2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kuburan Ayah

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Komang Astiari

 

Cerpen: Agus Wiratama

ANGIN menghanyutkan aroma tanah yang berbeda. Air mata dan aroma busuk bercampur lalu disajikan oleh tarian angin pada setiap hidung sebagai parfum pengenal. Aroma itu benar-benar meneror kami dengan ingatan berbagai wajah yang pernah ditangisi. Ibu menyapa ayah, memanggilnya seperti membangunkan orang yang sedang tertidur pulas.

“Ayah, bangunlah kami datang menjenguk dan membawakanmu sarapan,” ucap ibu sambil menepuk gundukan sebanyak tiga kali.

Beberapa bungkus air putih telah disiapkan dari rumah, begitu pula kopi dan makanan olahan babi sebagai sesaji untuknya. Tak lupa, kami membawa pakaian ayah untuk upacara kecil hari ini.

Ibu mengambil air putih yang dibungkus plastik bening, lalu menyirami kuburan dan mengelus-elusnya dengan penuh perasaan. Sesekali ia mengepalkan kedua tangannya sambil meremas butiran tanah. Matanya terpejam kusut. Hujan air matanya bertambah deras. Aku tak betul-betul paham arti kesedihan bagi ibu, tapi harapan bahwa ayah masih hidup, nampak mengundang segala kesedihannya. Air mata yang diremas dan diseka angin pun mengalir bersama air yang digunakan memandikan gundukan tanah.

“Adik, basuhlah wajah ayah!” lontar ibu dari mulutnya yang bergetar usai memandikan ayah.

Sambil memegang payung hitam untuk berteduh dari gigitan cahaya matahari, adik mengambil air berbungkus plastik bening lainnya, lalu mengucurkannya pada sebatang pohon andong yang tumbuh subur pada ujung gundukan. Kubayangkan kini adik membasuh wajah ayah. Tiba-tiba, ia menitikkan air matanya. Tangan kiri yang digunakan untuk memegang payung, sesekali ia gunakan untuk mengusap genangan air pada kelopak matanya yang mungil. Sementara tangan kanannya masih tetap mengelus batang pohon andong sambil berbisik. Entah apa yang ia bisikkan, telingaku tak dapat menangkap jelas bisikan kecil itu.

Tanpa sepatah kata, ibu menatap tajam mataku. Ini berarti giliranku. Aku ragu, tetapi air mata ibu membuat tanganku segera mengambil pakaian dan mengenakannya pada gundukan tanah ini. Kukenakan kain pada bagian gundukan yang kubayangkan sebagai kaki ayah. Mengenakan kain itu kulakukan sebagaimana memasangkan pada orang yang masih hidup. Kurentangkan lembaran kain itu, kemudian setiap ujung kutarik agar seperti membungkus bagian kaki manusia. Lalu, kubuatkan kancut.

Ayah selalu berhati-hati membuat kancut. Ia menganggap bagian yang satu ini adalah bagian yang sangat spesial. Bentuknya harus runcing seperti keris. Ya, keris. Ayah pernah berkata padaku bahwa kancut sama halnya dengan keris, sama-sama menunjukkan wibawa seorang pria dewasa. Sebelum berbaring di sini, ia memiliki sebuah keris dan topeng menyerupai wajah seorang patih yang dipercayai mampu memberi kewibawaan. Mengingat itu, aku menelan amarah sembari menahan air mata. Gerakan tangan kupercepat.

Aku tak ingin terlarut seperti ibu dan adikku. Segera kupasangkan baju koko, udeng, dan cincin emas. Tugasku selesai. Kakakku melanjutkan tugas utama dalam upacara ini, sehabis segala persiapan usai. Upacara berlangsung. Angin datang lagi dan bermaian di antara celah dedauanan. Suara angin dan daun yang sendu membuatku terkenang dengan masa itu.

