13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Jambore Pemuda Indonesia 2019 dan Kenangan yang Menyertainya

Julio Saputra by Julio Saputra
November 28, 2019
in Khas
Hujan, Jambore Pemuda Indonesia 2019 dan Kenangan yang Menyertainya

Jambore Pemuda Indonesia 2019

Yang

Hujan turun lagi

Di bawah payung hitam kuberlindung

–

Benci…benci… tapi rindu jua…

memandang wajah dan senyummu saying

Rindu…rindu… tapi benci jua…bila ingat kau sakiti hatiku

Antara benci dan rindu disini

Membuat mataku menangis


Sejak lagu “Antara Benci dan Rindu” yang dilantunkan Ratih Purwasih naik daun, hujan sepertinya memiliki ikatan yang suci bersama hal yang disebut kenangan. Kedua hal tersebut seolah-olah menjadi satu kesatuan yang utuh. Saat hujan turun, akan selalu ada kemunculan ingatan akan kenangan. Ada ribuan puisi tentang kenangan dan hujan. Sampai-sampai ada pepatah mengatakan “Hujan itu 1% air, 99% kenangan”. Pepatah yang sangat implisit, namun ternyata percaya tidak percaya pepatah tersebut benar adanya. Kini berbicara hujan bukan melulu soal manfaatnya terhadap makhluk hidup, tapi juga tentang perasaan akan suatu kejadian tertentu saat turun hujan, seperti misalnya terjebak hujan bersama orang yang dicinta, mengobrol panjang lebar sambil menikmati mie rebus, dan lain sebagainya.

Hujan membuat seseorang semakin jatuh dalam kenangan. Begitulah adanya, hujan jugalah yang menjadi salah satu hal yang mengingatkan 400 lebih pemuda dari seluruh Indonesia tentang kenangan paling manis tahun ini, yaitu Jambore Pemuda Indonesia (JPI) 2019. Mereka semua adalah peserta JPI 2019 itu sendiri. Tulisan ini sebenarnya agak lama berjarak dari kegiatan JPI 2019, namun kenangannya yang berkaitan dengan hujan masih terasa hangat untuk diceritakan, terutama di musim hujan seperti sekarang ini. Nah, apa yang kemudian menjadi sangat spesial tentang hujan sampai-sampai mengingatkan tentang JPI 2019?

Begini lho, mari kita awali dengan kesan pertama saat pertama kali melihat lokasi perkemahan untuk kegiatan JPI 2019. Wow, tempatnya lumayan bagus dengan fasilitas yang hhmmm okelah untuk berkemah. Lokasi tenda sudah tertata dengan rapi. Tenda-tenda peserta pun terlihat sudah berdiri, mirip seperti sebuah perumahan kecil dengan bentuk dan warna yang sama. Di dalamnya, velbed untuk para peserta juga sudah tersedia. Sayangnya tidak semua peserta mendapat velbed untuk tempat tidur mereka. Sebagian lagi mau tak mau harus tidur di atas matras tebal yang langsung menyentuh tanah. Beberapa kamar mandi dan toilet juga sudah berdiri dengan cantik. Bayangan para peserta tentu sudah wow, atau mungkin big WOW. Tentu ada yang sudah berekspektasi kemah di kegiatan JPI 2019 akan sangat menyenangkan. Namun semua berubah ketika hujan menyerang.

Dari awal pelaksanaan JPI 2019 di tanggal 31 Oktober 2019 sampai penutupan kegiatan di tanggal 5 November 2019, di atas jam 13.00 WITA, sudah dapat dipastikan hujan akan turun dengan derasnya. Mencari hujan bukanlah perkara susah di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Orang-orang tak perlu memanggil pawang hujan atau melakukan tarian pemanggil hujan. Tak perlu juga alat penurun hujan seperti yang dilakukan Nobita dan Doraemon. Itu geloooo. Tanpa itu semua, hujan pasti akan turun ke bumi. Akibatnya semua jadi basah, yang di bawah basah, yang di atas juga basah. Hujan membasahi semua, menyamarkan sisa-sisa air mata yang membanjiri pipi akibat ditinggal nikah sang mantan. Hhhmmm berbicara tentang hujan kok malah jadi ingat mantan, mantan situ payung? Baiklah, kalau begitu harap sedia mantan sebelum hujan

