2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayang-Bayang Misogini Dalam Negeri

Melliani Yulianty by Melliani Yulianty
January 8, 2020
in Esai
Bayang-Bayang Misogini Dalam Negeri

Ilustrasi diolah dari sumber Google

“Ya, saya sih sayang ya sama istri saya, dan suka sama setiap masakannya. Tapi, jujur! Saya paling gak bisa tuh kalo pulang kerja liat meja makan gak ada makanan. Saya udah capek-capek kerja, pulang-pulang malah kayak gitu. Haduh, saya bisa auto emosi sama istri saya.”

“Waduh, tapi, bukannya istri bapak juga pekerja kantoran? Bisa aja beliau capek juga, Pak. Jadi, gak bisa tuh setiap waktu masak buat bapak.”

“Loh, ya gak bisa lah! saya yang lebih capek, dia kan pekerja kantoran wanita, paling tugasnya apa sih? Kodrat dia, loh! Kamu gak pernah dengar ya? Tugas istri tuh cuma tiga: Dapur, Sumur, dan Kasur.”

“Bapak gak mau coba delivery makanan aja, Pak? Kayanya itu solusi yang terbaik, hehe.”

“Ada-ada aja kamu. Kan saya beristri, kalo gitu apa gunanya dong seorang istri? Ah, sudah-sudah. Nih mending daripada pusing bahas istri saya, kamu lihat, nih. Tadi, saya nemu artikel ‘Foto Syur Selebgram XXX Tersebar di Internet!’. Kaget juga saya pas tau, eh tapi pas saya buka foto-fotonya, mantep juga, hahaha.”

“Mana coba, Pak, saya pengen lihat juga, penasaran..!”

Kira-kira dari dialog di atas kalian menemukan adanya keganjalan, gak?

Mungkin, sebagian dari kalian ada yang melihat dialog di atas sebagai suatu hal yang lumrah, apalagi percakapan seperti itu mungkin sering kita dengar. Tetapi, saya yakin sebagian pun ada yang menemukan keganjalan dalam dialog di atas. Lantas, apa sih yang menjadi keganjalan dalam dialog di atas?

Yuk, kita bahas!

Pertama, Partner bicara si Bapak sempat berargumen kalau ternyata sang istri itu juga pekerja kantoran sama seperti si Bapak, tetapi si Bapak ini ‘mengecilkan’ atau ‘menyepelekan’ seorang wanita yang menjadi pekerja kantoran. Si Bapak padahal tau, kalau menjadi seorang pekerja kantoran itu melelahkan karena, toh, ia pun mengeluh. Tetapi baginya, jika seorang wanita yang menjadi pekerja kantoran, apa yang mereka tanggung atau rasakan tidak sebanding dengan apa yang si Bapak tanggung atau rasakan.

Kedua, si Bapak di awal ngaku-ngaku nya sayang sama sang istri, tapi anehnya, kalau si Bapak ini pulang kerja dan tidak mendapati makanan yang sudah disajikan di meja, semuanya tiba-tiba berubah 180 derajat! Si Bapak katanya bisa emosi dan marah sama sang istri. Haduh, padahal di zaman now, pemesanan atau delivery makanan itu sudah mudah, tetapi si Bapak tetap menuntut sang istri untuk tetap memasak dan menyajikan makanan di meja. Karena menurutnya, itu sudah kodrat sang istri, dan tugas seorang istri itu hanya sebatas: Dapur, Sumur, dan Kasur.

Oke, sepertinya kita dapat merasakan ketimpangan antara tugas/peran sang Bapak dan sang istri. Kalau berbicara mengenai kodrat tiap gender itu sangat kompleks. Tiap agama dan budaya pun punya pandangannya masing-masing. Tapi, jika kita lihat dari sisi ‘kemanusiaan’, mengenai si Bapak menggunakan ‘kodrat’ sebagai suatu tameng, tentu hal seperti demikian cukup mengganggu.

Nah.. dari sini dapat kita lihat bayang-bayang misogini dalam diri si Bapak ini.

Loh, apa sih itu misogini?

Menurut sosiolog Allan G. Johnson, “Misogini adalah sikap budaya kebencian terhadap perempuan karena mereka adalah perempuan.”

Waduh, tapi kayaknya si Bapak ini gak sampai segitunya deh. Toh, katanya kan si Bapak sayang sama istrinya. Masa termasuk misoginis, sih?

Hmm, tunggu dulu.

