3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tut… Tut… Tut… Tuhan

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
November 2, 2019
in Cerpen
Tut… Tut… Tut… Tuhan

Performance Art by Komunitas Puntung Rokok Undiksha (Foto Mursal Buyung)

Cerpen Kim Al Ghozali

“Halo… Halo… Siapa ini?”

            “Ini saya.”

            “Saya siapa?”

            “Ya saya. Apakah ini Tuhan?”

            “Tuhan… Tuhan… Ini hantu!”

            “Saya tanya serius, apakah ini Tuhan?”

            “Ini hantu!”

            Tut… Tut… Tut… Panggilan diputus dari seberang.

            Lagi-lagi nomor yang tidak aku kenal. Sebenarnya apa maunya orang-orang ini? Ketika kucoba menelepon balik, ternyata nomor itu sudah tidak aktif. Aneh. Makin hari makin banyak saja orang tak waras. Selain sering kuterima panggilan-panggilan tak jelas  begini, akhir-akhir ini juga sering aku menerima SMS aneh. Mulai pesan pemberitahuan bahwa aku mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah beserta mobil keluaran terbaru (padahal aku tak ikut lomba atau undian apa-apa), pesan seorang akan menghibahkan kekayaannya sebanyak 1M kepadaku, SMS mama minta pulsa, sampai ajakan selingkuh.

            “Anda kesepian? Sama dong… Suamiku sudah tiga kali puasa tiga kali Lebaran tak pulang-pulang jadi TKI di Arab. Aku harap kau mau menghangatkanku malam ini. Hubungi balik ya Sayang…” bunyi pesan yang kuterima seminggu lalu.

            “Siapa?” tanya istriku yang kebetulan ada di dekatku saat aku sedang menerima pesan itu.

            “SMS nyasar.”

            “Kok dihapus?”

            “Menuh-menuhi kotak pesan saja.”

            “Jangan bilang dari perempuan ya!”

            “Memang dari perempuan, tapi bukan buatku. Nyasar!”

            “Nyasar bagaimana?”

            “Ya nyasar.”

            “Hemmm… Rupanya begitu ya. Awas kau!” istriku mendelik dan meninggalkanku menuju dapur.

            “Percayalah, ini hanya pesan nyasar. Jangan berburuk sangka begitu. Demi moyang aku tak berbuat sesuatu yang tidak-tidak!”

            Makin hari memang makin ada-ada saja. Makin banyak orang gila. Orang iseng. Mentang-mentang provider Indoshit sedang promo besar-besaran, menggratiskan SMS dan menelepon lalu seenaknya orang-orang mengisengiku.

            Dan makin hari istriku makin curiga padaku. Sudah seminggu sejak aku menerima pesan pendek tak jelas itu ia tak mau bicara lagi denganku. Kalaupun bicara itu hanya dalam keadaan terpaksa, dengan muka ditekuk seperti kardus dan menambah jelek mukanya yang memang jelek macam nenek-nenek. Huftt…

            “Awas ya kalau ketahuan siapa yang mengirim pesan itu, pasti bakal aku ikat orang itu di pohon jati di kuburan angker selama semalam. Biar tahu rasa,” batinku.

            Aku yakin ini semua ulah teman-temanku, karena hanya mereka yang tahu nomor ponselku. Tapi aku belum bisa mencurigai seorang dari mereka. Maman, Mindraes, Dulgenit, aku menyebut tiga nama kawanku yang selama ini biasa mengisengi orang. Adakah seorang dari tiga orang ini yang patut aku curigai? pikiranku meraba-raba. Bisa jadi ketiganya berkomplot mengerjaiku.

            “Apakah ini Tuhan?” masih terngiang-ngiang pertanyaan dari nomor tak kukenal itu. Aku ingat-ingat lagi warna suaranya, caranya berbicara dan perangainya dalam berkata, tapi belum kutemukan gambaran, tak ada suara temanku yang seperti itu. Ataukah ini seorang yang sengaja ingin mengacaukan pikiranku? Bisa jadi seorang yang sengaja mengacaukan pikiranku. Sedikit demi sedikit, pelan namun pasti, ia menerorku dengan cara-cara yang tak biasa melalui telepon dan pesan singkat. Mereka ingin aku gila dengan perlahan.

