2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mati yang Menakjubkan

Aksan Taqwin Embe by Aksan Taqwin Embe
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Komang Astiari

Cerpen: Aksan Taqwin Embe 

Setiapkali ia merapal nama ibunya, airmatanya mengalir deras berkelok melintasi kerutan di bawah kelopak mata sampai di penghujung dagunya. Menetes sangat cepat. Pundaknya naik turun dengan degup jantung sesenggukan yang semakin tak beraturan. Sementara jarinya masih mengapit putung rokok yang hampir tuntas dihabiskan. Sesekali ia hisap rokok itu kemudian ia hempaskan ke semesta. Ia putar-putar putung rokok ke bungkus rokok yang terbuka sambil menghempaskan asap terakhir. Rokok telah habis, sementara keresahan belum usai.

Ia memandang dari kejauhan riuh jalanan yang basah usai hujan. Rumahnya yang terletak di bawah jembatan bilangan Jakarta Utara menebarkan bau sampah, dan botol bekas mineral ataubir. Matanya masih sayu. Bibirnya masih sesenggukan kemudian mencipta ketenangan redam dada diri sendiri. Kopi di atas meja mungil yang terletak di sudut teras rumah mulai dingin. Semut-semut membentuk barisan sangat panjang.Semut-semut itu keluar pelan-pelan dari lubang atap depan pojok dinding paling tepimenuju pisang goreng yang juga mulaiperlahan dingin.

Ia mengetuk-ketuk pisang goreng di atas piring kemudian memindahkan ke piring lain. Ia memaki-maki semut-semut yang tak beretika. Mengutuki dengan sumpah serapah. Kekesalannya terhadap semut sudah memuncak di atas ubun. Berkali-kali ia tidak jadi makan gara-gara semut yang lebih dulu mengerubungi makanannya. Janganpun makanan, air mineral saja semut tega menjarah. Pernah sekali waktu ia menggarisi tepian kursi sampai kaki meja dengan kapur ajaib yang dibeli dari warung kelontong, tapi hasilnya tetap tidak memuaskan.

Semut-semut lebih cerdas ketimbang dirinya. Semut-semut melintasi celah yang tidak tersentuh garis kapur tersebut. Sekali waktu ia ingin membeli obat cair pembasmi serangga, tapi ia harus berpikir dua kali. Sebab, buat makan saja harus berhemat apalagi harus membeli obat serangga, apalagi hasilnya pasti sia-sia.

Konon, jika kau membunuh satu  semut, maka akan datanglah berkali-kali lipat semut lain kepadamu. Kau akan dibuat takluk kepada semut. Sehingga kau lebih baik makan mengibas-ngibas usir serangga terlebih dahulu, ketimbang kelaparan karena kegelisahan yang meradang.

“Panggil saja Tini. Namaku terlalu kampung, Mbak,” ucapnya.

Ibu dan bapaknya bersusah payah merayakan syukuran potong kambing untuk pelekatan namanya. Namun ia tak begitu bangga dengan namanya. Bapaknya sangat bahagia. Bercerita bahwa anaknya yang diidam-idamkan; yang diberi nama Wartini telah lahir dalam keadaan sehat berpipi rona.

Tini sedang berkunjung ke rumah Ningsih; tetangganya yang selama ini sangat berbaik hati. Mereka sering saling berbagi ketika mendapatkan rejeki berlebih. Mereka adalah perempuan yang lahir dari kota yang sama, namun beda kampung. Tini lahir di kampung Brondong, sementara Ningsih lahir di kampung Laren yang sama masuk dalam kabupaten Lamongan. Mereka terpaksa memiliki niat yang sama; berhijrah memperbaiki nasib di Jakarta.

“Suamimu kemana, Tin,”

Ningsih menatap lekat mata Tini yang masih basah. Pipinya bersinar seperti ada kilau air yang mengambang. Tini masih diam sambil menghempaskan napas berkali-kali.

“Tak perlu kau menyesali diri sendiribegitu, Tin. Beginilah hidup di Jakarta.” sambungnya.

Semenjak kematian bapak dan ibunya, kemudian pembagian warisan yang dibagi rata dengan empat saudaranya sesuai dengan ajaran agama, Tini sudah tidak memiliki tempat berpijak. Saudaranya mementingkan dunia dan kebahagiaanya masing-masing. Akhirnya ia mengajak suaminya untuk memperbaiki nasib seperti tetangga-tetangganya yang sukses di kota yang dianggap ladang kebahagiaan.

Tini membayangkan ketika sepulangan dari Jakarta ia bisa memiliki segalanya seperti karibnya, tetangganya, dan atau orang-orang tetangga kampung sebelah yang sukses di kota. Mereka pulang membawa keluarga dengan wajah yang bahagia. Ada yang bangga dan bercerita perihal kepulangannya naik pesawat, kereta, bahkan sampai ada yang membawa mobil mewah. Itu karena hasil upaya mereka menjual pecel lele atau soto lamongan di kota yang bergelimpangan uang di kepalanya.

