12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi Menjelang Pilkada

Ida Bagus Adnyana by Ida Bagus Adnyana
February 24, 2019
in Cerpen
Nyepi Menjelang Pilkada

Lukisan Komang Astiari (croping)

Cerpen: Ida Bagus Adnyana

Hari Raya Nyepi masih satu minggu lagi. Biasanya di masa seperti ini, tiap bale banjar di desa kami semarak dengan pembuatan ogoh-ogoh. Para pemuda selalu berkumpul untuk menyiapkan ogoh-ogoh yang akan diarak keliling banjar saat  pangrupukan. Saya merasa kagum dengan mereka, hampir  sebulan   menghabiskan malam di bale banjar menyelesaikan ogoh-ogoh.

Namun kali ini yang saya lihat sepertinya berbeda. Bale banjar disamping rumah tidak terlihat ada pemuda berkumpul. Jangan-jangan  hari Raya Nyepi tahun ini  pembuatan ogoh ogoh ada di tempat lain, bukan di bale banjar, pikir saya.

Sore yang cerah. Saya keluar dari rumah sengaja naik sepeda. Semenjak bertugas di kota lain  saya jarang-jarang pulang ke kampung halaman.  Tradisi pulang kampung saya lakukan ketika menjelang Nyepi. Mengikuti arak-arakan ogoh-ogoh mengelilingi banjar selalu tidak dilewatkan. Semacam panggilan jiwa karena selalu ada kerinduan di sana. Melihat ogoh-ogoh hasil kreativitas pemuda, menyaksikan kemeriahan warga banjar dalam mengikuti arak-arakan ogoh-ogoh selalu berkesan buat saya.

Sambil menuntun sepeda keluar rumah sepintas saya lihat bangunan bale banjar. Bangunan tradisional yang luas dengan tiang tiang tinggi sebagai penyangga. Banyak aktivitas adat dilangsungkan di bangunan ini dan secara turun temurun kewajiban warga adat untuk menjaga serta merawatnya. Di bangunan ini tersimpan seperangkat gamelan untuk mengiringi upacara agama kami.  Karena sejatinya bale banjar digunakan untuk tempat berkumpulnya warga dalam paruman, ruangan yang terbentuk berupa ruangan yang luas. Bale banjar bagi kami adalah bangunan serbaguna.

Beberapa meter mengayuh sepeda dari rumah, saya bertemu dengan Made Darma dan pemuda lain yang sedang duduk di atas motor. Tampaknya mereka asyik dengan ponselnya masing-masing. Made Darma adalah salah seorang pemuda di banjar kami yang masih terhitung kerabat dengan saya. “Kami malas, Bli“ jawab Made pelan ketika saya bertanya kenapa tidak ada   ogoh-ogoh di bale banjar

“Sekeha Teruna di banjar ini tidak mau diajak main politik, kami kapok ditipu dan urusan politik itu urusan para politikus!“

****

Beberapa minggu yang lalu, bapak menelpon saya. Dia menyuruh  pulang untuk mengikuti  paruman di bale banjar. Semua warga banjar diharapkan untuk hadir. Bakal calon bupati akan datang untuk menyampaikan visi misinya. Karena masih sibuk dengan pekerjaan, saya tidak pulang dan tetap pada rencana akan pulang untuk merayakan hari Raya Nyepi.

Sebenarnya saya sudah tidak ingat lagi isi  pembicaraan dengan bapak di telpon itu. Selama ini apapun keputusan paruman banjar saya pasti akan mengikutinya apalagi untuk kepentingan umum. Saya percayakan pada keluarga di kampung. Namun setelah mendengar jawaban Made Darma tadi saya mulai berpikir jangan-jangan ini ada hubungannya dengan paruman itu.

Saya menikmati keliling banjar dengan sepeda. Hitung-hitung sambil berolahraga. Suasana pedesaan memang sungguh berbeda dengan di kota. Hawanya sejuk, disana sini pepeohonan masih menghijau.  Melewati sebuah lapangan volley terlihat para pemuda sedang asyik berolahraga. Saya sengaja tidak menghampiri mereka karena ingin melanjutkan bersepeda ke banjar sebelah. Di depan bale banjar saya berhenti. Keadaannya juga hampir sama dengan situasi di banjar saya,  tidak ada aktivitas pemuda berkumpul di.banjar. Kenapa ya?

Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya terus berpikir. Di sebuah pertigaan saya sempat berhenti. Ada tiga buah baliho terpasang berjejer. Satu per satu saya lihat dan amati ternyata isinya hampir sama. Pasangan bakal calon bupati mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi. Barangkali mereka menjadikan hari Raya Nyepi momentum untuk mendekatkan  diri  kepada warga melalui baliho. Saya baru sadar bahwa sebentar lagi akan  dilangsungkan Pemilihan Bupati.