Hujan selama pelaksanaan JPI 2019 itu benar-benar merepotkan para peserta. Hujannya turun tanpa aba-aba, tanpa hitungan satu dua tiga, tanpa rintik-rintik pelan yang mengisyaratkan, hujannya langsung deras begitu saja. Akibatnya air membentuk genangan dengan sangat cepat di mana-mana, termasuk di dalam tenda. Air hujan pun mengalir sampai jauh. Lapangan tempat peserta berkemah menjadi becek sebecek-beceknya, lengkap dengan lumpur yang licin, mirip sawah-sawah para petani yang baru saja digenangi air. Kondisi tanah yang becek, berlumpur, dan licin tentu menjadi sulit untuk dilewati. Pernah sekali kaki salah seorang peserta tenggelam ke dalam lumpur akibat becek yang mengelilingi areal tenda. Syukurnya, yang tenggelam hanyalah kakinya saja, dan masih lebih syukur lagi karena ia hanya tenggelam di dalam lumpur, bukan tenggelam dalam lautan luka dalam, apalagi tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, aku tanpamu butiran debu. Lha, kok malah nyanyi?

Nah, tak cukup hanya di lapangan dan areal perkemahan, hujan yang turun mengakibatkan banjir di tempat pameran, meski tempat pameran berada di dalam gedung olahraga. Mau tak mau, sebagian besar para peserta harus menyelamatkan barang-barang mereka, dilanjutkan dengan mengepel air yang menggenang di lantai dengan kondisi basah kuyup kehujanan, kemudian mengeluarkan air hujan yang membanjiri tempat pameran. Tak hanya itu, sebagian besar peserta juga pengunjung pameran terjebak di sana, tapi kalau dipikir-pikir tak apalah terjebak hujan, ketimbang terjebak nostalgia dan masa lalu. Waduh jangan sampai mas mbak, sebab di luar sana ada masa depan yang sedang menanti. Nah, bukan hanya di tempat pameran mereka terjebak, sebagian peserta juga ada yang terjebak di tempat lainnya, seperti di warung-warung, di panggung utama, di teras-teras rumah, dan tempat-tempat teduh lainnya, bahkan ada pula yang terjebak di kamar mandi. Hiks kasihan sekali. Kamar mandinya sempit, sesempit hati si doi.

Hujan yang turun juga sempat menunda pawai budaya nusantara yang akan diadakan saat itu. Hujannya awet gais, karena turun lumayan deras dengan durasi yang juga lumayan lama. Eits tunggu dulu, hujan saja bisa awet, kenapa hubungan kita enggak? Hhhhmmmm pakai formalin makanya. Pawai budaya yang rencananya akan dimulai sekitar pukul 13.30 WITA (ini kalau tidak salah) harus tertunda sampai pukul 16.30 WITA. Syukurnya, para peserta bisa bernafas dengan lega karena mereka tak perlu dikejar waktu dalam mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pawai budaya. Mereka bisa berhias dengan santai, pun memakai semua kelengkapaan, seperti pakaian dan properti pendukung tanpa tergesa-gesa. Syukurnya lagi, hujannya reda bukan di malam hari, sehingga dari pukul 17.00 WITA sampai sekitar pukul 19.00 WITA ke atas (ini juga kalau tidak salah ya), para peserta dapat mengikuti kegiatan Pawai Budaya Nusantara. Mereka menunjukan berbagai kekhasan daerah masing-masing, menyanyikan lagu daerahnya sendiri sambil berjalan mengelilingi beberapa sudut kota Tondano, Minahasa. Masyarakat menyambut dengan sangat antusias. Tak sedikit pula dari mereka memberi semangat kepada para peserta sambil sesekali meminta foto bersama. Tentu saja para peserta menjadi semakin bersemangat.

Hal merepotkan lainnya karena hujan yang turun bisa dirasakan oleh sebagian besar peserta wanita, yaitu lunturnya make up yang sudah menempel dan mempercantik wajah mereka. Tentu ini akan menjadi hal yang sangat tak diinginkan. Saat make up luntur, wajah mereka tidak lagi flawless, tidak lagi on point.  Bedak atau foundation mereka akan luntur terkena air hujan, akibatnya warna pada wajah mereka tidak lagi merata, terkesan belang atau sejenisnya. Sebagian alis mereka (yang menggunakan pensil alis) mulai terkikis dan lagi-lagi tidak balance. Satu dua bulu mata palsu pun terlepas dari tempatnya akibat hujan yang turun keroyokan. Jujur, ini terlalu mendramatisir, tapi begitulah bayangannya jika make up luntur saat turun hujan. Ingin make up tidak luntur? Pakai waterproof make up. Dijamin aman, tak perlu khawatir luntur.

