25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Politik Kasur dan Dengkur

Made Birus Suarbawa by Made Birus Suarbawa
April 13, 2019
in Cerpen
Politik Kasur dan Dengkur

Ilustrasi diolah dari lukisan Komang Astiari dan IB Pandit Parastu

Cerpen Made Suarbawa

Jabatan sebagai Pekaseh1 menjadikan Sadra bukan lagi petani biasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia memiliki kesibukan menjalankan tugas sebagai tampuk pimpinan tertinggi dalam struktur kepengurusan subak2 di desanya. Dibantu oleh dua orang prajuru3 yang menjadi tangan kanan sekaligus penyambung lidah dengan para petani selaku anggota subak, segala informasi dan kebijakan dapat segera tersampaikan dengan akurat dan tepat pada seluruh anggota subak. Belum lagi sebagian anggota subak tinggal dan berasal dari beberapa desa lain yang kebetulan memiliki sawah di desa itu, sangat menguras tenaganya.

Kesibukan yang didasari sikap ngayah4 untuk kepentingan masyarakat banyak itu, mendapat tentangan luar biasa dari Istri Sadra. Kepolosannya dan keluguan sebagai petani tulen serta sikap yang selalu iklas dan suka-rela tanpa peduli siang atau malam, tidak hirau hujan berangin, membuat jengkel dan geram Konten, istrinya.

Sejak proses pemilihan, ketika nama Sadra mulai masuk dalam bursa desas-desus bakal calon Pekaseh, Konten sudah wanti-wanti agar jabatan itu ditolak saja. Dalam benak Konten, jabatan seperti itu hanya menghabiskan tenaga dan pikiran tanpa memperoleh imbalan yang sepadan. Intinya rugi. Itulah sebabnya sangat sulit untuk mendapatkan orang yang bersedia dan suka rela mengajukan diri untuk mengemban jabatan itu.

“Sudahlah, siapa yang akan memilih orang yang tidak memiliki pengalaman dan petani bodoh seperti Aku?” Ungkap Sadra tenang-tenang saja menanggapi kehawatiran istrinya.

“Ya, karena Bli5 dianggap bodoh, orang-orang akan memilih Bli, makanya belajar sedikit tentang politik, Bli itu sedang dipolitiki”

Sadra tertawa terbahak-bahak mendengar istilah yang dikatakan istrinya. “Apalagi itu dipolitiki?” Sadra terbatuk-batuk.

“Sudah sadar diri bodoh jangan berlagak seperti orang bodoh, itu artinya Bli akan dimanfaatkan, orang-orang akan mengambil keuntungan dari kebodohan itu. Ayo Bli, buka mata sedikit, lihat apa yang sedang terjadi di luar rumah kita. Jangan hanya taunya lumpur, mintur6, kukur7 dan tidur!” Konten semakin sengit.

“Kamu ini kenapa, orang lain makan cabe kenapa harus kita yang kepedasan. Keuntungan apa yang bisa diambil dari kita, kita ini petani, punya apa?”

“Ya itu, karena kita tidak punya apa-apa, hanya punya kebodohan dan keluguan, bersanding dengan mereka maka mereka akan semakin pintar untuk membodohi kita, para petani.”

“Aduh, pusing.”

“Pokoknya jabatan itu harus ditolak, bila perlu, saat sangkepan8 nanti jangan datang, biar orang lain yang dipilih!”

Perdebatan di beranda rumah itu berakhir ketika malam semakin larut dan mereka harus memutuskan untuk masuk kamar.  Dan selalu seperti itu selama berhari-hari, hingga akhirnya sangkepan subak dilaksanakan dan Sadra terpilih secara musyawarah mufakat sebagai pekaseh baru dan akan memangku jabatan selama lima musim tanam.

Perdebatan berkembang lebih rame, tidak hanya di beranda, kini sampai ke sumur, dapur hingga kasur dan semakin banyak perumpamaan, kemungkinan, kerugian dan bukti-bukti yang di ungkapkan Konten.

“Apa sebenarnya yang Bli cari, apa tidak bisa diurus besok, apa lagi ini sudah malam dan di luar sedang hujan lebat.” Geram Konten suatu malam.

“Kalau tidak sekarang, gorong-gorong itu akan semakin tersumbat oleh sampah, air terus semakin besar dan pasti akan meluap hingga membanjiri seluruh areal persawahan, padi yang baru tanam akan rusak” Sadra mengenakan sepatu karet tinggi yang dia sebut sebagai sepatu selop. Di kepalanya bertengger topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu dan berlapis plastik bening.

“Apa orang lain mau peduli? Mereka paling-paling sudah tidur pulas, peluk istri, mimpi indah!”

