2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan” – Dari Budaya Nusantara Hingga ke Budaya Luar

Gita Galih Gumalang by Gita Galih Gumalang
November 2, 2019
in Ulasan
“Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan” – Dari Budaya Nusantara Hingga ke Budaya Luar

Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan adalah buku kumpulan cerpen karya I Putu Agus Phebi Rosadi. Buku ini diterbitkan oleh Mahima Institut Indonesia, Singaraja pada tahun 2019. Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen pertama I Putu Agus Phebi Rosadi. Cerpen-cerpen dalam buku ini adalah cerpen yang sudah pernah dipublikasikan baik dalam koran-koran maupun antologi bersama sejak tahun 2014. Jadi, cerpen dalam buku ini merupakan jejak karya I Putu Agus Phebi Rosadi dari tahun 2014 hingga tahun 2019. Dalam buku ini berisi 10 (sepuluh) tajuk puisi yang memuat berbagai tema dan latar.

Bicara tentang pengarang, I Putu Agus Phebi Rosadi adalah pria kelahiran Jembrana pada 19 Mei 1990. Ia kerap aktif dalam berbagai kegiatan bersama Komunitas Mahima, kelompok kreatif yang berada di Singaraja, Bali. I Putu Agus Phebi adalah penulis muda dengan segudang karya dan prestasi. Mulai dari menulis cerpen, esai, dan puisi yang beberapa memenangi lomba penulisan lokal maupun nasional. Ia juga pernah diundang menjadi pembicara dalam Bali Emerging Writers Festival. Saat ini ia tinggal di Jembrana dan berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia.

Tempo hari saya berkesempatan membaca buku kumpulan cerpen Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan yang ditulis oleh I Putu Agus Phebi Rosadi ini. Awalnya, saya berekspetasi jika buku ini memuat tentang cerpen-cerpen yang bertema romantisme-klise. Tentu, dugaan ini muncul karena saya melihat judul buku ini yang memuat kata ‘Kisah Cinta’ dan ‘Dongeng’. Namun, vonis saya terhadap buku ini terpatahkan begitu saja dengan tajuk cerpen pertama dalam buku ini, “Bolup”.

Alasan cerpen “Bolup” berhasil mematahkan vonis saya terhadap buku ini karena cerpen “Bolup” memuat tentang kisah seorang kepala suku di sebuah desa adat di Korowai, Papua. Kisahnya tentang dilema kepala suku yang baru saja mendapat jabatannya, tetapi segala wewenang dan tanggung jawab sebagai seorang kepala suku ternyata di luar dugaannya. Selain menyajikan kisah yang di luar dugaan, cerpen “Bolup” memberikan saya sebuah wawasan baru. Cerpen ini memuat tentang bagaimana kehidupan adat masyarakat Korowai di Papua. Mereka masih sangat erat memeluk kebudayaan turun-temurun leluhur mereka dan masih menutup diri dari pengaruh-pengaruh luar. Dengan bahasa yang luwes dan puitis, cerpen ini berhasil menyajikan cerita yang apik, wawasan kebudayaan, dan sekaligus membuat saya memproklamirkan bahwa cerpen ini adalah judul favorit saya dalam buku ini.

Melihat cerpen dengan tema yang sama, mengangkat topik folklore dan kebudayaan suatu daerah tertentu, terdapat satu judul cerpen yang mengutip hal yang sama, yaitu “Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan”. Cerpen ini memuat cerita yang disadur dari sejarah Bali Kuno tentang mitos kembar buncing, Masula dan Masuli. Dalam cerita mitos Bali, konon mereka adalah bayi kembar buncing anak Raja Bali Kuno. Karena diyakini telah melakukan hubungan intim selama di dalam kandungan, mereka akhirnya dikawinkan dan menjadi raja-ratu yang membawa Bali ke arah kemakmuran. Namun, bayi kembar buncing yang lahir dari golongan biasa akan dikenakan sanksi adat karena dianggap membawa nasib buruk bagi desa. Sampai kini, beberapa desa di pedalaman Bali masih memberlakukan sanksi adat tersebut.

Topik tentang mitos sejarah Bali tersebut merupakan materi cerpen yang brilian menurut saya pribadi. I Putu Agus Phebi Rosadi sangat mahir dalam meramu sebuah fenomena masyarakat daerah tertentu menjadi sebuah cerita pendek yang rentetannya sangat rapih. Fakta itu jelas terlihat pada dua cerpennya yang berjudul “Bolup” dan “Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan”. Fenomena-fenomena kebudayaan ini tentu tidak didapatkan begitu saja. Untuk mendapatkannya, diperlukan dedikasi dan kecerdasan dalam meneliti sebuah budaya. Tentu materi tersebut akan hanya menjadi sebuah esai kebudayaan saja, bukan menjadi sebuah karya yang baik, jika tidak disentuh oleh seorang penulis berbakat.

