23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bioskop di Tukad Badung, Ada Film tentang Sungai, Ada tentang Petani

tatkala by tatkala
July 22, 2019
in Khas
Bioskop di Tukad Badung, Ada Film tentang Sungai, Ada tentang Petani

Bioskop Tukad di tengah Tukad Badung, Denpasar. (Foto-foto: Dok DDFF )

Sabtu 20 Juli 2019 malam, Tukad Badung di sekitaran Taman Kumbasari, yang selalu ramai, menjadi lebih ramai. Malam itu, untuk ketiga kalinya digelar acara Bioskop Tukad. Dan film yang diputar malam itu adalah karya-karya Dwitra J. Ariana.

Dwitra atau biasa dipanggil dengan nama Dadap adalah seorang sineas dokumenter Bali yang banyak berjaya di berbagai ajang film Nasional, bahkan internasional. Adapun karya-karya tersebut adalah Petani Terakhir, Lampion-lampion, Masean’s Message, dan Sang Pembakar.  

Menurut IGK Trisna Pramana, motor utama Bioskop Tukad, pemilihan karya-karya ini berdasar pertimbangan bahwa karya-karya tersebut merupakan karya-karya terbaik yang menjadi kebanggaan Bali.

“Di luar karyanya yang hebat dan sangat layak ditonton oleh publik luas, Dwitra J Ariana sendiri sebagai sutradara merupakan tokoh yang unik dan inspiratif. Kesehariannya sebagai seorang petani tak menimbun kreativitasnya sebagai pembuat film. Ini sangat menarik. Jarang  ada tokoh seperti dia,” papar Trisna. 

Petani Terakhir mengisahkan suasana batin Nyoman Sutama, seorang petani di Kawasan Penatih, Denpasar, satu di antara segeintir warga desa yang masih mengukuhi profesi sebagai petani. Hampir semua kawan Sutama telah menjual sawah mereka. Harga tanah yang tinggi membuat mereka tergiur untuk menangguk uang dari situ.

Layar pun dipasang di Tukad Badung

Hasilnya  bisa untuk memperbaiki rumah dan membuat kos-kosan. Hanya Nyoman Sutama yang tetap menggarap lahan warisan orangtuanya, meskipun hasil panen tak seberapa dan kesulitan mengurus sawah semakin menjadi. Suatu ketika ia mendiskusikan keinginannya untuk menjual beberapa petak sawah dengan ibunya.

Film yang diproduksi dengan dana stimulan dari DDFF ini memenangi penghargaan sebagai film dokumenter terbaik Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta 2016 dan masuk kompilasi S-Express yang diputar di seluruh negara Asia Tenggara.

Lampion-lampion berkisah tentang kehidupan toleransi yang kuat antara warga keturunan Tionghoa dan warga asli Bali di Desa Lampu, Bangli. Film ini tampil sebagai film terbaik Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011. FFDB adalah cikal-bakal terbentuknya DDFF. Lampion-lampion tampil sebagai nominasi film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun yang sama.

Masean’s Message berkisah tentang  upaya rekonsiliasi korban tragedi G30S/PKI di Desa Masean, Jembrana. Film ini juga menjadi nominasi peraih Piala Citra FFI 2016 dan diputar dalam ajang Singapore International Film Festival (SGIFF) 2017.

Sang Pembakar adalah karya Dwitra J. Ariana bersama Ucu Agustin dan Hari Suprayitno. Sang Pembakar merupakan hasil Single Shot Cinema (SSC) Workshop yang diselenggarakan oleh Ecco Film dan disponsori oleh Ford Foundation. Ketiga sutradara adalah peserta workshop yang dimentor langsung oleh Leonard Retel Helmrich. Leonard mendampingi peserta secara penuh untuk dapat memproduksi film dengan metode SSC.

