15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi Menjelang Pilkada

Ida Bagus Adnyana by Ida Bagus Adnyana
February 24, 2019
in Cerpen
Nyepi Menjelang Pilkada

Lukisan Komang Astiari (croping)

Cerpen: Ida Bagus Adnyana

Hari Raya Nyepi masih satu minggu lagi. Biasanya di masa seperti ini, tiap bale banjar di desa kami semarak dengan pembuatan ogoh-ogoh. Para pemuda selalu berkumpul untuk menyiapkan ogoh-ogoh yang akan diarak keliling banjar saat  pangrupukan. Saya merasa kagum dengan mereka, hampir  sebulan   menghabiskan malam di bale banjar menyelesaikan ogoh-ogoh.

Namun kali ini yang saya lihat sepertinya berbeda. Bale banjar disamping rumah tidak terlihat ada pemuda berkumpul. Jangan-jangan  hari Raya Nyepi tahun ini  pembuatan ogoh ogoh ada di tempat lain, bukan di bale banjar, pikir saya.

Sore yang cerah. Saya keluar dari rumah sengaja naik sepeda. Semenjak bertugas di kota lain  saya jarang-jarang pulang ke kampung halaman.  Tradisi pulang kampung saya lakukan ketika menjelang Nyepi. Mengikuti arak-arakan ogoh-ogoh mengelilingi banjar selalu tidak dilewatkan. Semacam panggilan jiwa karena selalu ada kerinduan di sana. Melihat ogoh-ogoh hasil kreativitas pemuda, menyaksikan kemeriahan warga banjar dalam mengikuti arak-arakan ogoh-ogoh selalu berkesan buat saya.

Sambil menuntun sepeda keluar rumah sepintas saya lihat bangunan bale banjar. Bangunan tradisional yang luas dengan tiang tiang tinggi sebagai penyangga. Banyak aktivitas adat dilangsungkan di bangunan ini dan secara turun temurun kewajiban warga adat untuk menjaga serta merawatnya. Di bangunan ini tersimpan seperangkat gamelan untuk mengiringi upacara agama kami.  Karena sejatinya bale banjar digunakan untuk tempat berkumpulnya warga dalam paruman, ruangan yang terbentuk berupa ruangan yang luas. Bale banjar bagi kami adalah bangunan serbaguna.

Beberapa meter mengayuh sepeda dari rumah, saya bertemu dengan Made Darma dan pemuda lain yang sedang duduk di atas motor. Tampaknya mereka asyik dengan ponselnya masing-masing. Made Darma adalah salah seorang pemuda di banjar kami yang masih terhitung kerabat dengan saya. “Kami malas, Bli“ jawab Made pelan ketika saya bertanya kenapa tidak ada   ogoh-ogoh di bale banjar

“Sekeha Teruna di banjar ini tidak mau diajak main politik, kami kapok ditipu dan urusan politik itu urusan para politikus!“

****

Beberapa minggu yang lalu, bapak menelpon saya. Dia menyuruh  pulang untuk mengikuti  paruman di bale banjar. Semua warga banjar diharapkan untuk hadir. Bakal calon bupati akan datang untuk menyampaikan visi misinya. Karena masih sibuk dengan pekerjaan, saya tidak pulang dan tetap pada rencana akan pulang untuk merayakan hari Raya Nyepi.

Sebenarnya saya sudah tidak ingat lagi isi  pembicaraan dengan bapak di telpon itu. Selama ini apapun keputusan paruman banjar saya pasti akan mengikutinya apalagi untuk kepentingan umum. Saya percayakan pada keluarga di kampung. Namun setelah mendengar jawaban Made Darma tadi saya mulai berpikir jangan-jangan ini ada hubungannya dengan paruman itu.

Saya menikmati keliling banjar dengan sepeda. Hitung-hitung sambil berolahraga. Suasana pedesaan memang sungguh berbeda dengan di kota. Hawanya sejuk, disana sini pepeohonan masih menghijau.  Melewati sebuah lapangan volley terlihat para pemuda sedang asyik berolahraga. Saya sengaja tidak menghampiri mereka karena ingin melanjutkan bersepeda ke banjar sebelah. Di depan bale banjar saya berhenti. Keadaannya juga hampir sama dengan situasi di banjar saya,  tidak ada aktivitas pemuda berkumpul di.banjar. Kenapa ya?

Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya terus berpikir. Di sebuah pertigaan saya sempat berhenti. Ada tiga buah baliho terpasang berjejer. Satu per satu saya lihat dan amati ternyata isinya hampir sama. Pasangan bakal calon bupati mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi. Barangkali mereka menjadikan hari Raya Nyepi momentum untuk mendekatkan  diri  kepada warga melalui baliho. Saya baru sadar bahwa sebentar lagi akan  dilangsungkan Pemilihan Bupati.

