23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Nasionalisme Indonesia dari “Kiri”

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
September 18, 2018
in Opini
Membaca Nasionalisme Indonesia dari “Kiri”

Ilustrasi diolah dari Google

SABTU hingga Minggu, 1-2 September 2018, kami, Keluarga Besar Jurusan Pendidikan Sejarah, Undiksha Singaraja, mengadakan Ramah Tamah Jurusan atau biasa disebut “Clio Anjangsana” yang berlokasi di Monumen Puputan Jagaraga, Desa Jagaraga Kecamatan Kubutambahan, Buleleng-Bali.

Dipilihnya tempat ini sebagai lokasi ratam tentu dilatarbelakangi spirit bahwa tanah tempat kami berpijak itu adalah saksi bisu perang yang dalam buku sejarah lokal disebut “perang heroik” melawan penetrasi Belanda. Di Bali sendiri secara keseluruhan hanya terdapat tiga perang puputan, Puputan Jagaraga salah satunya, sisanya Puputan Badung 1906 dan Puputan Klungkung 1908. Pasca Puputan Klungkung, secara de facto dan de jure Belanda telah berhasil menguasai Bali secara keseluruhan.

Kegiatan awal mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Sejarah di tahun 2018 yang berjumlah 26-3 (3 orang mengundurkan diri) orang ini adalah “lintas alam” dengan menyusuri petak-petak sawah dan kebun milik penduduk dan dibagi menjadi empat pos. Di setiap pos, para panitia telah siap dengan masing-masing tantangan. Tujuan kegiatan ini tidak lain adalah melatih kerjasama, dan lebih dari itu adalah usaha membaurkan atau sederhananya mengakrabkan senior dengan junior, adik tingkat dengan kakak tingkat.

Kira-kira pukul 20.00 WITA, saya telah tiba di  lokasi ratam. Kegiatan sarasehan setelah lintas alam pada siang harinya terpaksa tidak saya ikuti sampai tuntas karena harus mengajar. Saat itu, acara spontanitas kesenian telah usai dan tengah berlangsung kegiatan “nonton bareng” film dokumenter Puputan Jagaraga. Momen malam minggu menambah animo  peduduk untuk meramaikan nobar yang digelar sebagai hasil kerjasama Jurusan kami dengan Badan Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali. Adanya aktivitas dagang kaki lima menyebabkan lokasi ratam yang ramai lalu lalang penduduk menjadi lebih mirip “pasar malam” ketimbang nobar.

Pukul 21.00 WITA, kegiatan nobar usai. Satu persatu penduduk mulai meninggalkan lokasi ratam meski beberapa muda-mudi masih terlihat bergerombol. Saat itu saya sedang duduk santai di pendopoan, ditemani sebuah gitar, kopi pahit tanpa gula dan ubi rebus. Sesekali saya melempar guyonan kepada mahasiswa di sebelah yang ikut ngumpul. Beberapa yang lain, terutama mahasiswa “veteran” (semester lawas) datang menghampiri sekedar salim dan basa basi menanyakan kabar.

Awalnya situasi masih wajar, lalu berubah riuh setelah secara tiba-tiba salah seorang mahasiswa memutar lagu “genjer-genjer”. Kontan saja hal tersebut menimbulkan kegaduhan. Namun justru dari kegaduhan itulah diskusi singkat saya dengan beberapa mahasiswa di lokasi ratam berlangsung hingga pagi dan mengilhami tulisan ini.

Di masa Orde Baru, lagu genjer-genjer diasosiasikan dengan Partai Komunis Indonesia dan menjadi musuh bersama yang harus dilenyapkan atas sebuah jargon politik yang mereka bangun sendiri, yakni “bahaya laten komunis”. Saya mewanti mahasiswa bersangkutan agar berhati-hati memutar lagu itu di ruang publik. Sebab, meski hari ini kita telah berada di jaman reformasi, tetapi manusia yang hadir sekarang masih tetap mewarisi mentalitas Orde Baru, termasuk pengkultusan bahaya laten komunisme. Akibatnya akan mudah timbul gesekan-gesekan di dalam masyarakat. Pun demikian dengan ajaran-ajaran “kiri” yang telah dilucuti itu perlahan kehilangan panggungnya dalam memori kolektif bangsa.

Dunia pendidikan Indonesia kontemporer sepertinya masih tetap mentabukan Marxisme (moyangnya komunis) untuk diajarkan di ruang-ruang kelas. Khususnya di dunia kampus yang regime of truth-nya adalah pendidikan, ajaran-ajaran Marx diharamkan. Jangankan mengajar Marx, sastrawan Lekra yang karyanya melegenda seperti Pramoedya Ananta Toer saja jarang disebut. Alih-alih mempopulerkan Tetralogi Pulau Buru yang tersohor itu, mahasiswa saya lebih fasih dengan pemikiran Tere Liye dan Raditya Dika ketimbang Pramoedya.

