13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menuju Puncak Lempuyang, Sehat Rohani-Jasmani, Mencari Anak Tangga Terakhir

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
June 9, 2019
in Khas
Menuju Puncak Lempuyang, Sehat Rohani-Jasmani, Mencari Anak Tangga Terakhir

Melangkah ribuan anak tangga menuju Puncak Lempuyang (foto: dok penulis)

Kalau ingin sehat jasmani-rohani, sering-seringlah nangkil ke Pura Luhur Lempuyang di Kecamatan Abang, Karangasem, Bali. Mendaki ribuan anak tangga dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl, lumayan melatih jantung dan membakar ribuan kalori, serta melatih otot-otot kaki dan paha.

Ini kali kedua saya nangkil ke Lempuyang. Pertama 9 tahun yang lalu bersama teman-teman kantor, dan kali ini bersama semeton sanggah gede. Ini kali pertama bersama istri. Istri saya sempat ragu-ragu. Takut-takut berani, karena kabar medan yang berat telah jauh-jauh hari tertangkap di telinganya. Lama dia berjibaku dengan dirinya. Akhirnya kata itu terlontar: ikut! Dia berhasil mengalahkan rasa takutnya. Seperti orang bijak berkata: “Sesuatu yang susah akan tetap susah kalau dipikirkan saja, tanpa dijalani.”

Beberapa hari sebelum hari H nangkil, istri saya sempat latihan fisik jalan-jalan keliling taman bunga di depan rumah. Memang sih dia rutin jalan-jalan mengelilingi taman bunga, tapi sekarang porsinya ditambah.

Pagi itu, 6 Juni 2019, kami berangkat. Dengan semangat ’45 semua hadir tepat waktu. Tidak ada yang molor. Jam 5 pagi teng sudah berangkat. Memakai bus jumbo lengkap dengan toilet. Sehingga para pemedek merasa lebih nyaman karena bisa pipis di dalam bus, tidak perlu lagi meminta sopir berhenti di sebuah mini market terdekat hanya untuk buang air kecil.

Sepagi itu lalu lintas lancar. Apalagi pas libur lebaran. Pukul 8 pagi sudah mencapai lokasi, di parkiran bus di bawah. Bus tidak boleh naik. Kami harus jalan kaki atau numpang ojek untuk mencapai pura pertama. Kami sepakat naik ojek saja untuk menghemat tenaga, karena perjalanan masih jauh. Motor-motor ojek meraung-raung, tertatih-tatih naik di beberapa tanjakan menuju pura pertama.


Penulis bersama istri di Pura Lempuyang Madya

Kami sembahyang di Pura Penataran Agung, pura pertama dari 7 pura yang akan kami sembahyangi. Pura yang megah. Ornamen-ornamen pura didominasi warna putih. Dari jabe tengah menuju jeroan pura, ada tiga tangga tinggi dengan gapura yang tinggi-tinggi. Areal pura ini menjadi tempat berfoto bagi wisatawan asing yang ramai berkunjung. Sebuah candi bentar yang menghubungkan jabe sisi dengan jabe tengah ternyata berhadapan langsung dengan gunung Agung di kejauhan sana.

Gunung Agung yang jauh, terasa berada di tengah-tengah candi bentar itu, sehingga menjadi spot favorit bagi wisatawan untuk berfoto. Para wisatawan asing dari berbagai negara terlihat mengantre untuk berfoto di candi bentar itu. Kami yang terburu-buru, tidak sempat masuk ke dalam antrean.

Setelah itu kami jalan kaki menuju pura ke dua, sekitar satu kilometer.

Pura Telaga Mas adalah pura kedua. Sekitar 20 menit sembahyang di pura ini, kami melanjutkan perjalanan. Di sinilah pendakian itu dimulai. Ratusan anak tangga nampak berundak-undak membelah bukit. Tangan saya gatal lagi, otomatis mengambil smartphone,  mengabadikan momen itu, saat para pemedek beramai-ramai menaiki anak tangga secara pelan-pelan. Tapi hati-hati! Di kanan ada jurang yang dalam. Terpeleset sedikit, bahaya. Kalau HP jatuh, rasanya tak mungkin mengambil ke bawah. Itu jurang dengan pohon-pohon dan semak belukar yang lebat.

