2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menuju Puncak Lempuyang, Sehat Rohani-Jasmani, Mencari Anak Tangga Terakhir

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
June 9, 2019
in Khas
Menuju Puncak Lempuyang, Sehat Rohani-Jasmani, Mencari Anak Tangga Terakhir

Melangkah ribuan anak tangga menuju Puncak Lempuyang (foto: dok penulis)

Kalau ingin sehat jasmani-rohani, sering-seringlah nangkil ke Pura Luhur Lempuyang di Kecamatan Abang, Karangasem, Bali. Mendaki ribuan anak tangga dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl, lumayan melatih jantung dan membakar ribuan kalori, serta melatih otot-otot kaki dan paha.

Ini kali kedua saya nangkil ke Lempuyang. Pertama 9 tahun yang lalu bersama teman-teman kantor, dan kali ini bersama semeton sanggah gede. Ini kali pertama bersama istri. Istri saya sempat ragu-ragu. Takut-takut berani, karena kabar medan yang berat telah jauh-jauh hari tertangkap di telinganya. Lama dia berjibaku dengan dirinya. Akhirnya kata itu terlontar: ikut! Dia berhasil mengalahkan rasa takutnya. Seperti orang bijak berkata: “Sesuatu yang susah akan tetap susah kalau dipikirkan saja, tanpa dijalani.”

Beberapa hari sebelum hari H nangkil, istri saya sempat latihan fisik jalan-jalan keliling taman bunga di depan rumah. Memang sih dia rutin jalan-jalan mengelilingi taman bunga, tapi sekarang porsinya ditambah.

Pagi itu, 6 Juni 2019, kami berangkat. Dengan semangat ’45 semua hadir tepat waktu. Tidak ada yang molor. Jam 5 pagi teng sudah berangkat. Memakai bus jumbo lengkap dengan toilet. Sehingga para pemedek merasa lebih nyaman karena bisa pipis di dalam bus, tidak perlu lagi meminta sopir berhenti di sebuah mini market terdekat hanya untuk buang air kecil.

Sepagi itu lalu lintas lancar. Apalagi pas libur lebaran. Pukul 8 pagi sudah mencapai lokasi, di parkiran bus di bawah. Bus tidak boleh naik. Kami harus jalan kaki atau numpang ojek untuk mencapai pura pertama. Kami sepakat naik ojek saja untuk menghemat tenaga, karena perjalanan masih jauh. Motor-motor ojek meraung-raung, tertatih-tatih naik di beberapa tanjakan menuju pura pertama.


Penulis bersama istri di Pura Lempuyang Madya

Kami sembahyang di Pura Penataran Agung, pura pertama dari 7 pura yang akan kami sembahyangi. Pura yang megah. Ornamen-ornamen pura didominasi warna putih. Dari jabe tengah menuju jeroan pura, ada tiga tangga tinggi dengan gapura yang tinggi-tinggi. Areal pura ini menjadi tempat berfoto bagi wisatawan asing yang ramai berkunjung. Sebuah candi bentar yang menghubungkan jabe sisi dengan jabe tengah ternyata berhadapan langsung dengan gunung Agung di kejauhan sana.

Gunung Agung yang jauh, terasa berada di tengah-tengah candi bentar itu, sehingga menjadi spot favorit bagi wisatawan untuk berfoto. Para wisatawan asing dari berbagai negara terlihat mengantre untuk berfoto di candi bentar itu. Kami yang terburu-buru, tidak sempat masuk ke dalam antrean.

Setelah itu kami jalan kaki menuju pura ke dua, sekitar satu kilometer.

Pura Telaga Mas adalah pura kedua. Sekitar 20 menit sembahyang di pura ini, kami melanjutkan perjalanan. Di sinilah pendakian itu dimulai. Ratusan anak tangga nampak berundak-undak membelah bukit. Tangan saya gatal lagi, otomatis mengambil smartphone,  mengabadikan momen itu, saat para pemedek beramai-ramai menaiki anak tangga secara pelan-pelan. Tapi hati-hati! Di kanan ada jurang yang dalam. Terpeleset sedikit, bahaya. Kalau HP jatuh, rasanya tak mungkin mengambil ke bawah. Itu jurang dengan pohon-pohon dan semak belukar yang lebat.

