4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karena Pintar Mencuci Tangan Bukanlah Kebanggaan | Kabar dari Jepang

Riris Sanjaya by Riris Sanjaya
January 26, 2021
in Khas
Karena Pintar Mencuci Tangan Bukanlah Kebanggaan | Kabar dari Jepang

Riris Sanjaya (penulis)

Tadi pagi saya benar-benar kangen rumah karena postingan  teman-teman dan keluarga saya yang menampilkan sayur kelor. Ada yang pakai kuah santan, ada yang pakai kuah bening.

Yang bikin perasaan tidak karuan tentu saja sambal. Ya, sambal. Sudah 3 bulan lebih saya tidak makan sambal sesungguhnya. Karena di Jepang jarang orang mengkonsumsi cabai merah segar, apalagi ditambahi terasi, garam, dan tomat, kemudian diulek. Saya pikir musimnya seperti durian, mangga, atau  manggis, tapi kali ini adalah musim kelor.

Tetapi rupanya teman kuliah saya mengatakan kalau di Bali sedang musim menjaga nutrisi agar terhindar dari Covid-19. Dan kelor adalah salah satu sayuran yang diyakini mampu menjaga daya tahan tubuh. Oh, baiklah. Saya, menelan ludah. Tidak kuat melanjutkan ingatan tentang kelor. Saya jadi sepenuhnya sadar saya tidak sedang di rumah, saya sedang bekerja di Jepang.

Saya terdiam sejenak mengingat-ingat upaya apa saja yang saya lakukan untuk menjaga daya tahan tubuh agar juga tidak sampai terhinggapi virus yang menakutkan ini. Idealnya saya melakukan banyak hal baru karena sedang bekerja di luar negeri. Kalau diingat, saya melakukan yoga setiap bangun (entah pagi atau agak siang), kemudian saya minum vitamin, tambah rajin mencuci tangan karena hidup berdampingan dengan orang Jepang.

Sebentar, sebentar. Saya jadi bingung menentukan hal-hal apa saja yang berubah di Jepang sejak Covid-19 merebak. Saya sampai tak menyadarinya.

Memang yang terasa berubah adalah ketika Pemerintah Hokkaido dengan berani mendeklarasi bahwa memang benar daerahnya menjadi kawasan darurat Covid-19, sehingga per hari itu, seluruh hotel termasuk tempat saya bekerja harus menyetujui pembatalan tamu yang menginap dan memberikan pengembalian penuh atas uang yang telah terbayarkan.

Pikiran saya saat itu langsung melayang ke jumlah sisa uang gaji di rekening. Saya harus mengirim kabar ke rumah untuk ancang-ancang.

Saya teringat saat sebelum deklarasi, ketika atasan meminta saya mengambil meja dari salah satu kamar kosong, dan meletakkannya di pintu  masuk lobi. Rupanya hotel segera menyediakan hand sanitizer di pintu masuk dan juga di front desk.

Karyawan juga diijinkan untuk mengenakan masker saat bertugas. Terang saja, karena hotel kami ada di wilayah Niseko, kawasan yang menjadi area ski favorit bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Dinginnya maksimal, menaburkan snow-powder di pegunungan yang cantik.

Kemudian setelah pernyataan dari Pemerintah Hokkaido tersebut serta dicari tahu daerah-daerah dengan case terbanyak, para karyawan dilarang untuk keluar kota untuk sementara waktu. Kami benar-benar diberi gambaran betapa tidak inginnya manajemen mendapati salah satu karyawan menjadi penderita virus ini. Terutama kepada para karyawan muda dan single, yang sehabis gajian biasanya akan mengeksplor objek-objek favorit di pulau paling utara Jepang yang paling dingin ini.

Karyawan seperti saya diizinkan menggunakan masker

Mereka (dan saya) diwanti-wanti agar tidak sampai menjadi pembawa virus pulang ke negara masing-masing saat musim dingin berakhir. Saya jadi mengkhawatirkan adik tingkat saya yang juga tinggal di Hokkaido, berbeda daerah dari Niseko, yang sempat mengunggah berita tentang dirinya yang harus dikarantina dan diobservasi selama 3 jam hanya karena demam biasa.

Meskipun demam biasa, saya tetap khawatir, memikirkan seseorang yang jauh dari rumah dan sedang sakit. Syukurlah ia bisa melewatinya dengan baik.

