23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam Agus Sadikin Bakti: Santailah ke Nirwana, Ingat “Menang Kalah Sehat”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature
In Memoriam Agus Sadikin Bakti: Santailah ke Nirwana, Ingat “Menang Kalah Sehat”

Istimewa

SAYA tak ingat turnamen jenis apa itu. Yang jelas ada pertandingan sepakbola. Tempatnya di  Stadion Mayor Metra, sekira tahun 2002/2003. Mungkin karena dana minim, di lapangan tak tampak ada persiapan megah, padahal pertandingan sudah akan dimulai.

Bahkan meja duduk untuk instruktur pertandingan pun belum ada. Konon tak ada yang sewa meja karena duit belum ada. Seseorang bergerak, entah dengan cara apa. Tiba-tiba sekitar setengah jam kemudian datang mobil pick-up membawa meja dan sejumlah perlengkapan lain.

Sopir pick-up itu saya kenal dan ingat wajahnya hingga kini. Tapi saya lupa namanya. Yang benar-benar saya ingat, di pintu belakang pick-up tertulis tiga huruf besar: MKS.

Saya ingat tiga huruf itu karena pada saat itu seseorang nyeletuk gembira. “Yen sube mobil MKS datang, mekejang beres,” Artinya, kalau sudah mobil MKS datang semuanya beres.

Sebagai orang yang baru sekitar setahun-dua tahun di Buleleng, saya heran kenapa MKS begitu sakti. Apalagi kemudian dalam beberapa perhelatan event olahraga, baik cabang sepakbola, bulutangkis maupun  cabang lain, nama MKS selalu disebut-sebut.

Apa itu MKS. Saya tahu kemudian bahwa MKS adalah singkatan dari Menang Kalah Sehat. Itu semacam persatuan olahraga (POR) yang dibentuk Agus Sadikin Bakti, atau dikenal dengan nama Asbak. POR MKS dibentuk sekitar tahun 1975-an mengusung olahraga santai dengan prinsip kegembiraan, tanpa punya ambisi besar untuk jadi besar (apalagi dengan segala cara).

Agus Sadikin Bakti sangat mencintai MKS sebagaimana ia mencintai kegembiraan. Bahkan nama anaknya yang lahir di kisaran tahun itu diberi nama sesuai dengan inisial MKS, yakni Mila Krisna Silayati. POR MKS mewadahi berbagai cabang olahraga, antara lain sepakbola dan bulutangkis. Pada masa tahun 1980-an, semua klub yang berada di bawah naungan MKS selalu berjaya, hingga nama MKS sangat terkenal di Buleleng dan selalu melekat dengan sosok Agus Sadikin.

Selain mencintai MKS, tentu saja Agus Sadikin Bakti mencintai olahraga dan atlet-atlet yang berkembang di Buleleng. Ia pernah jadi pengurus KONI dan cukup lama terbenam dalam urusan-urusan PBSI Buleleng. Untuk dua cabang ini ia banyak berkorban, bukan hanya tenaga namun juga materi. Namun ia tak pernah bermasalah dengan pengorbanannya itu. Prinsipnya tetap MKS, menang kalah, termasuk dalam urusan materi, tak apa-apa, yang penting sehat.

Pribadi yang Unik

Kini Agus Sadikin Bakti meninggakan dunia olahraga yang dicintainya untuk selamanya. Ia meninggal dalam usia 77 tahun,  Jumat 2 Februari, ukul 05.05 wita, setelah sempat dirawat di RSUD Buleleng akibat Parkinson yang dideritanya sejak lama. Agus Sadikin Bakti meninggalkan seorang istri, Ni Luh Dwiasmi, dengan 6 anak dan 15 cucu.

Saya pernah mewancarai Agus Sadikin Bakti cukup intens tentang kiprahnya di dunia olahraga di Buleleng. Dari wawancara itu saya tahu Agus Sadikin Bakti adalah pribadi yang unik. Ia lahir di keluarga pengusaha, namun amat cinta pada olahraga dan juga seni. Bahkan kadang ia rela meninggalkan usahanya untuk mengurus olahraga, hingga omset usahanya berkali-kali sempat turun.

