24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Masatua”, Dulu di Tempat Tidur, Kini di Balai Banjar – [Bulan Bahasa Bali di Desa Adat Kelaci]

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
February 29, 2020
in Khas
“Masatua”, Dulu di Tempat Tidur, Kini di Balai Banjar – [Bulan Bahasa Bali di Desa Adat Kelaci]

Bu Revand, juara 1 Lomba Masatua Bali di Desa Adat Kelaci, Marga Dauh puri, Tabanan

Dulu, tradisi bercerita pernah dilakoni nenek. Masih segar dalam ingatan saya bau khas kamar nenek, ketika kami, cucu-cucunya, dengan setia mendengarkan beliau bercerita menjelang tidur. Kami biasanya langsung menginap di kamar nenek. Kami betah mendengar dari awal sampai akhir, meski ceritanya sering diulang-ulang. Nenek biasanya tidur di tengah-tengah, tubuh kami yang kecil mengapit beliau di kanan-kiri. Kadang-kadang kami berebutan agar bisa lebih dekat dengan bibir nenek. Nenek, ibu dari ibu saya itu, memang sangat pintar mesatua (bercerita). Beliau berbakat sebagai dalang.

Itulah ingatan saya di masa kecil tentang mendiang nenek. Sosok wanita yang tak pernah lelah menanamkan nilai budi pekerti kepada kami lewat mesatua. Di jaman moderen ini, tradisi mesatua telah lama ditinggalkan. Anak-anak lebih tertarik berinteraksi dengan mesin pencari di internet daripada ngobrol sama ibu-ibu mereka, karena ibu-ibu mereka juga sibuk dengan google. Tradisi mesatua hanya diam di kepala kami sebagai kenangan lapuk masa kanak-kanak.

Kegiatan  mesatua Bali telah ditinggalkan, seiring dengan Bahasa Bali yang mulai ditinggalkan. Generasi muda sekarang banyak yang tidak tahu dan mengerti aksara Bali, termasuk saya…hehehe. Itulah kenapa banyak pemerhati budaya yang kawatir kalau Bahasa dan Aksara Bali bisa punah, seperti fosil-fosil manusia purba yang terkubur bertahun-tahun.

Desa Adat, sebagai garda terdepan untuk melestarikan budaya dan bahasa Bali, diberi mandat. Dalam uraian petunjuk teknis Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Adat  yang bersumber dari alokasi APBD Semesta Berencana, ada program Bulan Bahasa Bali yang wajib diadakan setiap bulan Februari. Tiap desa adat diberi kewenangan mengalokasikan berapa dana untuk kegiatan ini. Tergantung kebutuhan. Dan tiap desa adat juga bebas memilih jenis kegiatan, yang penting masih berhubungan dengan bahasa Bali. Boleh lomba pidato, debat, mendongeng, menulis, yang semuanya dilakukan dalam bahasa Bali.


Anak-anak Lomba Nyurat Aksara Bali di Desa Adat Kelaci, Marga Dauh Puri, Tabanan

Kebetulan kami memilih festival Nyurat Aksara Bali dan Lomba Mesatua Bali sebagai tema kegiatan. Festival Nyurat Aksara Bali diikuti anak-anak dari kelas 4 sampai 6 sekolah dasar, dan Lomba Mesatua Bali diikuti 5 orang dari Ibu PKK di lingkungan Desa Adat Kelaci. Tidak terlalu sulit mencari pamilet, peserta festival dan lomba. Tidak kurang dari 24 jam, nama-nama peserta lomba mesatua sudah tercapai 5 orang, jumlah ideal yang sesuai dengan target kami. Dan pamilet festival Nyurat Aksara Bali sudah disanggupi oleh anak-anak secara serempak, yang kami umumkan saat mereka sedang latihan gong di wantilan.

Dengan anggaran 6 juta rupiah, dibantu Pak Putu Oka sebagai penyuluh Bahasa Bali di Desa Marga Dauh Puri, saya belajar menyusun anggaran. Ada hadiah-hadiah menarik dan tentunya berguna untuk Ibu-ibu peserta lomba seperti: dulang tumpuk fiber, bokoran fiber, sokasi dan tempat kwangen. Walaupun harga hadiah-hadiah itu tidak terlalu mahal, yang penting bermanfaat bagi ibu-ibu yang tiap hari berurusan dengan sarana upacara.

Tanggal 23 Februari disepakati untuk mengadakan kegiatan itu. Saat itu hari minggu, sehingga semua panitia dan peserta lomba bisa libur kerja. Tapi kebetulan tanggal itu pas hari ulihan Galungan, sehingga kami harus menggeser waktu kegiatan jadi sore hari, agar-agar ibu-ibu dapat kesempatan menghaturkan banten ulihan  dulu di pagi hari.

Undangan-undangan sudah disebar dengan resmi. Kami mendatangkan tiga orang juri, untuk menilai lomba mesatua Bali. Untuk mempercantik panggung, kami tugaskan Pak Bintang. Dengan kepiawaiannya, panggung itu menjadi begitu cantik walaupun dengan biaya yang murah. Suksma Pak Bintang! Sound system kami pinjam dari sekaa teruna. Penampilan panggung menjadi wah. Pak Putu Oka, penyuluh Bahasa Bali yang mengawal acara, pun sempat berdecak kagum.          

