24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mari Menonton Film Lama: Radit & Jani, Cinta atau Gila?

Jaswanto by Jaswanto
February 2, 2018
in Ulasan

Google

KEMARIN malam, pukul 01:30 dini hari, Ainul Yakin, mahasiswa semester tiga jurusan Teknik Informatika, menawarkan kepada saya untuk menonton sebuah film. Ini ada film menarik, Kak Jas, katanya. Saya tertarik, mengingat, besoknya saya tidak ada perkuliahan. Sekali-kali bergadang tidak apa-apa, pikirku. Toh, besok tidak kuliah.

Dengan cekatan dia mulai meng-copy file dari laptopnya ke laptop Chalim. Sebab, laptopnya tidak bisa dibuat memutar film. Sond–nya jelek, Kak Jas, katanya. Saya lihat ada beberapa film yang sudah dicopy. Film ini cocok untuk malam ini, katanya kemudian. Diputarlah film pilihannya itu.

Film sudah mulai. Vino G Bastian, langsung saya kenali. “Film apa ini?” tanya saya kepadanya. Film Radit dan Jani, jawabnya. Ya, Radit & Jani.

Memang, pada awal tahun 2008, dunia perfilman Indonesia dihujani dengan film-film bergenre drama romantis. Tak ketinggalan rumah produksi Investasi Film Indonesia (IFI) yang sebelumnya pernah membuat Cokelat Steoberi pada 2007, dan pada tahun berikutnya, tahun 2008, mereka merilis film yang diklaim sebagai “film hot pertama di Indonesia”,  dengan judul, Radit & Jani.

Film yang sedang saya tonton waktu itu adalah sebuah film yang mengaharukan. Tak seperti lazimnya sebuah film yang bergenre romance—perjuangan cinta, cinta bertepuk sebelah tangan—film Radit & Jani memiliki kisah lain dari yang lain. Bisa dikatakan romantis, juga bisa dikatakan ngenes.

Film yang berkisah tentang mempertahankan rumah tangga dan juga cinta di tengah kondisi serba kekurangan dan belitan candu obat terlarang (narkoba) itu, telah mampu mengoyak air mata Ainul—termasuk saya. Mereka—Vino sebagai Radit dan Fahrani sebagai Anjani—berusaha mempertahankan cinta akibat kebodohan mereka sendiri.

Fahrani, seorang model internasional yang berperan sebagai Anjani yang kemudian akrab dipanggil Jani, berperan sebagai anak yang dicap telah merusak masa depannya sendiri oleh keluarganya—khususnya ayahnya—karena nekat pergi dari  rumah dan menikah dengan Radit. Padahal, Radit adalah anak band yang bahkan satu produser pun tak ada yang mau mendengar lagu ciptaannya. Keadaan itu diperparah perihal Radit juga seorang pecandu narkoba. Radit tak punya pekerjaan tetap, tanpa bekal uang, kehidupan keras harus mereka hadapi.

Radit dan Jani, pasangat suami istri tergila yang pernah saya lihat—walaupun saya tahu itu hanya film. Bagaimana tidak gila, untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka rela melakukan apa saja. Mencuri di supermarket, atau menyatroni rumah kosong untuk bertahan hidup. Namun, terlepas dari duka kehidupan, kekuatan cinta mereka membuat kepahitan kehidupan seperti tak terasa.

Rumah tangga mereka semakin tidak karuan, manakala Jani diketahui telah mengandung—hamil—mereka pun dibangunkan oleh kenyataan, bahwa hidup, tidak bisa hanya bermodalkan cinta. Mereka sadar, hidup mereka harus berubah. Radit mencoba segera melepaskan diri dari jeratan narkoba dan juga mendapatkan pekerjaan agar dapat membahagiakan Jani dan memberi masa depan cerah kepada anaknya kelak. Di sinilah, konflik untuk mempengaruhi psikologi penonton dibangun begitu apik.

Ainul, yang duduk di sebelah saya tidak sungkan-sungkan meneteska air mata, ketika melihat adegan Radit yang sebelumnya disuruh Jani untuk cepat pulang ke rumah, sebab Jani merasa kesepian. Sebelum pulang, Radit meminta sebagian gaji dari bosnya untuk membeli makanan dan juga menebus obat untuk Jani. Sialnya, Radit tidak diberikan sepeser rupiah pun.

Dengan wataknya yang pemarah, Radit menahan emosi kemudian bergegas keluar dari ruangan bosnya. Di luar, teman kerjanya mengejek, jika dia (Radit) mau meminum air kencing temannya, maka obat untuk Jani akan ditebus. Artinya, Radit akan mendapatkan uang dari temannya tersebut setelah dia meminum air kencing temannya. Atas dasar ingin membahagiakan Jani, apapun rela dia lakukan, termasuk, meminum air kencing temannya.