Napas sudah mulai terasa memburu. Saya melirik smartwatch di pergelangan tangan kiri saya, nampak detak jantung mulai naik. Rombongan yang tadi mengular, mulai terputus-putus. Sementara tangga di depan, seperti tak habis-habis. Tangga-tangga yang sepertinya tak  berujung. Terbersit dalam pikiran saya, bagaimana membawa batu-batu dan semen untuk membuat tangga sampai ke puncak. Ini kerja yang luar biasa. Bisakah ini menjadi salah satu keajaiban dunia, disejajarkan dengan Candi Borobudur atau Tembok China?

Kalau dihitung, ada ribuan anak tangga. Konon, seperti yang pernah saya baca, katanya ada sekitar 1.700 anak tangga yang membelah belantara itu sampai ke puncak. Ckckckck…saya hanya berdecak kagum pada orang-orang yang telah bergotong royong membangun tangga-tangga itu, yang telah memudahkan perjalanan kami.

Pelan-pelan kaki-kaki kami mendaki anak-anak tangga itu. Kaki-kaki yang mulai letih. Ratusan kalori terbakar. Istri saya sudah mulai merasa kelelahan. Dia memegangi tangan saya. Beberapa kali kami selfie sambil tersenyum, melupakan sejenak rasa lelah itu. Untunglah saya sudah terlatih bersepeda, sehingga lelah itu tak terlalu terasa.

Akhirnya kami sampai di Pura Telaga Sawang. Bisa mesandekan, istirahat sebentar sambil mengatur napas. Ini adalah pura ke tiga. Selesai sembahyang di pura Telaga Sawang, kami bergeser sedikit ke Pura Lempuyang Madya, karena kedua pura ini berdekatan.

Di pura Lempuyang Madya ini banyak pemedek yang melakukan selfie dan foto bersama. Pemandangan begitu indah. Kita sedang berada jauh di ketinggian. Dari gapura Pura Lempuyang Madya, latar belakang hijaunya pohon-pohon di dataran rendah nun jauh di  sana. Awan-awan seperti dekat untuk disentuh. Bagaikan berada di negeri awan seperti yang sering diceritakan dalam dongeng.

Selesai sembahyang di Lempuyang Madya, waktu menunjukkan pukul 12.00 tepat. Kami istirahat sebentar sambil makan siang bersama, membuka perbekalan masing-masing. Memangkas berat beban perbekalan yang kami gendong dengan tas di punggung.

Setelah itu melanjutkan perjalanan lagi. Pura Penataran Agung, Pura Telaga Mas, Pura Telaga Sawang, Pura Lempuyang Madya, empat pura sudah kami lalui. Tinggal 3 pura lagi, yaitu Pura Pucak Bibis, Pura Pasar Agung dan yang terakhir berada di puncak: Pura Lempuyang Luhur.

Kami melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat. Sekitar 50 orang dalam sebuah rombongan. Tubuh terasa hangat oleh keringat. Karbohidrat yang baru saja masuk ke tubuh, pelan-pelan mulai terkuras kembali. Metabolisme yang baik menjaga keseimbangan tubuh. Beliau, orang-orang suci jaman dulu, mungkin membangun pura Lempuyang Luhur ini dengan tujuan yang baik. Sangat visioner. Ini untuk kesehatan para pemedek.

Mendaki untuk mencapai pura tertinggi ini bagaikan yoga yang menyehatkan jasmani, dan sembahyang di tempat tujuan bagaikan meditasi untuk ketenangan rohani. Yoga dan meditasi yang menyeimbangan jasmani dan rohani. Saat tubuh terasa sehat, pikiran pun jadi cerah.

Dan juga, dengan perjalanan suci menuju Lempuyang Luhur, otomatis kita diajarkan mencintai alam. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik. Kasihan kan, kalau Bukit Lempuyang yang indah dan sejuk ini, ditimbuni plastik.

Tanjakan sekarang ternyata lebih curam daripada yang tadi. Tangga-tangga yang bagaikan tak berujung. Kanan-kiri adalah jurang yang disangga pohon-pohon dan semak belukar. Hiking menuju ke puncak. Entah di mana anak tangga terakhir. Masih jauhkah?

