24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kawan Tiba (Suatu) Senja

Made Birus Suarbawa by Made Birus Suarbawa
December 9, 2018
in Cerpen
Kawan Tiba (Suatu) Senja

Ilustrasi: potongan lukisan Kabul Suasana

“Begitu inginkah kau mendengar penggalan cerita  itu? Tidakkah keinginan itu terhapus oleh waktu yang telah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kau berkunjung? Saranku, sebaiknya kau ceritakan tentang perjalananmu. Kenapa kau tidak memilih seorang perempuan untuk kau peristri? Lihatlah kulitku ini, sudah terlampau keriput untuk menanti seorang cucu. Aku sudah serupa senja hari yang sebentar lagi menyambut malam dan segera lelap di pembaringan.”

“Ya, September empat tahun yang lalu terakhir aku duduk di sini,  persis di bangku ini. Dan hari ini, seperti juga September-september lain yang tetap mengingatkanku tentang cerita yang ingin kudengar darimu.”

“Hah, sejak pertama kau mengunjungiku, melihat raut wajahmu aku sudah dapat merasakan kau orang yang pantang menyerah. Tapi apa guna cerita itu? Tidak akan ada sesuatupun yang mungkin diubah oleh sepenggal cerita usang.”

“Ada.”

“Tidak.”

“Ada. Mungkin hanya aku, tapi mereka yang dilupakan membutuhkanmu untuk menyuarakan kisah mereka.”

“Tidak, aku meragukannya.”

“Apa kau meragukan aku?”

“Pada kau seorang aku yakin. Tapi bahwa ceritaku akan menjadi penting, aku ragu.”

“Hapus keraguan itu.”

“Untuk apa?”

“Penantianku.”

“Lupakanlah.”

”Itu yang selalu aku tolak. Lupa!”

”Heh, ya tanah ini, goyang rumput ilalang itu tidak akan pernah lupa. Sejarah itu lekat satu sama lain seperti sekeping uang logam dan ceritaku adalah satu sisi gelapnya yang harus dilupakan seperti kisah anak durhaka yang menjadi aib bagi keluarga.”

“Tapi ia akan menjadi lilin bagiku dan aku berharap tidak lagi meraba dalam kegelapan sejarah yang telah tertulis.”

Terdengar tarikan nafas berat dan dalam. Mereka termenung dalam diam, menelusuk khayal hati masing-masing.

“Lihatlah rumah ini, ia adalah bagian kesuraman itu.”

”Sibakkan kesuraman itu sekarang.”

”Kau perhatikan, tiap bagian rumah ini menyimpan penggalan-penggalan dari cerita itu. Pada pintu-pintu kayu itu dapat kau lihat jelas jejak usia tergurat di sana. Dinding kapur yang memudar warnanya dan terkelupas, pilar-pilar yang berusaha tetap kokoh menanggung beban dan kelelahan yang berkepanjangan, seperti juga tubuh dan jiwaku yang semakin renta. Apa yang bisa diharapkan dari ketersia-siaan selain kepedihan.”

“Biarkan aku merasakan kerapuhan itu, kepedihan itu, agar Aku semakin yakin bahwa aku harus melangkah ke depan.”

Perempuan dengan gurat kriput di wajahnya itu bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela. Wajahnya memantulkan temaram lampu pijar yang remang-remang. Tampak garis bibirnya bergetar, kelopak matanya perlahan menutup dan tarikan napas panjang mengawali kisahnya.

Suamiku adalah hati dan cahaya bagi rumah ini. Jiwanya seperti pualam yang tercetak kokoh oleh alam. Hidupnya hanya tentang pengabdian, tidak lain.  Malam-malam yang kami lalui terlalu tenang bahkan senyap. Bintang tersamarkan oleh mendung tebal yang menggelayut di penjuru pulau ini. Binatang malam seakan lenyap dari muka bumi. Angin enggan berhembus dan dedaunan meringkuk di dahan-dahan yang terpuruk.

“Pak, pergilah! Apa yang kau tunggu? Aku akan baik-baik saja di sini. Rumah ini akan menaungiku.” Untuk kesekian kalinya, pada malam kesekian aku memeluk kaki suamiku dengan cucuran air mata. Tapi, dengan air muka yang tenang dia selalu mengangkatku dan memelukku dengan erat tanpa kata-kata. Hanya dengus nafas dan detak jantungnya yang meronta dapat kurasakan. Aroma ketenangan dalam dirinya semakin membuatku ketakukan. Nyaliku benar-benar ciut oleh bayangan yang menggerogoti pikiranku.

Malam itu, setelah tangisku hanya tersisa isak yang kurasakan sangat berat di dada, dia menuntunku ke dalam kamar pribadi kami. Aku dibimbing untuk duduk di pinggir ranjang kami yang berkelambu putih bersih.

“Tenangkan dirimu.” Katanya pelan dengan suara tenang.

Seperti malam-malam sebelumnya, gonggongan anjing yang terdengar di kejauhan semakin lama semakin riuh dan suara-suara itu semakin mendekat.