Awalnya ayah berhenti bekerja pada sebuah bank, ia dipecat karena tak mampu memenuhi kontrak yang disetujui. Ia seperti kutu loncat yang tak dapat berlama-lama pada satu pekerjaan. Entah itu pilihannya atau takdir yang menentukan. Hal itu berawal semenjak kakek menyerahkan tanggung jawab pada ayah untuk merawat sebuah topeng patih dan sebuah keris tua beberapa hari sebelum ia dipecat di bank tempatnya bekerja.

Setelah dipecat di bank, ayah mencoba berbagai usaha. Usaha pertama yang dicobanya adalah berjualan beras, lalu menjadi makelar tanah. Saat menjadi makelar ia hampir ditusuk oleh seorang anggota ormas karena masalah uang keamanan. Selamat dari niat pembunuhan, ia geram lalu berhenti.

Lalu ayah mencoba usaha baru, menjualbelikan barang antik. Entah ide dari mana, ayah menjualbelikan patung tua, topeng, uang logam kuno, dan keris. Usahanya kali ini memanfaatkan para mantan nasabahnya untuk menyediakan barang-barang antik. Barang-barang itu lantas dipasarkan melalui grup Whatsappnya atau ditawarkan langsung pada kolektor yang ia kenal. Kali ini usahanya bertahan cukup lama sebelum kesialan itu datang lagi.

Ayah dipanggil polisi dengan tuduhan menjadi pengepul barang curian. ia sempat disidang tiga kali dan ditetapkan sebagai tersangka. Tetapi, kasus ini tidak dilanjutkan. Alasannya pun tak jelas. Sejak itu, beberapa kali rumah kami digeledah. Dari setiap sudut kamar hingga tempat persembahyangan dibongkar oleh polisi. Barang dagangan ayah yang berbalut emas atau logam mulia lainnya disita. Ayah sedih dengan kemalangan itu, tetapi tidak berlarut karena kebetulan atau tidak, keris tua dan topeng patih luput dari jarahan.

Kejadian itu lagi-lagi membuatnya jera. Tetapi, ayah menyimpan syukur sebab benda yang paling berharga masih tertinggal di rumah. Ya, sangat berharga. Topeng patih dan keris tua. Topeng itu terlihat sangat tua, tanpa hiasan apa pun. Begitu juga keris itu, besi berkarat dengan gagang kayu lusuh. Ayah percaya dengan perkataan kakek bahwa kedua benda ini dapat memberi kewibawaan padanya. Kedua benda itu deperlakukan dengan istimewa dan disakralkan.

Nasib buruk berembus lagi. Ketua Dewan yang terkenal, bersama rombongannya datang ke rumah kami berbekal mitos yang didapat dari mulut ke mulut. Mereka datang untuk membeli kedua benda sakral itu. Namun, keluarlah segala ancaman ketus, karena penolakan terlontar dari mulut ayah. Mendengar ancaman itu, ayah sempat berpikir untuk memberikannya, tetapi kakek melarang. Kegundahan memuncak. Teror menebar ketakutan setiap malam. Jahanam betul, sejak saat itu tidur kami tak pernah nyenyak. Kata-kata orang-orang itu terngiang setiap malam.

Beberapa kali pejabat itu datang dengan membawa uang yang jumlahnya selalu ditambah, tapi ayah selalu menolaknya meski menyimpan ketakutan terhadap ancaman. Teror semakin mencekam, rumah kami kian sering didatangi oleh orang yang tak dikenal. Ayah cukup teguh dengan pesan kakek meski selalu ada perkataan yang sama di akhir pertemuan dari mulut orang-orang itu, “Kau akan menyesal!”.

Beberapa hari sesudah kedatangan terakhir orang-orang itu, kakek meninggal dengan mengerikan. Tubuhnya menggelayut pada dahan pohon yang letaknya jauh dari rumah. Polisi telah mengetahui kejadian ini, tetapi mereka mengatakan kematian itu bunuh diri. Jahanam. Kakek tidak bunuh diri, tak mungkin tubuh renta itu mengantarnya berjalan begitu jauh.