“Seperti biasa, Mbak. Ia berada di pelabuhan. Membantu angkut barang-barang dari kapal,” ucap Tini.

“Seharusnya kau bahagia, Tin. Tidak seperti saya dan suami yang hanya mengumpulkan sampah-sampah,” ucap Ningsih.

Tini diam. Sudah tiga lebaran ia tidak pulang. Sementara Ningsih yang hanya mengumpulkan botol-botol, plastik, dan kardus bekas bisa rutin menegok kampung halaman.

***

“Mas, aku ingin pulang” ucap Tini.

Karmin menganggukan kepala. Sebelum Karmin berangkat ke pelabuhan ia berpesan agar menjaga diri dan rumah baik-baik.

Keduanya menyempatkan bercinta terlebih dahulu. Menghabiskan petang hingga larut malam. Pada tengah malamlah Karmin akan berangkat menuju pelabuhan. Naik motor honda astrea hitam keluaran tahun 90an. Karmin bisa berhari-hari bahkan seminggu tidak pulang karena menunggu kapal yang datang.

“Sabarlah sejenak. Aku yakin setelah beberapa kapal ini datang. Kita akan pulang. Bahkan aku pun sudah berjanji ingin membelikanmu emas berkadar 24 karat,” ucap Karmin.

“Setidaknya 10 gram cukup dan akan nampak cantik jika kalung itu melingkar di lehermu.” sambungnya.

Bunga-bunga tercium semerbak di wajah Tini. Bunga-bunga yang bermekaran di matanya, pipinya, dan juga bibirnya. Janji seorang suami adalah keyakinan dan kebahagiaan yang pasti terpenuhi. Di dalam diri Tini, merasakan ketenangan dan kedamaian. Ia sudah tidak sabar bisa bertemu dengan saudara-saudaranya, nyekar ke makam ibu dan bapaknya. Tini dan Karmin masih melanjutkan bercinta.

***

Hujan turun deras di pelabuhan Tanjung Priok. Sudah dua malam Karmin tidak pulang. Ia menunggu salah satu kapal; bos biasa ia bantudatang dari Tiongkok.

Pagi itu, hujan masih deras membasahi jalanan pintu gerbang pelabuhan yang sedikit berlubang. Rokoknya sisa sebatang, sementara ia pulang harus membawa uang. Ia membayangkan bahwa sepulangannya, ia akan membeli dua bungkus nasi padang dengan sayur daun singkong dan ikan bakar kesukaan istrinya.

Kapal itu datang perlahan, secara diam-diam. Karmin bergegas mematikan rokoknya. Ia hafal benar kapal yang ia tunggu bermalam- malam sampai rela tak pulang demi uang. Kapal itunampak dari kejauhan. Semakin dekat, semakin nampak jelas. Perahu itu perlahan bersandar. Mencari tepian dermaga yang lebih aman. Ia mengambil papan yang berserakan di atas pelabuhan. Perlahan memasang papan panjang yang biasa ia pasang di tepian dermaga kemudian dihubungkan dengan gladak kapal sebagai jembatan.

Ia menemui Lie—lelaki yang kerapdipanggil bos besar. Ia naik kapal secara hati-hati, melintasi papan panjang yang menghubungkan tepian dermaga dengan bibir kapal. Sebab setelah hujan, papan panjang yang dipasang untuk jalan menuju kapal sangat basah dan licin.

“Bawa ini. Angkatlah. Hati-hati jangan sampai terjatuh.” ucap Lie.

Karmin dan karyawan lain mengangkat secara hati-hati sesuai instruksi. Ia belum berani tanya kepada Lie apa yang dibawa hari ini. Kalau sebelum-sebelumnya, Lie membawa arak, wine, bir, dan juga ganja yang disebarluaskan ke bar-bar di bilangan Jakarta Utara sampai ke kota-kota besar lainnya.

Kotak panjang—peti kemas yang sedikit berlubang, diangkat Karmin dan beberapa karyawan Lie; kotak yang ke sembilan. Berkali-kali Karmin menahan rasa penasarannya dengan napas yang tersegal-sengal. Mereka masukan secara hati-hati ke dalam kotak kargo yang sudah menunggu lebih dulu ketimbang Karmin. Karmin meletuskan rasa penasarannya. Ia memandang kawan baru—karyawannya Lie itu dengan rasa sopan.

“Apa yang ada di dalam peti ini?” ucap Karmin.

Beruntungnya seluruh karyawan Lie adalah orang Indonesia. Sehingga bisa diajak bercakap dan mengalirkan suasana yang nyaman. Orang-orang itu hanya tersenyum. Ia tidak menjawab.

