2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kawan Tiba (Suatu) Senja

Made Birus Suarbawa by Made Birus Suarbawa
December 9, 2018
in Cerpen
Kawan Tiba (Suatu) Senja

Ilustrasi: potongan lukisan Kabul Suasana

“Begitu inginkah kau mendengar penggalan cerita  itu? Tidakkah keinginan itu terhapus oleh waktu yang telah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kau berkunjung? Saranku, sebaiknya kau ceritakan tentang perjalananmu. Kenapa kau tidak memilih seorang perempuan untuk kau peristri? Lihatlah kulitku ini, sudah terlampau keriput untuk menanti seorang cucu. Aku sudah serupa senja hari yang sebentar lagi menyambut malam dan segera lelap di pembaringan.”

“Ya, September empat tahun yang lalu terakhir aku duduk di sini,  persis di bangku ini. Dan hari ini, seperti juga September-september lain yang tetap mengingatkanku tentang cerita yang ingin kudengar darimu.”

“Hah, sejak pertama kau mengunjungiku, melihat raut wajahmu aku sudah dapat merasakan kau orang yang pantang menyerah. Tapi apa guna cerita itu? Tidak akan ada sesuatupun yang mungkin diubah oleh sepenggal cerita usang.”

“Ada.”

“Tidak.”

“Ada. Mungkin hanya aku, tapi mereka yang dilupakan membutuhkanmu untuk menyuarakan kisah mereka.”

“Tidak, aku meragukannya.”

“Apa kau meragukan aku?”

“Pada kau seorang aku yakin. Tapi bahwa ceritaku akan menjadi penting, aku ragu.”

“Hapus keraguan itu.”

“Untuk apa?”

“Penantianku.”

“Lupakanlah.”

”Itu yang selalu aku tolak. Lupa!”

”Heh, ya tanah ini, goyang rumput ilalang itu tidak akan pernah lupa. Sejarah itu lekat satu sama lain seperti sekeping uang logam dan ceritaku adalah satu sisi gelapnya yang harus dilupakan seperti kisah anak durhaka yang menjadi aib bagi keluarga.”

“Tapi ia akan menjadi lilin bagiku dan aku berharap tidak lagi meraba dalam kegelapan sejarah yang telah tertulis.”

Terdengar tarikan nafas berat dan dalam. Mereka termenung dalam diam, menelusuk khayal hati masing-masing.

“Lihatlah rumah ini, ia adalah bagian kesuraman itu.”

”Sibakkan kesuraman itu sekarang.”

”Kau perhatikan, tiap bagian rumah ini menyimpan penggalan-penggalan dari cerita itu. Pada pintu-pintu kayu itu dapat kau lihat jelas jejak usia tergurat di sana. Dinding kapur yang memudar warnanya dan terkelupas, pilar-pilar yang berusaha tetap kokoh menanggung beban dan kelelahan yang berkepanjangan, seperti juga tubuh dan jiwaku yang semakin renta. Apa yang bisa diharapkan dari ketersia-siaan selain kepedihan.”

“Biarkan aku merasakan kerapuhan itu, kepedihan itu, agar Aku semakin yakin bahwa aku harus melangkah ke depan.”

Perempuan dengan gurat kriput di wajahnya itu bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela. Wajahnya memantulkan temaram lampu pijar yang remang-remang. Tampak garis bibirnya bergetar, kelopak matanya perlahan menutup dan tarikan napas panjang mengawali kisahnya.

Suamiku adalah hati dan cahaya bagi rumah ini. Jiwanya seperti pualam yang tercetak kokoh oleh alam. Hidupnya hanya tentang pengabdian, tidak lain.  Malam-malam yang kami lalui terlalu tenang bahkan senyap. Bintang tersamarkan oleh mendung tebal yang menggelayut di penjuru pulau ini. Binatang malam seakan lenyap dari muka bumi. Angin enggan berhembus dan dedaunan meringkuk di dahan-dahan yang terpuruk.

“Pak, pergilah! Apa yang kau tunggu? Aku akan baik-baik saja di sini. Rumah ini akan menaungiku.” Untuk kesekian kalinya, pada malam kesekian aku memeluk kaki suamiku dengan cucuran air mata. Tapi, dengan air muka yang tenang dia selalu mengangkatku dan memelukku dengan erat tanpa kata-kata. Hanya dengus nafas dan detak jantungnya yang meronta dapat kurasakan. Aroma ketenangan dalam dirinya semakin membuatku ketakukan. Nyaliku benar-benar ciut oleh bayangan yang menggerogoti pikiranku.

Malam itu, setelah tangisku hanya tersisa isak yang kurasakan sangat berat di dada, dia menuntunku ke dalam kamar pribadi kami. Aku dibimbing untuk duduk di pinggir ranjang kami yang berkelambu putih bersih.

“Tenangkan dirimu.” Katanya pelan dengan suara tenang.

Seperti malam-malam sebelumnya, gonggongan anjing yang terdengar di kejauhan semakin lama semakin riuh dan suara-suara itu semakin mendekat.