Maksud dari dialog di atas adalah untuk menampilkan atau memvisualisasikan bagaimana praktek misogini yang sebenarnya terjadi di masyarakat atau sekitar kita tanpa kita sadari, lho. Dari sinilah kita dilatih untuk lebih peka lagi terhadap masalah sosial seperti ini.

Nah, ‘kebencian terhadap perempuan karena mereka adalah perempuan’ itu tidak ditunjukkan oleh si Bapak secara eksplisit. Tetapi, dari cara ia memandang perempuan dan peran atau seperti yang Bapak katakan, ‘Guna’ dari perempuan itu yang menjadi bibit-bibit subur tumbuhnya sosok misoginis (orang yang menerapkan/mempraktikkan misogini).

Misoginis memandang perempuan sebagai the second-gender, mereka melihat diri mereka lebih superior jika dibandingkan dengan perempuan. Hal ini bisa dilihat ketika si Bapak berpikir tanggungannya sebagai pekerja kantoran bergender laki-laki lebih besar dibanding pekerja kantoran wanita, sehingga dirinya tetap menuntut untuk dilayani oleh sang istri, meskipun ada alternatif lain yang memudahkan, contohnya: memesan makanan.

Misoginis pun erat kaitannya dengan objektifikasi perempuan. Lho, kayak gimana sih? Gampangnya, kalian bisa melihat langsung  objektifikasi perempuan ini dari media-media ‘zaman now’ yang ‘menjajakan’ konten-konten berbau perempuan atau hal vulgar untuk menarik pembaca. Headline-headline artikel seperti, ‘Inilah 3 Bagian Tubuh Yang Pertama Kali Pria Lihat Dari Perempuan!’ atau ‘Viral! Foto Syur Selebriti Wanita X Tersebar di Internet’.

Seolah-olah perempuan dijadikan ‘objek’ untuk menarik perhatian masyarakat.

Gambar buram misogini dalam media memang sudah bukan menjadi hal yang asing lagi di mata dan telinga kita. Hal semacam itu sudah biasa tayang di berbagai media, termasuk media pertelevisian Indonesia. Dunia pertelevisian Indonesia tak luput dari pengaruh misogini. Dapat kita sadari di berbagai acara lucu-lucuan yang memang tujuannya adalah untuk menghibur, sebagai sarana entertain, ternyata seringkali terselip lelucon seksis, dan lagi-lagi perempuan dijadikan objeknya. Seperti, ketika bintang tamunya adalah perempuan, para komedian laki-laki biasanya akan mengomentari fisik si bintang tamu ini, menyelipkan lelucon vulgar untuk menarik atensi penonton.

Kejadian-kejadian seksis sejenis itu sering terjadi di sekitar kita, sehingga masyarakat acapkali menormalisasikannya, seolah-olah memang sudah seperti itu sosok dan kebiasaan ‘laki-laki’, seperti pada kalimat “boys will be boys.”

So, what can we take away from this?

Masalah sosial seperti misogini sudah menjadi pro dan kontra dalam masyarakat, masih banyak yang melihat misogini sebagai hal yang sepele, padahal berdampak besar untuk generasi bangsa selanjutnya. Tetapi, kita disini sekarang sudah memahami salah satu praktik masalah sosial yang sering buram di mata masyarakat. Marilah kita mulai menajamkan kepekaan kita pada hal-hal yang masih dianggap minor bagi masyarakat, dan peduli akan sekitar kita.

Mari kita terangi bangsa ini dari bayang-bayang misogini!

Sumber:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Misogini
  • https://www.youtube.com/watch?v=1r3FkR5rziY : ‘Donald Trump: Lovably Sticom Misogynist’
  • https://www.quora.com/What-are-the-differences-among-misogyny-sexism-and-male-chauvinism-and-what-are-some-examples
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Distrik Manang, Potongan Kecil Himalaya

Next Post

Bolak-Balik Denpasar-Buleleng, Sesekali Lewatlah Jalur Petang, Nikmati Wisata Gratis di Sela Perjalanan

Melliani Yulianty

Melliani Yulianty

Lahir di Tangerang, 13 Januari 2000. Mahasiswa Universitas Bina Nusantara, jurusan Ilmu Komunikasi,

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Bolak-Balik Denpasar-Buleleng, Sesekali Lewatlah Jalur Petang, Nikmati Wisata Gratis di Sela Perjalanan

Bolak-Balik Denpasar-Buleleng, Sesekali Lewatlah Jalur Petang, Nikmati Wisata Gratis di Sela Perjalanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co