25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
April 10, 2019
in Khas
Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Petani muda di tengah sawah

Bertani adalah pekerjaan mulia. Begitulah kata bijak yang sering saya dengar. Petani mencetak sawah, memproduksi beras, makanan pokok umat manusia. Pernah ada analisa, bahwa di masa datang profesi petani akan tergerus kehilangan peminat, karena anak-anak muda lebih suka bekerja di sektor lain.

Barangkali analisa itu sedikit meleset. Di kampung saya, di wilayah Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, sekarang ini bertani tidak selalu didominasi kaum tua. Banyak laki-laki produktif, usia sekitar 30 tahun ke atas, yang turun mencangkul sawah masing-masing. Ada Nyoman Sudibia, Wayan Partana, Pak Leo, Pak Santi, Pak Wisnu, Pak Very, Made Suparta dan masih banyak lagi.

Itu sosok-sosok petani masa depan. Pewaris teknologi pertanian 4.0. Walaupun bertani masih sebagai pekerjaan sampingan. Sepulang dari kerja, mereka memanfaatkan beberapa jam mengolah sawah. Ada yang menanam padi, sayur hijau, bayam, kacang panjang, bunga gumitir, ketimun dan sebagainya.

Virus bertani itu juga menulari saya. Ketika mereka beramai-ramai terjun ke sawah, saya jadi gelisah.  Semua orang bertani, kenapa saya tak ikut, begitu pikir saya. Kebetulan ayah saya menanam kelapa hibrida dan jambu biji kristal di areal persawahan  kami yang sekitar 20 are, setelah selesai bercocok-tanam pepaya.  

Karena masih banyak lahan kosong, saya ikut menanam bibit jeruk lemon lokal. Memelihara pohon lemon, rasanya tidak perlu menyita waktu banyak. Rasanya lebih mudah daripada merawat tanaman sayur-sayuran dan padi. Jadilah kami bercocok-tanam secara tumpang sari. Pohon kelapa hibrida, jambu biji kristal, lemon. Mereka berbaris rapi seperti pasukan yang sedang berlatih.

Awalnya saya masih merasa canggung ketika pertama kali memakai sepatu boot. Saat  ke sawah, saya harus jalan memutar agar terhindar dilihat orang banyak. Bukannya gengsi, tapi saya agak malu karena tiba-tiba terjun bertani. Ada rasa canggung. Tapi lama-lama saya jadi terbiasa.

Saban sore, sepulang dari kantor, kalau tidak hujan, kalau pas tidak ada jadwal bersepeda, saya menyempatkan diri melihat kebun. Melakukan pemupukan, nyemprot hama dengan insektisida nabati, menyiangi agar bibit-bibit lemon itu bersih dari gulma dan rumput-rumput bandel yang merebut makanan.

Ada rasa damai di sawah. Bertani sungguh menenangkan hati. Ketika melihat pohon-pohon lemon itu mulai kekar. Batang-batang mereka semakin gemuk dan cabang-cabang tumbuh di sana-sini. Daun-daun hijau menyala. Beberapa pohon sudah mulai belajar berbunga dan berbuah. Saya tambah semangat. Lima hari sekali saya semprot dengan insektisida nabati, dari tembakau yang direndam dalam air selama 3 hari, untuk mengusir hama. Saya berusaha memakai bahan-bahan organik ramah lingkungan.

Semua ilmu saya dapatkan dari internet dan juga sharing dengan teman seperti Nyoman Sudibia, yang banyak pengalaman dan pengetahuan. Nyoman Sudibia adalah sosok petani muda yang teredukasi. Wawasannya banyak. Di samping itu Nyoman juga petani yang ulet. Dia menggarap sawah dengan tenaga sendiri, tanpa bantuan buruh. Tanahnya yang luas dicangkul sendiri. Menanam kangkung, sayur hijau, bunga gumitir dan padi. Pulang kerja dari Bali TV, bapak satu anak ini pasti ada di sawah.

Petani Nyoman Sudibia di kebun bunga mitirnya di daerah Marga Tabanan

Awalnya tanaman-tanaman lemon yang masih muda itu saya beri pupuk kandang dari kotoran kambing. Saya bubuhi kotoran kambing dengan cara melingkari pohon-pohon itu. Terus 10 hari sekali saya siram dengan pupuk organik Bio Boost. Pupuk cair dari K-Link yang terbukti manjur memberi nutrisi pada segala jenis tanaman, tanpa bahan kimia. Pohon-pohon lemon itu tumbuh dengan cepat. Daun-daun hijau serta mulus. Tak terasa mereka cepat tinggi, seperti tumbuh-kembang para remaja yang disiplin minum susu formula.

Kenapa saya memilih lemon untuk belajar budi-daya. Bukan hanya karena harganya yang cukup mahal. Tapi karena lemon bagus untuk kesehatan. Minum irisan lemon dalam segelas air hangat, tanpa diisi apa-apa lagi, katanya bagus untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Atau irisan lemon itu bisa dicampur dalam segelas teh hangat, rasanya segar dan nikmat. Dalam sebuah lemon terkandung vitamin C dan flavonoid.

Mengenai pembuatan pupuk organik, banyak saya dapatkan tutorialnya dari YouTube dan Google. Internet positif yang membantu kehidupan manusia. Seperti pupuk organik dari cangkang telor. Daripada dibuang dan memenuhi bak sampah, limbah cangkang telor saya kumpulkan dari dapur.

