakhir. Saya jadi mengkhawatirkan adik tingkat saya yang juga tinggal di Hokkaido, berbeda daerah dari Niseko, yang sempat mengunggah berita tentang dirinya yang harus dikarantina dan diobservasi selama 3 jam hanya karena demam biasa.

Meskipun demam biasa, saya tetap khawatir, memikirkan seseorang yang jauh dari rumah dan sedang sakit. Syukurlah ia bisa melewatinya dengan baik.

Kembali ke hari ini, saya tidak mendapati perilaku saya dan rekan-rekan berubah signifikan. Terutama perihal mencuci tangan. Disini mana ada orang Jepang yang sampai download cara baik dan benar mencuci tangan, tidak ada. Kebiasaan mencuci tangan sudah mendarah daging pada orang Jepang. Tidak serta-merta karena adanya wabah Covid-19.

Jangankan tangan, sepatu saja harus dibuka kalau mau masuk rumah, diganti dengan surippa (slipper/sandal selop). Ke toilet juga sama, aduh, saya awal-awal suka bete saat kebelet tapi harus buka winter boots ganti ke slipper yang disediakan yang hanya untuk beberapa menit itu saja.

Tapi saat pekerjaan sedang lengang karena tidak ada banyak tamu seperti sekarang ini, saya jadi suka ke toilet dan berlama-lama melepas boots. Jiwa Indonesia memang.

Selain itu, apa ya, yang berbeda dari yang keseharian saya bersama orang-orang Jepang di sini lakukan. Social distancing?

Memang tujuannya berbeda, tetapi orang Jepang telah memiliki budaya “ojigi” yaitu membungkukkan badan saat memberikan salam, tidak seperti kita yang berjabat tangan. Mereka juga kerap menjaga jarak pada orang yang baru saja dikenal.

Nah, ditambah lagi usai juru bicara pemerintah memberikan himbauan untuk tidak bepergian, sesaat setelah mengumumkan sekolah-sekolah ditutup hingga tahun ajaran baru (April).

Saya berpose dengan senang, senantiasa senang

Tentu saja jarak yang tadinya 1-2 meter pada hari biasa berubah menjadi bermeter-meter saat ke luar rumah. Saya alami sendiri, saat ke supermarket membeli kebutuhan sehari-hari. Saya memang orang Indonesia sejati sepertinya, saya membayangkan keadaan yang dramatis, agar bisa saya sampaikan berulang-ulang kepada teman-teman.

Saat saya melihat tidak banyak orang dalam supermarket, imajinasi saya bergentayangan, mendramatisir segala sesuatu. Saya lihat orang-orang mengenakan masker dan sangat menjaga jarak. Semakin meyakinkan. Kemudian saat saya menghampiri bagian makanan siap santap, saya merasa klimaks. Hanya tersisa beberapa kotak bentou, sama seperti di Indonesia, out of stock!

Tapi setelah saya perhatikan, pada kotak-kotak bentou ada tempelan diskon 20%, diskon 40%, diskon 50%, oh, ternyata sudah pukul 19.12, supermarket sudah akan tutup pukul 21.00 dan makanan-makanan diberikan potongan harga karena akan diganti keesokan hari.

Tentu saja rak makanan ini sudah hampir kosong-melompong. Saya lihat ke sekitar, ke rak tissue, kemudian ke rak-rak lainnya, masih tersusun rapi dengan stok yang wajar. Rupanya imbauan pemerintah berguna!

Saya dengar dari teman Jepang saya, sempat disampaikan bahwa segala kebutuhan sehari-hari diproduksi negara sendiri, jadi untuk apa risau? Mereka berhasil mempertahankan kewarasan berbelanja. Jadilah saya gagal menciptakan drama. Semuanya waspada dengan terbiasa.

Rupanya Jepang sudah terbiasa hidup bersih, hidup sehat, sejak lama. Saya jadi tidak punya bahan untuk posting rak kosong dan orang-orang yang berkumpul wara-wiri yang membuat risau. Ya, sudahlah. Biasakan saja, jangan panik tapi tetap waspada. Panik saat harus membayar di kasir saja.

Ah, terlalu banyak yang ingin saya tulis tentang Jepang, tidak hanya tentang ketidak-panikan mereka yang membuat saya terkesan, tetapi nilai-nilai kedisiplinan yang sangat layak kita tiru. Silakan dinantikan, kisah-kisah Jepang melalui saya selanjutnya. [T]

Tags: covid 19JepangPariwisatavirus corona
Share336TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar di Rumah Tak Ramah, Cara Daring Bikin Pening

Next Post

Antara Mimpi dan Kenyataan

Riris Sanjaya

Riris Sanjaya

Lahir di Singaraja, kini bekerja di Jepang

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Antara Mimpi dan Kenyataan

Antara Mimpi dan Kenyataan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co