3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Distrik Manang, Potongan Kecil Himalaya

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
January 8, 2020
in Tualang
Distrik Manang, Potongan Kecil Himalaya

Distrik Manang, Potongan Kecil Himalaya [Foto: Yoga Pramartha]

Natal tahun 2019, pukul 11.45. Pesawat saya menyentuh tanah Kathmandu yang kala itu diselimuti kabut. Musim dingin di Nepal mewajibkanmu untuk membungkus seluruh bagian tubuh, tidak terkecuali kepala hingga mulut. Udara begitu menusuk yang membuat mulut dan hidung kering.

Tujuan saya bukanlah Kathmandu. Namun, saya memiliki satu hari yang cukup untuk bersua Kuil Swayambhunath dan Patan Durbar Square. Saya “menyamar” sebagai seorang Nepali dan kebanyakan orang mengira saya Nepali hingga tangan saya meraih kamera dan mengeluarkannya dari tas kecil. “Where are you from?” tanya seorang penjaga Kuil. Ketika saya mendeklarasikan kewarganegaraan saya, digiringlah saya menuju loket untuk membayar 200 Rupee (Sekitar Rp 25.000) untuk masuk ke Kuil, meskipun saya sebenarnya sudah berada di atas sebelum jati diri saya ketahuan di sana.

Saya tiba di Patan Durbar Square ketika gelap sudah menyelubungi langit, pukul 05.30 sore hari. Ratusan warga lokal memenuhi salah satu warisan UNESCO ini. Kebanyakan mereka duduk-duduk santai dan mengambil foto. Sebagian besar terlihat bersama teman-teman, keluarga, ataupun saudara. Waktu saya tak cukup lama, karena saya harus mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang keesokan harinya.

Pukul 06.45 pagi keesokan harinya, saya cukup terlambat untuk mengambil Micro Bus hingga mendapat tempat yang agak berdesakan dengan penumpang lainnya. 6 jam kemudian, saya sampai di Besishahar, tempat terakhir di mana jalan memiliki permukaan mulus. 6 jam selanjutnya saya harus tempuh bersama jeep, melewati tebing lembah Manang yang berbatu dan ber-es. Entah kenapa saya hanya memiliki sedikit rasa takut atau khawatir ketika melalui jalan penuh goncangan tersebut dan saya mempercayakan keselamatan saya sepenuhnya pada pak supir yang terlihat begitu santai dan tenang dengan pengalaman yang cukup melewati jalan seperti itu.

Akhirnya kami sampai di Chame, salah satu desa di Distrik Manang. Saya tiba di Teahouse pertama saya di Chame. Teh Susu yang disuguhkan benar-benar seperti surga setelah perjalanan panjang, dingin dan kering. Meski demikian, saya sangat-sangat dimanjakan dengan pemandangan memukau pegunungan di Distrik Lamjung sebelum sampai Distrik Manang.



Perjalanan dari Chame menuju Manang menggunakan Jeep [Foto Yoga Pramartha]

Suhu pada pagi hari tanggal 27 Desember 2019 mencapai -12°C. Sebenarnya awalnya saya mendapat kabar bahwa tidak ada Jeep menuju Desa Manang, karena es yang begitu licin dan salju yang cukup tinggi yang membuat Jeep tidak dapat lewat. Namun, saya sangat beruntung dalam perjalanan ini karena mendapatkan tumpangan Jeep menuju Manang. Setelah 3-4 jam perjalanan, saya dan guide sampai di Desa Manang yang terletak di ketinggian 3.540 meter di atas permukaan laut. Pemandangan puncak Gangapurna (7.455 mdpl) dan Annapurna III (7.555 mdpl) di balik jendela kamar menantang saya untuk menggapainya. Namun apa daya, saya bukan seorang keturunan Sherpa yang mampu menaklukkan gunung-gunung di bentangan Himalaya. Kesempatan untuk mengelilingi desa dan melihat Danau dan Glacier Gangapurna saja sudah lebih dari cukup bagi saya.