Di samping hal-hal yang merepotkan, hujan juga membawa kenangan yang manis bagi sebagian peserta. Sebagian dari mereka terlihat sangat menikmati kehujaan di atas truk saat perjalanan kembali ke tempat pameran sepulang dari mengangkat eceng gondok. Mereka tertawa lepas. Keseruan mereka bahkan diabadikan dalam sebuah video singkat yang kemudian (setelah beberapa hari) baru dikirim ke grup nasional saat ada obrolan tentang hujan yang turun di kegiatan JPI 2019. Dalam video itu mereka nampak sangat bahagia, tak peduli dengan cinta omong kosong, bodo amat dengan status jomblo, ketimbang susah, mereka menganggap hujan sebagai berkah. Air yang turun dari langit menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi mereka. Seeakan-akan mereka kembali pada keseruan masa kecil menikmati derasnya hujan, seperti main hujan-hujanan, berlari-lari tak tentu arah, mendongak ke atas, menendang-nendang kubangan air sambil tertawa lepas mencipratkannya ke teman-teman yang lain, atau bermain bola di tanah lapang tanpa peduli baju kotor, bermain perahu-perahuan dari kertas dari ujung selokan sampai ujung lainnya, dan masih banyak lagi. Ahh, senangnya melihat mereka bahagia di tengah-tengah hujan deras.

Ada pula peserta yang karena kehujanan di atas truk, justru malah bertemu dengan orang yang sangat berkesan, hhmmm barangkali bisa disebut cinlok, atau sama-sama menyanyangi tapi tak bisa memiliki. Aduhhh apaya namanya. Statusnya tak bisa didefinisikan dengan pasti, namun sebagian besar anak muda pernah mengalami hal yang mirip. Ceritanya begini, tersebutlah Cinta (bukan nama sesungguhnya), seorang peserta JPI 2019 dari sebuah provinsi di Indonesia, saat mengikuti kegiatan giat bakti mengangkat eceng gondok, hujan tiba-tiba turun, ia berteduh di sebuah rumah dekat tempat kegiatan. Di sana ia mengambil foto bersama peserta lain dari provinsi yang berbeda sambil berkenalan. Di sanalah ia berkenalan dengan Rangga (juga bukan nama sesungguhnya), juga seorang peserta JPI 2019 dari provinsi yang terpisah jauh dari Cinta. Awalanya biasa saja, namun semua berubah saat hujan mulai reda, saat mereka berdua mulai naik ke atas truk yang sama, dan tiba-tiba bertemu lagi dengan hujan di tengah jalan.

Di sanalah, Rangga memperlakukan Cinta dengan penuh perhatian. Pada saat itu, Rangga melindungi Cinta dari derasnya hujan. Ia juga memegang handphone dan tas milik Cinta agar tidak basah. Truk yang melaju dengan sangat bar-bar membuat para peserta sesekali terguncang. Rangga juga memegang tangan Cinta agar ia tak terjatuh. Mereka saling berpegangan sampai depan tempat pameran. Menurut Cinta, Rangga adalah seorang pahlawan. Aaaa so sweet. Dari sana mereka saling bertukar nomor whastapp dan memulai kisah selanjutnya. Mau tau kisahnya? Nantikan episode selanjutnya.

Tentu masih banyak kenangan tersendiri tentang hujan yang turun di JPI 2019, sebagaian besar memang merpotkan, namun tak sedikit juga kenangan manis yang tercipta karena hujan, seperti kisah Cinta dan Rangga tadi. Hujan bisa saja menjadi salah satu pengingat kegiatan JPI 2019, sebuah memori yang tak akan lekang dimakan waktu. Meski merepotkan, hujan juga mneyenangkan. Meski susah, juga berkah. Jadi jangan disesali ketika turun hujan. Hujan akan selalu menjadi harapan bagi semuanya, terutama mereka-mereka para jomblo yang berdoa mohon hujan di malam minggu. Selamat memaknai hujan, selamat memaknai kenangan. [T]

Tags: hujanJambore Pemuda Indonesiapemuda
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Literasi di Tempat Rekreasi

Next Post

Hujan dan Kampung Saya yang Semakin Memanas

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Priayi Kecil

Hujan dan Kampung Saya yang Semakin Memanas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co