Saya melihat bapak duduk santai ditemani segelas kopi hitam. Di usia yang mendekati enam puluhan masih terlihat gurat wibawa wajah bapak. Hampir sepuluh tahun sudah bapak menjadi pemimpin adat di banjar ini. Menjadi pemimpin adat harus mampu menjaga tradisi leluhur di bidang adat dan agama. Di jaman yang semua terbuka ini, hal itu tentunya sangat sulit. Godaan penguasa dan pengusaha akan datang  silih berganti.

Bagi kami sudah terbiasa merayakan Hari Raya Nyepi dengan arakan ogoh-ogoh. Selain ada unsur seni, kegiatan tersebut sekaligus ritual untuk menetralkan pengaruh yang tidak baik saat melaksanakan Catur Brata Nyepi. Hari Raya Nyepi adalah peringatan pergantian tahun baru Caka bagi umat Hindu. Apa yang terjadi nanti kalau hari raya Nyepi tanpa ogoh-ogoh? Jangan jangan akan mengganggu kehidupan warga kami. Saya harus mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.`

Akhirnya saya bertanya kepada bapak tentang tidak adanya  ogoh-ogoh dalam Nyepi kali ini. Lama sekali beliau terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sebagai pemimpin adat beliau tentu tahu persis jawabannya. Saya menunggu dengan pikiran yang tidak menentu.

“Dalam paruman kemarin  Bapak Bupati yang akan kembali mengikuti pilkada tahun ini, memberikan sumbangan baju kaos seragam.  Dalam paparannya meminta para pemuda yang nanti ikut mengarak  ogoh-ogoh  memakai kaos seragam sumbangan beliau.“

Saya mengerti jawaban bapak. Kaos seragam? Diberikan menjelang pilkada?  Jangan-jangan sudah ada salah penafsiran.  Waduh, bahaya ini kalau wilayah agama sudah dimasuki politik praktis.

Malam itu saya harus bertemu dengan Made Darma. Apa yang terjadi sebenarnya. Apapun permasalahannya, jalan keluarnya tentu ada. Tidak sulit untuk mencari Made Darma. Di sebuah warung para pemuda sedang berkumpul.

“Om Swastiastu!“ Saya menyapa mereka dengan senyum terkembang.

“Bli, kami sudah sepakat tidak akan mengarak ogoh-ogoh dalam malam pengrupukan,” kata Made Darma sambil menggelengkan kepala.

Saya teringat pembicaraan bapak sore tadi. Apakah ini ada hubungan dengan pembagian baju seragam.

“Made, Bli memang sengaja tidak pulang dalam acara paruman itu. Selama ini apapun yang menjadi keputusan pasti akan diikuti oleh warga banjar.” Saya sengaja memancing mereka untuk berbicara lebih lanjut. Mereka tetap acuh tak acuh, asyik memainkan ponsel masing masing. Percuma juga rasanya untuk bertanya pada saat yang tidak tepat. Bagaimanapun saya harus menanyakan persoalan ini dan mencarikan jalan keluarnya.

Saya kembali pulang ke rumah. Rasa penasaran ini harus dituntaskan. Entah siapa lagi yang harus saya tanya. Saya nyalakan ponsel untuk  browsing, mencari tahu makna ogoh-ogoh dalam perayaan hari Raya Nyepi. Besok pagi saya harus bertanya kembali pada bapak.

“Sebenarnya ogoh-ogoh sudah disiapkan seperti biasanya, namun semenjak ada pertemuan warga dengan calon bupati itu, mereka memindahkan pembuatan ogoh-ogoh.“ Bapak menjawab pelan ketika saya menanyakan kembali tentang ogoh-ogoh.  “Para pemuda tersinggung dengan sumbangan kaos seragam itu dan menyalahkan bapak karena tidak berani menolak“.

Ternyata benar, ada kesalahpahaman. Persoalan yang terjadi ada pada kaos seragam dan bukan pada ogoh-ogoh itu. Para pemuda merasa diarahkan untuk mendukung salah satu kandidat. Saya harus menemui mereka kembali.

“Bapa, kalau itu persoalannya kenapa tidak mengundang kembali para pemuda untuk bermusyawarah?”

Saya seoalah mendesak bapak. Ada rasa bersalah ketika ketika saya melontarkan kalimat ini.

“Bapa. sebenarnya apa yang terjadi dalam paruman itu, apakah nanti para pemuda yang mengarak ogoh-ogoh diharuskan memakai seragam pemberian calon bupati?” Saya bertanya penuh telisik. Seperti biasa pembawaan bapak tampak tenang. Pandangannya menatap keluar. 

“Wayan,” suara bapak terdengar lirih. Begitulah bapak memanggil saya. Tidak pernah memanggil dengan nama lengkap I Wayan Sujana. “Wayan tentu sudah tahu bagaimana bapak menjaga tradisi lelulur kita sejak dulu. Sekolah bapak tidak tinggi, tidak banyak tahu tentang perkembangan jaman sekarang. Satu hal yang bapak jadikan pegangan dalam setiap mengambil sebuah keputusan dalam memimpin adalah selalu meminta petunjuk Ida Hyang Widhi. Dan semua keputusan yang diambil nantinya juga dipersembahkan kepada-Nya.”