Sang Pembakar berkisah tentang posisi dilema yang dihadapi petani-petani kelapa sawit di Muaro Jambi, Sumatera saat harus membuka kebun. Biaya sewa alat berat sangat mahal, sementara membakar hutan adalah cara yang mereka sadari melanggar peraturan.

Sungai dan Kemajuan Bangsa

Acara Bioskop Tukad diselenggarakan dalam rangka perjalanan menuju Denpasar Documentary Film Festival (DDFF) 2019. Sebelum sampai pada puncak acara DDFF, masyarakat dikenalkan dan didekatkan dengan berbagai film dokumenter produksi sineas Indonesia maupun luar negeri.

Kenapa diputar di tengah sungai?  Selain Tukad Badung kini sedang popular sebagai salah satu sungai di Bali yang bias dijadikan tempat rekreasi, baik siang maupun malam, secara lebih serius sesungguhnya sungai sangat berperan penting untuk mendorong kemajuan sebuah bangsa. 

Nonton dari atas jembatan

Sungai yang “sehat” akan mendorong kemajuan bangsa di sekitar sungai tersebut baik dalam bidang perdagangan, pertanian, maupun kebudayaan. Bangsa-bangsa Mesopotamia bersandar pada sungai Tigris dan Sungai Eufrat; Bangsa Afrika, khususnya Mesir, bergantung pada Sungai Nil;  Bangsa India pada Sungai Indus;  Bangsa Cina bersandar pada Sungai Kuning; dan seterusnya.

Di Nusantara banyak contoh peradaban beaar tumbuh dan berkembang di kawasan sekitar aliran sungai. Sejak Kerajaan Kutai di Sungai Mahakam, hingga Majapahit di Kawasan Sungai Berantas.

Nah, Bioskop Tukad diselenggarakan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa jika kita merawat sungai dengan baik, maka sungai-sungai tak hanya berfungsi sebagai saluran air semata. Ia juga dapat sebagai tempat berekreasi, berkreasi, dan aktivitas positif lainnya.

Di sisi lain, Bioskop Tukad juga dimaksudkan untuk mendekatkan film-film dokumenter pada publiknya. Ini adalah sebagian dari misi DDFF, yang pada tahun ini akan diselenggarakan pada bulan September mendatang.  Bertepana dengan usianya yang ke10, DDFF melakukan rebranding dan perubahan pendekatan.

“Kali ini kami berupaya  menarik film dokumenter menjadi sesuatu yang akrab bagi masyarakat. Kami akan memperkenalkan kepada publik bahwa film dokumenter tak melulu berbicara tentang sesuatu yang serius, tetapi juga hal-hal biasa bahkan klise dalam keseharian kita,” ujar Maria Ekaristi, Direktur DDFF.

“What Makes Denpasar”

Sebelumnya, pada acara Bioskop Tukad yang kedua, Sabtu malam (22/6/2019, diputar film yang mengusung tema sungai.

Menurut IGK Trisna Pramana, Koordinator Program Bioskop Tukad, dengan memutar film-film dokumenter dan dokudrama bertema perawatan sungai diharapkan publik yang sudah paham teringat kembali mengenai hal tersebut, dan publik yang belum mengetahui mendapat wawasan baru mengenai pentingnya merawat sungai untuk kelangsungan peradaban.

Rekreasi sembari nonton film

“Dari film-film tersebut kita semua bisa belajar mengenai pentingnya merawat sungai untuk kemuliaan generasi mendatang,” ujar Trisna.

Adapun film-film dokumenter tentang sungai yang diputar pada acara Bioskop Tukad #2 adalah “What Makes Denpasar” yang bekisah tentang kehidupan di sekitar Tukad Badung, Denpasar; “Namami Gange” yang memaparkan tentang proyek sangat ambisius pemerintah India untuk menata Sungai Gangga menjadi kawasan terpadu yang memuliakan sungai tersebut sekaligus menjadikannya sebagai kawasan yang menghadirkan kemakmuran bagi rakyat India; “Colorado River – I Am Red” sebuah film puitik yang memberi peringatan kepada bangsa-bangsa di Amerika Serikat agar menjaga sungai tersebut untuk keberlangsungan peradaban bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya.

