4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
April 10, 2019
in Khas
Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Petani muda di tengah sawah

Bertani adalah pekerjaan mulia. Begitulah kata bijak yang sering saya dengar. Petani mencetak sawah, memproduksi beras, makanan pokok umat manusia. Pernah ada analisa, bahwa di masa datang profesi petani akan tergerus kehilangan peminat, karena anak-anak muda lebih suka bekerja di sektor lain.

Barangkali analisa itu sedikit meleset. Di kampung saya, di wilayah Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, sekarang ini bertani tidak selalu didominasi kaum tua. Banyak laki-laki produktif, usia sekitar 30 tahun ke atas, yang turun mencangkul sawah masing-masing. Ada Nyoman Sudibia, Wayan Partana, Pak Leo, Pak Santi, Pak Wisnu, Pak Very, Made Suparta dan masih banyak lagi.

Itu sosok-sosok petani masa depan. Pewaris teknologi pertanian 4.0. Walaupun bertani masih sebagai pekerjaan sampingan. Sepulang dari kerja, mereka memanfaatkan beberapa jam mengolah sawah. Ada yang menanam padi, sayur hijau, bayam, kacang panjang, bunga gumitir, ketimun dan sebagainya.

Virus bertani itu juga menulari saya. Ketika mereka beramai-ramai terjun ke sawah, saya jadi gelisah.  Semua orang bertani, kenapa saya tak ikut, begitu pikir saya. Kebetulan ayah saya menanam kelapa hibrida dan jambu biji kristal di areal persawahan  kami yang sekitar 20 are, setelah selesai bercocok-tanam pepaya.  

Karena masih banyak lahan kosong, saya ikut menanam bibit jeruk lemon lokal. Memelihara pohon lemon, rasanya tidak perlu menyita waktu banyak. Rasanya lebih mudah daripada merawat tanaman sayur-sayuran dan padi. Jadilah kami bercocok-tanam secara tumpang sari. Pohon kelapa hibrida, jambu biji kristal, lemon. Mereka berbaris rapi seperti pasukan yang sedang berlatih.

Awalnya saya masih merasa canggung ketika pertama kali memakai sepatu boot. Saat  ke sawah, saya harus jalan memutar agar terhindar dilihat orang banyak. Bukannya gengsi, tapi saya agak malu karena tiba-tiba terjun bertani. Ada rasa canggung. Tapi lama-lama saya jadi terbiasa.

Saban sore, sepulang dari kantor, kalau tidak hujan, kalau pas tidak ada jadwal bersepeda, saya menyempatkan diri melihat kebun. Melakukan pemupukan, nyemprot hama dengan insektisida nabati, menyiangi agar bibit-bibit lemon itu bersih dari gulma dan rumput-rumput bandel yang merebut makanan.

Ada rasa damai di sawah. Bertani sungguh menenangkan hati. Ketika melihat pohon-pohon lemon itu mulai kekar. Batang-batang mereka semakin gemuk dan cabang-cabang tumbuh di sana-sini. Daun-daun hijau menyala. Beberapa pohon sudah mulai belajar berbunga dan berbuah. Saya tambah semangat. Lima hari sekali saya semprot dengan insektisida nabati, dari tembakau yang direndam dalam air selama 3 hari, untuk mengusir hama. Saya berusaha memakai bahan-bahan organik ramah lingkungan.

Semua ilmu saya dapatkan dari internet dan juga sharing dengan teman seperti Nyoman Sudibia, yang banyak pengalaman dan pengetahuan. Nyoman Sudibia adalah sosok petani muda yang teredukasi. Wawasannya banyak. Di samping itu Nyoman juga petani yang ulet. Dia menggarap sawah dengan tenaga sendiri, tanpa bantuan buruh. Tanahnya yang luas dicangkul sendiri. Menanam kangkung, sayur hijau, bunga gumitir dan padi. Pulang kerja dari Bali TV, bapak satu anak ini pasti ada di sawah.

Petani Nyoman Sudibia di kebun bunga mitirnya di daerah Marga Tabanan

Awalnya tanaman-tanaman lemon yang masih muda itu saya beri pupuk kandang dari kotoran kambing. Saya bubuhi kotoran kambing dengan cara melingkari pohon-pohon itu. Terus 10 hari sekali saya siram dengan pupuk organik Bio Boost. Pupuk cair dari K-Link yang terbukti manjur memberi nutrisi pada segala jenis tanaman, tanpa bahan kimia. Pohon-pohon lemon itu tumbuh dengan cepat. Daun-daun hijau serta mulus. Tak terasa mereka cepat tinggi, seperti tumbuh-kembang para remaja yang disiplin minum susu formula.

Kenapa saya memilih lemon untuk belajar budi-daya. Bukan hanya karena harganya yang cukup mahal. Tapi karena lemon bagus untuk kesehatan. Minum irisan lemon dalam segelas air hangat, tanpa diisi apa-apa lagi, katanya bagus untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Atau irisan lemon itu bisa dicampur dalam segelas teh hangat, rasanya segar dan nikmat. Dalam sebuah lemon terkandung vitamin C dan flavonoid.

Mengenai pembuatan pupuk organik, banyak saya dapatkan tutorialnya dari YouTube dan Google. Internet positif yang membantu kehidupan manusia. Seperti pupuk organik dari cangkang telor. Daripada dibuang dan memenuhi bak sampah, limbah cangkang telor saya kumpulkan dari dapur.

