12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Masatua”, Dulu di Tempat Tidur, Kini di Balai Banjar – [Bulan Bahasa Bali di Desa Adat Kelaci]

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
February 29, 2020
in Khas
“Masatua”, Dulu di Tempat Tidur, Kini di Balai Banjar – [Bulan Bahasa Bali di Desa Adat Kelaci]

Bu Revand, juara 1 Lomba Masatua Bali di Desa Adat Kelaci, Marga Dauh puri, Tabanan

Dulu, tradisi bercerita pernah dilakoni nenek. Masih segar dalam ingatan saya bau khas kamar nenek, ketika kami, cucu-cucunya, dengan setia mendengarkan beliau bercerita menjelang tidur. Kami biasanya langsung menginap di kamar nenek. Kami betah mendengar dari awal sampai akhir, meski ceritanya sering diulang-ulang. Nenek biasanya tidur di tengah-tengah, tubuh kami yang kecil mengapit beliau di kanan-kiri. Kadang-kadang kami berebutan agar bisa lebih dekat dengan bibir nenek. Nenek, ibu dari ibu saya itu, memang sangat pintar mesatua (bercerita). Beliau berbakat sebagai dalang.

Itulah ingatan saya di masa kecil tentang mendiang nenek. Sosok wanita yang tak pernah lelah menanamkan nilai budi pekerti kepada kami lewat mesatua. Di jaman moderen ini, tradisi mesatua telah lama ditinggalkan. Anak-anak lebih tertarik berinteraksi dengan mesin pencari di internet daripada ngobrol sama ibu-ibu mereka, karena ibu-ibu mereka juga sibuk dengan google. Tradisi mesatua hanya diam di kepala kami sebagai kenangan lapuk masa kanak-kanak.

Kegiatan  mesatua Bali telah ditinggalkan, seiring dengan Bahasa Bali yang mulai ditinggalkan. Generasi muda sekarang banyak yang tidak tahu dan mengerti aksara Bali, termasuk saya…hehehe. Itulah kenapa banyak pemerhati budaya yang kawatir kalau Bahasa dan Aksara Bali bisa punah, seperti fosil-fosil manusia purba yang terkubur bertahun-tahun.

Desa Adat, sebagai garda terdepan untuk melestarikan budaya dan bahasa Bali, diberi mandat. Dalam uraian petunjuk teknis Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Adat  yang bersumber dari alokasi APBD Semesta Berencana, ada program Bulan Bahasa Bali yang wajib diadakan setiap bulan Februari. Tiap desa adat diberi kewenangan mengalokasikan berapa dana untuk kegiatan ini. Tergantung kebutuhan. Dan tiap desa adat juga bebas memilih jenis kegiatan, yang penting masih berhubungan dengan bahasa Bali. Boleh lomba pidato, debat, mendongeng, menulis, yang semuanya dilakukan dalam bahasa Bali.


Anak-anak Lomba Nyurat Aksara Bali di Desa Adat Kelaci, Marga Dauh Puri, Tabanan

Kebetulan kami memilih festival Nyurat Aksara Bali dan Lomba Mesatua Bali sebagai tema kegiatan. Festival Nyurat Aksara Bali diikuti anak-anak dari kelas 4 sampai 6 sekolah dasar, dan Lomba Mesatua Bali diikuti 5 orang dari Ibu PKK di lingkungan Desa Adat Kelaci. Tidak terlalu sulit mencari pamilet, peserta festival dan lomba. Tidak kurang dari 24 jam, nama-nama peserta lomba mesatua sudah tercapai 5 orang, jumlah ideal yang sesuai dengan target kami. Dan pamilet festival Nyurat Aksara Bali sudah disanggupi oleh anak-anak secara serempak, yang kami umumkan saat mereka sedang latihan gong di wantilan.

Dengan anggaran 6 juta rupiah, dibantu Pak Putu Oka sebagai penyuluh Bahasa Bali di Desa Marga Dauh Puri, saya belajar menyusun anggaran. Ada hadiah-hadiah menarik dan tentunya berguna untuk Ibu-ibu peserta lomba seperti: dulang tumpuk fiber, bokoran fiber, sokasi dan tempat kwangen. Walaupun harga hadiah-hadiah itu tidak terlalu mahal, yang penting bermanfaat bagi ibu-ibu yang tiap hari berurusan dengan sarana upacara.

Tanggal 23 Februari disepakati untuk mengadakan kegiatan itu. Saat itu hari minggu, sehingga semua panitia dan peserta lomba bisa libur kerja. Tapi kebetulan tanggal itu pas hari ulihan Galungan, sehingga kami harus menggeser waktu kegiatan jadi sore hari, agar-agar ibu-ibu dapat kesempatan menghaturkan banten ulihan  dulu di pagi hari.

Undangan-undangan sudah disebar dengan resmi. Kami mendatangkan tiga orang juri, untuk menilai lomba mesatua Bali. Untuk mempercantik panggung, kami tugaskan Pak Bintang. Dengan kepiawaiannya, panggung itu menjadi begitu cantik walaupun dengan biaya yang murah. Suksma Pak Bintang! Sound system kami pinjam dari sekaa teruna. Penampilan panggung menjadi wah. Pak Putu Oka, penyuluh Bahasa Bali yang mengawal acara, pun sempat berdecak kagum.          

