3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
February 24, 2019
in Esai
Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Ilustrasi diolah dari Google

Siapa yang tidak kenal dengan orang China? Negara yang maju akan teknologi, industri, dan sebagainya. Orang yang berkulit putih dan bermata sipit.Negara China sebagai salah satu negara digdaya di dunia, bahkan dulu Nabi Muhammad S.AW pernah menyeru “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, saking majunya peradaban negeri tersebut.

Uniknya China juga sebagai maskot dari orang berparas putih. Mau ada orang Korea, Jepang, Tionghoa atau sebagainya tetap disebut orang China, tak terkecuali orang Madura.

Jadi, kasian kalau melihat orang berparas putih dan mata agak sipit dari negeri selain China, misalnya dari Madura, ujung-ujungnya disebut orang China.

Sudah tidak asing lagi bahwasannya keturunan China sebagai bengsa perantau hingga ke penjuru dunia. Berdagang dan bisnis adalah hobinya, tak ada kata menyerah hingga banyak orang China perantau ke pelosok negeri di dunia menjadi sukses.

Tidak usah jauh-jauh memandang ke negeri lain untuk melihat orang China merantau ke sebuah negeri, mari kita lihat di Indonesia. Di negeri kita ini coba perhatikan tak sedikit orang China datang untuk berdagang. Di perkomplekan kota biasanya ada oarang China pemilik toko.

Stereotype warga keturunan China disebut pelit, itu berdasarkan cerita-cerita dari kawan dan sahabat yang bekerja di tempat mereka. Namun sesungguhnya banyak warga keturunan yang royal dan pemurah. Tapi yang paling saya kagumi adalah kekonsistenan mereka dalam hal waktu dan etos kerja, yang yang membuat mereka eksis di negeri manapun mereka berada.

Tapi, saya tak perlu mengagung-agungkan orang China. Karena, Indonesia yang kaya ini ternyata juga punya hal semacam itu. Saya sebut saja keturunan Madura sebagai orang China-nya Indonesia. Loh kenapa begitu?

Kalau kita atau orang lain mengecap orang China adalah perantau, maka saya katakan juga Madura tak kalah dengan orang China. Orang Madura juga perantau di pelosok Indonesia dari Sabang sampai ke Marauke. Silakan cek jika memang tidak percaya ke seluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia, hitung-hitung juga sebagai jalan-jalan. Pasti akan menemukan orang Madura berada di situ.

Mari kita lihat di Bali. Dipantau dari beberapa wilayah pasti ada orang Madura mulai dari kampus, mahasiswa Madura tidak asing untuk dipandang bahwa mereka adalah orang Madura. Logat bahasanaya jelas seoalah-olah ada fonem suprasegmental alias penekanan pada sebuah kata dan kalimat menjadi ciri khas. Bahkan terkadang para dosen tidak enggan menertawakan mereka dengan ujaran “te satte tak ye”.

Siapa yang tak kenal dengan Suku Madura? Teruntuk orang Bali, jika penasaran dan ingin tahu dengan keturunan Madura tidak usah jauh-jauh menyebrangi lautan, silakan pergi ke Seririt. Di sana sudah ada kampung orang Madura. Kampung yang rata-rata dihuni oleh mereka yang awalnya merantau di Pulau Dewata ini hingga menetap di sana.

Selain itu, ada pula kalau tidak ke Seririt pergi ke arah barat lagi di Grokgak rata-rata di sana juga lumayan banyak suku Madura. Bali lumayan sepi tidak seperti biasanya kalau menjelang lebaran Idul Fitri karena perantau yang berprofesi sebagai pekerja pada pulang kampung ke tanah kelahirannya.Maka dari itu, Madura mirip dengan China sukanya merantau ke daerah tetangga.

Mari kita juga lihat Indonesia bagaian Timur Irian Jaya dan Papua. Saya jamin di sana ada banyak orang Madura, dan profesinya rata-rata sebagai tukang ojek. Dari tahun ke tahun menjadi tukang ojek sebagai tempat sasaran di daerah sana. Karena, uang yang mereka terima dari setiap penumpang berlipat ganda jika dibandingkan dengan uang yang mereka terima saat ada di Madura atau Jawa walaupun jarak tempuh yang dituju tidak jauh.