Pukul 15.00 Wita. Juri dan undangan sudah mulai berdatangan. Bahkan belasan penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di seluruh kecamatan di Marga ikut meramaikan. Tapi sungguh di luar dugaan, sampai pukul 15.15 anak-anak putra belum datang ke wantilan. Beberapa anak putri sudah hadir, dan sudah duduk di meja masing-masing. Undangan dan juri sudah lengkap, duduk di meja yang sudah disiapkan. Pak Perbekel Dauh Puri sampai bertanya-tanya kenapa anak-anak cowok belum ada yang datang. Undangan dan juri datang tepat waktu, tapi peserta belum ada. Duh…. bikin malu saja ini.

Semua panitia jadi gelisah. Bendesa Adat langsung ngacir, kemudian datang beberapa menit kemudian dengan wajah merah padam, membawa kabar yang mengejutkan: ternyata anak-anak cowok siap-siap untuk ngelawang Barong Bangkung!

Duh, seperti dugaan, anak-anak jaman sekarang sudah tidak menyukai lagi Bahasa dan Aksara Bali. Padahal ini acara yang begitu resmi.  Kami semakin gelisah dan menjadi begitu malu. Kenapa mereka tidak bisa libur ngelawang satu hari saja. Ngelawang itu bagus, tapi acara ini juga sangat penting. Padahal sebelumnya mereka sudah bilang bersedia hadir dengan kompak di wantilan, saat mereka selesai latihan megambel.

Pukul 15.45, satu per satu anak-anak cowok itu hadir. Ekspresi mereka sedikit kecewa karena batal ngelawang. Kemudian duduk di meja yang sudah disiapkan. Biarkanlah mereka sedikit kecewa. Mungkin ini sedikit memaksa mereka, yang penting dengan nyurat aksara Bali ini, ada sedikit yang melekat di bilik ingatan mereka. Walaupun aksara Bali mungkin tidak menarik lagi bagi mereka, setidaknya suatu ketika mereka akan menggunakannya.

Akhirnya pukul 16.00 Wita acara baru bisa dimulai, molor satu jam dari waktu yang sudah ditetapkan. Bersamaan dengan Festival Nyurat Aksara Bali, lomba Mesatue Bali dilangsungkan. Satu per satu pamilet (peserta) naik ke panggung, setelah proses pengundian nomer urut. Sebelumnya peserta yang mendaftar 5 orang, tapi kemudian salah satu mengundurkan diri karena pas datang bulan. Karena acara diadakan di wantilan Pura Puseh lan Desa yang merupakan areal tempat suci, yang kena cuntaka tentu tidak layak untuk masuk.

Dongeng Bali, yang pernah akrab di telinga kami saat masa kanak-kanak dulu, bisa kami dengar kembali di atas panggung, lewat sound system  yang bagus yang menghasilkan suara keras dan jernih. Semua peserta betul-betul telah siap. Mungkin mereka telah berlatih berhari-hari dengan sangat serius. Ekspresi, mimik, intonasi suara mereka mirip seperti dalang-dalang yang pentas di Ardha Candra. Ada yang membawakan cerita I Tetani Satya teken Janji, I Sugih teken I Tiwas, I Lutung teken I Kakua dan Ni Tuwung Kuning. Semua cerita yang populer di jaman dulu.


Gembira berfoto bersama

Dengan kegiatan wajib Bulan Bahasa Bali ini, yang diadakan di 1.493 desa adat seluruh Bali, setidaknya bisa menstimulasi agar Bahasa dan Aksara Bali bisa lestari. Terus terang, saya suka sekali mendengar saat di paruman hadirin menggunakan bahasa Bali sor singgih, walau saya tidak mengerti artinya….hehehe. Sungguh, saat dibaca atau diperdengarkan, Bahasa Bali itu sungguh berwibawa dan menggetarkan. Di acara kemarin saya baru tahu arti kata pamilet dan jayanti (juara), kosa kata yang baru saya kenal. Sungguh, kata-kata Bahasa Bali enak didengar. Dan saya berjanji untuk mempelajari bahasa Bali lagi dari nol. Orang Bali yang baru belajar Bahasa Bali, bahasa ibunya…hehehe

Di puncak acara, pemenang lomba Mesatue Bali diumumkan oleh juri. Jayanti 1 diraih oleh Bu Revan. Anak-anak kemudian mengumpulkan hasil Nyurat Aksara. Sungguh, tulisan mereka rapi-rapi. Kalau saja mereka mau serius, belajar Bahasa Bali tidak sesusah belajar Bahasa Inggris atau Bahasa Jepang. Tapi kadung bahasa asing memang lebih tinggi gengsinya.

Yah, selesai sudah tugas kami. Saat wantilan itu sepi, peserta dan undangan sudah pulang, dan kami panitia masih membersihkan wantilan, sayup-sayup terdengar suara gambelan Barong Bangkung. Ternyata anak-anak itu berangkat juga ngelawang walaupun matahari sebentar lagi akan terbenam di langit barat. [T]

Tags: Bulan Bahasa Bali
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahottama untuk Sastrawan Ida Bagus Sunu Pidada

Next Post

Terima Kasih, Saya Kuliah D3 Hingga S2 dengan Modal Pinjaman di LPD

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

Read moreDetails

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
0
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

Read moreDetails

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
0
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

Read moreDetails

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
0
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

Read moreDetails

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

Read moreDetails
Next Post
Terima Kasih, Saya Kuliah D3 Hingga S2 dengan Modal Pinjaman di LPD

Terima Kasih, Saya Kuliah D3 Hingga S2 dengan Modal Pinjaman di LPD

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Malam Keakraban Berbuntut Teror

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

by Chusmeru
July 23, 2026
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin
Khas

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
Kosmologi Sulur Wayan Setem
Ulas Rupa

Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

by Hartanto
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co