5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pepengkah dan Pekak Pengkuh

Yogi Periawan by Yogi Periawan
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Komang Astiari (cropping)

Cerpen: Yogi Periawan

LELAKI itu masih saja mengaduk bubur terasi. Menjelang matahari tenggelam, bau tak sedap selalu menusuk hidung. Entah apa yang dilakukan Pekak Pengkuh. Untuk apa ia melakukan itu?

Baunya sangat mengganggu. Sudah gila rupanya kakek itu sampai menyiapkan makanan yang tak layak untuk dimakan. Tak heran, banyak warga yang ingin memuntahkan segala makanan yang ada di perut saat mencum aroma busuk itu.

“Kalau masak terasi, jangan terlalu banyak Ngah. Kasihan orang-orang lewat di depan rumah ingin muntah kalau sampai mencium bau itu,” tegas Dadong Lanting, istri Pekak Pengkuh.

“Biarkan saja. Aku tak perduli! Mereka tidak akan pernah paham mengapa aku sampai dianggap sinting memasak bubur terasi ini,” sahut Pekak Pengkuh.

“Ngah, tidak semua orang tahu bahkan paham tentang kehadiran Pepengkah ini. Aku hanya menyarankan, Ngah, tidak ada maksudku untuk melarangmu menyiapkan makanan bau ini!”

“Aku sangat mengerti, tapi apakah mereka mengerti seberapa besar rasa sayangku pada Pepengkah? Mereka tidak akan pernah tahu. Hanya gila, sinting, dan hal buruk lain yang ada di benak pikiran orang-orang tentangku!”

Dadong Lanting pergi tanpa berkata lagi.

Langit sore mulai memudar. Dua payuk besar berisi bubur terasi itu mendidih dan dianggap siap untuk dimakan Pepengkah. Pekak Pengkuh mulai berdialog sendiri dan tertawa seperti mendengarkan lelucon yang menyakitkan perut. Betapa bahagianya Pekak Pengkuh sampai tertawa seperti itu.

Setiap sore menjelang malam, selalu saja Pekak Pengkuh menyiapkan makanan itu. Selelah apapun, bahkan sampai sakitpun Pekak selalu bersedia menjadi pelayan Pepengkah.

Memang Pekak jarang sakit.  Dipercaya banyak orang bahwa Pekak adalah lelaki tua sakti yang tak pernah merasakan sakit. Pernah tak sengaja ketika mengupas kelapa dan tangan Pekak terkena golok. Sedikitpun tak ada tanda luka, hanya goresan putih seperti kulit yang tak pernah dibedaki. Pekak Pengkuh tak bisa berdarah seperti manusia normal. Sudah banyak orang yang percaya bahwa Pekak Pengkuh memang dianugerahi kekebalan oleh Pepengkah.

“Luh.. aku akan pergi ke sawah. Siapkan kayu untuk persiapan memasak nanti sore!”

“Nanti aku siapkan, kau cukup bekerja saja ke sawah,” jawab Dadong Lanting.

Pekak Pengkuh pergi ke sawah sambil membawa cangkul. Tak perlu waktu lama, Pekak Pengkuh selalu bekerja cepat dalam hal mencangkul. Lima sampai tujuh petak sawah akan selesai dengan waktu yang singkat.

Banyak cerita dari warga, ketika Pekak Pengkuh  mencangkul  sendiri di sawah, seperti mencangkul dengan banyak orang. Suara cangkulan terdengar tak wajar, sekali cangkulan terdengar berkali-kali.

Orang menduga-duga, itu adalah bantuan dari Papengkah.

“Sungguh tak wajar, seakan sekali cangkulan seperti bergema berkali-kali. Pepengkah itu rajin sekali membantu Pekak Pengkuh. Jelas rajin, bagaimana tidak. Upah nanti sore sudah menanti. Ada bubur terasi yang siap disantap. Tak sia-sia payuk selalu penuh berisi bubur bau itu!” kata seseorang.

“Bagaimana bisa makhluk gaib itu menghabiskan dua payuk bubur terasi itu setiap sore menjelang malam. Padahal ukuran Pepengkah itu katanya kurang lebih sebesar bayi. Memiliki perut buncit dan tubuh berukuran pendek!” kata warga lain dalams ebuah obrolan di warung sudut kampung.

Suatu sore menjelang malam tiba, sehabis mencangkul Pekak Pengkuh kembali bersenda gurau. Entah itu Pepengkah atau tidak. Tapi memang dipercaya bahwa teman sandikala Pekak Pengkuh itu memang Pepengkah. Dari awal menikah dengan Dadong Lanting, sampai saat ini Pekak Pengkuh masih memelihara Pepengkah.

“Luh, sudah lama sekali kita hidup penuh dengan perlindungan. Ini bisa dikatakan paica untuk kita. Luh, aku takut kalau nanti Pepengkah meyakini orang lain. Dia itu sudah menjadi kebutuhanku. Beberapa kali aku hampir mati sakit-sakitan. Tak ingatkah kau dulu, aku ini lelaki lemah ketika berjam-jam pergi ke sawah, sudah cengengesan menahan sakit punggung dan lainnya. Aku sangat bersyukur sekali!” kata Pekak Pengkuh.