“Pak, pergilah malam ini. Kumohon penuhi satu permintaanku ini. Kau tahu aku tidak pernah meminta apapun. Pergilah, jangan siksa aku dalam cengkraman ketakutan ini.”

“Apa yang kau takutkan? Bukankah kita telah berjanji akan menghadapi segalanya bersama? Karena hanya bersamamu aku tidak pernah gentar akan apapun.”

“Tapi mereka, Pak…” Aku menjatuhkan tubuhku di lantai yang terasa sangat dingin. “Aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan mereka lakukan padamu. Aku tidak akan sanggup melihatnya. Tidak.” Aku masih terkapar di lantai, dadaku tersumpal oleh isak yang berat.

Dia berlutut di hadapanku, mencium keningku dan menepuk bahuku kemudian bangkit dan menuju lemari pakaian, mengeluarkan seragam putih dan mengenakannya. Dimintanya aku untuk membatu mengenakan dasi, sementara air mataku kembali mengalir deras, tangisku tertahan hingga membuat tubuhku terguncang hebat. Aku merasakan beban itu semakin berat menghimpitku, membuat tubuhku hendak pecah menahannya.

“Pak, pergilah sekarang. Tidakkah cukup kau saksikan malam-malam yang menyiksaku ini? Kumohon.” Bersamaan dengan akhir kalimatku, terdengar suara pintu depan digedor dengan kasar. Suara teriakan terdengar bersahutan di sekeliling rumah.

Sementara dia mematut dirinya di depan cermin, memasang lencana perak di dadanya, mengenakan topi putih, menatap wajahnya di cermin dan dia masih sempat mengukir seulas senyum di bibirnya. Aku menutup wajahku, tidak sanggup untuk menyaksikan semua itu.

Tiba-tiba terdengar gedoran keras di jendela kamar kami. Aku terhenyak. Isakanku tiba-tiba terhenti dan aku merasakan tubuhku didekap erat. Dapat kurasakan degup jantung suamiku bertambah cepat, pelukannya terasa semakin erat.

“Pak…?” Bisikku pelan di telinganya. “Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Kesalahan apa yang kita lakukan?”

Suara gedoran dan teriakan dari pintu semakin keras. Anjing menyalak tidak henti-henti sambil berlarian di sekitar rumah. Lampu minyak di teras tiba-tiba padam, membuat suasana semakin mencekam.

“Tidak. Kesalahan adalah tentang sebuah penilaian. Perbedaan adalah bagian melekat dalam kehidupan kita, termasuk soal paham. Kita abdi yang hanya berusaha mempersembahkan segala yang kita miliki untuk panggilan tugas. Kita telah berjanji untuk mengabdi sepenuh jiwa dan raga. Jika malam ini nyawa yang harus dipersembahkan, itu hanya semata-mata sebuah kewajiban seorang abdi. Kita sudah melakukan yang terbaik.”

Suara-suara itu semakin gaduh. Suamiku melepaskan pelukannya. Dia memegang bahuku dengan erat dan matanya menatap wajahku yang basah bersimbah air mata.

“Aku berangkat, jaga dirimu baik-baik.”

Kata yang diucapkan dan sunggingan senyuman itu sama seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi saat pamit meninggalkan rumah untuk menunaikan tugas. Tapi malam itu adalah yang terakhir. Begitupun dengan ciuman di keningku. Aku masih bisa melihat bayangannya melangkah tegap menuju pintu depan, kemudian menghilang di balik kegelapan malam. Suara pluit terdengar bersahut-sahutan mengiringi kegaduhan itu menjauhi rumah kami. Anjing masih terus menggonggong dan melolong panjang.

Januari 1966, Aku tertinggal sendiri menjaga hatiku yang remuk redam. Kami seperti rumput liar yang tumbuh di petak sawah kami sendiri dan kemudian dicerabut sebagai gulma, dibuatkan luka yang terus menghembuskan bau busuk.

Kau tau, sejak malam itu tidak pernah ada kabar tentang suamiku. Tidak dari siapapun. Hingga ombak menggerus tumpukan tulang-tulang di pantai itu, yang memberiku isyarat untuk tidak menungu lagi. Apakah ini sebuah kepantasan untuk diceritakan dan akan ada gunanya seperti yang kau katakan?”

“Mungkin tidak bagi siapapun, tapi bagiku.”

Denpasar, 2008-2009

Tags: Cerpen
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Seloyang Pizza

Next Post

Mengajar Ke-Indonesia-an bagi Anak-Anak Orang Asing

Made Birus Suarbawa

Made Birus Suarbawa

Nama lahir saya I Made Suarbawa dan mesin ketik adalah hadiah terindah dalam hidup saya. Bercerita dalam berbagai medium adalah cara berbagi paling menyenangkan. Tulisan, foto dan film adalah media yang sedang saya dalami dan nikmati.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Mengajar Ke-Indonesia-an bagi Anak-Anak Orang Asing

Mengajar Ke-Indonesia-an bagi Anak-Anak Orang Asing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co