Napas sudah mulai terasa memburu. Saya melirik smartwatch di pergelangan tangan kiri saya, nampak detak jantung mulai naik. Rombongan yang tadi mengular, mulai terputus-putus. Sementara tangga di depan, seperti tak habis-habis. Tangga-tangga yang sepertinya tak  berujung. Terbersit dalam pikiran saya, bagaimana membawa batu-batu dan semen untuk membuat tangga sampai ke puncak. Ini kerja yang luar biasa. Bisakah ini menjadi salah satu keajaiban dunia, disejajarkan dengan Candi Borobudur atau Tembok China?

Kalau dihitung, ada ribuan anak tangga. Konon, seperti yang pernah saya baca, katanya ada sekitar 1.700 anak tangga yang membelah belantara itu sampai ke puncak. Ckckckck…saya hanya berdecak kagum pada orang-orang yang telah bergotong royong membangun tangga-tangga itu, yang telah memudahkan perjalanan kami.

Pelan-pelan kaki-kaki kami mendaki anak-anak tangga itu. Kaki-kaki yang mulai letih. Ratusan kalori terbakar. Istri saya sudah mulai merasa kelelahan. Dia memegangi tangan saya. Beberapa kali kami selfie sambil tersenyum, melupakan sejenak rasa lelah itu. Untunglah saya sudah terlatih bersepeda, sehingga lelah itu tak terlalu terasa.

Akhirnya kami sampai di Pura Telaga Sawang. Bisa mesandekan, istirahat sebentar sambil mengatur napas. Ini adalah pura ke tiga. Selesai sembahyang di pura Telaga Sawang, kami bergeser sedikit ke Pura Lempuyang Madya, karena kedua pura ini berdekatan.

Di pura Lempuyang Madya ini banyak pemedek yang melakukan selfie dan foto bersama. Pemandangan begitu indah. Kita sedang berada jauh di ketinggian. Dari gapura Pura Lempuyang Madya, latar belakang hijaunya pohon-pohon di dataran rendah nun jauh di  sana. Awan-awan seperti dekat untuk disentuh. Bagaikan berada di negeri awan seperti yang sering diceritakan dalam dongeng.

Selesai sembahyang di Lempuyang Madya, waktu menunjukkan pukul 12.00 tepat. Kami istirahat sebentar sambil makan siang bersama, membuka perbekalan masing-masing. Memangkas berat beban perbekalan yang kami gendong dengan tas di punggung.

Setelah itu melanjutkan perjalanan lagi. Pura Penataran Agung, Pura Telaga Mas, Pura Telaga Sawang, Pura Lempuyang Madya, empat pura sudah kami lalui. Tinggal 3 pura lagi, yaitu Pura Pucak Bibis, Pura Pasar Agung dan yang terakhir berada di puncak: Pura Lempuyang Luhur.

Kami melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat. Sekitar 50 orang dalam sebuah rombongan. Tubuh terasa hangat oleh keringat. Karbohidrat yang baru saja masuk ke tubuh, pelan-pelan mulai terkuras kembali. Metabolisme yang baik menjaga keseimbangan tubuh. Beliau, orang-orang suci jaman dulu, mungkin membangun pura Lempuyang Luhur ini dengan tujuan yang baik. Sangat visioner. Ini untuk kesehatan para pemedek.

Mendaki untuk mencapai pura tertinggi ini bagaikan yoga yang menyehatkan jasmani, dan sembahyang di tempat tujuan bagaikan meditasi untuk ketenangan rohani. Yoga dan meditasi yang menyeimbangan jasmani dan rohani. Saat tubuh terasa sehat, pikiran pun jadi cerah.

Dan juga, dengan perjalanan suci menuju Lempuyang Luhur, otomatis kita diajarkan mencintai alam. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik. Kasihan kan, kalau Bukit Lempuyang yang indah dan sejuk ini, ditimbuni plastik.

Tanjakan sekarang ternyata lebih curam daripada yang tadi. Tangga-tangga yang bagaikan tak berujung. Kanan-kiri adalah jurang yang disangga pohon-pohon dan semak belukar. Hiking menuju ke puncak. Entah di mana anak tangga terakhir. Masih jauhkah?

