3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Beda Ngaben di Cempaga: Hanya Dipuput Balian Desa, Tanpa Bade, Tanpa Bakar

tatkala by tatkala
February 22, 2018
in Khas
Ini Beda Ngaben di Cempaga: Hanya Dipuput Balian Desa, Tanpa Bade, Tanpa Bakar

Banten bangun urip dalam upacara ngaben di Desa Cempaga

JANGAN bayangkan ngaben yang megah tapi rumit di Desa Cempaga. Bayangkanlah satu rangkaian upacara ngaben dengan jumlah warga tetap melimpah, tapi aura yang muncul adalah kesederhanaan.

Desa Cempaga adalah salah satu desa tua dan masuk dalam deretan desa bali aga di wilayah perbukitan di Kecamatan Banjar, Buleleng. Bulan ini warga desa menggelar upacara ngaben massal, yakni ngaben yang dilakukan secara bersama-sama. Puncak upacaranya Rabu, 21 Februari 2018, diikuti oleh 35 sawa yang berasal dari 15 sanggah dadia (keluarga besar).

Sekali lagi, jangan bayangkan ngaben di Desa Cempaga itu satu rangkaian upacara yang rumit, penuh jadwal, dan menghabiskan banyak energi fisik. Tentu saja, karena prosesi dan perlengkapan upacaranya tidak sama dengan ngaben yang biasa dilakukan di desa-desa lain di Bali. Apanya yang berbeda?

Tanpa Bade

Ngaben di Desa Cempaga tidak menggunakan bade atau bangunan menara tempat sawa (mayat atau simbol mayat) yang menjulang tinggi yang biasa diarak ke setra (tempat pembakaran mayat). Warga di Cempaga hanya menggunakan banten khusus yang disebut banten bangun urip.

Desa Cempaga, Kecamatan Banjar satu dari empat desa yang masuk sebagai Desa Bali Aga di Buleleng. Sebagai Desa Bali Aga, desa di ketinggian ini tetap menjalankan tradisi yang diwariskan para leluhur mereka. Salah satu tradisi itu adalah rangkaian upacara ngaben.  Ngaben di Desa Cempaga bisa dibilang unik karena prosesi dan perlengkapan upacara tidak sama dengan ngaben pada umumnya.

Warga Desa Cempaga telah mempercayai kalau ritual ngaben dilakukan tanpa menggunakan bade yang dibakar di areal kuburan (setra-red). Melainkan, ngaben di desa ini hanya menggunakan sarana banten bangun urip.

Banten ini unik. Warga biasanya mempersiapkan (nanding) banten bangun urip hingga tengah malam sebelum puncak upacara. Banten itu dibuat sebagai simbol sawa yang dikubur di setra.

Bangun urip ini dibuat dengan bahan nasi putih, olahan daging babi bali (babi hitam) dan perlengkapan lain. Nasi berada pada susunan paling bawah sebagai perwujudan liang kubur. Kemudian di atasnya ditaruh berbagai olahan babi lain, seperti sate dan perlengkapan lain, yang disusun sedemikian rupa.

Setelah jadi, bangun urip ini terlihat seperti liang kubur. Banten itu kemudian dijejerkan di atas bale yang sudah dibangun jauh-jauh hari. Pada setiap bangun urip diletakkan foto keluarga yang sudah meninggal, yang akan di-aben. Di depan masing-masing bangun urip ini ditunggui oleh masing-masing sanak keluarga yang diupacarai, termasuk para pelayat dari keluarga di luar desa.

Made Juwika, warga Desa Cempaga yang menjadi ketua panitia upacara, mengatakan tradisi ngaben dengan sarana bangun urip ini warisan leluhurnya yang belum terpengaruh oleh perkembangan dan upacara ngaben di daerah lain di Bali.

Kata dia, bangun urip itu simbol sawa yang dikubur di setra.  “Setelah ritual mungkah, kemudian roh yang akan diupacarai itu di-linggih-kan lewat simbol bangun urip itu sendiri,” katanya..

Tidak Dipusatkan di Setra

Puncak upacara ngaben di Desa Cempaga tidak dilakukan di areal setra. Prosesi upacara dipusatkan di balai desa. Pada saat upacara pengutangan pun warga tak menuju ke setra. Pada saat upacara pengutangan itu, warga hanya membuang  sarana upakara itu di telutug (ujung wilayah desa). Jadi, selain tak diadakan di setra, upacara ngaben itu juga diisi dengan pembakaran sawa.

“Keunikan ngaben di desa kami dari banten yang digunakan bangun urip dan semua pelaksanaanya di balai desa ini dan tidak ada ke setra apalagi pembakaran juga tidak ada. Setelah puncak pangebanen ini semua sarana bangun urip dan sarana lain dibuang ke telutug,” kata Made Juwika.

Hanya Di-puput Balian Desa

Jika di banyak desa lain di Bali ngaben di-puput oleh sulinggih seperti Pedanda, Mpu, atau Rsi, maka di Desa Cempaga semua proses upacara ngaben hanya diselesaikan oleh balian desa (semacam pemangku desa).

Meskipun berbeda, warga di Desa Cempaga meyakini bahwa proses pengabenan itu bertujuan sama dengan ngaben di tempat lain. Yakni mendoakan agar roh dari keluarga yang sudah meninggal mendapatkan tempat yang baik dan menyatu dengan Tuhan, dan senantiasa memberikan kerahayuan kepada keluarga atau kerabat yang ditinggalkan.

“Semua dipimpin oleh pemangku desa dan prosesi ini tujuannya hanya satu mendoakan dan mengembalikan roh ke asalnya dan sekaligus memohon kerahayuan bagi anak, cucu, dan kerabat yang ditinggalkan,” kata Made Juwika.

“Menek Pangkonan”

Sebelum puncak upacara ngaben, ada tradisi unik yang memberi kesan ngaben di Cempaga memang luar biasa. Yakni tradisi Menek Pangkonan.

Tradisi Menek Pangkonan dalam upacara ngaben di Desa Cempaga

Menek Pangkonan  adalah sejenis jamuan dengan makan bersama yang dilakukan warga dan undangan penting. Jamuan ini punya makna penting sebagai  penyaksi dari upacara yang digelar di desa itu.

Semua sarana, seperti nasi, olahan daging babi dan lawar, ditempatkan di atas empat bale angsagan yang dijejer. Pada angsagan pangkonan paling tinggi untuk pemangku, prajuru desa, dan undangan pejabat pemerintahan. Angsagan kedua yang lebih rendah (pengesor) untuk pejabat yang lebih rendah, angsagan ketiga dan empatuntuk warga biasa.

“Semua ini ada maknanya. Selain memupuk persaudaranan dan persatuan, ini penyaksi dan jamuan atas undangan yang turut mendoakan pelaksanaan pengabenan di desa kami agar lancar,” kata Perbekel Desa Cempaga I Putu Suarja. (T)

Tags: balibali agahindungaben
Share37TweetSendShareSend
Previous Post

Rasa Indonesia di Bakmi Nyemek Denpasar

Next Post

Para Pemikir Pariwisata Tingkat Dunia Berkongres di Universitas Gadjah Mada

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Para Pemikir Pariwisata Tingkat Dunia Berkongres di Universitas Gadjah Mada

Para Pemikir Pariwisata Tingkat Dunia Berkongres di Universitas Gadjah Mada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co