Kemenduaan sikap dunia pendidikan kita ketika dihadapakan pada marxisme via literatur kiri mendapat sindiran keras dari Max Lane, seorang Indonesianis yang menaruh minat akademis khusus mempelajari Indonesia.

Dalam sebuah acara peluncuran bukunya, “Indonesia Tidak Hadir di Bumi Indonesia” (suara.com tertanggal 2 Juli 2018), bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Ia menyatakan bahwa banyak sarjana maupun kaum muda Indonesia yang fasih berbicara sejarah pemikiran Yunani Kuno hingga Eropa modern.

Namun, ketika membicarakan sejarah bangsanya sendiri, mereka “gagap” atau cuma mengikuti teks-teks historis maupun sastra arus utama sehingga gagal mengenali negerinya sendiri. Max menyebut pemerintah “takut” jika generasi muda mengenal Pram maupun karya-karya sastrawan besar Indonesia lainnya, rakyat akan sadar mengenai perlawanan dan sejarah bangsa yang sebenarnya.

Minimnya pengetahuan mahasiswa tentang sastra “kiri” seperti Pram yang tulisannya  berguna membaca nasionalisme Indonesia sejalan dengan ketidaktahuan mereka terhadap  Indonesianis “kiri” yang tulisan-tulisannya sempat dibredel di era Orde Baru. Benedict Anderson misalnya, merampungkan “imagined communities” di tahun 1983 dan dicetak ulang di tahun 1991.

Ketakutan Orba terhadap bertumbuhnya sikap kritis melalui bacaan “kiri” membuat buku itu dilarang beredar meskipun setting nya Vietnam. Penulisnya pun sempat mendapat pencekalan. Seperti halnya Marx yang menulis Das Capital dengan setting Inggris Raya tetapi sebenarnya ditujukan utuk menyentil bangsanya, Jerman, begitu pula yang dilakukan Ben, setting Vietnam hanya metafora sosial untuk menyentil nasionalisme Indonesia yang dianggap “sakral” dan “suci” itu, namun memiliki kerapuhan-kerapuhan di dalamnya.

Ben menawarkan suatu gagasan pokok untuk menjelaskan fenomena nasionalisme. Mengapa orang yang belum pernah bertemu bisa merasakan nasib yang sama, bersaudara. Dalam kasus Indonesia, pemikiran Ben bisa dipakai untuk menelusuri bertumbuhya nasionalisme Aceh, nasionalisme Jawa, nasionalisme Borneo, dan nasionalisme Celebes menjadi “nasionalisme Indonesia”. Padahal mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.

Pada tahap ini Ben menyatakan bahwa karena rasa persaudaraan Indonesia itu tidak bisa dialami secara langsung maka harus dibayangkan terlebih dahulu. Ben menyebut kapitalisme cetak seperti koran, majalah dan buku sastra yang baru mucul pada akhir abad XIX sebagai pihak yang paling bertanggung jawab mendorong sesuatu yang dibayangkan itu menyeberangi batas etnik, agama dan ras. Meski kemudian Ben juga menawarkan alternatif lain seperti kehadiran transportasi massal, namun perhatian terbesarnya adalah media cetak.

Dengan mengarahkan perhatian ke media cetak sebagai arus utama pembentuk nasionalisme Indonesia, Ben menyindir anakronisme Yamin dalam bukunya “6000 Tahun Sang Merah Putih” (terbit 1958), bahwa identitas nasional Indonesia bukan sesuatu yang alamiah melainkan konsep baru yang dapat dibayangkan melalui kehadiran teknologi cetak sebagai pengedar gagasan bangsa sekaligus bukti untuk memungkinkannya.

Aktualisasi teknis pemikiran Ben lebih lanjut dikembangkan oleh Rudolf Mrazek dalam bukunya “The Engineers of Happy Land. Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni”. Tulisan Mrazek ini ingin menunjukkan adanya penanda modernisasi dalam masyarakat Hindia Belanda. Kata-kata teknologi yang digunakan lebih mengacu pada sekumpulan budaya identitas dan bangsa.orang-orang di Hindia Belanda merasa “gagap” tekonologi baru. Ketika menjumpai teknologi yang tidak biasanya, mereka bergerak, berbicara dan menulis dengan cara memasuki prilaku dan bahasa mereka. (T)

Tags: IndonesiaKiriKomunisnasionalismesejarah
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Percaya 100% Koleksi Lontar Pusat Dokumentasi Bali – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Ilustrasi Antologi Cerpen Made Adnyana Ole: Menangkap Narasi Cerita dan Narasi Estetis

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Ilustrasi Antologi Cerpen Made Adnyana Ole: Menangkap Narasi Cerita dan Narasi Estetis

Ilustrasi Antologi Cerpen Made Adnyana Ole: Menangkap Narasi Cerita dan Narasi Estetis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co