25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tut… Tut… Tut… Tuhan

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
November 2, 2019
in Cerpen
Tut… Tut… Tut… Tuhan

Performance Art by Komunitas Puntung Rokok Undiksha (Foto Mursal Buyung)

Cerpen Kim Al Ghozali

“Halo… Halo… Siapa ini?”

            “Ini saya.”

            “Saya siapa?”

            “Ya saya. Apakah ini Tuhan?”

            “Tuhan… Tuhan… Ini hantu!”

            “Saya tanya serius, apakah ini Tuhan?”

            “Ini hantu!”

            Tut… Tut… Tut… Panggilan diputus dari seberang.

            Lagi-lagi nomor yang tidak aku kenal. Sebenarnya apa maunya orang-orang ini? Ketika kucoba menelepon balik, ternyata nomor itu sudah tidak aktif. Aneh. Makin hari makin banyak saja orang tak waras. Selain sering kuterima panggilan-panggilan tak jelas  begini, akhir-akhir ini juga sering aku menerima SMS aneh. Mulai pesan pemberitahuan bahwa aku mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah beserta mobil keluaran terbaru (padahal aku tak ikut lomba atau undian apa-apa), pesan seorang akan menghibahkan kekayaannya sebanyak 1M kepadaku, SMS mama minta pulsa, sampai ajakan selingkuh.

            “Anda kesepian? Sama dong… Suamiku sudah tiga kali puasa tiga kali Lebaran tak pulang-pulang jadi TKI di Arab. Aku harap kau mau menghangatkanku malam ini. Hubungi balik ya Sayang…” bunyi pesan yang kuterima seminggu lalu.

            “Siapa?” tanya istriku yang kebetulan ada di dekatku saat aku sedang menerima pesan itu.

            “SMS nyasar.”

            “Kok dihapus?”

            “Menuh-menuhi kotak pesan saja.”

            “Jangan bilang dari perempuan ya!”

            “Memang dari perempuan, tapi bukan buatku. Nyasar!”

            “Nyasar bagaimana?”

            “Ya nyasar.”

            “Hemmm… Rupanya begitu ya. Awas kau!” istriku mendelik dan meninggalkanku menuju dapur.

            “Percayalah, ini hanya pesan nyasar. Jangan berburuk sangka begitu. Demi moyang aku tak berbuat sesuatu yang tidak-tidak!”

            Makin hari memang makin ada-ada saja. Makin banyak orang gila. Orang iseng. Mentang-mentang provider Indoshit sedang promo besar-besaran, menggratiskan SMS dan menelepon lalu seenaknya orang-orang mengisengiku.

            Dan makin hari istriku makin curiga padaku. Sudah seminggu sejak aku menerima pesan pendek tak jelas itu ia tak mau bicara lagi denganku. Kalaupun bicara itu hanya dalam keadaan terpaksa, dengan muka ditekuk seperti kardus dan menambah jelek mukanya yang memang jelek macam nenek-nenek. Huftt…

            “Awas ya kalau ketahuan siapa yang mengirim pesan itu, pasti bakal aku ikat orang itu di pohon jati di kuburan angker selama semalam. Biar tahu rasa,” batinku.

            Aku yakin ini semua ulah teman-temanku, karena hanya mereka yang tahu nomor ponselku. Tapi aku belum bisa mencurigai seorang dari mereka. Maman, Mindraes, Dulgenit, aku menyebut tiga nama kawanku yang selama ini biasa mengisengi orang. Adakah seorang dari tiga orang ini yang patut aku curigai? pikiranku meraba-raba. Bisa jadi ketiganya berkomplot mengerjaiku.

            “Apakah ini Tuhan?” masih terngiang-ngiang pertanyaan dari nomor tak kukenal itu. Aku ingat-ingat lagi warna suaranya, caranya berbicara dan perangainya dalam berkata, tapi belum kutemukan gambaran, tak ada suara temanku yang seperti itu. Ataukah ini seorang yang sengaja ingin mengacaukan pikiranku? Bisa jadi seorang yang sengaja mengacaukan pikiranku. Sedikit demi sedikit, pelan namun pasti, ia menerorku dengan cara-cara yang tak biasa melalui telepon dan pesan singkat. Mereka ingin aku gila dengan perlahan.