Tapi, di sana tukang ojek dilarang meminta bayaran jika penumpangnya dari orang berkulit hitam entahlah alasannya kenapa. Tapi, jika ia memberi uang dari kemauan mereka sendiri boleh diambil dan pasti uang yang tidak sedikit (ini cerita dari pengalaman orang Madura).

Kalau di Jawa jangan ditanya lagi, di sana memang penghuni asli Jawa tapi entah dari mana munculnya rata-rata bahasa mereka adalah Madura. Lebih parahnya lagi terkadang orang Jawa tidak mengerti bahasa daerahnya sendiri. Ya, seperti saya ini tidak tahu berbicara Bahasa Jawa hanya saja sedikit mengerti jika ada yang bertutur Bahasa Jawa. Ah Madura memang unik di mana-mana pasti ada.

Sekarang mari juga lihat di Sumatera dan Kalimantan. Di sana pasti ada perantau dari Madura yang berjualan entah itu Sate Madura atau Soto khas Madura, pokoknya bermacam-macam. Begitu juga di Kalimantan orang-orang Madura bekerja sebagai tukang kayu dan memotong besi-besi tua karena memang rata-rata lowongan pekerjaan yang semacam itulah yang ada di sana untuk kaum laki-laki. Begitulah Madura, bahkan orang Dayak pada Tahun 2017 mengadakan gelar temu kangen dengan orang Madura semenjak jarangnya orang Madura sejak pasca perang sampit. 

Satu yang perlu diingat, Madura bukan penjajah dan juga bukan kekerasan. Hal demikian disematkan karena orang Madura ketika merantau berkelompok sehingga di manapun berada selalu bersama di sebuah wilayah tertentu karena kuatnya solidaritas dan kekeluargaan, baik sesama etnis Madura ataupun di luarnya.

Dengan begitu mereka bisa membuat kampung khusus Madura di mana-mana. Selain itu, perlu diingat Madura tidak keras, hanya saja cara berbicaranya memang seperti itu dengan nada yang agak tinggi atau mungkin mereka (bukan orang Madura) memandang ciri khas Madura adalah celurit dan itu dikenal dengan carok maka dari itu orang Madura dicap dengan kekerasan. Tapi sebenarnya tidak, orang madura sangat ramah apa lagi lawan tuturnya juga berlaku baik pada orang Madura.

Perlu diketahui kenapa orang Madura mudah diterima di mana saja. Karena beberapa alasan misalnya saja, rasapersaudaraan yang tinggi karena orang Madura memegang prinsip; kalau kau pintar menghargai orang lain, maka engkau akan dihargai juga. “Mun been penter areggein oreng laen, been bekal ereggein kiah”.

Selain dari itu kerja kerasnya itu loh, bagaimana mereka tegar mengahadapi hambatan yang mereka alami apa lagi berbicara tentang kekonsistenan. Kalau keturunan China konsisten akan waktu maka Madura saya katakan konsisten dalam prinsip kebenaran. Yah, begitulah Madura si perantau di pelosok Negara Indonesia.

Yakin dah, di mana pun anda berada, di mana pun anda merantau pasti bertemu dengan orang Madura di tempat tinggal anda. Karena seperti yang sudah saya katakan, Madura adalah “China”-nya orang Indonesia. Ada di mana-mana. [T]

Tags: CinaIndonesiaMaduraTionghoa
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi Menjelang Pilkada

Next Post

Carmencita, Turis Italia itu, Tiba-tiba “Nopeng” di Wantilan Pakraman Buleleng

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Carmencita, Turis Italia itu, Tiba-tiba “Nopeng” di Wantilan Pakraman Buleleng

Carmencita, Turis Italia itu, Tiba-tiba “Nopeng” di Wantilan Pakraman Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co