Cangkang-cangkang telor itu saya bersihkan, kemudian dijemur beberapa jam. Setelah bersih saya goreng tanpa minyak, menyanyah istilah Balinya. Lalu diblender hingga jadi serbuk. Pupuk organik cangkang telor siap digunakan. Satu sendok serbuk ditambahkan ke dalam satu liter air. Dan siap memberi makanan pohon-pohon lemon dan jambu kristal. Pupuk dari cangkang telor mengandung kalsium tinggi untuk pertumbuhan tanaman.

Lemon berbunga

Cara stek tanaman lemon, info juga saya dapatkan dari internet. Segala jenis informasi, tutorial berseliweran di dunia maya. Batang lemon dengan panjang 15 cm, bawahnya saya runcingi, lalu digosok dengan bawang merah. Ditanam di polibag seukuran 20. Kemudian batangnya saya tutup dengan plastik bening.

Beberapa minggu kemudian tumbuh tunas baru. Saya bersorak, seperti seseorang yang gembira karena istrinya baru positif hamil. Ada aura kehidupan pada batang yang mungil itu. Tumbuh daun-daun baru, dan tunas-tunas baru. Barangkali akar di bawah sudah mulai tumbuh. Akar serabut yang siap menyuapi daun-daun itu dengan berbagai nutrisi dari susu ibu pertiwi.

Bibit lemon yang mungil itu menggambarkan kemahabesaran Tuhan. Lihatlah, tiba-tiba tumbuh daun muda pada batang yang masih kurus itu. Seperti embrio bayi dalam kandungan, yang awalnya tidak berbentuk, pelan-pelan berkembang berbentuk manusia. Secara otomatis itu terjadi. Tuhan menciptakan keajaiban itu, dan manusia cerdas hanya bisa meneliti prosesnya,  kemudian mencatat dalam jurnal.

Tidak hanya ditanam di sawah, bibit-bibit lemon itu juga saya besarkan dalam pot. Halaman rumah penuh dengan tabulampot lemon dan jambu biji kristal. Saya sempat terbius ketika menonton di YouTube, sebuah tanaman lemon setinggi satu meter dalam pot berbuah begitu lebat. Lemon-lemon segar berwarna kuning. Rasanya seperti tipuan kamera. Saya seolah tidak percaya, seperti melihat video hoax. Tapi itu memang ada. Saya takjub bercampur iri. Tontonan itu betul-betul memotivasi saya.

Keasyikan saya berkebun sekarang merambah ke produk pertanian lain. Saya mengembangkan bunga gumitir hibrida yang ditanam dalam plastik polibag. Kemudian saya jadi begitu sibuk mengumpulkan tanah. Mengambil tanah dari sawah, mencampurnya dengan tanah subur yang sudah diisi sekam bakar. Akhirnya di halaman rumah saya kini terkumpul 50 pohon gumitir dalam polibag ukuran 30, bagaikan sebuah stan tanaman yang sedang menyiapkan bibit.

Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, saya memberi pupuk organik dari limbah cucian beras untuk bibit-bibit gumitir yang mungil itu, seperti seorang perawat dari sebuah yayasan penitipan anak yang menyuapi bayi-bayi kecil dengan perasaan gembira. Mereka tumbuh dalam hitungan hari. Mungkin dalam semalam bisa tumbuh beberapa senti. Begitulah, tiba-tiba saya hobi berkebun. Ada tanaman lemon, jambu biji kristal, apel India dan puluhan bunga gumitir di halaman rumah.

Sekarang sektor pertanian banyak dibantu oleh teknologi informasi yang semakin maju. Dunia maha luas yang bisa kita genggam dalam sebuah smartphone mungil. Teknologi 4.0 yang membuat semuanya bergerak begitu cepat.

Ada ratusan aplikasi yang dikembangkan untuk dunia pertanian, tinggal diunduh dari play store. Seperti Petani, sebuah aplikasi yang menyediakan tanya jawab antara petani dengan para pakar penyuluh. Ada juga aplikasi TaniHub, untuk mendekatkan para petani langsung dengan konsumen. Petani bisa langsung menjual produk pertaniannya secara online, diantar jasa pengiriman, sehingga para petani bisa menikmati harga yang layak.

Orang-orang muda di kampungku begitu kreatif menggarap sawah. Mereka bergerak menjadi petani moderen. Cikal bakal generasi petani 4.0, dengan segala fasilitas informasi yang bisa diunduh dari dunia maya. Masa depan pertanian akan semakin cerah. Tanah-tanah di kampungku tidak ada yang mati. Semuanya menjadi lahan-lahan produktif.

Setidaknya para petani di kampungku bisa sedikit berkontribusi dalam pembangunan ini, menyumbangkan bermacam produk pertanian untuk menggeliatkan perekonomian. Seperti pesan Presiden Joko Widodo, kita harus selalu optimis. Suatu ketika kita pasti bisa swasembada pangan. [T]

Tags: internetpertanianpetanisubaktabanantekhnologi
Share84TweetSendShareSend
Previous Post

Siang Malam Berpikir Sendiri

Next Post

Kesombongan Berbahasa

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Kesombongan Berbahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co