24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pak Jenggot #Cerpen I Made Sanggra

I Putu Supartika by I Putu Supartika
February 7, 2019
in Cerpen
Pak Jenggot #Cerpen I Made Sanggra

Ilustrasi diolah dari Google

Sebulan sekali ia pergi ke Gianyar, ke Kantor Pos mengambil uang pensiunan. Bulan lalu, tumben ia datang terlambat.

Biasanya pukul delapan pagi sudah sampai di Kantor Pos, namun saat itu, pukul sebelas baru sampai di Gianyar. Baru saja duduk, seorang pensiunan Serdadu NICA keluar dari Kantor Pos. Sesampainya di depan I Jenggot, itulah nama panggilannya, nama aslinya Wayan Buleng. Dan jika keadaannya seperti itu, pensiunan Serdadu NICA itu akan menjatuhkan uangnya di depan I Jenggot. Banyak orang yang membantu memungut dan mengembalikan pada pemiliknya.

“Bagaimana, apakah sudah pas uangnya Pak?” seseorang bertanya padanya.

“Ah, sudah! Dapat uang sedikit. Lima ratus ribu. Lumayan untuk beli sradele.” Ia menjawab dan terdengar agak sombong. Tok… tok… tok… bunyi sepatunya saat melangkah tanpa menoleh.

“Kenapa bengong Nggot?” tanya Ketut Kontok sambil mendorong tubuh I Jenggot yang mematung di sampingnya. I Jenggot terkejut dan berkata:

“Lihat itu Tut! Orang yang menjatuhkan uang tadi…” Belum usai berbicara, sudah dipotong Ketut Kontok.

“Siapa yang kamu bilang?”

“Ah, saya tidak suka menyebut nama penghianat bangsa!” kata I Jenggot ketus. Pelan-pelan, Ketut Kontok segera menyela perkataanya.

“Ah, jangan begitu Nggot! Jangan sebut-sebut hal itu lagi. Sekarang negara kita sudah merdeka.”

“Siapa bilang begitu? Apa dampaknya bila membicarakan hal itu? Apakah salah jika mengatakan yang sebenarnya, coba pikirkan!”

“Bicarakan yang lain saja Nggot!” kata Ketut Kontok.

“Saya Jengkel sekali Tut. Rasanya kotoran di perut naik ke otak. Orang yang menyiksa kita di penjara, karena kita berjuang untuk kemerdekaan, dan setelah merdeka, pensiunannya malah lebih besar dari kita, bagaimana ceritanya itu.” I Jenggot berkata dengan nada marah hingga alisnya berkerut, tatapannya tajam memandang Ketut Kontok.

Dulu, ketika mereka masih sama-sama berjuang, jika I Jenggot menunjukkan raut muka seperti itu, tak ada yang berani mendekat, maupun membantah. Jika ada yang membantah, kemungkinan ia akan ditembak. Bisa juga dipukul. Ia memang judes dan mudah tersinggung. Mungkin karena dirinya jadi algojo saat itu.

“Begini Nggot.”

“Begini bagaimana?”

“Begini, ……” I Ketut Kontok mulai berbicara pelan. “Gaji itu tergantung tinggi rendahnya pangkat. Orang yang menjatuhkan uang tadi itu, sudah jadi perwira, terang saja gajinya gede. Gaji Pensiunan kita tidak sesuai pangkat. Tak apa, toh pemerintah masih baik memberi kita gaji, daripada tidak sama sekali. Dulu sewaktu kita berjuang, tidak ada yang memikirkan gaji. Kita juga tak menuntut gaji. Kita berjuang karena memang ingin berjuang. Tidak ada yang meminta, tidak dipaksa. Bukan begitu, Nggot!”

 “Iya memang begitu.”

“Kalau begitu, sekarang apa lagi. Bukannya urusannya sudah selesai?”

“Dalam pikiranku belum selesai. Sulit menerima sesuatu yang aneh itu,” kata I Jenggot menggerutu.

“Pak  Jénggot……!” Petugas di Kantor  Pos  memanggilnya.  I Jénggot bangun mendekati tempat duduk petugas itu, menuju ke loket tempat pembagian uang. Setelah menerima uang, mereka pun pergi. I Jenggot berpisah dengan Ketut Kontok di jalan menuju ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, I Jenggot duduk merenung. Matanya menerawang jauh, memikirkan apa yang ditemuinya di Kantor Pos  Gianyar.  Dalam pikirannya masih terbayang wajah orang yang menjatuhkan uang di Kantor Pos tadi.

 “Ah, manusia tanpa air mata, telinganya budek, muka badak. Lebih laknat dari binatang.” I Jenggot menggerutu bagaikan beruk, wadah yang terbuat dari batok kelapa, yang dimasukkan ke dalam air.

 “Bli, mana daging babi guling Gianyar yang kau janjikan?” Istrinya menghampirinya, bertingkah manja. I Jenggot sedikit malu, ia lupa membelikan istrinya oleh-oleh. Biasanya, ketika gajian, ia selalu menyempatkan diri singgah ke Balé Banjar Teges membeli daging babi guling untuk oleh-oleh.

“Bu, jangan ganggu bli, pikiran bli sedang kalut. Kalau nanti pikiran bli sudah tenang, kita beli satu ekor. Nanti ibu bisa makan daging babi guling itu sepuasnya!” kata I Jenggot, sambil berlalu meninggalkan istrinya. Pikirannya masih kalut dan sedih. Duh, kasihan sekali Pak Jenggot.

Sukawati, 100794

Cerpen ini diterjemahkan oleh I Putu Supartika dari cerpen berbahasa Bali karya I Made Sanggra yang berjudul Pak Jenggot. Cerpen ini pernah dimuat di buku kumpulan cerpen berbahasa Bali I Made Sanggra berjudul Bir Bali.

Tags: Cerpen
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Pendidikan Tanpa Teori – Ini Tentang Pendidikan Mencintai Lingkungan

Next Post

Riski Nanda Riwaldi: Merekam Gemerlap Imlek dan Lain-lain dalam Akhir Bahagia

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Riski Nanda Riwaldi: Merekam Gemerlap Imlek dan Lain-lain dalam Akhir Bahagia

Riski Nanda Riwaldi: Merekam Gemerlap Imlek dan Lain-lain dalam Akhir Bahagia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co