24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentas “Barabah” Teater Sadewa: Hanyut pada Pemanggungan Konteks Lama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
July 21, 2019
in Ulasan
Pentas “Barabah” Teater Sadewa: Hanyut pada Pemanggungan Konteks Lama

pementasan naskah Barabah ini oleh Teater Sadewa dan disutradarai Hendra Utay yang digelar dalam rangka Program Penyajian dan Pengembangan Seni UPTD Taman Budaya Art Center Tahun 2019, Sabtu, 20 Juli malam. (Foto; Dok Teater Sadewa)

Saya tidak tahu pasti bagaimana konteks zaman penulisan naskah “Barabah” karya Motinggo Busye. Saya berusaha melepas pikiran itu untuk menikmati pementasan naskah Barabah ini oleh Teater Sadewa dan disutradarai Hendra Utay yang digelar dalam rangka Program Penyajian dan Pengembangan Seni UPTD Taman Budaya Art Center Tahun 2019, Sabtu, 20 Juli malam.

Mungkin, memang seperti itulah harusnya pementasan yang memilih corak realis, menghanyutkan penonton pada adegang demi adegang yang dibangun. Saya menikmati pementasan ini, dan pada bagian tertentu, sangat beruntung bagi saya lampu di area penonton dimatikan, sebab kalau tidak, maka akan kentara penonton yang menangis karena hanyut pada adegang akhir. Saya sendiri dengan sangat pelan agar tak kentara oleh beberapa penonton di sebelah, sedikit mengangkat tangan untuk menekan mata yang tiba-tiba seperti kelilipan.

Naskah ini saya rasa memang naskah yang sangat menarik. Polanya pun mirip seperti naskah tersohor Motinggo Busye, yaitu “Malam Jahanam”. Barabah sendiri bercerita tentang seorang tokoh perempuan yang memiliki suami bernama Banio. Banio diceritakan sebagai seorang laki-laki tua yang sudah sempat 12 kali beristri namun tak memiliki anak laki-laki. Barabah sebagai istri keduabelas sangatlah pencemburu. Inilah penyebab  terbangunnya beberapa konflik dalam kisah ini.

Pada suatu hari datang seorang perempuan yang bernama Zaitun. Perempuan ini mencari Banio untuk membicarakan masalah pernikahan. Tidak jelas bertanya, Barabah malah buru-buru cemburu dengan perempuan itu dan mengira suaminya akan menikahi perempuan itu.

Konflik pertama terjadi. Lalu perempuan itu diusir. Kemudian seorang lelaki tak dikenal datang ketika suami barabah keluar untuk memastikan siapa sesungguhnya perempuan yang datang ke rumah dan mencarinya agar Barabah tidak cemburu dan masalah keluarga itu selesai.

Lelaki lain itu masuk dan diusir oleh Barabah sebab suaminya pernah berpesan agar tidak menerima tamu laki-laki ketika ia tak di rumah. Tapi laki-laki itu tidak mau pergi hingga suami Barabah itu datang. situasi ini justru menimbulkan kecemburuan pada suami barabah. Sampai laki-laki itu pun juga diusir.

Cukup membuat saya terkejut dengan cerita ini, ternyata perempuan yang dicemburui Barabah adalah anak dari suaminya dengan istrinya yang keenam, sementara lelaki kedua itu adalah seorang kusir yang menjadi calon suaminya. Keriuhan dalam rumah itu berganti menjadi haru ketika Banio tahu bahwa itu adalah anaknya. Cerita ini berakhir dengan haru dan kepergian calon pengantin itu dengan terburu-buru sebab kereta yang dipesan akan segera berangkat.

Barabah sendiri diperankan dengan baik oleh Agung Istri Indah. Seorang pencemburu dan istri kedua belas saya rasa cukup berat untuk dipahami. Saya sendiri sulit memahami bagaimana situasi mental seseorang yang menjadi istri keduabelas dan masih mempunyai perasaan cemburu seperti itu.

Tetapi kekuatan bermainnya cukup mengagumkan seperti misalnya pada adegang Zaitun perempuan yang dicemburui barabah yang diperankan oleh April Artison ingin dicincang oleh Barabah. Tiba-tiba pada adengan itu tepuk tangan, saya menduga hal itu diakibatkan begitu terasanya permainan tubuh Istri Indah dalam bergerak dan dialog—di samping hal-hal teknis seperti beberapa dialog yang lepas dari karakter Barabah.