Saya melihat bapak duduk santai ditemani segelas kopi hitam. Di usia yang mendekati enam puluhan masih terlihat gurat wibawa wajah bapak. Hampir sepuluh tahun sudah bapak menjadi pemimpin adat di banjar ini. Menjadi pemimpin adat harus mampu menjaga tradisi leluhur di bidang adat dan agama. Di jaman yang semua terbuka ini, hal itu tentunya sangat sulit. Godaan penguasa dan pengusaha akan datang  silih berganti.

Bagi kami sudah terbiasa merayakan Hari Raya Nyepi dengan arakan ogoh-ogoh. Selain ada unsur seni, kegiatan tersebut sekaligus ritual untuk menetralkan pengaruh yang tidak baik saat melaksanakan Catur Brata Nyepi. Hari Raya Nyepi adalah peringatan pergantian tahun baru Caka bagi umat Hindu. Apa yang terjadi nanti kalau hari raya Nyepi tanpa ogoh-ogoh? Jangan jangan akan mengganggu kehidupan warga kami. Saya harus mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.`

Akhirnya saya bertanya kepada bapak tentang tidak adanya  ogoh-ogoh dalam Nyepi kali ini. Lama sekali beliau terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sebagai pemimpin adat beliau tentu tahu persis jawabannya. Saya menunggu dengan pikiran yang tidak menentu.

“Dalam paruman kemarin  Bapak Bupati yang akan kembali mengikuti pilkada tahun ini, memberikan sumbangan baju kaos seragam.  Dalam paparannya meminta para pemuda yang nanti ikut mengarak  ogoh-ogoh  memakai kaos seragam sumbangan beliau.“

Saya mengerti jawaban bapak. Kaos seragam? Diberikan menjelang pilkada?  Jangan-jangan sudah ada salah penafsiran.  Waduh, bahaya ini kalau wilayah agama sudah dimasuki politik praktis.

Malam itu saya harus bertemu dengan Made Darma. Apa yang terjadi sebenarnya. Apapun permasalahannya, jalan keluarnya tentu ada. Tidak sulit untuk mencari Made Darma. Di sebuah warung para pemuda sedang berkumpul.

“Om Swastiastu!“ Saya menyapa mereka dengan senyum terkembang.

“Bli, kami sudah sepakat tidak akan mengarak ogoh-ogoh dalam malam pengrupukan,” kata Made Darma sambil menggelengkan kepala.

Saya teringat pembicaraan bapak sore tadi. Apakah ini ada hubungan dengan pembagian baju seragam.

“Made, Bli memang sengaja tidak pulang dalam acara paruman itu. Selama ini apapun yang menjadi keputusan pasti akan diikuti oleh warga banjar.” Saya sengaja memancing mereka untuk berbicara lebih lanjut. Mereka tetap acuh tak acuh, asyik memainkan ponsel masing masing. Percuma juga rasanya untuk bertanya pada saat yang tidak tepat. Bagaimanapun saya harus menanyakan persoalan ini dan mencarikan jalan keluarnya.

Saya kembali pulang ke rumah. Rasa penasaran ini harus dituntaskan. Entah siapa lagi yang harus saya tanya. Saya nyalakan ponsel untuk  browsing, mencari tahu makna ogoh-ogoh dalam perayaan hari Raya Nyepi. Besok pagi saya harus bertanya kembali pada bapak.

“Sebenarnya ogoh-ogoh sudah disiapkan seperti biasanya, namun semenjak ada pertemuan warga dengan calon bupati itu, mereka memindahkan pembuatan ogoh-ogoh.“ Bapak menjawab pelan ketika saya menanyakan kembali tentang ogoh-ogoh.  “Para pemuda tersinggung dengan sumbangan kaos seragam itu dan menyalahkan bapak karena tidak berani menolak“.

Ternyata benar, ada kesalahpahaman. Persoalan yang terjadi ada pada kaos seragam dan bukan pada ogoh-ogoh itu. Para pemuda merasa diarahkan untuk mendukung salah satu kandidat. Saya harus menemui mereka kembali.

“Bapa, kalau itu persoalannya kenapa tidak mengundang kembali para pemuda untuk bermusyawarah?”

Saya seoalah mendesak bapak. Ada rasa bersalah ketika ketika saya melontarkan kalimat ini.

“Bapa. sebenarnya apa yang terjadi dalam paruman itu, apakah nanti para pemuda yang mengarak ogoh-ogoh diharuskan memakai seragam pemberian calon bupati?” Saya bertanya penuh telisik. Seperti biasa pembawaan bapak tampak tenang. Pandangannya menatap keluar. 

“Wayan,” suara bapak terdengar lirih. Begitulah bapak memanggil saya. Tidak pernah memanggil dengan nama lengkap I Wayan Sujana. “Wayan tentu sudah tahu bagaimana bapak menjaga tradisi lelulur kita sejak dulu. Sekolah bapak tidak tinggi, tidak banyak tahu tentang perkembangan jaman sekarang. Satu hal yang bapak jadikan pegangan dalam setiap mengambil sebuah keputusan dalam memimpin adalah selalu meminta petunjuk Ida Hyang Widhi. Dan semua keputusan yang diambil nantinya juga dipersembahkan kepada-Nya.”

