26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sang Naga dari Tajun

Pande Putu Sriasih by Pande Putu Sriasih
February 2, 2018
in Khas
Sang Naga dari Tajun

Made Arnaja/ Foto koleksi penulis

BAYANGKAN seekor naga, dalam mitologi Hindu atau dalam mitologi China, maka tampak ia gesit meliuk-liuk dalam segala cuaca, sekali waktu terbang di angkasa, membumbung tinggi, sekali waktu lain ia mendekam dalam goa. Dan api dari rongga mulut sesekali menyembur, sekadar menghangatkan badan atau mempertahankan diri dari musuh yang menyerangnya.

Kini bayangkan sebutir buah naga. Kulitnya bersisik, tapi daging buahnya halus dan lembut. Potonglah jadi dua. Ambil sendok, keruk daging buah dengan perasaan bahagia, lalu benamkan ke rongga mulut. Tak usah digigit, biarkan daging buah mencair hanya dengan sedikit tekanan lidah ke langit-langit mulut.

Biar daging naga itulah menggigit lidah, lalu biarkan luruh ke kerongkongan, dan rasakan betapa sejuk udara di nadi darahmu, seakan kemarau tak pernah ada.

Saya membayangkan seekor naga itu adalah Made Arnaja. Ia lelaki kelahiran Desa Tajun, Buleleng, 28 Oktober 1950. Dari “goa” tempatnya lahir, dulu, ia meliukkan tubuhnya, mengepakkan sayap, terbang ke Surabaya. Di kota itu ia menyemburkan ”api kesaktian” dari mulutnya dengan menjadi notaries.

Ia sukses. Lalu pulang, terbang kembali ke “goa” di Desa Tajun. Seakan bertapa, ia merawat masa tuanya dengan baik. Ia menjadi petani buah. Masa-masa bertempur di “medan perang” ia lupakan. Kini ia bertempur dengan dirinya sendiri. Bertempur dengan sabar di medan kebun buah naga.

Saya mengenal Made Arnaja beberapa bulan lalu. Waktu itu Minggu. Saya diajak suami yang wartawan untuk ikut liputan buah organik ke Desa Tajun. Saya ikut berkenalan dengan pemilik lahan buah organik yang diwawancara suami. Dia, Made Arnaja, dan saya terkesan.

Di masa ketika banyak pensiunan jalan-jalan ke luar negeri menikmati masa tuanya, Arnaja justru terbenam di antara rimbun kebun buah-buahan di kampungnya. Kebun dia memang luas berisi pohon buah beraneka ragam.

Sambil berjalan melihat kebun, Made Arnaja selalu dengan semangat menceritakan dari awal ia merintis lahan, lalu mencoba menanaminya dengan berbagai tanaman buah. Hasilnya, tumbuh dan berbuahlah biji-biji buah dengan kualitas yang bagus.

Saya berkali hanya berdecak kagum menyaksikan pohon buah yang tumbuh subur dan berbuah lebat.

“Kebun ini saya beri nama Rama Shinta Farm,” katanya.

“Kenapa Rama Shinta?”

“Karena Rama Shinta adalah tokoh pewayangan yang tidak hanya terkenal di Bali, tapi juga di negara-negara lain. Jadi kebun ini juga bisa dikenal bukan hanya di Bali, namun juga di negara lain. Selain itu juga gampang untuk diingat,” sahutnya.

Saya hanya mengangguk. Napas mulai ngos-ngosan. Yah. Kita ngobrol sambil mengelilingi lahan dua hektar. Lumayan capek.  Tapi semua tak terasa saat melihat buah naga yang lebat dan beraneka ragam.  Ada buah naga merah,  putih,  kuning,  orange dan hitam. Takjub bukan?

Arnaja awalnya tak memikirkan untung saat mengembangkan buah naga di kampungnya. Dengan semangat mencoba, ia ingin membuktikan bahwa buah naga yang biasa tumbuh di gurun itu bisa juga tumbuh di dataran agak tinggi. Juga ada keinginannya untuk menjadi Buleleng secara lebih luas sebagai pusat buah-buahan.

“Ketika saya menanam, bukan berapa untung yang akan saya dapatkan melainkan berhasil atau tidakkah buah ini dikembangkan,” katanya.

