24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa dan Siapa Intelektual Muda Hindu yang Dimaksud Ngurah Suryawan?

I Made Indah Gunawan Saputra by I Made Indah Gunawan Saputra
September 20, 2019
in Opini
Apa dan Siapa Intelektual Muda Hindu yang Dimaksud Ngurah Suryawan?

Foto sebagai ilustrasi, diambil dari grup akun jual-beli di facebook

Tulisan Ngurah Suryawan berjudul “Saru Gremeng Intelektual Muda Hindu” di tatkala.co sungguh keren. Pertama, tulisan itu mengangkat kembali khasanah kosakata intelektual, apalagi ditambahkan kata muda dan Hindu. Siapa yang tak mau mendapat predikat intelektual muda dan beragama (Hindu), saya rasa hampir semuanya menginginkan itu. Pasti keren, deh, pokoknya.

Tapi sebentar dulu,  Ngurah Suryawan mungkin lupa menggambarkan apa, bagimana, dan siapa intelektual itu. Bukan dalam tulisan Ngurah Suryawan saja, begitu sering saya mendengar kata intelektual, tapi belum pernah betul-betul ingin cari tahu apa, bagaimana dan siapa intelektual itu. Pemahaman saya intelektual itu adalah orang pintar dan tulisanya sering muncul di koran-koran. Tapi apa benar seperti itu?

Sejauh penelusuran saya, intelektual itu bersanding dengan kata-kata intelektualitas, atmosfir intelektual, kerja-kerja  intelektual, tradisi intelektual, dan fungsi intelektual. Intelektual bukanlah difinisi tunggal, namun suatu yang kompleks karena bekerja pada ranah idea, pemikiran, gagasan dan hal-hal non material.

Tidak seperti kerja kebendaan seperti insinyur atau dokter misalnya, yang jelas fungsinya dan terlihat nyata kerjanya. Namun intelektual tidak seperti itu. Intelektual bekerja untuk membuat pandai dan cerdas sebuah bangsa dan masyarakat, dan kerja seperti ini kadang hasilnya tidak terlihat langsung, bahkan baru terlihat dan dirasakan jauh hari setelah sang intelektual tiada.

Siapakah intelektual itu?

Menurut Syed Hussain Alatas, ada enam ciri yang mengarah kepada kelompok yang pantas disematkan kata intelektual, diantaranya ;

  1. Mereka bukan berasal dari satu kelas tertentu, namun bisa berlatar belakang dari berbagai kelas sosial
  2. Mereka bisa berasal dari kalangan pendukung ataupun penentang berbagai gerakan kebudayaan atau politik
  3. Mereka umumnya bukanlah pekerja tangan, umumnya sebagai penulis, akademisi, penyair, seniman, wartawan dan sebagianya.
  4. Mereka khusuk dan tekun dalam kelompoknya, dalam batas tertentu agak menjauh dari masyarakat pada umumnya
  5. Mereka umumnya tertarik dengan ide-ide tentang agama, kehidupan yang lebih baik, seni, rasa kebangsaan, pembangunan ekonomi, kebudayaan, dan sejenisnya
  6. Golongan intelektual adalah golongan yang jumlahnya sedikit dalam masyarakat

Lebih jauh Syed Hussain Alatas menekankan bahwa intelektual adalah mereka yang mampu melihat dan menemukan suatu permasalahan dalam masyarakat dan mencarikan solusi untuk permasalahan itu.

Sedangkan Antonio Gramsci membagi intelektual menjadi dua, intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional umunya mereka yang bekerja pada ranah teori, dan mendapatkan pengetahuan dari guru atau tetua mereka. Sedangkan intelektual organik adalah mereka yang bekerja berdasarkan teori dan menghubungkannya dengan realitas sosial tertentu, untuk sebuah tujuan dan kepentingan tertentu pula.

