14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Primadona

Putra Setiawan by Putra Setiawan
March 29, 2020
in Cerpen
Primadona

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Cerpen Putra Setiawan []

Suasana Krematorium  Mumbul perlahan mulai sepi ditinggal pelayat. Satu per satu rekan almarhum Inez beranjak pergi meninggalkan petugas krematorium yang tengah mengais abu tulang Inez dari tungku kremasi. Abu mantan primadona lokalisasi di daerah Jangkong Lestari Kuta ini selanjutnya akan dibuang keluarganya di Pantai Nusa Dua.

***

Lokalisasi Jangkong Lestari malam itu semarak seperti biasanya. Puluhan pelacur tampak memenuhi berbagai sudut lokalisasi. Sebagian tampak berdiri di depan kamar menjajakan dirinya lengkap dengan janji “servis” yang akan diberikan. Sebagian lagi tampak duduk di warung kopi bercengkrama dengan pria hidung belang yang datang berkunjung diiringi lantunan house music.

“Hey liat tuh, Si Inez dibooking lagi. Asem, malam ini dia sudah ‘naik’ 5 kali dengan  langganan-langganannya. Tajir bener dia,” kata Ivon sambil menghisap rokok kretek kesukaannya. Ivon yang sudah beroperasi di lokalisasi ini selama 5 tahun merasa iri dengan Inez, debutan yang baru  bergabung dengan salah satu mami di lokalisasi ini 6 bulan lalu.

“Ah Ivon, kamu bawaannya kok repot and sewot gitu, ya biarin aja, setiap orang kan ada rejekinya masing-masing.  Kali aja Si Inez sekarang emang lagi naik daun dan laku,” kata Sofie, pelacur lainnya dengan bijak.

Semenjak beroperasi di lokalisasi Jangkong Lestari, Inez yang berwajah agak indo memang menjadi salah satu primadona di kawasan itu. Dengan tarif 100 ribu rupiah untuk short time, setiap malamnya Inez melayani 5 hingga 10 orang pelanggan. “Yah mumpung aku masih laku dan kuat melayani mereka,”kata Inez kepada Lince rekannya di Jangkong suatu waktu.

Salah satu pelanggan Inez yang paling setia adalah Pak Suryaningrat. Pria berumur 50 tahunan ini dari segi finansial memang berkecukupan. Sebagai salah seorang top manajer di sebuah bank pemerintah bonafid di Bali, Pak Surya tak merasa gengsi berkunjung ke lokalisasi Jangkong Lestari dan telah menjadi pelanggan setia Inez dalam tiga bulan terakhir.

Malam itu seperti biasa Pak Surya datang ke lokalisasi Jangkong Lestari untuk bertemu Inez. Lewat telpon genggam ia telah membooking Inez untuk kencan jam 8 malam. Kepada istrinya ia mengaku mengikuti rapat penting dengan dewan komisaris bank di sebuah hotel berbintang di kawasan Kuta.

“Hai darling, i miss you so much,” kata Pak Surya menggombal sambil memeluk Inez dengan ketat di kamarnya. Ciuman nafsu bertubi-tubi kemudian didaratkan ke wajah cantik Inez dan lehernya yang jenjang.

Meski kurang menyukai pria gendut berkepala botak ini, Inez terpaksa harus rutin melayani Pak Surya setidaknya tiga kali seminggu. Usai menggauli Inez, Pak Surya menyelipkan 2 lembar uang seratus ribuan yang masih kencang ke dalam genggaman tangannya. “ Aku pulang dulu ya, dua hari lagi aku akan datang menemuimu. I love you sexy,” kata Surya dengan genitnya.

Di mata Inez, Pak Surya sebenarnya salah satu pelanggan ideal yang berkantong tebal. Namun belakangan ini Inez mulai khawatir. Pak Surya mulai melibatkan perasaan dalam bisnis yang digelutinya. Tak jarang Pak Surya menyatakan keinginannya untuk menjadikan Inez sebagai istri simpanan. Pak Surya juga sudah sangat terbuka terhadap Inez, termasuk menceritakan berbagai penyimpangan yang dilakukan di bank tempatnya bekerja. Kepada Inez Pak Suryo mengaku telah mengkorup uang bank tempatnya bekerja hingga ratusan juta rupiah.

“Ah Pak Surya bercanda ya, saya cuman seorang pelacur, apa bapak tidak malu,” kata Inez sambil menghisap rokok putihnya dalam-dalam. Malam ini ia berkencan dengan Pak Surya hingga dua ronde. Usai berkencan, Pak Surya kembali menyampaikan keinginannya untuk menikahi Inez. Pak Surya mengatakan sudah sangat mencintai Inez dan tak akan membiarkan Inez terus berada di lembah hitam prostitusi.