“Aku merasakan Ngah. Dan aku percaya bahwa Pepengkah ini adalah anugerah seumur hidup bagi keluarga kita. Anak cucu  sudah dijaga sejak lahir, Ngah. Aku merasakan itu!” jawab Dadong Lanting.

“Semoga, Luh. Semoga. Aku akan bersedia menjadi pelayan seumur hidup. Kalau boleh, ketika mati nanti aku ingin Pepengkah itu ikut di kehidupanku selanjutnya. Sudahlah, Luh, aku ingin istirahat merebahkan diri. Besok aku akan ke hutan pergi berburu. Doakan aku pergi dengan hasil yang tak sia-sia!” kata Pekak Pengkuh.

“Yang aku doakan adalah keselamatanmu, Ngah. Bukan hasil buruanmu. Kau sudah tua, pikirkan saja keselamatanmu!” jawab Dadong Lanting.

“Urusan keselamatan sudah tak kupikirkan Luh. Apa kau lupa bahwa aku ini adalah  manusia yang penuh anugerah. Pepengkah tidak akan pernah lupa denganku. Pepengkah selalu menjadi payung di kala hujan lebat datang mengguyur tubuhku. Sudahlah, aku tak jadi tidur jika kau selalu menanyakan keselamatanku!”

Dadong Lanting hanya diam dan ikut merebah di samping tubuh lelaki tua yang umurnya sudah hampir seratus tahun lebih itu.

Semalam hujan begitu deras di desa kecil yang terkenal akan kesuburan tanah dan suksesnya pertanian itu. Langit begitu terang. Petir bergantian bergemuruh di atas atap gubuk Pekak Pengkuh. Belum dapat tidur, Pekak Pengkuh kembali duduk sejenak dan bangun dari tempat tidur beralas tikar itu.

“Luuhh, aku tidak bisa tidur. Tubuhku bergetar merasakan hujan hari ini. Apa ini tanda kalau besok aku tidak dapat hasil buruan sedikitpun?”

“Itu hanya perasaanmu. Kau tidak sabar menunggu hari esok. Pikiranmu sekarang sudah di hutan. Makanya kau tak bisa tidur!” jawab Dadong Lanting dengan tubuh yang tak bergerak sedikitpun dari posisi tidurnya.

Pekak Pengkuh kembali merebahkan tubuhnya dan terlelap sampai pagi. Hari itu telah tiba, hari yang tepat untuk pergi berburu ke hutan. Pekak Pengkuh selalu mencari hari baik untuk bepergian kemanapun. Apalagi pergi untuk berburu. Pastinya hari itu adalah hari yang tepat baginya untuk meninggalkan gubuk tua itu dan kembali dengan rasa puas.

Seharian penuh dari pagi sampai malam Pekak Pengkuh menjelajahi hutan. Banyak mangsa yang ia dapatkan. Segala ancaman berburu diatasi dan dilalui seperti mengusapkan debu yang menempel di baju. Ia akan menceritakan banyak hal ke seluruh warga tentang kepuasannya hari itu. Termasuk Pepengkah yang menjadi prioritas dalam hidupnya.

“Luuuhh, Luuuhh, hahahhaha, aku mendapatkan banyak kesenangan hari ini. Aku senang hari ini Luh, segala rintangan sudah kulalui. Luh. Pepengkah pasti melindungiku tadi. Aku merasakannya seperti kau merasakan perlindungan Pepengkah selama ini.” Pekak Pengkuh begitu bangga menceritakan kesenangannya hari itu.

“Bagaimana kau bisa mennangkap tiga rusa sekaligus? Kata pemburu lain, rusa sudah hampir punah di hutan ini dan dianggap sudah tak ada lagi. Pepengkah memang membantumu hari ini Ngah,” jawab Dadong Lanting.

“Iyaa, Luhh, mungkin. Tetapi aku tidak merasakan Pepengkah sekarang. Di mana Pepengkah Luh?  Aku ingin menceritakan semuanya dan berterimakasih.” Kata Pekak Pengkuh.

“Pertanyaanmu membingungkan. Aku tak pernah didatangi selagi aku tak bersama denganmu. Seharian ini aku tak didatanginya. Hanya kau yang tahu di mana Pepengkah. Aku tidak begitu disenangi dengannya. Kau yang disenanginya. Kau yang didatangi pertama kali dulu!“ jawab Dadong Lanting dengan wajah yang gelisah.

“Bukannya sore tadi kau sudah memberikan makan Pepengkah?” tanya Pekak Pengkuh

“Bukannya Pepengkah bersamamu berburu? Kau kan sudah merasakan perlindangan, mengapa kau mempertanyakannya kembali padaku?”  Wajah Dadong Lanting semakin gelisah Pekak Pengkuh berlari ke dapur mendekati payuk besar. Tak ada bubur terasi. Dua payuk besar tergeletak di lantai tanah dapur. Pekak Pengkuh gelisah dan Dadong Lanting bertambah gelisah. Pekak Pengkuh kembali berlari ke sawah membawa obor untuk menerangi jalan menuju sawah.