Sedikit gembira, saat fisik Pura Pucak Bibis terlihat dari kejauhan. Kami bersemangat mendaki lagi. Tersisa hanya beberapa anak tangga menuju pura ke lima. Ayo semangat!

Kami sembahyang dengan kusyuk di Pura Pucak Bibis ini. Harum dupa. Suara genta dan mantra memecah keheningan hutan dan bukit itu, mengantar pikiran kami menuju Hyang Widi Wasa, Penguasa Alam Semesta ini.

Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi. Menuju pura ke enam, Pasar Agung. Mendaki lagi. Melawan gaya gravitasi lagi. Melawan berat badan yang ditarik bumi. Semakin gemuk kita, semakin susah dan melelahkan. Kami berpapasan dengan pasangan bule, memakai selendang dan kain. Mereka tersenyum ramah menyapa.

Gerakan kaki mereka lincah menuruni anak tangga. Sepertinya sudah sering hiking, sehingga begitu terlatih. Sementara smartwatch saya menunjukkan elevation yang terus bergerak naik.

Kami tiba di Pura Pasar Agung, pura ke enam, dengan perasaan yang semakin lega. Tinggal satu pura lagi, tirtayatra itu sukses. Kaki-kaki terasa pegal. Inilah perjuangan menuju Luhur. Tidak boleh mengeluh. Proses menuju pura paling puncak, harus dinikmati dan direnungkan. Perjalanan suci ini harus kita hayati bersama-sama.

Setelah sembahyang di Pura Pasar Agung, kami melanjutkan perjalanan lagi. Sekarang, walau menanjak, tapi tidak securam tadi. Lebih landai. Di jalan itu, dengan jurang dalam di kanan dan kiri, ada banyak kera. Kami harus hati-hati dengan perbekalan. Apalagi kami membawa daksina linggih, simbolisasi Batara Hyang Guru yang ikut nangkil.

Dari awal perjalanan, kami bergantian membawa daksina linggih itu. Tiap keluarga dari rombongan semeton sanggah gede ini membawa daksina linggih masing-masing. Seseorang dari kami membawa daksina linggih itu, dan beberapa orang harus mengawasi sambil membawa kayu, agar tidak ada kera yang tiba-tiba menyergap.

Kami betul-betul lega. Gapura dan penyengker Pura Luhur Lempuyang sudah kelihatan. Iya, kami sudah berada di puncak. Di kanan kami beberapa bukit kelihatan menjulang tinggi, sama tingginya dengan bukit Lempuyang yang sedang kami pijak. Wow, kelihatan, ternyata kami mendaki setinggi bukit-bukit itu. Pemandangan yang begitu indah. Cuman, kami tidak sempat berfoto di sini karena terlalu banyak kera. Kami harus selalu awas. Daksina linggih ini harus selamat.        

Sekitar pukul 13.30 siang kami mencapai Pura Lempuyang Luhur. Istri saya gembira dan tersenyum lega. Beberapa kali dia menarik napas panjang. Kami mesandekan dulu, menunggu anggota rombongan lain yang masih tercecer. Sekitar 30 menit kemudian, saat semua sudah komplit, barulah kami sembahyang. Sembahyang di ketinggian sekitar 1000 meter di atas permukaan laut.

Kemudian, perjalanan menuruni bukit sama susahnya dengan mendaki. Kaki sampai gemetar menuruni ribuan anak tangga itu. Kalau tadi melawan gravitasi, sekarang harus menahan. Sebenarnya ini adalah latihan untuk melatih otot hamstring.

Maka, kalau ingin sehat jasmani dan rohani, sering-seringlah nangkil ke Pura Luhur Lempuyang. Di akhir perjalanan, smartwatch saya menunjukkan 1.584 kalori yang terbakar. Lumayan kan.

Pukul 7 malam kami akhirnya sampai di rumah. Sungguh perjalanan melelahkan, sekaligus menyenangkan. Pengalaman pertama untuk istriku tercinta. [T]

Tags: alambalihindukarangasempecinta alamPuncak LempuyangPura Lempuyang
Share123TweetSendShareSend
Previous Post

Caption

Next Post

“Lawar Getih”, Menjaga Selera Mengusir Petaka

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

“Lawar Getih”, Menjaga Selera Mengusir Petaka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co