Saya tidak menyangka bapak akan mengucapkan kalimat seperti itu. Menjadi pemimpin adat  bapak disibukkan dengan kegiatan adat dan agama. Mengurus upacara agama di tingkat banjar dan  pernikahan warga menjadi tanggungjawabnya. Barangkali karena selalu memohon petunjuk dan mempersembahkan semua kepada-Nya bapak selalu terlihat bersahaja.

Karena malam sudah larut saya beranjak ke tempat tidur. Besok pagi akan kembali menemui Made Darma. Malam begitu sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik di kejauhan.

‘Made, Bli mau ketemu!” Saya mengirim pesan melalui SMS. Lima menit belum dibalas. Barangkali Made belum terbangun. Jam masih menunjukkan 06.47. Saya memang terbiasa bangun pagi. Pekerjaan di bidang kesehatan membiasakan saya bangun pagi. Sepuluh menit juga belum ada balasan. Tiba-tiba handphone berbunyi. Sepintas saya melirik layar handphone. Tertera nomor yang belum dikenal.

”Om Swastiastu.” Saya menjawab dengan ramah.

”Ini tyang, Made,  Bli, nomor baru!” Terdengar suara Made Darma.

”Made, Bli ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi  sehingga Bli belum melihat ada ogoh-ogoh di Bale Banjar? “  Saya memulai percakapan ketika akhirnya Made datang ke rumah. Secara tradisi keberlangsungan adat istiadat di banjar kami juga menjadi tanggung jawab para pemuda. Mereka dihimpun dalam sebuah organisasi yang bernama sekeha teruna.

“Bli Wayan, kali ini kami benar-benar kecewa.“ Made menjawab dengan nada yang tegas.

Selama ini saya mengenal dia sebagai pemuda yang sopan. Di tengah derasnya pengaruh globalisasi akar tradisinya tetap kuat. Setiap upacara adat dan agama yang diadakan di banjar kami dia selalu ada untuk memimpin generasinya. Jika kali ini dia kelihatan frustasi tentunya tekanan yang diberikan sangat berat. Saya akan menyelaminya dari hati ke hati.

“Bli, kami pemuda sangat kecewa dengan sikap klian adat kita. Kenapa sikapnya seperti itu?“ Tampak sekali Made sangat kecewa.

Saya sengaja memberikan kesempatan agar dia mengeluarkan keluh kesahnya.  Mereka menganggap bapak sudah luluh dengan penguasa. Situasi saat ini memang terlalu sulit. Arus globalisasi mengepung tradisi.

“Kita memang tidak bisa terlepas dari politik kekuasaan, karena begitulah adanya. Apalagi sekarang mejelang pemilihan kepala daerah. Kita yang harus menyikapinya dengan bijak!“ Saya berbicara dengan nada pelan.

“Justru di sini letak permasalahannya, Bli.“ Made menangkis dengan segit. “Dulu kalau tidak ada pemilihan bupati, kami tidak pernah merasa terbebani dalam membuat ogoh-ogoh.“

“Tidak ada yang salah dengan pemilihan bupati, Undang undang menjamin itu.“ Saya menjawab dengan serius.

 “Pemilihan bupati dan rangkaian hari Raya Nyepi adalah dua hal yang berbeda dan keduanya sebenarnya tidak akan saling mengganggu…“

“Bli sih tidak ada saat paruman itu, dan semua yang hadir mendengar sendiri bahwa akan ada pembagian kaos seragam dan diharapkan dipakai saat arak-arakan ogoh-ogoh. Ini artinya apa, Bli? “ 

Saya melihat semangat Made dalam menjaga tradisi leluhur sungguh luar biasa. Memang seharusnya seperti itu sebagai generasi muda Bali. Selama ini kita dikenal karena budaya yang adiluhung. Tidak salah banyak wisatawan menjuluki Bali sebagai surga yang terakhir. Namun arus globalisasi juga tidak bisa dihindari. Diperlukan sikap yang kritis namun tetap  bijak dalam menyikapi perubahan.

“Mari kita kembalikan ke tugas dan kewajiban masing- masing. Tugas kita dalam Nyepi ini adalah mengikuti serangkaian upacara Nyepi.  Biarlah  masalah pemilihan Bupati  itu menjadi urusan politikus. Saat pemilihan nanti kita memilih sesuai pilihan nurani kita masing-masing!“

Aku berkata datar. Sepertinya Made bisa menerima penjelasan saya dan berharap Hari Raya Nyepi dirayakan sesuai dengan tradisi sebelumnya,dan ogoh-ogoh juga semarak keliling banjar saat malam pengrupukan. [T]

Tags: Cerpen
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu Pilih Siapa? Ruwet!

Next Post

Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Ida Bagus Adnyana

Ida Bagus Adnyana

Penikmat cerpen. Tinggal di Desa Berangbang, Jembrana, Bali

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co