Yang menarik, Arnaja mencoba mengembangkan buah naga kuning biasa, buah naga hitam dan buah naga kuning jenis Palora Equador serta jenis buah naga merah dan putih. Dan saat ini ia lebih fokus mengembangkan buah naga kuning jenis Palora Equador di daerah dengan ketinggian 1.100 mdpl dan luas 4 hektare yang berada di Batukaang, Kintamani, Bangli.

“Jenis Palora masih berbunga tetapi jenis buah naga kuning biasa yang bentuknya lebih kecil sudah sempat panen sekali,” katanya.

Buah naga Palora Equador itu memang langka. Jika Arnaja berhasil, mungkin itu akan menjadi contoh yang bagus bagi pengembangan buah itu di Bali, atau khususnya di Buleleng. “Kalau kita bisa kembangkan di Buleleng kenapa kita mesti jauh-jauh impor dari luar negeri,” ucapnya.

Selain buah naga, di kebun milik Arnaja juga terdapat berbagai jenis tanaman buah lainnya yang dirawat dengan baik dan tumbuh dengan baik. Dan tentu saja berbuah dengan baik pula. Salah satunya durian.

Durian juga bukan cuma durian montong yang sudah biasa kita dengar,  tapi ada durian yang isinya merah.  Kemudian ada juga durian tak berduri alias durian gundul.

Yang paling membuat saya menganga, ada durian asal Malaysia yang harga per kilo mencapai Rp. 350.000. Namanya durian Musang King.  Bayangkan jika sebuah durian beratnya mencapai dua kilogram dan satu pohon berbuah hingga sepuluh sampai dua puluh buah. Duitnya berapa?

Khayalanku pecah saat Arnaja punya keingin mengadakan pesta makan durian di kebunnya.  Dengan semangat aku langsung menyambar “Ayo, Pak, kita siap bantu garap!”

Rama Shinta pun tidak dikembangkan dalam satu tempat.  Ada Rama Shinta 2 dan 3, sampai Rama Shinta 4. Rama Shinta 2 dan 3 terletak di Desa Depeha. Dan Rama Shinta 4 terletak di Desa Batukaang Kabupaten Bangli.  Lahannya mencapai luas 7 hektar.  Bisa dipakai areal perkemahan, disamping ditanami buah naga,  jeruk,  dan kopi.

Yang paling membuat saya kagum,  Arnaja membuat pupuk organik sendiri. Ia  memelihara kambing dan sapi kemudian mengolah kotoran ternak tersebut menjadi pupuk dan menyemai bibit sendiri.

Buah naga kuning dan orange yang susah didapat bibitnya, ia coba semai dari biji dari buah yang dibeli istrinya di supermaket.  Sungguh perjuangan yang benar-benar diacungi jempol untuk seorang pensiunan yang harusnya sudah menikmati masa tua hanya dengan bersenang-senang.

Musim durian tiba, saat yang tidak pernah saya sangka ketika tiba-tiba Arnaja chat dan bilang,  “Tu nanti siang ke rumah Tajun ya,  kebetulan anak-anak saya kumpul dan jangan lupa buat orat-oret untuk rencana Pesta Makan Duren seperti yang pernah saya bilang!”

Waaah, pucuk dicinta ulam pun tiba.  Tanpa pikir panjang saya bangunkan suami dan langsung menyampaikan kabar baik itu.  Langsung saya orat-oret dan cur ke Tajun. Diskusi pun lumayan panjang dan alot sampai akhirnya kita sepakat membuat acara pesta ini sebagai Festival dengan nama “Festival Makan Duren.”

Semoga akan terselenggara dengan baik dan lancar dan jangan lupa buat yang baca tulisan ini ayo daftar biar nggak penasaran. (T)

Tags: buahbulelengpertanian
Share206TweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Jadi Petani di Bali, Berat…

Next Post

In Memoriam Agus Sadikin Bakti: Santailah ke Nirwana, Ingat “Menang Kalah Sehat”

Pande Putu Sriasih

Pande Putu Sriasih

Ibu Rumah Tangga, tinggal di Singaraja, Bali

Related Posts

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails
Next Post
In Memoriam Agus Sadikin Bakti: Santailah ke Nirwana, Ingat “Menang Kalah Sehat”

In Memoriam Agus Sadikin Bakti: Santailah ke Nirwana, Ingat “Menang Kalah Sehat”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co