Saya tidak menyangka bapak akan mengucapkan kalimat seperti itu. Menjadi pemimpin adat  bapak disibukkan dengan kegiatan adat dan agama. Mengurus upacara agama di tingkat banjar dan  pernikahan warga menjadi tanggungjawabnya. Barangkali karena selalu memohon petunjuk dan mempersembahkan semua kepada-Nya bapak selalu terlihat bersahaja.

Karena malam sudah larut saya beranjak ke tempat tidur. Besok pagi akan kembali menemui Made Darma. Malam begitu sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik di kejauhan.

‘Made, Bli mau ketemu!” Saya mengirim pesan melalui SMS. Lima menit belum dibalas. Barangkali Made belum terbangun. Jam masih menunjukkan 06.47. Saya memang terbiasa bangun pagi. Pekerjaan di bidang kesehatan membiasakan saya bangun pagi. Sepuluh menit juga belum ada balasan. Tiba-tiba handphone berbunyi. Sepintas saya melirik layar handphone. Tertera nomor yang belum dikenal.

”Om Swastiastu.” Saya menjawab dengan ramah.

”Ini tyang, Made,  Bli, nomor baru!” Terdengar suara Made Darma.

”Made, Bli ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi  sehingga Bli belum melihat ada ogoh-ogoh di Bale Banjar? “  Saya memulai percakapan ketika akhirnya Made datang ke rumah. Secara tradisi keberlangsungan adat istiadat di banjar kami juga menjadi tanggung jawab para pemuda. Mereka dihimpun dalam sebuah organisasi yang bernama sekeha teruna.

“Bli Wayan, kali ini kami benar-benar kecewa.“ Made menjawab dengan nada yang tegas.

Selama ini saya mengenal dia sebagai pemuda yang sopan. Di tengah derasnya pengaruh globalisasi akar tradisinya tetap kuat. Setiap upacara adat dan agama yang diadakan di banjar kami dia selalu ada untuk memimpin generasinya. Jika kali ini dia kelihatan frustasi tentunya tekanan yang diberikan sangat berat. Saya akan menyelaminya dari hati ke hati.

“Bli, kami pemuda sangat kecewa dengan sikap klian adat kita. Kenapa sikapnya seperti itu?“ Tampak sekali Made sangat kecewa.

Saya sengaja memberikan kesempatan agar dia mengeluarkan keluh kesahnya.  Mereka menganggap bapak sudah luluh dengan penguasa. Situasi saat ini memang terlalu sulit. Arus globalisasi mengepung tradisi.

“Kita memang tidak bisa terlepas dari politik kekuasaan, karena begitulah adanya. Apalagi sekarang mejelang pemilihan kepala daerah. Kita yang harus menyikapinya dengan bijak!“ Saya berbicara dengan nada pelan.

“Justru di sini letak permasalahannya, Bli.“ Made menangkis dengan segit. “Dulu kalau tidak ada pemilihan bupati, kami tidak pernah merasa terbebani dalam membuat ogoh-ogoh.“

“Tidak ada yang salah dengan pemilihan bupati, Undang undang menjamin itu.“ Saya menjawab dengan serius.

 “Pemilihan bupati dan rangkaian hari Raya Nyepi adalah dua hal yang berbeda dan keduanya sebenarnya tidak akan saling mengganggu…“

“Bli sih tidak ada saat paruman itu, dan semua yang hadir mendengar sendiri bahwa akan ada pembagian kaos seragam dan diharapkan dipakai saat arak-arakan ogoh-ogoh. Ini artinya apa, Bli? “ 

Saya melihat semangat Made dalam menjaga tradisi leluhur sungguh luar biasa. Memang seharusnya seperti itu sebagai generasi muda Bali. Selama ini kita dikenal karena budaya yang adiluhung. Tidak salah banyak wisatawan menjuluki Bali sebagai surga yang terakhir. Namun arus globalisasi juga tidak bisa dihindari. Diperlukan sikap yang kritis namun tetap  bijak dalam menyikapi perubahan.

“Mari kita kembalikan ke tugas dan kewajiban masing- masing. Tugas kita dalam Nyepi ini adalah mengikuti serangkaian upacara Nyepi.  Biarlah  masalah pemilihan Bupati  itu menjadi urusan politikus. Saat pemilihan nanti kita memilih sesuai pilihan nurani kita masing-masing!“

Aku berkata datar. Sepertinya Made bisa menerima penjelasan saya dan berharap Hari Raya Nyepi dirayakan sesuai dengan tradisi sebelumnya,dan ogoh-ogoh juga semarak keliling banjar saat malam pengrupukan. [T]

Tags: Cerpen
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu Pilih Siapa? Ruwet!

Next Post

Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Ida Bagus Adnyana

Ida Bagus Adnyana

Penikmat cerpen. Tinggal di Desa Berangbang, Jembrana, Bali

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co