Kembali ke hari ini, saya tidak mendapati perilaku saya dan rekan-rekan berubah signifikan. Terutama perihal mencuci tangan. Disini mana ada orang Jepang yang sampai download cara baik dan benar mencuci tangan, tidak ada. Kebiasaan mencuci tangan sudah mendarah daging pada orang Jepang. Tidak serta-merta karena adanya wabah Covid-19.

Jangankan tangan, sepatu saja harus dibuka kalau mau masuk rumah, diganti dengan surippa (slipper/sandal selop). Ke toilet juga sama, aduh, saya awal-awal suka bete saat kebelet tapi harus buka winter boots ganti ke slipper yang disediakan yang hanya untuk beberapa menit itu saja.

Tapi saat pekerjaan sedang lengang karena tidak ada banyak tamu seperti sekarang ini, saya jadi suka ke toilet dan berlama-lama melepas boots. Jiwa Indonesia memang.

Selain itu, apa ya, yang berbeda dari yang keseharian saya bersama orang-orang Jepang di sini lakukan. Social distancing?

Memang tujuannya berbeda, tetapi orang Jepang telah memiliki budaya “ojigi” yaitu membungkukkan badan saat memberikan salam, tidak seperti kita yang berjabat tangan. Mereka juga kerap menjaga jarak pada orang yang baru saja dikenal.

Nah, ditambah lagi usai juru bicara pemerintah memberikan himbauan untuk tidak bepergian, sesaat setelah mengumumkan sekolah-sekolah ditutup hingga tahun ajaran baru (April).

Saya berpose dengan senang, senantiasa senang

Tentu saja jarak yang tadinya 1-2 meter pada hari biasa berubah menjadi bermeter-meter saat ke luar rumah. Saya alami sendiri, saat ke supermarket membeli kebutuhan sehari-hari. Saya memang orang Indonesia sejati sepertinya, saya membayangkan keadaan yang dramatis, agar bisa saya sampaikan berulang-ulang kepada teman-teman.

Saat saya melihat tidak banyak orang dalam supermarket, imajinasi saya bergentayangan, mendramatisir segala sesuatu. Saya lihat orang-orang mengenakan masker dan sangat menjaga jarak. Semakin meyakinkan. Kemudian saat saya menghampiri bagian makanan siap santap, saya merasa klimaks. Hanya tersisa beberapa kotak bentou, sama seperti di Indonesia, out of stock!

Tapi setelah saya perhatikan, pada kotak-kotak bentou ada tempelan diskon 20%, diskon 40%, diskon 50%, oh, ternyata sudah pukul 19.12, supermarket sudah akan tutup pukul 21.00 dan makanan-makanan diberikan potongan harga karena akan diganti keesokan hari.

Tentu saja rak makanan ini sudah hampir kosong-melompong. Saya lihat ke sekitar, ke rak tissue, kemudian ke rak-rak lainnya, masih tersusun rapi dengan stok yang wajar. Rupanya imbauan pemerintah berguna!

Saya dengar dari teman Jepang saya, sempat disampaikan bahwa segala kebutuhan sehari-hari diproduksi negara sendiri, jadi untuk apa risau? Mereka berhasil mempertahankan kewarasan berbelanja. Jadilah saya gagal menciptakan drama. Semuanya waspada dengan terbiasa.

Rupanya Jepang sudah terbiasa hidup bersih, hidup sehat, sejak lama. Saya jadi tidak punya bahan untuk posting rak kosong dan orang-orang yang berkumpul wara-wiri yang membuat risau. Ya, sudahlah. Biasakan saja, jangan panik tapi tetap waspada. Panik saat harus membayar di kasir saja.

Ah, terlalu banyak yang ingin saya tulis tentang Jepang, tidak hanya tentang ketidak-panikan mereka yang membuat saya terkesan, tetapi nilai-nilai kedisiplinan yang sangat layak kita tiru. Silakan dinantikan, kisah-kisah Jepang melalui saya selanjutnya. [T]

Tags: covid 19JepangPariwisatavirus corona
Share336TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar di Rumah Tak Ramah, Cara Daring Bikin Pening

Next Post

Antara Mimpi dan Kenyataan

Riris Sanjaya

Riris Sanjaya

Lahir di Singaraja, kini bekerja di Jepang

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Antara Mimpi dan Kenyataan

Antara Mimpi dan Kenyataan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co