Karakter yang sesekali lepas juga terjadi pada Banio yang diperankan oleh Cristyan A S. Adengan Marah seperti menjadi pemicu warna vocalnya lepas. Tetapi, tidak hanya itu, pada adegan Banio cemburu dengan Adibul karena cemburu dan salah paham, Banio mengeluarkan golok namun, sarung golok itu jatuh.

Saya menduga ini bukan suatu kesengajaan, namun saya rasa kurang berani Cristyan sebagai Banio mengambil sarung yang jatuh itu, meskipun diambil tetapi temponya kurang tepat. Banio yang digambarkan pada naskah sebagai orang yang bungkuk sepertinya belum sampai dengan baik walau hal itu ditambal dengan penambahan benda di punggung Cristyan.

Meskipun saya sangat menikmati pementasan ini, namun hal-hal kecil terkadang luput dan terlihat sebagai rakaian adegan yang bagi saya perlu diperhitungkan. Naskah ini banyak menghadirkan konteks zaman yang berjarak dengan masa kini yang barangkali memang sulit untuk diadopsi. Semisal pada adegan Banio dengan Adibul. Banio berkata dia pernah membunuh 7 ekor macan.

Sesampai di kampungnya macan itu ditawar dengan harga tinggi yaitu dua ratus ribu rupiah. Dalam pentas, hal itu tetap disampaikan. Tentu jumlah uang itu tidak lagi menjadi jumlah yang besar. Di samping itu, Banio pernah jatuh miskin karena membagi-bagi tanahnya sebab mengikuti aturan pemerintah.

Hal ini juga tidak terjadi saat ini yang barangkali jika diubah pada konteks kekinian akan sulit ditemukan padanannya. Hal yang lain adalah ketika dengan tegas Banio berkata bahwa ia selalu menang dalam banyak hal kecuali naik pesawat dan ingin sekali naik pesawat. Ia menceritakan pesawat dengan mengagumkan yang barangkali pada zaman sekarang orang yang pernah kaya tak kan luput dengan kegiatan ini.

Bertambah yakinlah saya kalaa konteks cerita ini adalah zaman dulu ketika Adibul berkata bahwa dia menaiki pesawat tempur jepang ketika umur remaja. Dari semua itu saya berkesimpulan bahwa pementasan ini memang ingin memainkan naskah ini secara utuh tanpa perubahan atau penyesuaian dengan zaman sekarang. Tentu itu hal yang bagi saya sah-sah saja.

Namun, permainan utuh justru dipatahkan dengan beberapa hal. Saya rasa naskah lama yang disampaikan saat ini dengan niat menyampaikan secara utuh bukanlah perkara mudah. Sebab, pada penampilan tertentu, Adibul yang merupakan seorang kusir mengenakan pakaian necis bahkan sepatu yang sangat keren. Saya tak tahu betul, zaman itu apakah sepatu seperti itu sudah ada dan apakah mewakili seorang kusir atau tidak.

Di luar benturan itu, tokoh Adibul ini ketika di atas panggung diciptakan memiliki karakter yang mungkin karena gelisah, menjadi banyak tingkah. Lelucon yang ia mainkan di panggung beberapa kali menpar tawa penonton hingga pecah. Saya sendiri melepas tawa menikmati permainan Adibul yang diperankan oleh Turah Krishna ini. ia begitu mencolok ketika bertemu dengan Barabah tetapi untungnya pemeran Barabah tak kalah kuat ketika di atas panggung. Ia menimpali permainan Krishna dengan seimbang sehingga gerak-gerik Adibul yang banyak itu diseimbangkan dengan gerakan kecil namun mengimbangi oleh Barabah.

Pementasan ini sangat didukung oleh para pemain musik dengan musiknya yang turut membangun pementasan ini. Saya sangat merasakannya terutama pada adegang terakhir yang mengharukan itu. Secara keutuhan pertunjukkan, saya menikmati permainan ini disamping hal-hal kecil yang menurut saya perlu diperhitungkan lagi.  

Pada akhir pementasan, tak ragu lagi semua penonton sadar lagi bahwa yang menghanyutkan itu adalah sebuah tontonan sehingga riuh tepuk tangan pecah memenuhi Gedung Ksirarnawa Art Center meski kursi penonton tidak penuh. [T]

Tags: denpasarTeaterTeater Sadewa
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Bioskop di Tukad Badung, Ada Film tentang Sungai, Ada tentang Petani

Next Post

Jodoh saat Ospek adalah Cinta Sejati

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Jodoh saat Ospek adalah Cinta Sejati

Jodoh saat Ospek adalah Cinta Sejati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co