14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
April 10, 2019
in Khas
Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Petani muda di tengah sawah

Bertani adalah pekerjaan mulia. Begitulah kata bijak yang sering saya dengar. Petani mencetak sawah, memproduksi beras, makanan pokok umat manusia. Pernah ada analisa, bahwa di masa datang profesi petani akan tergerus kehilangan peminat, karena anak-anak muda lebih suka bekerja di sektor lain.

Barangkali analisa itu sedikit meleset. Di kampung saya, di wilayah Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, sekarang ini bertani tidak selalu didominasi kaum tua. Banyak laki-laki produktif, usia sekitar 30 tahun ke atas, yang turun mencangkul sawah masing-masing. Ada Nyoman Sudibia, Wayan Partana, Pak Leo, Pak Santi, Pak Wisnu, Pak Very, Made Suparta dan masih banyak lagi.

Itu sosok-sosok petani masa depan. Pewaris teknologi pertanian 4.0. Walaupun bertani masih sebagai pekerjaan sampingan. Sepulang dari kerja, mereka memanfaatkan beberapa jam mengolah sawah. Ada yang menanam padi, sayur hijau, bayam, kacang panjang, bunga gumitir, ketimun dan sebagainya.

Virus bertani itu juga menulari saya. Ketika mereka beramai-ramai terjun ke sawah, saya jadi gelisah.  Semua orang bertani, kenapa saya tak ikut, begitu pikir saya. Kebetulan ayah saya menanam kelapa hibrida dan jambu biji kristal di areal persawahan  kami yang sekitar 20 are, setelah selesai bercocok-tanam pepaya.  

Karena masih banyak lahan kosong, saya ikut menanam bibit jeruk lemon lokal. Memelihara pohon lemon, rasanya tidak perlu menyita waktu banyak. Rasanya lebih mudah daripada merawat tanaman sayur-sayuran dan padi. Jadilah kami bercocok-tanam secara tumpang sari. Pohon kelapa hibrida, jambu biji kristal, lemon. Mereka berbaris rapi seperti pasukan yang sedang berlatih.

Awalnya saya masih merasa canggung ketika pertama kali memakai sepatu boot. Saat  ke sawah, saya harus jalan memutar agar terhindar dilihat orang banyak. Bukannya gengsi, tapi saya agak malu karena tiba-tiba terjun bertani. Ada rasa canggung. Tapi lama-lama saya jadi terbiasa.

Saban sore, sepulang dari kantor, kalau tidak hujan, kalau pas tidak ada jadwal bersepeda, saya menyempatkan diri melihat kebun. Melakukan pemupukan, nyemprot hama dengan insektisida nabati, menyiangi agar bibit-bibit lemon itu bersih dari gulma dan rumput-rumput bandel yang merebut makanan.

Ada rasa damai di sawah. Bertani sungguh menenangkan hati. Ketika melihat pohon-pohon lemon itu mulai kekar. Batang-batang mereka semakin gemuk dan cabang-cabang tumbuh di sana-sini. Daun-daun hijau menyala. Beberapa pohon sudah mulai belajar berbunga dan berbuah. Saya tambah semangat. Lima hari sekali saya semprot dengan insektisida nabati, dari tembakau yang direndam dalam air selama 3 hari, untuk mengusir hama. Saya berusaha memakai bahan-bahan organik ramah lingkungan.

Semua ilmu saya dapatkan dari internet dan juga sharing dengan teman seperti Nyoman Sudibia, yang banyak pengalaman dan pengetahuan. Nyoman Sudibia adalah sosok petani muda yang teredukasi. Wawasannya banyak. Di samping itu Nyoman juga petani yang ulet. Dia menggarap sawah dengan tenaga sendiri, tanpa bantuan buruh. Tanahnya yang luas dicangkul sendiri. Menanam kangkung, sayur hijau, bunga gumitir dan padi. Pulang kerja dari Bali TV, bapak satu anak ini pasti ada di sawah.

Petani Nyoman Sudibia di kebun bunga mitirnya di daerah Marga Tabanan

Awalnya tanaman-tanaman lemon yang masih muda itu saya beri pupuk kandang dari kotoran kambing. Saya bubuhi kotoran kambing dengan cara melingkari pohon-pohon itu. Terus 10 hari sekali saya siram dengan pupuk organik Bio Boost. Pupuk cair dari K-Link yang terbukti manjur memberi nutrisi pada segala jenis tanaman, tanpa bahan kimia. Pohon-pohon lemon itu tumbuh dengan cepat. Daun-daun hijau serta mulus. Tak terasa mereka cepat tinggi, seperti tumbuh-kembang para remaja yang disiplin minum susu formula.

Kenapa saya memilih lemon untuk belajar budi-daya. Bukan hanya karena harganya yang cukup mahal. Tapi karena lemon bagus untuk kesehatan. Minum irisan lemon dalam segelas air hangat, tanpa diisi apa-apa lagi, katanya bagus untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Atau irisan lemon itu bisa dicampur dalam segelas teh hangat, rasanya segar dan nikmat. Dalam sebuah lemon terkandung vitamin C dan flavonoid.

Mengenai pembuatan pupuk organik, banyak saya dapatkan tutorialnya dari YouTube dan Google. Internet positif yang membantu kehidupan manusia. Seperti pupuk organik dari cangkang telor. Daripada dibuang dan memenuhi bak sampah, limbah cangkang telor saya kumpulkan dari dapur.