Sedikit gembira, saat fisik Pura Pucak Bibis terlihat dari kejauhan. Kami bersemangat mendaki lagi. Tersisa hanya beberapa anak tangga menuju pura ke lima. Ayo semangat!

Kami sembahyang dengan kusyuk di Pura Pucak Bibis ini. Harum dupa. Suara genta dan mantra memecah keheningan hutan dan bukit itu, mengantar pikiran kami menuju Hyang Widi Wasa, Penguasa Alam Semesta ini.

Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi. Menuju pura ke enam, Pasar Agung. Mendaki lagi. Melawan gaya gravitasi lagi. Melawan berat badan yang ditarik bumi. Semakin gemuk kita, semakin susah dan melelahkan. Kami berpapasan dengan pasangan bule, memakai selendang dan kain. Mereka tersenyum ramah menyapa.

Gerakan kaki mereka lincah menuruni anak tangga. Sepertinya sudah sering hiking, sehingga begitu terlatih. Sementara smartwatch saya menunjukkan elevation yang terus bergerak naik.

Kami tiba di Pura Pasar Agung, pura ke enam, dengan perasaan yang semakin lega. Tinggal satu pura lagi, tirtayatra itu sukses. Kaki-kaki terasa pegal. Inilah perjuangan menuju Luhur. Tidak boleh mengeluh. Proses menuju pura paling puncak, harus dinikmati dan direnungkan. Perjalanan suci ini harus kita hayati bersama-sama.

Setelah sembahyang di Pura Pasar Agung, kami melanjutkan perjalanan lagi. Sekarang, walau menanjak, tapi tidak securam tadi. Lebih landai. Di jalan itu, dengan jurang dalam di kanan dan kiri, ada banyak kera. Kami harus hati-hati dengan perbekalan. Apalagi kami membawa daksina linggih, simbolisasi Batara Hyang Guru yang ikut nangkil.

Dari awal perjalanan, kami bergantian membawa daksina linggih itu. Tiap keluarga dari rombongan semeton sanggah gede ini membawa daksina linggih masing-masing. Seseorang dari kami membawa daksina linggih itu, dan beberapa orang harus mengawasi sambil membawa kayu, agar tidak ada kera yang tiba-tiba menyergap.

Kami betul-betul lega. Gapura dan penyengker Pura Luhur Lempuyang sudah kelihatan. Iya, kami sudah berada di puncak. Di kanan kami beberapa bukit kelihatan menjulang tinggi, sama tingginya dengan bukit Lempuyang yang sedang kami pijak. Wow, kelihatan, ternyata kami mendaki setinggi bukit-bukit itu. Pemandangan yang begitu indah. Cuman, kami tidak sempat berfoto di sini karena terlalu banyak kera. Kami harus selalu awas. Daksina linggih ini harus selamat.        

Sekitar pukul 13.30 siang kami mencapai Pura Lempuyang Luhur. Istri saya gembira dan tersenyum lega. Beberapa kali dia menarik napas panjang. Kami mesandekan dulu, menunggu anggota rombongan lain yang masih tercecer. Sekitar 30 menit kemudian, saat semua sudah komplit, barulah kami sembahyang. Sembahyang di ketinggian sekitar 1000 meter di atas permukaan laut.

Kemudian, perjalanan menuruni bukit sama susahnya dengan mendaki. Kaki sampai gemetar menuruni ribuan anak tangga itu. Kalau tadi melawan gravitasi, sekarang harus menahan. Sebenarnya ini adalah latihan untuk melatih otot hamstring.

Maka, kalau ingin sehat jasmani dan rohani, sering-seringlah nangkil ke Pura Luhur Lempuyang. Di akhir perjalanan, smartwatch saya menunjukkan 1.584 kalori yang terbakar. Lumayan kan.

Pukul 7 malam kami akhirnya sampai di rumah. Sungguh perjalanan melelahkan, sekaligus menyenangkan. Pengalaman pertama untuk istriku tercinta. [T]

Tags: alambalihindukarangasempecinta alamPuncak LempuyangPura Lempuyang
Share123TweetSendShareSend
Previous Post

Caption

Next Post

“Lawar Getih”, Menjaga Selera Mengusir Petaka

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

“Lawar Getih”, Menjaga Selera Mengusir Petaka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co