“Apakah ini wine atau bir? Biasanya peti kemasnya tak begitu panjang. Diangkat pun tak begitu berat, bukan?” sambungnya.

“Sudahlah, Mas. Tugasmu hanya mengangkut ke kotak kargosaja. Tak usah banyak tanya,” ucap Parlan.

Langit Jakarta masih muram. Hujan sudah diusaikan. Karmin membayangkan setelah ini pulang membawa uang dan nasi padang untuk istrinya yang sudah bermalam-malam menunggu. Wajah Karmin sudah tak nampak gelisah lagi. Sebab pekerjaan ini akan segera selesai.

“Sabar, sayang. Aku segera pulang. Kita bisa menabung untuk pulang kampung” batinnya.

Karmin mengangkat kotak itu bersama Parlan. Rupanya ia adalah sama orang Lamongan. Percakapan mereka samakin hangat dan mengalir. Sesekali Karmin ingin mengintip dari kotak yang berlubang itu, seketika itu rasa gemetar dan ketakutannya meledak-ledak. Lagi pula, tak akan nampak apa yang ada di dalam kotak itu. sebab ketika mengintip akan terlihat gulita.

“Jangan sekali-kali tanya apa yang dibawa Bos Lie, Mas. Kecuali ia bercerita sendiri. Apalagi kau tanya apa yang ada di dalam kotak ini. Aku pun tidak tahu. Tiba-tiba kotak-kotak itu sudah ada yang mengangkut dari kapal ke kapal ketika di dermaga Tiongkok.” ucap Parlan.

Ini adalah kotak yang kesepuluh. Mereka angkat secara pelan-pelan ke sisi kotak-kotak yang lainnya. Karmin menggeser secara hati-hati. Sesuai instruksi Lie bahwa kotak-kotak itu agar dibiarkan berjejer memanjang, jangan ditumpuk. Dalam batin Karmin kenapa kotak ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Cara meletakan dan menatapun berbeda. Ia masih mengambil napas. Napasnya tersengal-sengal, sementara Parlan sudah keluar dari ruang kotak kargoitu.

Karmin kembali menggeser dan menata kotak-kotak itu secara perlahan. Tiba-tiba ia mendengar suara perempuan yang merintih. Ia teringat istrinya yang sudah ditinggal dua malam. Ia teringat istrinya ketika menahan rasa nyeri atau merengek meminta sesuatu. Ia teringat istrinya ketika ingin pulang kampung dan menziarahi makam orangtuanya.

Sebisa mungkin ia lipat rapat-rapat suara itu. Ia urung dan segera menyelesaikan pekerjaan dengan menggeser-geser kotak itu. Ketika ia menggeser ujung kotak yang sedikit berlubang, tangannya tersentuh jari lentik dan halus keluar dari lubang. Jari itu bergerak-gerak sambil mengalun suara rintih-rintih kesakitan. Suara itu semakin lama semakin keras. Suara itu tiba-tiba menjadi banyak.

Karmin ketakutan langsung keluar kemudian menutup pintu kargo secara rapat. Ia masih mendengar suara perempuan yang semakin banyak dengan nada yang sama. Bergegas ia pulang setelah menerima upah dari Lie. Bahkan ketika membeli nasi padang pun ia masih terngiang-ngiang suara perempuan dan jari yang keluar secara perlahan.

***

“Mas, kita jadi pulang, kan?” ucap Tini.

Karmin masih diam dan melanjutkan kunyahannya. Sehingga Tini harus mengucapkan kembali kalimat yang sama.

“Iya, sayang. Tapi uang tabungan ini belum cukup. Tunggulah sebentar, duakali kapal datang; saya bekerja, kita segera pulang” ucap Karmin.

Tini mengeluh dan bercerita bahwa ia sudah tidak sabar segera pulang. Tini sudah tidak sabar bisa memandang lekat saudaranya. Mengirimkan doa-doa ke semesta di depan makam bapak dan ibunya. Ia merintih sambil memegang tangan Karmin. Rintihan itu terdengar jelas. Satu kali, dua kali, tiga kali. Mata Karmin mendadak mendelik. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya tersengal-sengal. Ia terjatuh kemudian tangan dan kakinya mengeras sambil kejang. Semut-semut berbaris panjang datang mendekat. Semakin dekat, semakin lekat. (T)

Gija’, 08 November 2017

Tags: Cerpen
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Mari Menonton Film Lama: Radit & Jani, Cinta atau Gila?

Next Post

Politisasi Kalender Bali, Unik dan Absurd…

Aksan Taqwin Embe

Aksan Taqwin Embe

Masuk 16 penulis terpilih dalam perhelatan internasional Ubud Writers and Readers Festival 2017. Buku kumpulan cerpennya Gadis Pingitan, diterbitkan oleh BieM 2013, dan kumpulan cerpen Racik Kopi belum diterbitkan.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Politisasi Kalender Bali, Unik dan Absurd…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co