            Tapi apakah aku Tuhan. Ya apakah benar aku Tuhan, seperti yang ditanyakan orang dalam panggilan telepon itu? Aku meraba wajahku. Aku meraba tanganku. Lalu aku pergi ke depan cermin dan bercermin dengan sungguh-sungguh. Aku lihat wajahku sendiri. Aku lihat kedalaman wajahku. Aku lihat sorot mataku, bibirku, bentuk hidungku, dahi dan pipiku. Tidak, tidak ada sesuatu yang berbeda.

            Hari ini aku hanya demam. Pikiranku mulai ke mana-mana. Dan sepertinya orang yang menelponku itu tahu aku sedang tidak enak badan. Kakiku mulai goyah dan lemas, pandanganku berkunang-kunang, kepalaku terasa berat, bumi berputar, berputar seperti komidi putar, makin kencang, tambah kencang dan…. Braaaak… Kakiku tak mampu menyanggah tubuhku. Tubuhnya roboh ke lincak tanpa kasur. Awan mulai gelap, bumi mulai gelap, angin ribut di atas pepohonan, batu-batu melompat tidak karuan seperti ribuan lelaki-perempuan dalam konser musik rock di lapangan terbuka.

            Aku tergeletak tak berdaya, rasa panas campur dingin menguasai tubuhku. Rasa sakit memeluk erat-erat lapisan kulitku dan palu godam bertengger di kepalaku. Aku sekarat dan dalam sekarat aku melihat:

            Seorang perempuan berbaju hitam, menebar jala di atas rerumputan. Lalu turun gerimis dari atas bukit, segerombolan anak-anak bernyanyi.[1]

            Namun tiba-tiba ponselku bernyanyi, melantunkan lagu dangdut koplo Jaran Goyang yang sedang nge-tren. Itu nada panggilan masuk. Aku lepas dari sekarat. Aku buka mataku. Aku bangun dan melangkah tertatih-tatih menuju meja tempat ponselku tergeletak. Nomor itu lagi…

            “Halo…” hening.

            “Halo…” hening.

            “Haloooo….” masih tak ada jawaban. “Siapa ini, heeehhh, ini siapa? Jangan coba-coba menggangguku!”

            “Kalem, Pak,” sebuah suara dari seberang. “Aku tidak budek,” katanya.

            “Kalau tidak budek kenapa tidak menjawab!?”

            “Sedang menunggu.”

            “Menunggu apa?”

            “Menunggu sinyal.”

            “Memang sinyal sedang pergi ke mana?”

            “Sedang mencari Tuhan.”

            Tut… tut… tut… Makklojonggebot! Panggilan diputus.

            Geram, panas dan jarum-jarum menusuk dadaku. Masih sempat-sempatnya ada orang menggangguku saat aku sedang sakit begini. Dengan amarah sebesar gelombang tsunami aku coba panggil balik nomor itu.

            “Isi dulu pulsa Anda sebelum melakukan panggilan. Dan tahan emosi, tahan, tahan dan mencobalah untuk bersabar.”Operator pakai berceramah segala. Dasar babi!

            Tak harus menunggu waktu lama, tiba-tiba ponselku bernyanyi dangdut koplo lagi, Jaran Goyang. Kulihat di layarnya, bukan nomor tadi. Tapi sama-sama nomor baru yang belum pernah masuk ke ponselku: +628Y5K00E33.

            “Mau apa lagi?”

            “Maaf,” ujarnya dari seberang, suaranya terdengar begitu lembut, suara perempuan, seperti aku pernah mendengar suara itu. Tapi di mana? Apakah ia adalah seorang yang telah menjadi masa laluku dan mencoba menghubungiku kembali? Apakah ia adalah mantan kekasihku yang sedang mencariku? Pikiranku mulai bekerja—meski tubuhku tetap diserang demam dan kepalaku nyut-nyut tidak karuan. Apakah ia adalah Fitri, Iin, Isma, Rofa, Ulfa, atau Siti?

            Andaikan orang dalam panggilan ini adalah nama yang terakhir kusebut, tentu aku mau berbicara panjang lebar dengannya. Tentu aku tak akan menolak jika seandainya ia ingin kembali menjadi kekasihku, meskipun, tentu aku harus berkhianat pada istriku, menghianati sebuah ikatan suci perkawinan. Akan kutanggung segala konsekuensinya meskipun mahal harganya! Andaikan ia memang Siti, akan aku telepon ia setiap waktu. Sudah lama kutunggu-tunggu ia untuk datang kembali ke dalam hidupku. Akan aku ceritakan ketidakbahagiaanku dalam berumah tangga. Akan kuceritakan kegalakan istriku, kesepian hari-hariku dan semua kisah hidupku, juga tentang skizofreniaku yang kini hampir sembuh.