“Ini giliranku untuk ngayah, giliran mereka ya nanti.” Sadra sudah siap berangkat. Tangannya menenteng senter, caluk9 dan payung yang siap dikembangkan.

“Apa untungnya buat kita, mereka yang enak-enak tidur yang akan menikmatinya. Apa untungnya coba?” Konten menyusul suaminya sampai ke pintu rumah.

“Ngayah ya tidak ada untungnya, kalau mau untung ya bagusnya jadi tengkulak.” Sadra berlalu menembus hujan dikegelapan malam. Cahaya lampu senter yang dibawanya hanya mampu menembus malam dalam jarak satu meter.

Sikap Sadra sebagai seorang pemimpin yang selalu mengutamakan kesejahtraan dan kepentingan anggotanya tetap menjadi poin persoalan dan memancing opini tajam Konten. Bukan hanya persoalan mengurus saluran irigasi yang mampet saat datang hujan dan banjir di malam hari.

Saat musim turun kesawah dimulai, karena kesibukan mengurus segala keperluan musim tanam bagi anggotanya, sawah Sadra termasuk yang terakhir dijamah bajak. Saat pembagian benih padi pun demikian. Sadra mengambil bagian paling terakhir setelah seluruh anggota yang lain mengambil jatah dan yang tersisa hanya 15,5 kilogram dari seharusnya 25 kilogram yang dia perlukan untuk.

“Kalau begini urusannya, kita benar-benar menelan kerugian.” Pekik Konten saat mengetahui jatah benih padi mereka kurang sekitar 9,5 kilogram. “Bagaimana kalau nanti kita kekurangan saat menanam?”

“Jangan risau, kita bisa ambil di tempat Bli Jantuk atau Bli Kari, pasti ada lebihnya.”

“Bukan persoalan kita bisa ambil sana-sini, tapi asas kebersamaan dan keadilan tidak tegak. Keadilan bukan cuma buat mereka, tapi juga kita. Bagaimana panen kita bisa bagus, jatah benih kurang, pupuk kurang, untuk menyemprot hama tidak sempat. Pikir Bli, jangan hanya mikir mereka!”

“Ya baiklah, sekarang ayo pikirkan diri kita saja.” Sadra menarik tangan istrinya masuk kedalam kamar, karena hanya itu yang bisa menghentikan perdebatan di beranda malam itu.

* * *

Musim panen menjelang, bulir-bulir padi berwarna keemasan terhampar luas menghias seluruh desa. Para tengkulak berkeliaran menaksir tiap petak sawah. Dengan nada merayu dan kata-kata manis mencoba menawar padi-padi milik petani dengan harga miring nyaris jatuh. Tidak luput dengan padi milik Sadra.

Seorang tengkulak baru saja meninggalkan pekarangan rumah Sadra. Perdebatan segera mulai menghangat.

“Ini yang selalu aku takutkan Bli. Padi kita hanya ditawar 8 juta, coba kalau benih kita tidak kurang, pupuk cukup, hama di semprot, burung diusir, kita bisa dapat uang lebih dari 8 juta. Lihat Bli Jantuk, padinya ditawar 15 juta, Bli Kari sudah beli motor baru dari uang panjar saja. Kita dapat apa?” Suara Konten sangat memelas dengan wajah merengut.

“Wee, biar kata suamimu ini bodoh, kalau soal hitung-menghitung masih handal. Sawah kita hanya 50 are ditawar 10 juta, ya untung, sawah Bli Jantuk 1 hektar, hanya ditawar 18 juta, ya buntung. Kalau Bli Kari bisa beli motor baru, ya karena sawahnya 5 hektar, kalau sawah kita 5 hektar, bukan motor tapi mobil kita beli”

Konten masih diam membisu, tangannya memeluk tiang jineng.

“Kamu tahu kita sedang untung, hutang yang harus kita bayar di KUD berkurang karena jatah benih kita kurang, pupuk juga kurang, pestisida tidak beli. Dan para tengkulak memberi harga tinggi karena melihat jabatanku.”

Perdebatan siang di jineng10 berhenti sampai di situ, dengan kesimpulan dimenangkan oleh Sadra dengan kekalahan diderita oleh Konten yang terpukul telak hingga lidahnya kelu.

* * *

“Bli! gawat Bli!” Teriak Konten suatu petang di tahun ketiga jabatan Sadra sebagai pekaseh. Dia lari tergopoh-gopoh dari jalan menuju rumahnya. Sadra yang sedang sibuk memberi makan burung tekukur peliharaannya hanya menoleh sebentar tanpa komentar.