“Pak, pergilah malam ini. Kumohon penuhi satu permintaanku ini. Kau tahu aku tidak pernah meminta apapun. Pergilah, jangan siksa aku dalam cengkraman ketakutan ini.”

“Apa yang kau takutkan? Bukankah kita telah berjanji akan menghadapi segalanya bersama? Karena hanya bersamamu aku tidak pernah gentar akan apapun.”

“Tapi mereka, Pak…” Aku menjatuhkan tubuhku di lantai yang terasa sangat dingin. “Aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan mereka lakukan padamu. Aku tidak akan sanggup melihatnya. Tidak.” Aku masih terkapar di lantai, dadaku tersumpal oleh isak yang berat.

Dia berlutut di hadapanku, mencium keningku dan menepuk bahuku kemudian bangkit dan menuju lemari pakaian, mengeluarkan seragam putih dan mengenakannya. Dimintanya aku untuk membatu mengenakan dasi, sementara air mataku kembali mengalir deras, tangisku tertahan hingga membuat tubuhku terguncang hebat. Aku merasakan beban itu semakin berat menghimpitku, membuat tubuhku hendak pecah menahannya.

“Pak, pergilah sekarang. Tidakkah cukup kau saksikan malam-malam yang menyiksaku ini? Kumohon.” Bersamaan dengan akhir kalimatku, terdengar suara pintu depan digedor dengan kasar. Suara teriakan terdengar bersahutan di sekeliling rumah.

Sementara dia mematut dirinya di depan cermin, memasang lencana perak di dadanya, mengenakan topi putih, menatap wajahnya di cermin dan dia masih sempat mengukir seulas senyum di bibirnya. Aku menutup wajahku, tidak sanggup untuk menyaksikan semua itu.

Tiba-tiba terdengar gedoran keras di jendela kamar kami. Aku terhenyak. Isakanku tiba-tiba terhenti dan aku merasakan tubuhku didekap erat. Dapat kurasakan degup jantung suamiku bertambah cepat, pelukannya terasa semakin erat.

“Pak…?” Bisikku pelan di telinganya. “Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Kesalahan apa yang kita lakukan?”

Suara gedoran dan teriakan dari pintu semakin keras. Anjing menyalak tidak henti-henti sambil berlarian di sekitar rumah. Lampu minyak di teras tiba-tiba padam, membuat suasana semakin mencekam.

“Tidak. Kesalahan adalah tentang sebuah penilaian. Perbedaan adalah bagian melekat dalam kehidupan kita, termasuk soal paham. Kita abdi yang hanya berusaha mempersembahkan segala yang kita miliki untuk panggilan tugas. Kita telah berjanji untuk mengabdi sepenuh jiwa dan raga. Jika malam ini nyawa yang harus dipersembahkan, itu hanya semata-mata sebuah kewajiban seorang abdi. Kita sudah melakukan yang terbaik.”

Suara-suara itu semakin gaduh. Suamiku melepaskan pelukannya. Dia memegang bahuku dengan erat dan matanya menatap wajahku yang basah bersimbah air mata.

“Aku berangkat, jaga dirimu baik-baik.”

Kata yang diucapkan dan sunggingan senyuman itu sama seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi saat pamit meninggalkan rumah untuk menunaikan tugas. Tapi malam itu adalah yang terakhir. Begitupun dengan ciuman di keningku. Aku masih bisa melihat bayangannya melangkah tegap menuju pintu depan, kemudian menghilang di balik kegelapan malam. Suara pluit terdengar bersahut-sahutan mengiringi kegaduhan itu menjauhi rumah kami. Anjing masih terus menggonggong dan melolong panjang.

Januari 1966, Aku tertinggal sendiri menjaga hatiku yang remuk redam. Kami seperti rumput liar yang tumbuh di petak sawah kami sendiri dan kemudian dicerabut sebagai gulma, dibuatkan luka yang terus menghembuskan bau busuk.

Kau tau, sejak malam itu tidak pernah ada kabar tentang suamiku. Tidak dari siapapun. Hingga ombak menggerus tumpukan tulang-tulang di pantai itu, yang memberiku isyarat untuk tidak menungu lagi. Apakah ini sebuah kepantasan untuk diceritakan dan akan ada gunanya seperti yang kau katakan?”

“Mungkin tidak bagi siapapun, tapi bagiku.”

Denpasar, 2008-2009

Tags: Cerpen
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Seloyang Pizza

Next Post

Mengajar Ke-Indonesia-an bagi Anak-Anak Orang Asing

Made Birus Suarbawa

Made Birus Suarbawa

Nama lahir saya I Made Suarbawa dan mesin ketik adalah hadiah terindah dalam hidup saya. Bercerita dalam berbagai medium adalah cara berbagi paling menyenangkan. Tulisan, foto dan film adalah media yang sedang saya dalami dan nikmati.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Mengajar Ke-Indonesia-an bagi Anak-Anak Orang Asing

Mengajar Ke-Indonesia-an bagi Anak-Anak Orang Asing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co