Intelektual dalam Tulisan Ngurah Suryawan

Dalam tulisanya Ngurah Suryawan seperti mengeluh bagaimana dalam program Dharma Pangasraman yang dilakukan sebuah organisasi mahasiswa Hindu, mahasiswa yang ikut dalam program tersebut tidak mampu mengaktualisasikan nilai Hindu untuk menerangi masalah konteporer dan kekinian. Ia menduga bahwa mahasiswa Bali kurang percaya diri dan terlalu asik dengan identitas kebalian yang identitk dengan budaya dan seni yang adiluhung, yang mana budaya dan seni tersebut steril dan tak akan rusak oleh pengaruh luar.

Disini Ngurah Suryawan kurang jelas, ia menyalahkan mahasiswa atau intelektual Bali yang sudah jadi dan mapan secara umum. Jika ia menyalahkan mahasiswa semata, tentu tak semuanya benar, karena mahasiswa menerima sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat. Jika senior mereka mewarisi tradisi intelektual, tentu mereka juga beprilaku intelektual.

Jika Ngurah Suryawan menyalahkan intelektual Bali yang sudah jadi, tentu mereka yang disebut intelektual akan melakukan kerja-kerja intelektual. Jika sampai mereka tidak dapat mewarisi tradisi intelektuaL, patutlah diragukan keintelektualitasanya.

Di konteks inilah saru gremeng hadir, tapi kita lupa bertanya “Siapakah yang salah terhadap situasi ini? Dan jawaban terhadap pertanyaan ini saya rasa tak usah dengan “melapaui Bali“ dalam arti keluar dari tema-tema dan persoalan budaya.

Biarlah intelektual budaya dan seni Bali tetap bekerja, di saat yang sama kita bisa melengkapi dengan membangun atmosfir intelektual yang baik, membangun kerja-kerja intelektua, dan mana akhirnya kita bisa mendirikan tradisi intelektual yang bisa diwarisi oleh generasi muda kemudian hari.

Melampaui Bali artinya mampu melewati atau melebihi pencapaian-pencapaian intelektual Bali sebelumnya. Untuk dapat melampaui capaian mereka perlu pikiran merdeka, kebebasan berpikir, dan inovasi. Semua itu menuntut keterbukaan pikiran dan kesediaan menerima hal baru tanpa harus tercerabut dari akar budaya dan tanpa pula harus terbelenggu dan terhegemoni tradisi intelektual barat. Benih intelektul Bali memang idealnya harus tumbuh di tanah kesadaran Bali sendiri.

Jka fungsi intelektual sudah berfungsi dengan baik, segalanya akan terang. Karena kehadiran intelektual ibarat matahari, yang memberi sinar dan mengusir kegelapan. Masyarakat yang kekurangan intelektual, apalagi masyarakat tanpa intelektual, pasti dalam kegelapan. Banyak permasalahan, banyak suara namun tanpa ada yang bisa memberi solusi dan jalan keluar.

Dalam filosofi Hindu, golongan intelektual adalah golongan brahmana. Dalam bagan varna asrama dharma, ia adalah kepala dan otak masyarakat. Para ksatria adalah  bahu dan lengannya, pinggang  dan kaki masyarakat vana asrama  adalah golongan waisya dan sudra. Idealnya semua bagian itu bekerja sesuai fungsi dan kedudukanya, yang mana sesuai guna karma yang diperoleh masing-masing orang. [T]


TULISAN TERKAIT:

  • “Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu
  • Bli Ngurah, Kami Mungkin Sedang Terpesona! – [Tanggapan atas Tulisan “Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu]


Tags: balihinduintelektualintelektual hindumahasiswapemudaPendidikan
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Kepercayaan Tentang Kepala Desa

Next Post

EKSPOR

I Made Indah Gunawan Saputra

I Made Indah Gunawan Saputra

Penulis adalah seorang wirausahawan asal Jembrana, Bali, tinggal di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

EKSPOR

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co