Kemudian, film “The Water City – Gujo Hachima” dan “Mekong, The River of Nine Dragons” menceritakan mengenai arti penting kedua sungai tersebut bagi masyarakat di sekitarnya dan bagaimana masyarakat (termasuk pemerintah di dalamnya) menjaga dan melestarikannya sehingga keduanya menjadi sumber kemaslahatan bagi masyarakat dalam cakupan yang lebih luas.

Selain itu, “The Short Tailed River Stingray – River Monsters” menceritakan tentang sebuah sungai yang menjadi semacam penampungan bagi ikan-ikan pari yang buntung ekornya akibat ulah para pemburu liar.  Selanjutnya, dua film yang diambil di pedalaman Kalimantan (Sungai Utik Masyarakat Dayak Iban dan “Long Sa’an”) bercerita tentang betapa sungai menjadi urat nadi kehidupan yang menghubungkna titik peradaban satu dengan lainnya.

“Intinya, melalui film-film yang kami putar ini kami mengajak diri kami sendiri dan masyarakat yang menonton acara ini semakin menyadari mengenai betapa pentingnya merawat sungai bagi kehidupan yang lebih baik.  Apalagi di Bali sungai mempunyai arti dan filosofi tersendiri diluar fungsinya untuk menyalurkan air dari hulu ke hilir,” pungkas Trisna.

Pada Bioskop Tukad yang perdana, Sabtu (25/5/2019) malam,  film yang diputar adalah karya-karya dokumenter beberapa pelajar Kota Denpasar yang menjadi finalis pada video kompetisi yang diselenggarakan oleh OWHC (Organization of World Heritage Cities) yakni: Layang-Layang (Karya Resha Arundari), Tradisi Turunan (Karya Putu Sathyana Rayana), Penempa Bara (karya Sari Ning Gayatri). Juga film-film pilihan kompetisi yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.

Edukasi Sungai Bersih

IGK Trisna Pramana menatakan Bioskop Tukad ini merupakan upaya mendekatkan film sebagai salah satu media eskpresi kreatif kepada masyarakat. “Dengan memutar film di tempat yang diakrabi masyarakat diharapkan film, khususnya film dokumenter, dapat menjadi bagian dari keseharian masyarakat Kota Denpasar,” ujar Trisna.

Yang muda, yang tua, menonton di sungai

Menurut Trisna, ini adalah sebagai upaya DDFF membantu pemerintah menguatkan industri film dengan cara membangun penontonnya. Dengan diakrabinya film sebagai media ekspresi kreatif, maka film akan memiliki tempat yang lebih kuat di tengah masyarakat.

Selain hal di atas, tujuan dari penyelenggaraan Bioskop Tukad adalah sebagai sarana untuk melakukan edukasi kepada masyarakat luas bahwa dengan sungai yang bersih kita bisa melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat dari rekreasi hingga edukasi.

“Ini merupakan upaya kami turut menggaungkan semangat yang didengungkan Pemerintah Kota Denpasar untuk merawat sungai sebagai salah satu cerminan kita peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan dalam arti yang seluas-luasnya,” katanya. [T]

Tags: denpasarDenpasar Documentary Film Festivalfilmfilm dokumenterlingkunganTukad Badung
Share121TweetSendShareSend
Previous Post

Kecanduan Kopi Itu Berat, Kayak I and U Forever

Next Post

Pentas “Barabah” Teater Sadewa: Hanyut pada Pemanggungan Konteks Lama

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Pentas “Barabah” Teater Sadewa: Hanyut pada Pemanggungan Konteks Lama

Pentas “Barabah” Teater Sadewa: Hanyut pada Pemanggungan Konteks Lama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co