Pukul 15.00 Wita. Juri dan undangan sudah mulai berdatangan. Bahkan belasan penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di seluruh kecamatan di Marga ikut meramaikan. Tapi sungguh di luar dugaan, sampai pukul 15.15 anak-anak putra belum datang ke wantilan. Beberapa anak putri sudah hadir, dan sudah duduk di meja masing-masing. Undangan dan juri sudah lengkap, duduk di meja yang sudah disiapkan. Pak Perbekel Dauh Puri sampai bertanya-tanya kenapa anak-anak cowok belum ada yang datang. Undangan dan juri datang tepat waktu, tapi peserta belum ada. Duh…. bikin malu saja ini.

Semua panitia jadi gelisah. Bendesa Adat langsung ngacir, kemudian datang beberapa menit kemudian dengan wajah merah padam, membawa kabar yang mengejutkan: ternyata anak-anak cowok siap-siap untuk ngelawang Barong Bangkung!

Duh, seperti dugaan, anak-anak jaman sekarang sudah tidak menyukai lagi Bahasa dan Aksara Bali. Padahal ini acara yang begitu resmi.  Kami semakin gelisah dan menjadi begitu malu. Kenapa mereka tidak bisa libur ngelawang satu hari saja. Ngelawang itu bagus, tapi acara ini juga sangat penting. Padahal sebelumnya mereka sudah bilang bersedia hadir dengan kompak di wantilan, saat mereka selesai latihan megambel.

Pukul 15.45, satu per satu anak-anak cowok itu hadir. Ekspresi mereka sedikit kecewa karena batal ngelawang. Kemudian duduk di meja yang sudah disiapkan. Biarkanlah mereka sedikit kecewa. Mungkin ini sedikit memaksa mereka, yang penting dengan nyurat aksara Bali ini, ada sedikit yang melekat di bilik ingatan mereka. Walaupun aksara Bali mungkin tidak menarik lagi bagi mereka, setidaknya suatu ketika mereka akan menggunakannya.

Akhirnya pukul 16.00 Wita acara baru bisa dimulai, molor satu jam dari waktu yang sudah ditetapkan. Bersamaan dengan Festival Nyurat Aksara Bali, lomba Mesatue Bali dilangsungkan. Satu per satu pamilet (peserta) naik ke panggung, setelah proses pengundian nomer urut. Sebelumnya peserta yang mendaftar 5 orang, tapi kemudian salah satu mengundurkan diri karena pas datang bulan. Karena acara diadakan di wantilan Pura Puseh lan Desa yang merupakan areal tempat suci, yang kena cuntaka tentu tidak layak untuk masuk.

Dongeng Bali, yang pernah akrab di telinga kami saat masa kanak-kanak dulu, bisa kami dengar kembali di atas panggung, lewat sound system  yang bagus yang menghasilkan suara keras dan jernih. Semua peserta betul-betul telah siap. Mungkin mereka telah berlatih berhari-hari dengan sangat serius. Ekspresi, mimik, intonasi suara mereka mirip seperti dalang-dalang yang pentas di Ardha Candra. Ada yang membawakan cerita I Tetani Satya teken Janji, I Sugih teken I Tiwas, I Lutung teken I Kakua dan Ni Tuwung Kuning. Semua cerita yang populer di jaman dulu.


Gembira berfoto bersama

Dengan kegiatan wajib Bulan Bahasa Bali ini, yang diadakan di 1.493 desa adat seluruh Bali, setidaknya bisa menstimulasi agar Bahasa dan Aksara Bali bisa lestari. Terus terang, saya suka sekali mendengar saat di paruman hadirin menggunakan bahasa Bali sor singgih, walau saya tidak mengerti artinya….hehehe. Sungguh, saat dibaca atau diperdengarkan, Bahasa Bali itu sungguh berwibawa dan menggetarkan. Di acara kemarin saya baru tahu arti kata pamilet dan jayanti (juara), kosa kata yang baru saya kenal. Sungguh, kata-kata Bahasa Bali enak didengar. Dan saya berjanji untuk mempelajari bahasa Bali lagi dari nol. Orang Bali yang baru belajar Bahasa Bali, bahasa ibunya…hehehe

Di puncak acara, pemenang lomba Mesatue Bali diumumkan oleh juri. Jayanti 1 diraih oleh Bu Revan. Anak-anak kemudian mengumpulkan hasil Nyurat Aksara. Sungguh, tulisan mereka rapi-rapi. Kalau saja mereka mau serius, belajar Bahasa Bali tidak sesusah belajar Bahasa Inggris atau Bahasa Jepang. Tapi kadung bahasa asing memang lebih tinggi gengsinya.

Yah, selesai sudah tugas kami. Saat wantilan itu sepi, peserta dan undangan sudah pulang, dan kami panitia masih membersihkan wantilan, sayup-sayup terdengar suara gambelan Barong Bangkung. Ternyata anak-anak itu berangkat juga ngelawang walaupun matahari sebentar lagi akan terbenam di langit barat. [T]

Tags: Bulan Bahasa Bali
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahottama untuk Sastrawan Ida Bagus Sunu Pidada

Next Post

Terima Kasih, Saya Kuliah D3 Hingga S2 dengan Modal Pinjaman di LPD

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Terima Kasih, Saya Kuliah D3 Hingga S2 dengan Modal Pinjaman di LPD

Terima Kasih, Saya Kuliah D3 Hingga S2 dengan Modal Pinjaman di LPD

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co