12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
February 24, 2019
in Esai
Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Ilustrasi diolah dari Google

Siapa yang tidak kenal dengan orang China? Negara yang maju akan teknologi, industri, dan sebagainya. Orang yang berkulit putih dan bermata sipit.Negara China sebagai salah satu negara digdaya di dunia, bahkan dulu Nabi Muhammad S.AW pernah menyeru “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, saking majunya peradaban negeri tersebut.

Uniknya China juga sebagai maskot dari orang berparas putih. Mau ada orang Korea, Jepang, Tionghoa atau sebagainya tetap disebut orang China, tak terkecuali orang Madura.

Jadi, kasian kalau melihat orang berparas putih dan mata agak sipit dari negeri selain China, misalnya dari Madura, ujung-ujungnya disebut orang China.

Sudah tidak asing lagi bahwasannya keturunan China sebagai bengsa perantau hingga ke penjuru dunia. Berdagang dan bisnis adalah hobinya, tak ada kata menyerah hingga banyak orang China perantau ke pelosok negeri di dunia menjadi sukses.

Tidak usah jauh-jauh memandang ke negeri lain untuk melihat orang China merantau ke sebuah negeri, mari kita lihat di Indonesia. Di negeri kita ini coba perhatikan tak sedikit orang China datang untuk berdagang. Di perkomplekan kota biasanya ada oarang China pemilik toko.

Stereotype warga keturunan China disebut pelit, itu berdasarkan cerita-cerita dari kawan dan sahabat yang bekerja di tempat mereka. Namun sesungguhnya banyak warga keturunan yang royal dan pemurah. Tapi yang paling saya kagumi adalah kekonsistenan mereka dalam hal waktu dan etos kerja, yang yang membuat mereka eksis di negeri manapun mereka berada.

Tapi, saya tak perlu mengagung-agungkan orang China. Karena, Indonesia yang kaya ini ternyata juga punya hal semacam itu. Saya sebut saja keturunan Madura sebagai orang China-nya Indonesia. Loh kenapa begitu?

Kalau kita atau orang lain mengecap orang China adalah perantau, maka saya katakan juga Madura tak kalah dengan orang China. Orang Madura juga perantau di pelosok Indonesia dari Sabang sampai ke Marauke. Silakan cek jika memang tidak percaya ke seluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia, hitung-hitung juga sebagai jalan-jalan. Pasti akan menemukan orang Madura berada di situ.

Mari kita lihat di Bali. Dipantau dari beberapa wilayah pasti ada orang Madura mulai dari kampus, mahasiswa Madura tidak asing untuk dipandang bahwa mereka adalah orang Madura. Logat bahasanaya jelas seoalah-olah ada fonem suprasegmental alias penekanan pada sebuah kata dan kalimat menjadi ciri khas. Bahkan terkadang para dosen tidak enggan menertawakan mereka dengan ujaran “te satte tak ye”.

Siapa yang tak kenal dengan Suku Madura? Teruntuk orang Bali, jika penasaran dan ingin tahu dengan keturunan Madura tidak usah jauh-jauh menyebrangi lautan, silakan pergi ke Seririt. Di sana sudah ada kampung orang Madura. Kampung yang rata-rata dihuni oleh mereka yang awalnya merantau di Pulau Dewata ini hingga menetap di sana.

Selain itu, ada pula kalau tidak ke Seririt pergi ke arah barat lagi di Grokgak rata-rata di sana juga lumayan banyak suku Madura. Bali lumayan sepi tidak seperti biasanya kalau menjelang lebaran Idul Fitri karena perantau yang berprofesi sebagai pekerja pada pulang kampung ke tanah kelahirannya.Maka dari itu, Madura mirip dengan China sukanya merantau ke daerah tetangga.

Mari kita juga lihat Indonesia bagaian Timur Irian Jaya dan Papua. Saya jamin di sana ada banyak orang Madura, dan profesinya rata-rata sebagai tukang ojek. Dari tahun ke tahun menjadi tukang ojek sebagai tempat sasaran di daerah sana. Karena, uang yang mereka terima dari setiap penumpang berlipat ganda jika dibandingkan dengan uang yang mereka terima saat ada di Madura atau Jawa walaupun jarak tempuh yang dituju tidak jauh.

