2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siang Malam Berpikir Sendiri

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
April 9, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Saya ini Cangak yang tidak bisa menghentikan pikiran.

Susah sekali pikiran itu dihentikan. Saat saya ingin diam, malah dia yang berlari kesana-kemari. Lebih kejam lagi, si pikiran yang selalu saya bayangkan seperti macan itu mengoyak-ngoyak tubuh tanpa belas kasihan.

Jika boeng Chairil Anwar bilang “mampus kau dikoyak-koyak sepi”, saya malah mati dikoyak pikiran sendiri. Akibatnya, saya selalu berpikir tanpa kenal waktu. Ada yang sama begini?

Berpikir adalah kegiatan mulia, karena dengan berpikir maka aku ada. Begitu konon menurut filsuf pikiran. Jika kata-kata itu dibalik, maka jadinya akan begini. “Agar Aku tiada, maka jangan berpikir!” Memangnya siapa yang ingin meniadakan dirinya?

Oh jangan salah, tidak semua manusia di dunia ini ingin berada. Ada juga yang ingin tiada! Maksudnya bukan meniada karena mati, tapi menyembunyikan keberadaannya.

Agak sulit memang untuk dijelaskan. Tapi serius, memang ada yang begitu. Salah satunya Ida Pedanda Made Sidemen. Beliau berkata “idep beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusun ne kanggo ring desa-desa”.

Kurang lebih terjemahannya begini “pikiranku kini, bersiap mayasa lacur, tiada miliki tanah sawah, tanah diri tanami, ilmu desa yang berguna di desa-desa.”

Bagian mayasa lacur tidak bisa saya terjemahkan dengan tepat. Itulah sebabnya saya biarkan begitu saja, agar dipikirkan oleh orang banyak. Oh iya, kata lacur dalam bahasa Bali bisa berarti miskin, juga bisa berarti mati. Ada beberapa kata kunci dalam geguritan Salampah Laku tadi: idep [pikiran], makinkin [bersiap-siap], dan mayasa lacur.

Ida Pedanda Made Sidemen, yang konon saat itu berumur 27 tahun, menyiapkan pikiran untuk mayasa lacur. Tapi lacur dalam arti yang manakah? Jika mayasa diibaratkan seperti perjalanan, maka lacur itulah tujuan. Lalu dimana asalnya? Bukankah asal dan tujuan adalah sejoli?

Jika tujuannya adalah miskin, bisa jadi asalnya adalah tidak miskin. Jika tujuannya adalah mati, maka asalnya adalah hidup. Hidup itulah keberadaan, mati itulah ketiadaan. Mati konon tidak usah dicari, karena mati sudah menyatu dengan manusia ketika baru lahir. Selain mati ada lagi yang menyatu, ia bernama suka, duka dan sakit. Jadi ada empat bekal manusia semasa hidup.

Jangan salah, yang tiap hari dirasakan oleh manusia bukan hanya suka duka. Manusia juga merasakan sakit tiap hari. Baru bangun terasa pegal, itu sakit. Duduk sebentar lalu keram, itu juga sakit. Di atas segalanya, ada sakit parah yang sulit diobati. Sakit itu bernama kebodohan. Lalu kapan manusia sehat? Mungkin kalau sudah tiada.

Sebelum benar-benar meniada, ada satu cara belajar untuk meniadakan diri. Pelajaran ini tidak ada kurikulumnya. Tapi tiap orang bisa melakukannya. Caranya adalah dengan bersembunyi. Kalau ada orang beramai-ramai ke laut, sembunyilah di gunung. Jika orang ramairamai ke gunung dan laut, sembunyilah di sungai. Jika orang ramai-ramai ke gunung, laut dan sungai, pergilah ke danau.

Jika orang ramai-ramai pergi ke semua tempat itu, maka sembunyilah pada diam. Jika orang ramai-ramai berdiam-diam, sembunyilah ke tempat gelap. Jika ke tempat gelap itu pula orang beramai-ramai maka sembunyilah dalam terang.

Ada beberapa sebutan untuk terang dalam bahasa Bali. Di antaranya adalah galang dan padang. Kata padang yang berarti terang, bisa dilihat pada kata galang apadang [terang benderang]. Jadi kalau di Bali ada tempat bernama padang, bisa jadi yang dimaksudnya bukanlah rumput tapi terang. Di Tabanan ada Pucak Padang Dawa. Di Pecatu ada pantai Padang-padang. Di Karangasem ada Padang Bai. Silahkan dicari lagi padang-padang yang lain.