Dari sejumlah teman Agus Sadikin Bakti diketahui keluarga Agus Sadikin dulu punya toko besar bernama Toko Bakti di Jalan Diponogoro. Itu toko besar yang menjual segala jenis barang. Agus Sadikin Bakti kemudian juga mendirikan Toko Bahtera di Jalan Dewi Sartika Singaraja yang menjual alat-alat perlengkapan olahraga.

Terkadang, dalam sebuah kegiatan olahraga yang minim dana, alat dan perlengkapan olahraga untuk memperlancar kegiatan itu biasanya diambil terlebih dahulu di Toko Bahtera. Kadang dibayar kemudian, kadang tak dibayar hingga dilupakan sama sekali.

Istri Pertama

Untuk urusan pembinaan atlet, Agus Sadikin juga mengerahkan jiwa-raganya agar atlet-atlet Buleleng selalu berjaya. Terutama di bidang bulutangkis.  Baginya, bulutangkis adalah istri pertamanya.

“Ibu saya sering bilang, kalau bulutangkis itu adalah istri pertama bapak. Karena hampir tiap hari itu selalu bulutangkis, entah latihan, pertandingan dan lainya,” kata Chandra Berata, putra kedua Agus Sadikin.

Agus Sadikin sejak umur sekitar 15 tahun memang sudah mengenal buliutangkis dengan prestasi cukup gemilang, bahkan masuk dalam jajaran atlit bulutangkis yang cukup disegani lawan-lawannya.

Putra Dana (seorang pengurus inti PBSI Buleleng), mengakui Agus Sadikin Bakti dikenal sebagai tokoh panutan bagi insan pebulutangkis Bali umumnya dan Buleleng khususnya. Agus dinilai berani berkorban untuk kemajuan atlet-atlet bulutangkis. “Kalau materi jangan ditanya. Waktunya selalu ia luangkan untuk bulutangkis,” kata Putra Dana.

Pada suatu ketika, kata Putra Dana, tim bulutangkis Buleleng bertanding ke Denpasar. Agus Sadikin ikut sampai menutup tokonya selama dua hari. Agus Sadikin adalah panutan dan contoh yang mungkin sekarang kita tidak akan temui.

Kata-kata yang tidak pernah dilupakan oleh Putra Dana dari Agus Sadikin adalah “Yen sing ngelah modal de ngai model,” Artinya, jika tak punya modal, jangan bikin aneh-aneh.

Untuk urusan membuat kata-kata penuh makna dan motivasi, Agus Sadikin tak bisa dianggap remeh. Jika pernah masuk ke Gedung Bulutangkis di kawasan GOR Bhuwana Patra, di sejumlah dinding terdapat kata-kata movitasi bagi para atlet yang bertanding di gedung itu. Kata-katanya tak melulu serius, bahkan kerap mengandung kelucuan.

Dengan pribadi semacam itu, tak salah Joger sempat memberikan Agus Sadikin Bakti sertifikat yang diumumkan dalam kolom di media massa. Di situ ditulis pekerjaan Agus Sadikin: Pengusaha di waktu luang. Hobby: Main, Membina, dan melatih Bulutangkis.

Penghargaan yang lebih serius diperoleh dari PWI Bali. Ia dianugerahi penghargaan sebagai pengerak terbaik olahraga di Bali, pada tahun 1981. Kemudian Pemkab Buleleng juga memberikan penghargaan Satya Krida Nugraha, pada tahun 2008.

Akhirnya, selamat jalan Agus Sadikin Bakti. Santai saja. Tetap berolahraga di nirwana, dan ingat MKS, Menang Kalah Sehat. (T)

 

Tags: bulelengin memoriamolahragatokoh
Share162TweetSendShareSend
Previous Post

Sang Naga dari Tajun

Next Post

“Catatan Pulang” Penyair Angga Wijaya, Catatan Seorang Pengagum

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails
Next Post
“Catatan Pulang” Penyair Angga Wijaya, Catatan Seorang Pengagum

"Catatan Pulang" Penyair Angga Wijaya, Catatan Seorang Pengagum

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co