Bunga kamboja jatuh satu per satu seperti menuangkan keindahan baru yang tak terhenti di beranda rumah, angin berdesir lembut. Ibu menemani ayah menghaturkan sesajen untuk keris dan topeng karena hari itu bulan menunjukkan bentuk sempurna. Aku dan saudara-saudaraku memperebutkan bunga kamboja yang tanggal satu per satu. Tiba-tiba, kudengar suara mobil parkir di depan rumah.

Sepuluh orang berjas hitam datang dan menyapa, “Adik-adik, bapak-ibu di mana?”

Melihat tubuh-tubuh yang besar dan tinggi, dengan penuh keraguan aku mengatakan ayah bersama ibu di ruang itu.

Dengan sebuah koper yang entah berisi apa, mereka masuk ke ruang tempat ayah dan ibu berada. Aku tak mendengar pembicaraan mereka, hanya bunyi tak jelas. Tetapi kurasa yang dibicarakan adalah sesuatu yang tak baik. Keluar dari tempat itu, ayah menunduk. Ibu menangis kecil. Orang-orang berjas itu pergi begitu saja.

“Aku tak tahan dengan semua ini, akan kuberi apa yang orang-orang itu inginkan bulan depan, dua minggu lagi masih ada satu upacara yang harus dilakukan. Aku tak ingin terjadi apa-apa lagi dengan kita.” Sunyi menyusup di antara pembiacaraan itu.

“Aku akan mencoba sekali lagi berunding dan menjelaskan pada mereka, kita tidak bisa memberi benda itu besok!” lanjut ayah.

Ibu menjawab hanya dengan isakan kecil. Semua diam, sementara bunga kamboja berguguran bersama angin yang tak sengaja melintas.

Hingga matahari membuka tikar cahaya, ayah belum menyempatkan diri untuk tidur. Ia berencana menemui orang-orang itu untuk berunding sekali lagi agar bisa menunda penyerahan topeng dan keris sakral itu. Pagi-pagi sebelum ayah berangkat ibu mempersiapkan sesajen pada kedua benda keramat itu untuk memohon keselamatan untuk ayah. Ayah lalu pergi dengan segala kecemasan yang terpancar dari wajah murungnya.

Hari itu juga orang-orang yang lebih mirip preman itu datang untuk mengambil topeng dan keris. Ibu membiarkan mereka mengambilnya begitu saja karena mereka mengatakan itu semua telah disepakati oleh ayah. Dengan wajah bingung, ibu menanyakan keberadaan ayah berulang-ulang. Mereka menjawab dengan nada kasar, “nanti juga pulang!” sebelum menghilang di balik pagar rumah kami.

Mengingat hal itu, aku memantapkan diri untuk yakin bahwa benda itu tak pernah mendatangkan keberuntungan alih-alih kewibawaan.

Tujuh belas tahun sudah, hingga saat ini kami tak juga pernah bertemu dengan lelaki yang membesarkan kami. Sama halnya dengan topeng dan keris itu, ayah tak pernah kembali. Banyak cerita tentang kematian ayah yang tergelincir ke telinga kami. Kami tak percaya, Kami mencari dan bertanya ke mana-mana termasuk ke polisi. Tak ada hasil. Karena dalam kurun waktu yang lama ayah tak juga ditemukan, kami didesak oleh warga. kami dan warga desa akhirnya berunding dengan tetua adat lalu sepakat, sepakat bahwa ayah telah tiada.

Hingga kini, aku, kakak, adik, dan ibu hanya sepakat dengan kata-kata. kami belum sepenuhnya percaya bahwa ayah telah tiada atau ditiadakan. Karena itu, air mata selalu saja memaksakan dirinya untuk keluar ketika aroma tanah ini mengalir. Ya, memaksakan diri untuk keluar karena yang tertanam dan dikubur di tempat ini adalah kayu yang telah diupacarai sebagai simbol jasad ayahku beserta segala kenangan tentangnya. (T)

Tags: Cerpen
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Liburan di Yogya

Next Post

Istri yang Manis Tak Digigit Nyamuk

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Istri yang Manis Tak Digigit Nyamuk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co