4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa dan Siapa Intelektual Muda Hindu yang Dimaksud Ngurah Suryawan?

I Made Indah Gunawan Saputra by I Made Indah Gunawan Saputra
September 20, 2019
in Opini
Apa dan Siapa Intelektual Muda Hindu yang Dimaksud Ngurah Suryawan?

Foto sebagai ilustrasi, diambil dari grup akun jual-beli di facebook

Tulisan Ngurah Suryawan berjudul “Saru Gremeng Intelektual Muda Hindu” di tatkala.co sungguh keren. Pertama, tulisan itu mengangkat kembali khasanah kosakata intelektual, apalagi ditambahkan kata muda dan Hindu. Siapa yang tak mau mendapat predikat intelektual muda dan beragama (Hindu), saya rasa hampir semuanya menginginkan itu. Pasti keren, deh, pokoknya.

Tapi sebentar dulu,  Ngurah Suryawan mungkin lupa menggambarkan apa, bagimana, dan siapa intelektual itu. Bukan dalam tulisan Ngurah Suryawan saja, begitu sering saya mendengar kata intelektual, tapi belum pernah betul-betul ingin cari tahu apa, bagaimana dan siapa intelektual itu. Pemahaman saya intelektual itu adalah orang pintar dan tulisanya sering muncul di koran-koran. Tapi apa benar seperti itu?

Sejauh penelusuran saya, intelektual itu bersanding dengan kata-kata intelektualitas, atmosfir intelektual, kerja-kerja  intelektual, tradisi intelektual, dan fungsi intelektual. Intelektual bukanlah difinisi tunggal, namun suatu yang kompleks karena bekerja pada ranah idea, pemikiran, gagasan dan hal-hal non material.

Tidak seperti kerja kebendaan seperti insinyur atau dokter misalnya, yang jelas fungsinya dan terlihat nyata kerjanya. Namun intelektual tidak seperti itu. Intelektual bekerja untuk membuat pandai dan cerdas sebuah bangsa dan masyarakat, dan kerja seperti ini kadang hasilnya tidak terlihat langsung, bahkan baru terlihat dan dirasakan jauh hari setelah sang intelektual tiada.

Siapakah intelektual itu?

Menurut Syed Hussain Alatas, ada enam ciri yang mengarah kepada kelompok yang pantas disematkan kata intelektual, diantaranya ;

  1. Mereka bukan berasal dari satu kelas tertentu, namun bisa berlatar belakang dari berbagai kelas sosial
  2. Mereka bisa berasal dari kalangan pendukung ataupun penentang berbagai gerakan kebudayaan atau politik
  3. Mereka umumnya bukanlah pekerja tangan, umumnya sebagai penulis, akademisi, penyair, seniman, wartawan dan sebagianya.
  4. Mereka khusuk dan tekun dalam kelompoknya, dalam batas tertentu agak menjauh dari masyarakat pada umumnya
  5. Mereka umumnya tertarik dengan ide-ide tentang agama, kehidupan yang lebih baik, seni, rasa kebangsaan, pembangunan ekonomi, kebudayaan, dan sejenisnya
  6. Golongan intelektual adalah golongan yang jumlahnya sedikit dalam masyarakat

Lebih jauh Syed Hussain Alatas menekankan bahwa intelektual adalah mereka yang mampu melihat dan menemukan suatu permasalahan dalam masyarakat dan mencarikan solusi untuk permasalahan itu.

Sedangkan Antonio Gramsci membagi intelektual menjadi dua, intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional umunya mereka yang bekerja pada ranah teori, dan mendapatkan pengetahuan dari guru atau tetua mereka. Sedangkan intelektual organik adalah mereka yang bekerja berdasarkan teori dan menghubungkannya dengan realitas sosial tertentu, untuk sebuah tujuan dan kepentingan tertentu pula.