Adegan berlanjut, dengan penuh keraguan dalam keyakinan, Radit meminum segelas air kencing itu seperti meminum segelas bir, sekali teguk. Radit menang, uang sudah ada di tangan. Dia pun lari ke apotek terdekat untuk menebus obat, sekaligus membeli sebungkus nasi goreng. Dalam perjalanan, sebuah drama terjadi. Beberapa orang, sedang nongkrong di pinggir jalan. Salah satu dari mereka adalah orang yang pernah dicuri handpone–nya oleh Radit dan Jani di sebuah warung makan.

Sialnya, orang itu masih ingat jelas wajah Radit. Tanpa ampun, mereka menghajar Radit habis-habisan. Nasi goreng, obat-obatan berserakan di tanah. Terinjak-injak. Melelehlah air mata Ainul. Betapa perjuangan yang harus sia-sia. Radit pulang dengan tangan hampa dan mendapati Jani tengah tertidur gelisah di tengah kegelapan malam.

Dalam film tersebut, crime tidak lepas dari sebagian tema/konsep dalam film. Jika berasal dari 3 babak, maka crime adalah unsur penggerak plot. Crime dalam film ini sangat banyak contonya, mulai dari minum-minuman keras, narkoba, kekerasan, dan masih banyak lagi. Tentu saja faktor criminal menggerakkan bahkan membuat cerita ini berjalan layaknya sebuah kehidupan nyata.

Tidak hanya crime yang menjadi penggeraknya, faktor kelas sosial juga sangat terasa. Penokohan masyarakat urban yang bermacam-macam. Namun secara garis besar, mereka berasal dari kelas menengah ke bawah. Hal ini dijelaskan ketika beberapa adegan tempat-tempat kumuh bersanding dengan gedung perkantoran, mencirmankan khas latar belakang masyarakat urban.

Dalam Radit & Jani peran gender diangkat sebagai faktor penting. Karena konsep peran gender merupakan bagian dari upaya pelepasan “stereotyping” dan/atau “lebeling”. Di sini, peran laki-laki dan perempuan begitu terlihat. Radit, tetap diperankan menjadi sosok lelaki yang berusaha mati-matian untuk membahagiakan Jani. Bekerja keras layaknya tipikal laki-laki.

Saya melihat filim ini tentu saja dengan pendekatan sosiologi. Di mana definisi dari sosiologi itu sendiri adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; imu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya (semoga saya salah, kalau salah, silahkan dibenarkan). Sosiologi mengambil peran dalam kehidupan masyarakat yang sangat besar, sama halnya seperti film yang dapat menyampaikan atau memberikan pengetahuan baru bagi penontonnya.

Dari keseluruhan tulisan yang saya tulis di atas, saya menyimpulan bahwa pada dasarnya film ini—bahkan hampir semua/kebanyakan film—tentu mengusung dasar konsep-konsep sosiologi. Dan pada film ini, konsep sosiologi yang diusung cukuplah kuat. Film ini telah membongkar sistem berpikir bagaimana layaknya kehidupan sebuah bahtera rumah tangga.

Kehidupan yang dipilih (hanya atas dasar cinta) oleh dua orang anak manusia sehingga membentuk konflik-konflik dan keadaan yang begitu rumit yang tentu saja merupakan maksud dari ilmu sosiologi (manusia dan perilaku bermasyarakat/berumah tangga/berkelompok) itu sendiri. Seperti penjelasan konsep ilmu sosiologi di atas.

Radit & Jani juga memberikan pesan moral dan sensai kebebasan psikologi kepada penonton (hasil penelitian berdasarkan perasaan yang saya alami dan beberapa pernyataan Ainul) karena terenyuh dan tersadarkan, bahwa, dalam hal berumah tangga tidak cukup hanya bermodalkan cinta. Sungguh, rasa kesepian, hampa, kesedihan, dan kebahagiaan itu berasal dari bagaimana seseorang berpikir dan bertindak. Bagaimana paradigma yang dianut oleh orang tersebut.

Pada akhir film ini, Upi, sang sutradara, kembali mengoyak psikologi penonton dengan membuat skenario bahwa Jani ternyata menikah dengan orang lain. Radit, merelakan Jani jatuh di pelukan orang lain hanya karena dia merasa tidak bisa membahagiakan istri tercintanya. Lagi-lagi, Ainul merasakan dadanya sesak.(T)

Tags: cintafilmresensiRumah Tangga
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Karang Boma; Penghancur Segala Mara Bahaya – Catatan Berwisata Bersama Anak

Next Post

Mati yang Menakjubkan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Mati yang Menakjubkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co