Tapi, di sana tukang ojek dilarang meminta bayaran jika penumpangnya dari orang berkulit hitam entahlah alasannya kenapa. Tapi, jika ia memberi uang dari kemauan mereka sendiri boleh diambil dan pasti uang yang tidak sedikit (ini cerita dari pengalaman orang Madura).

Kalau di Jawa jangan ditanya lagi, di sana memang penghuni asli Jawa tapi entah dari mana munculnya rata-rata bahasa mereka adalah Madura. Lebih parahnya lagi terkadang orang Jawa tidak mengerti bahasa daerahnya sendiri. Ya, seperti saya ini tidak tahu berbicara Bahasa Jawa hanya saja sedikit mengerti jika ada yang bertutur Bahasa Jawa. Ah Madura memang unik di mana-mana pasti ada.

Sekarang mari juga lihat di Sumatera dan Kalimantan. Di sana pasti ada perantau dari Madura yang berjualan entah itu Sate Madura atau Soto khas Madura, pokoknya bermacam-macam. Begitu juga di Kalimantan orang-orang Madura bekerja sebagai tukang kayu dan memotong besi-besi tua karena memang rata-rata lowongan pekerjaan yang semacam itulah yang ada di sana untuk kaum laki-laki. Begitulah Madura, bahkan orang Dayak pada Tahun 2017 mengadakan gelar temu kangen dengan orang Madura semenjak jarangnya orang Madura sejak pasca perang sampit. 

Satu yang perlu diingat, Madura bukan penjajah dan juga bukan kekerasan. Hal demikian disematkan karena orang Madura ketika merantau berkelompok sehingga di manapun berada selalu bersama di sebuah wilayah tertentu karena kuatnya solidaritas dan kekeluargaan, baik sesama etnis Madura ataupun di luarnya.

Dengan begitu mereka bisa membuat kampung khusus Madura di mana-mana. Selain itu, perlu diingat Madura tidak keras, hanya saja cara berbicaranya memang seperti itu dengan nada yang agak tinggi atau mungkin mereka (bukan orang Madura) memandang ciri khas Madura adalah celurit dan itu dikenal dengan carok maka dari itu orang Madura dicap dengan kekerasan. Tapi sebenarnya tidak, orang madura sangat ramah apa lagi lawan tuturnya juga berlaku baik pada orang Madura.

Perlu diketahui kenapa orang Madura mudah diterima di mana saja. Karena beberapa alasan misalnya saja, rasapersaudaraan yang tinggi karena orang Madura memegang prinsip; kalau kau pintar menghargai orang lain, maka engkau akan dihargai juga. “Mun been penter areggein oreng laen, been bekal ereggein kiah”.

Selain dari itu kerja kerasnya itu loh, bagaimana mereka tegar mengahadapi hambatan yang mereka alami apa lagi berbicara tentang kekonsistenan. Kalau keturunan China konsisten akan waktu maka Madura saya katakan konsisten dalam prinsip kebenaran. Yah, begitulah Madura si perantau di pelosok Negara Indonesia.

Yakin dah, di mana pun anda berada, di mana pun anda merantau pasti bertemu dengan orang Madura di tempat tinggal anda. Karena seperti yang sudah saya katakan, Madura adalah “China”-nya orang Indonesia. Ada di mana-mana. [T]

Tags: CinaIndonesiaMaduraTionghoa
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi Menjelang Pilkada

Next Post

Carmencita, Turis Italia itu, Tiba-tiba “Nopeng” di Wantilan Pakraman Buleleng

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Carmencita, Turis Italia itu, Tiba-tiba “Nopeng” di Wantilan Pakraman Buleleng

Carmencita, Turis Italia itu, Tiba-tiba “Nopeng” di Wantilan Pakraman Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co