“Bli harus melawan karena ini sebuah konspirasi jahat!” Konten terengah-engah, berdiri memegang lutut di dekat Sadra.

“Kamu ini kenapa, apa yang harus dilawan, apa yang jahat?”

“Bli, beberapa orang akan berusaha menurunkan Bli dari jabatan Bli saat ini.”

“Bagus itu!”

“Bagus bagaimana? Ini konspirasi jahat, tidak sesuai aturan.”

“Ngomong apa kamu ini!” Sadra beranjak membereskan kaleng pakan tekukurnya.

“Begini Bli…”

“Nanti saja, aku mau mandi dulu…!” Sadra melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Konten yang masih mematung di dekat kandang tekukur.

* * *

“Begini Bli…” Konten memulai ceritanya saat Sadra sudah selesai mandi dan mereka duduk di beranda rumah. “Beberapa orang yang tidak perlu aku sebutkan namanya, sedang mengincar jabatan yang Bli pegang sekarang. Bli tidak boleh membiarkan ini terjadi.”

“Bukankah itu bagus, selama ini kita ribut terus gara-gara jabatanku ini.”

“Bli, pikiran mereka yang jahat ini yang tidak bisa aku terima, cara-cara tidak konstitusional, tidak sesuai adeaerte!” Konten semakin sengit.

“Mulutmu itu suka melilit kalau ngomong.”

“Bli, mereka hanya memikirkan keuntungan, selama ini tidak ada yang bersedia memangku jabatan ini, tapi begitu terkabar akan ada dana puluhan juta, mereka mulai kasak- kusuk, di mana hati nurani mereka, di mana jiwa mereka untuk ngayah?”

“Kenapa harus dipusingkan, kalau mereka mau, biarlah mereka ambil.”

“Bli…! jangan bodoh lagi, ini ketidak adilan, ini yang aku bilang kita sedang dipolitiki, dimanfaatkan!”

“Kalau kita memang bisa bermanfaat bagi orang lain, bukannya itu bagus? Berarti tidak sia-sia hidup kita di dunia”

“Heeh…! bodoh, bodoh, bodoh…!” Tangan Konten mengepal, giginya gemeretek menahan darah yang mulai naik ke ubun-ubunnya dan membuat mukanya memerah seperti kepiting rebus.

“Siapa yang maksa, kamu sendiri yang mau kawin sama orang bodoh.”

“Jujur saja Bli, aku hawatir dengan nasib uang yang akan turun nantinya, orang-orang itu tidak kredibel sama sekali.”

“Bagaimana kita bisa menilai orang seperti itu?”

“Sudah jelas Bli, sama sekali tidak kredibel,ada uang mereka datang tidak ada uang mereka menghilang, apa uangnya tidak akan ikut menghilang?”

“Sebenarnya uang siapa yang kamu ributkan?”

“Uang kita, uang rakyat.”

“Saat jadi pejabat miskin saja kamu ribut, bagaimana saat aku jadi pejabatyang pegang uang banyak, apa kamu tidak tambah ribut kalau aku mau kawin lagi?” Wajah Konten makin sengit mendengar ucapan suaminya.

“Ini politik kotor Bli, politik busuk!”

“Sudah, kita pikir politik Kasur dan dengkur saja, sudah malam.” Sadra menarik tangan istrinya masuk ke dalam kamar. Lampu depan rumah dipadamkan. Malam mengalir tenang, hawa dingin menyelimuti desa itu. Bulan bopeng di belahan langit barat memendarkan cahaya temaram. Binatang malam menyanyikan lagu cinta.

Denpasar, Agustus 2008

Note:

  1. Ketua subak
  2. Organisasi yang mengatur sistem pengairan/irigasi di Bali
  3. Staff yang bertugas sebagai kurir informasi.
  4. Pekerjaan suka-rela/kerja bakti
  5. Abang
  6. Memancing kepiting.
  7. Burung tekukur.
  8. Rapat
  9. Sejenis parang
  10. Lumbung padi.
Tags: Cerpen
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Devy Gita # Tali Merah yang Kau Ikat

Next Post

Buku “Rawi Tanah Bakarti” – Dalam Balutan Musikalitas yang Intens

Made Birus Suarbawa

Made Birus Suarbawa

Nama lahir saya I Made Suarbawa dan mesin ketik adalah hadiah terindah dalam hidup saya. Bercerita dalam berbagai medium adalah cara berbagi paling menyenangkan. Tulisan, foto dan film adalah media yang sedang saya dalami dan nikmati.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Buku “Rawi Tanah Bakarti” – Dalam Balutan Musikalitas yang Intens

Buku "Rawi Tanah Bakarti" - Dalam Balutan Musikalitas yang Intens

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co