23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

LPD, Pahlawan Kaum Marjinal

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
March 29, 2020
in Esai
LPD, Pahlawan Kaum Marjinal

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Bung Hatta pernah berucap bahwa Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, Indonesia baru akan bercahaya karena lilin-lilin kecil di desa. Di India, tokoh dunia yakni Gandhi juga pernah berseloroh bahwa masa depan India terletak di desa.

Menengok dua pernyataan dari dua tokoh besar tersebut maka sangat sejalan dan relevan dengan nawacita ketiga yakni membangun Indonesia dari desa. Desa bukan lagi menjadi latar belakang melainkan menjadi halaman depan kemajuan Indonesia. Pembangunan di Indonesia harus melihat desa sebagai fokus dan target pembangunan karena di desa sumber potensi kemajuan bangsa Indonesia.

Ada dua hal yang menjadi isu utama pembangunan perdesaan di Indonesia:

Pertama, sebagian besar penduduk Indonesia bertempat tinggal di wilayah desa. Saat ini, diperkirakan 60 persen penduduk masih tinggal di desa;

Kedua, kesejahteraan penduduk di desa jauh tertinggal dibandingkan penduduk kota, sekitar 63 persen dari total penduduk miskin berdiam diri di desa (Yustika, 2015). Pembangunan desa memiliki tantangan yang cukup besar sebab hingga saat ini jumlah desa mandiri di Indonesia hanya 7,55 persen dari 74.957 desa di Indonesia.

Bali adalah salah satu provinsi yang selalu memiliki nilai rapor baik bahkan sangat baik dalam bidang ekonomi. Rata-rata pertumbuhan ekonomi yang selalu di atas nasional. Tingkat pengangguran terendah nomor 1 dan memiliki angka kemiskinan terendah nomor 2 di Indonesia. Ini adalah prestasi yang sangat mengagumkan. Walaupun dalam beberapa hal masih perlu dilakukan perbaikan seperti tingkat disparitas (ketimpangan), baik ketimpangan antar wilayah maupun ketimpangan antar sektor.

Baiknya ekonomi Bali juga tercermin dari komposisi jumlah penduduk miskin di wilayah perdesaan yang lebih rendah daripada di perkotaan. Sejak Maret tahun 2011, penduduk miskin di perdesaan (73,1 ribu jiwa) lebih rendah dari perkotaan yang berjumlah 92,7 ribu jiwa.

Data terakhir yakni Maret 2019, dari 163,85 ribu jiwa penduduk miskin yang ada di Bali, sebanyak 97,98 ribu jiwa (59,80 persen) berdiam diri di perkotaan sedangkan sisanya 65,87 ribu jiwa (40,20 persen) tinggal di desa. Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi nasional, dimana desa masih dicirikan sebagai tempat berkumpulnya orang miskin.

Pariwisata adalah pahlawan untuk perekonomian Bali. Selain sektor pariwisata, ada pahlawan yang sangat berjasa bagi masyarakat Bali, terutama bagi masyarakat desa yang termarjinalkan (tidak bankable). Pahlawan itu adalah Lembaga Perkreditan Desa (LPD).

LPD hadir untuk melayani masyarakat desa dengan mudah, cepat dan yang paling penting dengan syarat sederhana. Jauh berbeda dengan persyaratan di dunia perbankan. Kondisi ini membuat masyarakat kecil di desa memiliki sahabat di kala kesusahan. LPD adalah mitra sejati bagi masyarakat yang tidak bankable. Inilah salah satu tujuan didirikannya LPD pada tahun 1984 oleh Prof Ida Bagus Mantra.

Saat ini terdapat 1.433 LPD di Bali. Hal ini juga menjadikan Bali sebagai pulau seribu LPD selain dikenal dengan sebutan pulau seribu pura. Secara ekonomi tercatat, asset LPD sampai akhir 2018 berjumlah Rp 21,76 triliun, menyalurkan kredit sebesar Rp 418,861 triliun, menghimpun dana dalam bentuk tabungan sebesar Rp 8,60 triliun, dalam bentuk deposito sebesar Rp 9,61 triliun.