            Tapi apakah aku Tuhan. Ya apakah benar aku Tuhan, seperti yang ditanyakan orang dalam panggilan telepon itu? Aku meraba wajahku. Aku meraba tanganku. Lalu aku pergi ke depan cermin dan bercermin dengan sungguh-sungguh. Aku lihat wajahku sendiri. Aku lihat kedalaman wajahku. Aku lihat sorot mataku, bibirku, bentuk hidungku, dahi dan pipiku. Tidak, tidak ada sesuatu yang berbeda.

            Hari ini aku hanya demam. Pikiranku mulai ke mana-mana. Dan sepertinya orang yang menelponku itu tahu aku sedang tidak enak badan. Kakiku mulai goyah dan lemas, pandanganku berkunang-kunang, kepalaku terasa berat, bumi berputar, berputar seperti komidi putar, makin kencang, tambah kencang dan…. Braaaak… Kakiku tak mampu menyanggah tubuhku. Tubuhnya roboh ke lincak tanpa kasur. Awan mulai gelap, bumi mulai gelap, angin ribut di atas pepohonan, batu-batu melompat tidak karuan seperti ribuan lelaki-perempuan dalam konser musik rock di lapangan terbuka.

            Aku tergeletak tak berdaya, rasa panas campur dingin menguasai tubuhku. Rasa sakit memeluk erat-erat lapisan kulitku dan palu godam bertengger di kepalaku. Aku sekarat dan dalam sekarat aku melihat:

            Seorang perempuan berbaju hitam, menebar jala di atas rerumputan. Lalu turun gerimis dari atas bukit, segerombolan anak-anak bernyanyi.[1]

            Namun tiba-tiba ponselku bernyanyi, melantunkan lagu dangdut koplo Jaran Goyang yang sedang nge-tren. Itu nada panggilan masuk. Aku lepas dari sekarat. Aku buka mataku. Aku bangun dan melangkah tertatih-tatih menuju meja tempat ponselku tergeletak. Nomor itu lagi…

            “Halo…” hening.

            “Halo…” hening.

            “Haloooo….” masih tak ada jawaban. “Siapa ini, heeehhh, ini siapa? Jangan coba-coba menggangguku!”

            “Kalem, Pak,” sebuah suara dari seberang. “Aku tidak budek,” katanya.

            “Kalau tidak budek kenapa tidak menjawab!?”

            “Sedang menunggu.”

            “Menunggu apa?”

            “Menunggu sinyal.”

            “Memang sinyal sedang pergi ke mana?”

            “Sedang mencari Tuhan.”

            Tut… tut… tut… Makklojonggebot! Panggilan diputus.

            Geram, panas dan jarum-jarum menusuk dadaku. Masih sempat-sempatnya ada orang menggangguku saat aku sedang sakit begini. Dengan amarah sebesar gelombang tsunami aku coba panggil balik nomor itu.

            “Isi dulu pulsa Anda sebelum melakukan panggilan. Dan tahan emosi, tahan, tahan dan mencobalah untuk bersabar.”Operator pakai berceramah segala. Dasar babi!

            Tak harus menunggu waktu lama, tiba-tiba ponselku bernyanyi dangdut koplo lagi, Jaran Goyang. Kulihat di layarnya, bukan nomor tadi. Tapi sama-sama nomor baru yang belum pernah masuk ke ponselku: +628Y5K00E33.

            “Mau apa lagi?”

            “Maaf,” ujarnya dari seberang, suaranya terdengar begitu lembut, suara perempuan, seperti aku pernah mendengar suara itu. Tapi di mana? Apakah ia adalah seorang yang telah menjadi masa laluku dan mencoba menghubungiku kembali? Apakah ia adalah mantan kekasihku yang sedang mencariku? Pikiranku mulai bekerja—meski tubuhku tetap diserang demam dan kepalaku nyut-nyut tidak karuan. Apakah ia adalah Fitri, Iin, Isma, Rofa, Ulfa, atau Siti?

            Andaikan orang dalam panggilan ini adalah nama yang terakhir kusebut, tentu aku mau berbicara panjang lebar dengannya. Tentu aku tak akan menolak jika seandainya ia ingin kembali menjadi kekasihku, meskipun, tentu aku harus berkhianat pada istriku, menghianati sebuah ikatan suci perkawinan. Akan kutanggung segala konsekuensinya meskipun mahal harganya! Andaikan ia memang Siti, akan aku telepon ia setiap waktu. Sudah lama kutunggu-tunggu ia untuk datang kembali ke dalam hidupku. Akan aku ceritakan ketidakbahagiaanku dalam berumah tangga. Akan kuceritakan kegalakan istriku, kesepian hari-hariku dan semua kisah hidupku, juga tentang skizofreniaku yang kini hampir sembuh.