Sebelum lupa, perlu juga saya katakan bahwa judul di atas itu adalah salah satu bagian dari geguritan Nengah Jimbaran karya Ida Cokorda Mantuk Ring Rana. Beliau adalah raja Badung yang melakukan puputan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu. Kata-kata “siang malam berpikir sendiri” membuat otak Cangak saya juga berpikir. Tapi tidak sama apa yang saya pikirkan dengan yang beliau pikirkan. Yang beliau pikirkan adalah “menjadi orang jaman sekarang”. Yang otak Cangak saya pikirkan adalah “menjadi Cangak jaman sekarang”.

Tentu saja berbeda, beliau adalah Raja sedangkan saya adalah Cangak. Perbedaan pikiran itu karena perbedaan visi-misi. Tapi perlu juga dipikirkan kembali, memangnya kenapa kalau “menjadi orang jaman sekarang?”. Jaman sekarang kan tidak perlu jalan kaki kalau ke Pura yang jaraknya 10 meter dari rumah. Cukup nyalakan mesin, dan gas. Sampailah di Pura.

Kata “sekarang” yang dimaksud Ida Cokorda Mantuk Ring Rana, tentulah tidak sama dengan kata “sekarang” yang kita maksudkan sekarang. Sekarang yang dimaksudkan Ida Cokorda adalah tahun 1903. Coba hitung, berapa selisih antara tahun 1903 dengan 2019. Selisih tahun itu menandakan maksud kata “sekarang” itu berbeda.

Perbedaannya adalah pada angka tahun. Barangkali ada yang sama, di tahun 1903 dengan 2019. Persamaannya adalah pada kegelisahan yang membuat kita berpikir-pikir siang dan malam. Penyebab rasa gelisah itu adalah kebodohan, ketidaktahuan. Kata Ida Cokorda “dari bodoh kuwatire”.

Ada banyak yang tidak kita tahu kan? Salah satu contoh hal yang tidak kita tahu dengan pasti adalah masa depan. Bagaimana masa depanmu nanti? Mungkin sekarang kita bisa menjawabnya dengan tenang, bahwa masa depan akan baik-baik saja.

Masa depan akan begitubegitu saja. Maksudnya, masa depan juga akan menjadi “sekarang”, lalu menjadi masa lalu. Yang kita sebut “sekarang” adalah masa depan di masa lalu. Yang kita maksudkan sekarang, adalah masa lalu di masa depan. Begitulah terus menerus, ada trilogi masa lalu-depan-sekarang.


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening

Tentu saja saya sengaja tidak menulisnya linier pada pandangan umum. Orang akan mengatakan urutannya adalah masa lalu-sekarang-depan. Tapi jika belajar pada teks-teks kuna, urutannya tidak begitu. Urutannya adalah masa lalu-depan-sekarang. Bahasa kerennya atitanagata-wartamana.

Maka dari itulah, otak Cangak saya yang tidak berhenti berpikir ini selalu memikirmikirkan masa depan. Bagaimana jadinya nanti, jika telaga ini benar-benar kering? Bagaimana jadinya nanti nasib para ikan-ikan sodaraku? Bagaimana jadinya nanti bunga-bunga teratai yang mekar indah serupa kilau matamu?

Duhai sodara-sodaraku para ikan, pikirkanlah masa depan yang penuh kebahagiaan. Bayangkanlah suatu negara telaga yang maju, tempat anak cucu kita nanti hidup bersama. Mari mulai sekarang tunjukkan pada mereka, bahwa kita bisa menjadi leluhur yang menyediakan kebahagiaan bagi mereka. Jadi mari kita menyeberang!

Eitss… Tunggu dulu. Sebelum menyeberang, apa kalian bisa terbang? Jika tidak, mari saya bantu. Saya punya sayap yang kuat. Bisa menyeberangi tujuh samudera. Melewati tujuh langit. Membentang ke tujuh gunung. Dan yang paling penting, saya tahu kemana tujuan yang tepat.

Bukankah percuma punya sayap, jika tak tahu tujuan? Jadi pilihlah saya untuk mengentaskan penderitaan kalian sodara-sodaraku. Jika kalian sodaraku, memilih saya untuk menyeberangkan dari telaga kekeringan ini, niscaya kebahagiaan akan kalian dapatkan dalam genggaman.

Percayalan! Percayalah! Percayalah! [T]

Tags: berpikirChairil AnwarIda Pedanda Made Sidemenkemanusiaanrenungansastra
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Sudah Jelas, Penyebab Stroke Adalah Nasib

Next Post

Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co