            “Maaf,” sekali lagi suara itu melayang dari seberang sana, “Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.” [2]

            Tiba-tiba dari muka pintu muncul istriku, wajahnya seperti gelas plastik yang terkena api, tak sedap dipandang. Tangannya yang cukup gesit tiba-tiba menyambar ponsel yang sedang kuletakkan di telinga.

            “Hei pelacur! Berani-beraninya mengganggu suami orang. Awas kucari kau. Kugorok lehermu, kumutilasi tubuh najismu itu dan kulemparkan potongaan-potongan tubuhmu ke hutan biar dimangsa anjing-anjing liar.” Suaranya menggelegar. Sesekali ia mendelik ke arahku dan tangannya menuding-nuding seperti jenderal yang sedang haus darah.

            “Di mana posisimu sekarang? Kalau kau memang gatal dan tak bisa ditahan, dan pengen suamiku, boleh ambil noh! Tapi sebelum mengambil dia langkahi dulu tengkukku?! Di mana posisi kau sekarang?!”

            Tut… tut.. tut… panggilan diputus dari seberang. 

            “Hati-hati kau, kupotong kau punya manuk!” ancamnya lalu meninggalkanku, tubuhnya yang seperti gajah membuat lantai kamar yang ditapakinya menjadi bergetar.

            Meski dalam keadaan seperti ini aku masih bersyukur, karena ponselku tak sampai dibanting oleh istriku—dan sepertinya dia memang tak ada niat untuk membantingnya. Ini ponselku satu-satunya dan sangat kusayang, melebihi sayangku kepada dia, istriku itu, gajah galak itu!

            Aku mencoba berdamai dengan diri sendiri, meredakan magma yang ada di dadaku, dan sedikit demi sedikit nyut-nyut di kepalaku mulai hilang. Begitu juga dengan demam yang ada di badan. Istriku sudah sampai di dapur dan terdengar ia sedang berkelotek dengan piring-piring, sendok, dan gelas.

            “Oh kamar, berilah kedamaian untukku sore ini,” munajatku. Burung merpati yang bertengger di ranting pohon belimbing di luar kamar tertawa-tawa santai mendengar doaku.

            Tapi, lagi-lagi ponsel itu bernyanyi dangdut koplo. Nomor baru lagi: 0335-854-&%$. Aku pura-pura tak mengacuhkan panggilan itu. Aku beranjak dari tempatku menuju pintu kamar. Pintu kututup rapat-rapat dengan tujuan agar istriku tak mendengarku. Aku kembali ke tempat ponselku berada.

            “Halo…” Kali ini aku memulai dengan santai, suaraku kubuat selembut mungkin. Karena aku yakin seorang perempuan di seberang sana sedang menungguku bicara. “Pasti Anda sedang mencari Tuhan ya? Tuhan sedang di sini, sedang menunggu Anda,” kataku pada penelepon itu.

            “Heeeeh… Heeeeh… Apa-apaan ini? Apa maksudnya? Jangan pura-pura tak waras ya Cak,” suara laki-laki dalam telepon dengan nada begitu kasar.

            “Loh?!”

            “Begini Cak Kim,” ucapnya, “Sampean ini sudah lima bulan tidak membayar kreditan motornya, jadi kapan mau dibayar? Kalau tidak, akan kami sita itu motor. Kami sudah terlalu toleran dan sabar beberapa bulan ini Sampean tidak membayar. Sekali lagi saya ingatkan, jika dalam waktu tiga hari dari sekarang tidak bayar, akan kami SITA!”

            Tut… tut… tut.. tut…    (*)   

Denpasar, 2018

Keterangan:

[1] Mimpi dalam Demam, puisi Frans Nadjira.

[2] Tuan, puisi Sapardi Djoko Damono.

Tags: Cerpen
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Nusa Penida, Menggeser Perspektif Ternak Kaki Empat Menjadi Roda Empat

Next Post

“Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan” – Dari Budaya Nusantara Hingga ke Budaya Luar

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
“Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan” – Dari Budaya Nusantara Hingga ke Budaya Luar

“Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan” - Dari Budaya Nusantara Hingga ke Budaya Luar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co