Selain mengangkat tema kehidupan sosial dan budaya nusantara, I Putu Agus Phebi Rosadi dengan buku kumpulan cerpennya “Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan” juga memuat tema sosial dari luar nusantara. Latar luar nusantara terdapat pada cerpen-cerpennya yang berjudul “Perempuan di Distrik Reykjavik” dan “Pertemuan dan Senja Kematian”.

Dalam cerpennya yang berjudul “Perempuan di Distrik Reykjavik”, I Putu Agus Phebi Rosadi memuat kisah bertemakan ‘asmara lintas budaya’, jika boleh saya membuatkan istilah. Cerita itu mengisahkan seorang pria yang bertemu dengan wanita berkebangsaan Inggris di suatu daerah di Islandia. Cerpen ini banyak memuat tentang kehidupan sosial dan stereotip orang-orang Inggris-Islandia. Meskipun bertemakan asmara singkat, cerita yang disampaikan terkesan tidak cengeng dan menggunakan bahasa yang kompleks, tetapi tidak klise.

Sama dengan cerpen “Perempuan di Distrik Reykjavik”, cerpen yang berjudul “Pertemuan dan Senja Kematian” karya I Putu Agus Phebi Rosadi ini juga bertemakan kisah asmara di luar nusantara. Dalam cerpen kali ini berlatar Swiss dan Jerman. Ceritanya hampir mirip dengan cerpen “Perempuan di Distrik Reykjavik” yang mengisahkan sebuah jalinan asmara yang singkat. Namun, terdapat perbedaan dalam dua cerpen ini, yaitu cerpen “Pertemuan dan Senja Kematian” berisikan kisah tragis yang mampu membuat dada saya sesak saat membacanya.

Cerpen “Pertemuan dan Senja Kematian” juga salah satu alasan yang mematahkan vonis romantisme-klise saya terhadap buku kumpulan cerpen ini. I Putu Agus Phebi Rosadi berhasil membungkus tema kisah cinta ke dalam cerpen dan tidak membuat cerpen itu terlihat cengeng. Cerpen ini menggunakan bahasa yang sangat puitis dan banyak menyebutkan istilah-istilah akademis yang membuat saya harus searching terlebih dahulu ketika membaca istilah yang tidak saya ketahui. Hal ini membuktikan bahwa sang penulis memiliki referensi dan bacaan luas dan mendalam.

Akhir kata dari saya, buku kumpulan cerpen Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan karya I Putu Agus Phebi Rosadi mampu memberikan kesan tersendiri bagi saya setelah membacanya. Kesan itu hadir karena cerpen-cerpennya memuat tentang fenomena-fenomena unik dan terbungkus dalam kisah yang tidak kalah unik juga. Penyampaiannya sangat rapi dan tertata yang didukung oleh keahlian penulis dalam menggunakan bahasa. Akan tetapi, bagi saya, buku ini memiliki pasarnya tersendiri. Memang tiap produk atau karya pasti punya pasar tersendiri, tetapi yang saya maksud  di sini adalah pasar luas. Alasan saya mengatakan seperti itu karena buku ini memuat beberapa tema yang laku dipasaran, yaitu kisah asmara. Kendati demikian, buku ini tergolong ke dalam buku yang bukan easy reading karena menggunakan bahasa yang berat dan banyak istilah-istilah akademis yang jarang digunakan.

Terlepas dari semua itu, buku ini merupakan karya yang saya wajibkan untuk dibaca bagi kawan-kawan pegiat dan penikmat sastra. Buku ini memiliki ciri khas dan tentu jika melihat dari penulisnya, buku ini dilahirkan oleh penulis muda Bali yang punya potensi besar dan berbakat dalam menulis, I Putu Agus Phebi Rosadi. [T]

Tags: BukuCerpenkumpulan cerpenresensi buku
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Tut… Tut… Tut… Tuhan

Next Post

Kebudayaan Keluarga Bali dalam “Antologi Cerpen Belog” Menurut Kacamata Pendatang

Gita Galih Gumalang

Gita Galih Gumalang

Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Udayana. Kerap aktif berproses sastra, musik, teater dengan berbagai kelompok pergaulan kreatif di Denpasar. Kini menjabat sebagai Ketua Teater Cakrawala, semacam kelompok sastra yang beranggotakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Unud.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kebudayaan Keluarga Bali dalam “Antologi Cerpen Belog” Menurut Kacamata Pendatang

Kebudayaan Keluarga Bali dalam "Antologi Cerpen Belog" Menurut Kacamata Pendatang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co