            “Maaf,” sekali lagi suara itu melayang dari seberang sana, “Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.” [2]

            Tiba-tiba dari muka pintu muncul istriku, wajahnya seperti gelas plastik yang terkena api, tak sedap dipandang. Tangannya yang cukup gesit tiba-tiba menyambar ponsel yang sedang kuletakkan di telinga.

            “Hei pelacur! Berani-beraninya mengganggu suami orang. Awas kucari kau. Kugorok lehermu, kumutilasi tubuh najismu itu dan kulemparkan potongaan-potongan tubuhmu ke hutan biar dimangsa anjing-anjing liar.” Suaranya menggelegar. Sesekali ia mendelik ke arahku dan tangannya menuding-nuding seperti jenderal yang sedang haus darah.

            “Di mana posisimu sekarang? Kalau kau memang gatal dan tak bisa ditahan, dan pengen suamiku, boleh ambil noh! Tapi sebelum mengambil dia langkahi dulu tengkukku?! Di mana posisi kau sekarang?!”

            Tut… tut.. tut… panggilan diputus dari seberang. 

            “Hati-hati kau, kupotong kau punya manuk!” ancamnya lalu meninggalkanku, tubuhnya yang seperti gajah membuat lantai kamar yang ditapakinya menjadi bergetar.

            Meski dalam keadaan seperti ini aku masih bersyukur, karena ponselku tak sampai dibanting oleh istriku—dan sepertinya dia memang tak ada niat untuk membantingnya. Ini ponselku satu-satunya dan sangat kusayang, melebihi sayangku kepada dia, istriku itu, gajah galak itu!

            Aku mencoba berdamai dengan diri sendiri, meredakan magma yang ada di dadaku, dan sedikit demi sedikit nyut-nyut di kepalaku mulai hilang. Begitu juga dengan demam yang ada di badan. Istriku sudah sampai di dapur dan terdengar ia sedang berkelotek dengan piring-piring, sendok, dan gelas.

            “Oh kamar, berilah kedamaian untukku sore ini,” munajatku. Burung merpati yang bertengger di ranting pohon belimbing di luar kamar tertawa-tawa santai mendengar doaku.

            Tapi, lagi-lagi ponsel itu bernyanyi dangdut koplo. Nomor baru lagi: 0335-854-&%$. Aku pura-pura tak mengacuhkan panggilan itu. Aku beranjak dari tempatku menuju pintu kamar. Pintu kututup rapat-rapat dengan tujuan agar istriku tak mendengarku. Aku kembali ke tempat ponselku berada.

            “Halo…” Kali ini aku memulai dengan santai, suaraku kubuat selembut mungkin. Karena aku yakin seorang perempuan di seberang sana sedang menungguku bicara. “Pasti Anda sedang mencari Tuhan ya? Tuhan sedang di sini, sedang menunggu Anda,” kataku pada penelepon itu.

            “Heeeeh… Heeeeh… Apa-apaan ini? Apa maksudnya? Jangan pura-pura tak waras ya Cak,” suara laki-laki dalam telepon dengan nada begitu kasar.

            “Loh?!”

            “Begini Cak Kim,” ucapnya, “Sampean ini sudah lima bulan tidak membayar kreditan motornya, jadi kapan mau dibayar? Kalau tidak, akan kami sita itu motor. Kami sudah terlalu toleran dan sabar beberapa bulan ini Sampean tidak membayar. Sekali lagi saya ingatkan, jika dalam waktu tiga hari dari sekarang tidak bayar, akan kami SITA!”

            Tut… tut… tut.. tut…    (*)   

Denpasar, 2018

Keterangan:

[1] Mimpi dalam Demam, puisi Frans Nadjira.

[2] Tuan, puisi Sapardi Djoko Damono.

Tags: Cerpen
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Nusa Penida, Menggeser Perspektif Ternak Kaki Empat Menjadi Roda Empat

Next Post

“Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan” – Dari Budaya Nusantara Hingga ke Budaya Luar

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
“Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan” – Dari Budaya Nusantara Hingga ke Budaya Luar

“Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan” - Dari Budaya Nusantara Hingga ke Budaya Luar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co