Tak seperti biasanya. Tak ada Pepengkah yang menghampiri. Gubuk begitu sepi, dapur berantakan dan tak ada tanda keberadaaan Pepengkah di sekitar sawah. Pekak Pengkuh kembali berlari ke rumah-rumah warga untuk menanyakan keberadaan Pepengkah.

“Tut…, Dek…,  bantu Pekak, Tut,  Dek. Bantu Pekak!” teriak Pekkak Pengkuh memanggil warga sekitar rumahnya itu

“Ada apa, Pekak? Malam-malam begini Pekak begitu terlihat gelisah!”

“Apa kau melihat Pepengkah? Pepengkah hilang, Tut. Tak ku lihat sedikitpun dia bergelinding seperti biasanya menghampiriku. Tegas kak Pengkuh.

“Wahhh, bagaimana saya bisa tahu, Pekak,  saya dan semua orang di desa ini tidak bisa melihat Pepengkah. Hanya Pekak yang bisa melihatnya. Kami tak akan bisa melihatnya!” jawab Ketut.

“Pekak lupa memberi Pepengkah makan. Seharian Pekak pergi ke hutan berburu dan Dadong juga lupa memberi makan Pepengkah. Bantu Pekak mencarinya!” Pekak mengajak Ketut dan meminta bantuan seluruh warga desa untuk mencari Pepengkah.

Sampai malam hari dan hampir subuh Pekak dan warga mengelilingi desa mencari Pepengkah.  Sebanyak 12 payuk besar berisi bubur terasi disiapkan Pekak Pengkuh untuk menebus rasa bersalahnya. Namun tetap saja Pepengkah tak kunjung datang menghampirinya.

Warga desa menyarankan Pekak Pengkuh untuk menyudahi pencarian pada malam hari itu. Namun, tetap saja Pekak Pengkuh tak mau pulang. Setelah sekian lama menunggu, Pekak Pengkuh merasa lelah.

Pekak Pengkuh mau menyudai pencarian pada malam itu. Pekak menyuruh seluruh warga untuk membuang 12 payuk besar berisi bubur terasi itu ke berbagai mata air di desa itu. Karena dipercayai bahwa Pepengkah sedang kecewa dan pergi ke sungai seperti pengalaman puluhan tahun ketika Pekak Pengkuh pernah telat memberi Pepengkah makan.

Pada akhirnya semua payuk dituangkan ke sungai dan warga pulang ke rumah. Namun semasa hidup Pekak Pengkuh setelah kepergian Pepengkah, ia selalu dan tak pernah henti-henti mencari Pepengkah. Setiap hari, Pekak selalu membawa dua payuk besar untuk menuangkan bubur terasi ke sungai.

Warga sekitar pun tidak bisa mandi dan mencuci di sungai karena air sungai yang hening itu telah berubah menjadi merah dengan bau yang tak sedap.

“Luh, aku telah mengutamakan ambisiku untuk pergi berburu. Benar sekali ocehanmu selama ini. Sebenarnya yang harus aku perhatikan itu adalah Pepengkah. Aku terlalu menggangap  semua enteng ketika Pepengkah selalu bersamaku. Tapi Pepengkah telah aku lupakan. Hari itu adalah hari terakhirku. Aku lupa dan buta terhadap semua hal hari itu!” Sambil menangis Pekak duduk di pinggir sungai bersama Dadong Lanting.

Tak lama kemudian, di dekat kubangan yang dalam, yang di pinggirnya biasa digunakan sebagai tempat permandian kerbau, Pekak Pengkuh seakan melihat suatu pergerakan tak jelas. Pekak Pengkuh dan Dadong Latri berlari mendekati kubangan. Hanya ada suara krasak-krusuk tak jelas dekat kubangan. Lalu air kubangan bergetar dan secara sekejap ada benda yang terdengar jatuh ke dalam air kubangan.

Entah itu Pepengkah atau tidak, Pekak Pengkuh menceburkan diri ke kubangan yang dalam itu untuk mencari tahu benda yang jatuh di dalamnya. (T)

Share80TweetSendShareSend
Previous Post

“Boundary of Freedom“, Karya Grafis Puritip Suriyapatarapun dari Bangkok di Bentara Budaya Bali

Next Post

Hujjah Literatif Bagi Para Perokok

Yogi Periawan

Yogi Periawan

Tamatan jurusan Bahasa Indonesia di Undiksha Singaraja, namun setelah tamat-lah ia baru giat belajar menulis. Di kampungnya di Negaroa, ia sedang membina kelompok Gogjah, kelompok seni musik jegog yang hendak dibuat jadi agak aneh

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post

Hujjah Literatif Bagi Para Perokok

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co