Hari Sabtu, 28 Desember 2019 dengan suhu -16°C, saya mulai mengalami gejala ringan Altitude Sickness. Semalam sebelumnya saya sama sekali tidak dapat tidur, kepala dan leher sakit. Guide saya mengatakan bahwa obat pertama untuk Altitude Sickness adalah turun menuju ketinggian yang lebih rendah. Saat itu, sayangnya tidak ada Jeep yang berangkat dari Manang untuk turun ke bawah sehingga kami harus trek selama 6-7 jam menuju Upper Pisang. Hal ini adalah keberuntungan bagi saya karena selama sekian jam perjalanan turun saya disuguhkan bentangan megah dan majestic lembah Manang yang sama sekali berbeda dengan Indonesia. Saya tak henti-hentinya terkagum-kagum dan berpikir “Apakah aku di dunia yang berbeda?” Namun sayang sekali, ketika mencapai Upper Pisang, dan hanya tinggal 50 meter saja naik tangga saya menyerah dan memberikan barang bawaan saya kepada guide saya hingga mencapai Teahouse di Upper Pisang.


Pemandangan Desa Humde, trekking menuju Upper Pisang dari Manang [Foto Yoga Pramartha]

Di jadwal perjalanan, seharusnya saya naik 200 meter dari Manang menuju Khangsar. Justru, saya turun sampai Upper Pisang. Namun, sekali lagi ini saya anggap sebagai keberuntungan, karena dari Upper Pisang saya serasa begitu dekat dengan Annapurna II (7.937 mdpl) yang begitu megah dan berdiri seakan menatap saya dan mengatakan bahwa saya begitu kecil. Satu hari di Upper Pisang, saya berkesempatan mengunjungi salah satu monastery di sana yang saat itu kosong karena para bhiksu belum ada di sana. Saat itu saya berpikir betapa hebatnya perjuangan para orang Sherpa dan Gurung di pegunungan Himalaya menjaga kesucian dan kesakralan alam meskipun banyak sekali turis yang melakukan trekking di area tersebut.



Pemandangan Annapurna II, 7.937 mdpl dari Upper Pisang [Foto Yoga Pramartha]

Dari Upper Pisang kami turun, sekali lagi tanpa kendaraan. Perhitungan kami kala itu, seandainya sama sekali tidak ada Jeep yang melintas, berarti kami harus bermalam di Chame sekali lagi. Seandainya kami menemukan Jeep, maka kami dapat turun lebih jauh dan bermalam di Tal dengan pemandangan yang tidak kalah megah, namun tanpa salju dan es. Sekali lagi, saya sangat beruntung karena setelah 3,5 jam trekking turun, sebuah Jeep melintas dan kamipun naik di belakang bersama barang-barang bawaan penumpang dan berdesakkan dengan 5 penumpang lainnya.

Setelah 3 jam perjalanan yang memabukkan, semua terbayar dengan pemandangan hebat dari bawah lembah Desa Tal yang berdampingan langsung dengan aliran Sungai Marsyangdi. Suhu sudah semakin hangat, tingkat oksigen semakin tinggi dan tekanan udara semakin rendah. Tal berada di ketinggian 1,700 mdpl, mirip dengan ketinggian Gunung Batur. Tal merupakan desa terakhir yang kami kunjungi di Distrik Manang sebelum akhirnya berangkat pulang menuju Kathmandu.

Begitu banyak pesan yang Himalaya sampaikan kepada saya. Yang pertama, saya harus menjaga dan menghargai diri dan keselamatan diri. Saya belajar untuk mendekatkan diri dengan diri sendiri dan semesta yang begitu megah dan luar biasa. Yang kedua, saya semakin membuka pikiran bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui, pahami ataupun mengerti di dunia ini, sehingga kebijaksanaan harus senantiasa ditumbuhkan dalam hidup. Kehidupan orang Nepal yang jauh dari kata kemajuan membuat saya sadar bahwa mereka perlu bantuan kita, perlu lebih banyak turis baik yang bisa memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Nepal dan Dunia.

Jika kalian cukup beruntung dapat membaca tulisan ini, mari hidup saat ini. Jangan sesalkan hari kemarin atau khawatirkan hari esok. Hiduplah hari ini, berpetuanglah dan tuliskan cerita luar biasa karena hidup hanya sekali. Dekatkan diri dengan diri sendiri, kuatkan mental dan fisik dan jadilah orang yang lebih kuat daripada sebelumnya. Tetap jaga dan lestarikan alam dan bantu mereka yang membutuhkan. Sekali lagi, hiduplah hari ini, pelajari banyak hal, berikan beribu cinta dan tertawalah selepas-lepasnya. Salam Damai. Namaste. [T]

Tags: indiaNepalperjalanan
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh Gatal “Kewanian”, Si Penderita Sembahyang dan Menari di Pohon Wani

Next Post

Bayang-Bayang Misogini Dalam Negeri

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Bayang-Bayang Misogini Dalam Negeri

Bayang-Bayang Misogini Dalam Negeri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co