Cangkang-cangkang telor itu saya bersihkan, kemudian dijemur beberapa jam. Setelah bersih saya goreng tanpa minyak, menyanyah istilah Balinya. Lalu diblender hingga jadi serbuk. Pupuk organik cangkang telor siap digunakan. Satu sendok serbuk ditambahkan ke dalam satu liter air. Dan siap memberi makanan pohon-pohon lemon dan jambu kristal. Pupuk dari cangkang telor mengandung kalsium tinggi untuk pertumbuhan tanaman.

Lemon berbunga

Cara stek tanaman lemon, info juga saya dapatkan dari internet. Segala jenis informasi, tutorial berseliweran di dunia maya. Batang lemon dengan panjang 15 cm, bawahnya saya runcingi, lalu digosok dengan bawang merah. Ditanam di polibag seukuran 20. Kemudian batangnya saya tutup dengan plastik bening.

Beberapa minggu kemudian tumbuh tunas baru. Saya bersorak, seperti seseorang yang gembira karena istrinya baru positif hamil. Ada aura kehidupan pada batang yang mungil itu. Tumbuh daun-daun baru, dan tunas-tunas baru. Barangkali akar di bawah sudah mulai tumbuh. Akar serabut yang siap menyuapi daun-daun itu dengan berbagai nutrisi dari susu ibu pertiwi.

Bibit lemon yang mungil itu menggambarkan kemahabesaran Tuhan. Lihatlah, tiba-tiba tumbuh daun muda pada batang yang masih kurus itu. Seperti embrio bayi dalam kandungan, yang awalnya tidak berbentuk, pelan-pelan berkembang berbentuk manusia. Secara otomatis itu terjadi. Tuhan menciptakan keajaiban itu, dan manusia cerdas hanya bisa meneliti prosesnya,  kemudian mencatat dalam jurnal.

Tidak hanya ditanam di sawah, bibit-bibit lemon itu juga saya besarkan dalam pot. Halaman rumah penuh dengan tabulampot lemon dan jambu biji kristal. Saya sempat terbius ketika menonton di YouTube, sebuah tanaman lemon setinggi satu meter dalam pot berbuah begitu lebat. Lemon-lemon segar berwarna kuning. Rasanya seperti tipuan kamera. Saya seolah tidak percaya, seperti melihat video hoax. Tapi itu memang ada. Saya takjub bercampur iri. Tontonan itu betul-betul memotivasi saya.

Keasyikan saya berkebun sekarang merambah ke produk pertanian lain. Saya mengembangkan bunga gumitir hibrida yang ditanam dalam plastik polibag. Kemudian saya jadi begitu sibuk mengumpulkan tanah. Mengambil tanah dari sawah, mencampurnya dengan tanah subur yang sudah diisi sekam bakar. Akhirnya di halaman rumah saya kini terkumpul 50 pohon gumitir dalam polibag ukuran 30, bagaikan sebuah stan tanaman yang sedang menyiapkan bibit.

Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, saya memberi pupuk organik dari limbah cucian beras untuk bibit-bibit gumitir yang mungil itu, seperti seorang perawat dari sebuah yayasan penitipan anak yang menyuapi bayi-bayi kecil dengan perasaan gembira. Mereka tumbuh dalam hitungan hari. Mungkin dalam semalam bisa tumbuh beberapa senti. Begitulah, tiba-tiba saya hobi berkebun. Ada tanaman lemon, jambu biji kristal, apel India dan puluhan bunga gumitir di halaman rumah.

Sekarang sektor pertanian banyak dibantu oleh teknologi informasi yang semakin maju. Dunia maha luas yang bisa kita genggam dalam sebuah smartphone mungil. Teknologi 4.0 yang membuat semuanya bergerak begitu cepat.

Ada ratusan aplikasi yang dikembangkan untuk dunia pertanian, tinggal diunduh dari play store. Seperti Petani, sebuah aplikasi yang menyediakan tanya jawab antara petani dengan para pakar penyuluh. Ada juga aplikasi TaniHub, untuk mendekatkan para petani langsung dengan konsumen. Petani bisa langsung menjual produk pertaniannya secara online, diantar jasa pengiriman, sehingga para petani bisa menikmati harga yang layak.

Orang-orang muda di kampungku begitu kreatif menggarap sawah. Mereka bergerak menjadi petani moderen. Cikal bakal generasi petani 4.0, dengan segala fasilitas informasi yang bisa diunduh dari dunia maya. Masa depan pertanian akan semakin cerah. Tanah-tanah di kampungku tidak ada yang mati. Semuanya menjadi lahan-lahan produktif.

Setidaknya para petani di kampungku bisa sedikit berkontribusi dalam pembangunan ini, menyumbangkan bermacam produk pertanian untuk menggeliatkan perekonomian. Seperti pesan Presiden Joko Widodo, kita harus selalu optimis. Suatu ketika kita pasti bisa swasembada pangan. [T]

Tags: internetpertanianpetanisubaktabanantekhnologi
Share84TweetSendShareSend
Previous Post

Siang Malam Berpikir Sendiri

Next Post

Kesombongan Berbahasa

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Kesombongan Berbahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co