Data keuangan tersebut mencerminkan betapa besarnya kepercayaan masyarakat terhadap LPD. Karena kerpercyaan yang begitu besar, maka asset LPD melampui jumlah asset yang dimiliki oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan koperasi simpan pinjam yang ada di Bali. Ini potensi yang luar biasa yang dimiliki oleh Bali.

Sampai akhir tahun 2018 Laba LPD tercatat sebesar Rp 580,42 milyar. Sebesar Rp 145,10 milyar (25 persen) harus disalurkan ke desa adat baik untuk pembangunan desa maupun untuk dana sosial. Masyarakat desa bisa menggunakan dana tersebut untuk mambangun pura, upacara ngaben massal, metatah massal, membangun balai banjar dan sejenisnya sehingga memperkecil iuran dari masyarakat desa.

Pengurangan iuran untuk desa bisa dialokasikan untuk biaya lainnya seperti biaya pendidikan anak maupun biaya kesehatan sehingga masyarakat akan tambah sejahtera. Artinya, LPD sudah berkontribusi nyata untuk pembangunan desa di Bali. Kontribusi lain, LPD mempekerjakan sebanyak hampir 8.000 karyawan. Ini artinya LPD berperan dalam mengurangi angka pengangguran.

Peran nyata LPD akan semakin besar manakala masyarakat mendukung keberadaan LPD. Dukungan masyarakat dapat dilakukan dengan memanfaatkan jasa layanan yang ada di LPD. Menabung, mendepositokan uang, bayar listrik, pajak dan sejenisnya serta pinjam uang di LPD.

Untuk diketahui, jika mendepositokan uang di LPD, bunganya jauh lebih tinggi daripada di bank, serta tidak dikenakan pajak. Artinya dari sisi ekonomi sangat menguntungkan jika mempercayakan depsosito di LPD. Jika seluruh masyarakat Bali mau mempercayakan transaksi keuangan di LPD maka masyarakat Bali akan tambah sejahtera.

Fakta di lapangan, banyak dari golongan menengah ke atas ogah atau enggan menaruh uang di LPD. Di satu sisi mereka menuntut agar LPD semakin berkontribusi nyata pada pembangunan desa. Jika hal ini terus terjadi maka akan terjadi debat kusir yang pada akhirnya tidak menghasilkan perubahan apa-apa.

Marilah mulai dengan menyalakan lilin kecil daripada mengumpat kegelapan. Anak muda banyak yang acuh tentang keberadaan LPD. Mereka seperti alergi dengan LPD, padahal di desa tempat tinggalnya ada LPD. Kaum milenial lebih suka bekerja di kantor pemerintahan (jadi pegawai honorer) walau gajinya jauh lebih kecil tinimbang bekerja di LPD. Kondisi ini tentu sangat memperihatinkan.

Visi gubernur Bali yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali yakni mewujudkan Bali era baru yang salah satunya dengan getol mengajak masyarakat untuk mencintai dan melestarikan budaya Bali. LPD sebagai salah satu warisan leluhur patut dijaga dan dilestarikan keberadaanya. Sudah saatnya anak muda mulai ngeh akan keberadaannya. LPD harus menjadi kebanggaan masyarakat Bali. Lewat tulisan ini, saya mengajak anak muda serta kaum menengah keatas untuk mengenal, menyayangi serta memanfaatkan jasa LPD. Karena dengan itulah kita sudah berkontribusi nyata untuk kemajuan desa serta kemajuan Bali.

Semoga Pak Gubernur Bali mengeluarkan himbauan untuk mengajak masyarakat Bali menabung maupun meminjam uang di LPD sama seperti himbauan untuk melestarikan KB Bali. [T]

Tags: desadesa adatekonomiLPD
Share46TweetSendShareSend
Previous Post

Rumah, Liburan, Teater dan Kehidupan Sehari-hari

Next Post

Primadona

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Primadona

Primadona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co