“Jadi kamu menolak sayang?” kata Surya dengan mimik wajah serius. Ia merasa kecewa karena niatnya untuk menikahi wanita idamannya tidak kesampaian. “ Iya Pak Surya, saya hargai  betul niat baik bapak. Tapi biarlah saya tetap begini saja. Saya sudah cukup menikmatinya,” kata Inez.

Pak Surya melangkah gontai. Tak seperti biasanya malam itu ia meninggalkan lokalisasi Jangkong Lestari dengan lesu. Selama ini keinginanannya terhadap suatu hal selalu tercapai. Kali ini keinginannya tak terpenuhi. Ditolak oleh seorang pelacur. “Awas kau Inez, tak seorang pun bisa memperlakukanku dengan cara seperti ini. Kau belum tau siapa aku, Suryaningrat. Kamu juga sudah tahu terlalu banyak tentang diriku. Aku akan bikin perhitungan dengan kamu,” kata Pak Surya dalam hati.

Waktu masih menunjukkan pukul setengah 8 malam. Handphone keluaran terbaru milik Inez berdering. “ Halo darling, lagi ngapain nih, udah mandi belum?” kata Pak Surya di ujung telpon.

Inez heran, sudah dua minggu ini Pak Surya tidak datang ke tempatnya. Sudah dua minggu itu pula ia kehilangan salah satu pelanggannya yang paling setia dan loyal.

“Malam ini aku mau membooking kamu untuk long time. Gimana, bisa kan, Say?”kata Pak Surya dengan nafas mendengus. “Bisa aja Pak, tapi kalo dibawah jam 12 malam gini biasanya kena charge 1 juta. Gimana bapak mau gak?” ujar Inez.

“Okay no problem, aku bayar. Nanti kamu dijemput supirku si Jengki. Kamu tunggu aja di parkiran supermarket selatan komplex. Okay aku tunggu ya,” kata Pak Surya menutup pembicaraan.

“Eh liat tuh Si Inez, sore gini udah dapat bookingan longtime, emang tajir banget dia. Cepat kaya dia kalo gini terus,” kata Ivon sambi menghisap rokok kreteknya yang terakhir.

“Ah Ivon, kamu bisanya sewot aja ama temen. Kan Inez emang lagi tajir dan laku sekarang. Ya mbok kamu introspeksi diri dulu dengan tubuhmu yang gembrot itu, he he he,” ujar Sofie berkelakar.

Malam itu Inez tampil sexy. Tubuhnya yang putih mulus, tinggi, dan sintal dibungkus kaos putih ketat bergambar lambang grup musik rock n roll rollingstones dan celana jeans tigaperempat ketat mode termutakhir. Malam ini ia ingin all out melayani Pak Surya, langganan setia yang sudah tidak dijumpainya selama 2 minggu. Bergegas Inez menuju parkiran supermarket di selatan lokalisasi Jangkong.

Setelah menunggu 10 menit di parkiran, sebuah mobil sedan mewah produk Eropa berwarna hitam datang menghampiri Inez. “Kamu Inez ya? Saya diutus Pak Suryo untuk menjemput kamu, silakan naik,” kata supir sedan itu. Inez naik di kursi belakang dan sedan Eropa keluaran terbaru itu kemudian melaju kencang di By pass Ngurah Rai.

Di dalam sedan ternyata ada dua pria lainnya yang duduk di kursi depan dan belakang.

“Halo, kalian siapa ya, kok kita belum kenal. Kita mau kemana nih,” kata Inez membuka pembicaraan..

“Oh ya, nama saya Jack, dan pria di sebelahmu namanya Rony. Kita diminta Pak Surya untuk menyampaikan ini!!” hardik pria bernama Jack sambil menghunus sebilah pisau komando dan menghujamkannya ke tubuh Inez . Pria bernama Rony pun melakukan hal serupa terhadap primadona lokalisasi Jangkong Lestari itu. Inez tak bisa berkutik dan hanya bisa berteriak kesakitan d itengah derasnya hujaman pisau komando yang tajam ke tubuhnya………

Matahari belum muncul sepenuhnya di ufuk timur. Embun masih membasahi daun pepohonan taman di Bypass Nusa Dua. Bu Sari seperti biasa melakukan aktivitasnya sebagai tukang sapu di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Badung. Saat hendak membersihkan got di pinggir Bypass Ngurah Rai, mata Bu Sari tiba-tiba membelalak. Di dasar got tergeletak sesosok mayat wanita dengan darah membasahi sekujur tubuhnya. Mayat wanita berkulit putih dan bertubuh sintal itu mengenakan celana jeans tigaperempat ketat dan kaos putih berlogo rolling stones yang kini merah oleh darah amis. [T]

Tags: Cerpen
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

LPD, Pahlawan Kaum Marjinal

Next Post

Rumah, Masakan Ibu dan Gravitasi Kasur

Putra Setiawan

Putra Setiawan

Wartawan

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Rumah, Masakan Ibu dan Gravitasi Kasur

Rumah, Masakan Ibu dan Gravitasi Kasur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co