Cangkang-cangkang telor itu saya bersihkan, kemudian dijemur beberapa jam. Setelah bersih saya goreng tanpa minyak, menyanyah istilah Balinya. Lalu diblender hingga jadi serbuk. Pupuk organik cangkang telor siap digunakan. Satu sendok serbuk ditambahkan ke dalam satu liter air. Dan siap memberi makanan pohon-pohon lemon dan jambu kristal. Pupuk dari cangkang telor mengandung kalsium tinggi untuk pertumbuhan tanaman.

Lemon berbunga

Cara stek tanaman lemon, info juga saya dapatkan dari internet. Segala jenis informasi, tutorial berseliweran di dunia maya. Batang lemon dengan panjang 15 cm, bawahnya saya runcingi, lalu digosok dengan bawang merah. Ditanam di polibag seukuran 20. Kemudian batangnya saya tutup dengan plastik bening.

Beberapa minggu kemudian tumbuh tunas baru. Saya bersorak, seperti seseorang yang gembira karena istrinya baru positif hamil. Ada aura kehidupan pada batang yang mungil itu. Tumbuh daun-daun baru, dan tunas-tunas baru. Barangkali akar di bawah sudah mulai tumbuh. Akar serabut yang siap menyuapi daun-daun itu dengan berbagai nutrisi dari susu ibu pertiwi.

Bibit lemon yang mungil itu menggambarkan kemahabesaran Tuhan. Lihatlah, tiba-tiba tumbuh daun muda pada batang yang masih kurus itu. Seperti embrio bayi dalam kandungan, yang awalnya tidak berbentuk, pelan-pelan berkembang berbentuk manusia. Secara otomatis itu terjadi. Tuhan menciptakan keajaiban itu, dan manusia cerdas hanya bisa meneliti prosesnya,  kemudian mencatat dalam jurnal.

Tidak hanya ditanam di sawah, bibit-bibit lemon itu juga saya besarkan dalam pot. Halaman rumah penuh dengan tabulampot lemon dan jambu biji kristal. Saya sempat terbius ketika menonton di YouTube, sebuah tanaman lemon setinggi satu meter dalam pot berbuah begitu lebat. Lemon-lemon segar berwarna kuning. Rasanya seperti tipuan kamera. Saya seolah tidak percaya, seperti melihat video hoax. Tapi itu memang ada. Saya takjub bercampur iri. Tontonan itu betul-betul memotivasi saya.

Keasyikan saya berkebun sekarang merambah ke produk pertanian lain. Saya mengembangkan bunga gumitir hibrida yang ditanam dalam plastik polibag. Kemudian saya jadi begitu sibuk mengumpulkan tanah. Mengambil tanah dari sawah, mencampurnya dengan tanah subur yang sudah diisi sekam bakar. Akhirnya di halaman rumah saya kini terkumpul 50 pohon gumitir dalam polibag ukuran 30, bagaikan sebuah stan tanaman yang sedang menyiapkan bibit.

Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, saya memberi pupuk organik dari limbah cucian beras untuk bibit-bibit gumitir yang mungil itu, seperti seorang perawat dari sebuah yayasan penitipan anak yang menyuapi bayi-bayi kecil dengan perasaan gembira. Mereka tumbuh dalam hitungan hari. Mungkin dalam semalam bisa tumbuh beberapa senti. Begitulah, tiba-tiba saya hobi berkebun. Ada tanaman lemon, jambu biji kristal, apel India dan puluhan bunga gumitir di halaman rumah.

Sekarang sektor pertanian banyak dibantu oleh teknologi informasi yang semakin maju. Dunia maha luas yang bisa kita genggam dalam sebuah smartphone mungil. Teknologi 4.0 yang membuat semuanya bergerak begitu cepat.

Ada ratusan aplikasi yang dikembangkan untuk dunia pertanian, tinggal diunduh dari play store. Seperti Petani, sebuah aplikasi yang menyediakan tanya jawab antara petani dengan para pakar penyuluh. Ada juga aplikasi TaniHub, untuk mendekatkan para petani langsung dengan konsumen. Petani bisa langsung menjual produk pertaniannya secara online, diantar jasa pengiriman, sehingga para petani bisa menikmati harga yang layak.

Orang-orang muda di kampungku begitu kreatif menggarap sawah. Mereka bergerak menjadi petani moderen. Cikal bakal generasi petani 4.0, dengan segala fasilitas informasi yang bisa diunduh dari dunia maya. Masa depan pertanian akan semakin cerah. Tanah-tanah di kampungku tidak ada yang mati. Semuanya menjadi lahan-lahan produktif.

Setidaknya para petani di kampungku bisa sedikit berkontribusi dalam pembangunan ini, menyumbangkan bermacam produk pertanian untuk menggeliatkan perekonomian. Seperti pesan Presiden Joko Widodo, kita harus selalu optimis. Suatu ketika kita pasti bisa swasembada pangan. [T]

Tags: internetpertanianpetanisubaktabanantekhnologi
Share84TweetSendShareSend
Previous Post

Siang Malam Berpikir Sendiri

Next Post

Kesombongan Berbahasa

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Kesombongan Berbahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co