Intelektual dalam Tulisan Ngurah Suryawan

Dalam tulisanya Ngurah Suryawan seperti mengeluh bagaimana dalam program Dharma Pangasraman yang dilakukan sebuah organisasi mahasiswa Hindu, mahasiswa yang ikut dalam program tersebut tidak mampu mengaktualisasikan nilai Hindu untuk menerangi masalah konteporer dan kekinian. Ia menduga bahwa mahasiswa Bali kurang percaya diri dan terlalu asik dengan identitas kebalian yang identitk dengan budaya dan seni yang adiluhung, yang mana budaya dan seni tersebut steril dan tak akan rusak oleh pengaruh luar.

Disini Ngurah Suryawan kurang jelas, ia menyalahkan mahasiswa atau intelektual Bali yang sudah jadi dan mapan secara umum. Jika ia menyalahkan mahasiswa semata, tentu tak semuanya benar, karena mahasiswa menerima sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat. Jika senior mereka mewarisi tradisi intelektual, tentu mereka juga beprilaku intelektual.

Jika Ngurah Suryawan menyalahkan intelektual Bali yang sudah jadi, tentu mereka yang disebut intelektual akan melakukan kerja-kerja intelektual. Jika sampai mereka tidak dapat mewarisi tradisi intelektuaL, patutlah diragukan keintelektualitasanya.

Di konteks inilah saru gremeng hadir, tapi kita lupa bertanya “Siapakah yang salah terhadap situasi ini? Dan jawaban terhadap pertanyaan ini saya rasa tak usah dengan “melapaui Bali“ dalam arti keluar dari tema-tema dan persoalan budaya.

Biarlah intelektual budaya dan seni Bali tetap bekerja, di saat yang sama kita bisa melengkapi dengan membangun atmosfir intelektual yang baik, membangun kerja-kerja intelektua, dan mana akhirnya kita bisa mendirikan tradisi intelektual yang bisa diwarisi oleh generasi muda kemudian hari.

Melampaui Bali artinya mampu melewati atau melebihi pencapaian-pencapaian intelektual Bali sebelumnya. Untuk dapat melampaui capaian mereka perlu pikiran merdeka, kebebasan berpikir, dan inovasi. Semua itu menuntut keterbukaan pikiran dan kesediaan menerima hal baru tanpa harus tercerabut dari akar budaya dan tanpa pula harus terbelenggu dan terhegemoni tradisi intelektual barat. Benih intelektul Bali memang idealnya harus tumbuh di tanah kesadaran Bali sendiri.

Jka fungsi intelektual sudah berfungsi dengan baik, segalanya akan terang. Karena kehadiran intelektual ibarat matahari, yang memberi sinar dan mengusir kegelapan. Masyarakat yang kekurangan intelektual, apalagi masyarakat tanpa intelektual, pasti dalam kegelapan. Banyak permasalahan, banyak suara namun tanpa ada yang bisa memberi solusi dan jalan keluar.

Dalam filosofi Hindu, golongan intelektual adalah golongan brahmana. Dalam bagan varna asrama dharma, ia adalah kepala dan otak masyarakat. Para ksatria adalah  bahu dan lengannya, pinggang  dan kaki masyarakat vana asrama  adalah golongan waisya dan sudra. Idealnya semua bagian itu bekerja sesuai fungsi dan kedudukanya, yang mana sesuai guna karma yang diperoleh masing-masing orang. [T]


TULISAN TERKAIT:

  • “Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu
  • Bli Ngurah, Kami Mungkin Sedang Terpesona! – [Tanggapan atas Tulisan “Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu]


Tags: balihinduintelektualintelektual hindumahasiswapemudaPendidikan
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Kepercayaan Tentang Kepala Desa

Next Post

EKSPOR

I Made Indah Gunawan Saputra

I Made Indah Gunawan Saputra

Penulis adalah seorang wirausahawan asal Jembrana, Bali, tinggal di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

EKSPOR

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co