23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Liburan di Yogya

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
February 2, 2018
in Esai

Google

 

TIAP musim liburan tiba, Yogyakarta diserbu pengunjung dari berbagai kota. Ini berkaitan erat dengan fenomena wisata Yogya yang berbasis wisatawan dalam negeri. Bahkan beberapa tahun terakhir makin menguatkan karakternya sebagai “kota liburan pelajar”, menyusul status ajegnya sebagai “kota pelajar”.

Rombongan wisata sekolah secara sadar memilih Yogya sebagai titik destinasi. Sambil mencari info tentang keberadaan kampus yang bertebaran di seantero Yogya, mereka sekaligus merasakan suasana Yogya, terlebih untuk persiapan jika kelak siswa bersangkutan melanjutkan studi di kota ini. Belum terhitung kunjungan pelajar di luar paket karyawisata atau studi tour, misalnya datang bersama keluarga. Alhasil, setiap liburan semester atau kelulusan/kenaikan kelas, Yogyakarta dipastikan diserbu siswa sekolah.

Kehadiran rombongan wisata pelajar menjadi warna kental dalam fenomena wisata Yogya yang memang berbasis Wisnu (Wisatawan Nusantara). Dibanding Wisman (Wisatawan Mancanegara), Wisnu lebih dominan mewarnai pergerakan destinasi Yogya. Data dari Dinas Pariwisata menunjukkan angka Wisnu per Agustus 2014 saja mencapai 208.434 orang. Bandingkan dengan Wisman, dalam kurun yang sama, “hanya” 5.463 orang.

Selain fenomena wisata pelajar, tentu saja Yogya tak luput menjaring Wisman non-siswa, dan itu terlihat terutama pada setiap akhir pekan, liburan nasional, dan puncaknya pada libur panjang (Natal dan Tahun Baru). Apalagi ada Sekaten. Maka semuanya tumplek-blek ing Yogya! Jalan-jalan macet, pusat belanja, pusat kuliner dan objek wisata sesak, hotel-hotel penuh, para pedagang dan penjual jasa di sektor wisata panen besar.

Wisnu Istimewa   

Bagi saya, Wisnu merupakan berkah yang membuat pariwisata Yogya berbeda dengan Bali, misalnya. Wisnu cocok benar dengan spirit keistimewaan Yogya yang merakyat, di mana semua pihak terlibat dan ikut merasakan manfaat. Tak hanya hotel berbintang, juga hotel kecil, bahkan kelas rumahan. Tak hanya pengusaha trevel, juga rental kendaraan hingga becak dan andong. Itulah sebabnya, dalam lomba menulis surat kepada Sri Sultan HB X sekian tahun lalu, saya mengharap Yogya mengoptimalkan basis wisatawan yang setia itu.

Sebab harus diakui, potensi ini belum tergarap maksimal. Rombongan wisata pelajar masih melihatkan karakter umum wisatawan yang menyasar tempat-tempat mainstream seperti pasar, meluputkan objek lain. Misalnya saja wisata masuk kampus, belum diagendakan, karena memang pihak kampus pun terbilang adem-ayem membaca peluang dan fenomena wisata pelajar ini. Belum ada terdengar paket wisata seputaran Bulaksumur-Karangmalang (UGM-UNY), misalnya, yang menggaet pelajar untuk datang berwisata sambil belajar atau mencari info-info pendidikan.

Objek wisata yang berkaitan dengan bahan ajar siswa pun justru terlupakan. Lihatlah Gua Selarong di Pajangan, Bantul. Markas besar Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa itu, sepi dan merana. Setali tiga uang dengan nasib museum di seputaran kota. Ironis. Para guru pendamping mestinya menyadari keberadaan objek wisata semacam ini dan pengelola wisata di Yogya juga harus lebih proaktif memperkenalkannya.

Di sisi lain, pembangunan hotel makin gencar di Yogya. Dalam waktu singkat, sudah ada 30 hotel baru berdiri. Sekitar 40 hotel lain juga sudah mengantongi izin. Menurut Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta, Istijab, jumlah hotel di Yogyakarta sudah melampaui kapasitas (sindonews.com, 5 Nopember 2016).

Tanpa mengabaikan urgensi hotel—misalnya, menampung tenaga kerja, akomodasi turis, dan seterusnya—pembangunan tanpa kendali dapat menuai efek tak diinginkan, mulai isu lingkungan hingga persaingan. Saat ini saja banyak warga Yogya menjerit sumur mereka pada kering (Jawa= asat) karena air tanah di sekitar mereka disedot hotel.

Mereka berhimpun dalam Gerakan Yogya Asat yang dikomandani Dodok Putra Bangsa, mantan pengamen yang kini aktif  dalam pendampingan. Gerakan Dodok yang tak kalah progresif adalah mempopulerkan semboyan “Djogja Ora Didol” (Yogya tidak dijual) lewat cetakan kaos—boleh jadi anomali dari kaos “guyonan” ala Dagadu. Kaos ini sudah beredar luas di dalam dan luar negeri.

Lebih memprihatinkan lagi, hampir semua bangunan hotel baru terkesan ramai-ramai “mengepung” Malioboro. Jalan-jalan terdekat dengan Malioboro dipenuhi bangunan beton, pembangunan menumpuk di kawasan padat, sebaliknya wilayah lain tak berkembang.  Untunglah ada moratorium pembangunan hotel lewat Peraturan Walikota No. 77/2013, tapi apakah masih bertahan atau sudah jebol, belum sempat saya konfirmasi lagi. Maklum pengajuan izin baru telah pula menumpuk.

Sementara itu, dalam berapa tahun ke depan, bandara internasional Yogya akan beroperasi di Kulonprogo. Rencananya, bandara ini didukung infrastruktur jalan besar (jalan tol?) yang mengakses langsung kawasan Borobudur, menembus Pegunungan Menoreh.

Jika ini terjadi, pembangunan hotel diasumsikan akan bergeser ke wilayah paling barat Yogya, menyusul kawasan timur di Gunungkidul yang kini marak dengan wisata pantainya. Kabar galaunya: kawasan Menoreh dengan segala ekosistem dan situs bersejarah (salah satunya situs prajurit Diponegoro) bisa terancam. Saat ini pun, proses pembangunan bandara ini juga sedang berhadapan dengan persoalan yang tak kalah genting untuk digugat atau dipertanyakan: bagaimana nasib warga yang mempertahankan tanah dan hak hidupnya?

Kembali ke kota. Pengelolaan taman parkir dan soal kemacetan sudah lama menjadi perhatian. Taman parkir dan parkir bertingkat dibangun. Tapi bus pariwisata masih belum tertib parkir di taman Parkir Ngabean atau di samping BI, atau parkir itu sendiri penuh. Mereka umumnya memilih parkir di Taman Abu Bakar Ali, di ujung utara Malioboro. Akibatnya, kemacetan muncul di mana-mana.

Pembenahan demi pembenahan memang terus dilakukan, salah satu “puncak pencapaian” ikhtiar Pemda dan warga Yogya adalah membebaskan Jalan Malioboro dari parkir kendaraan. Trotoar Malioboro kini sudah sepenuhnya menjadi ruang publik, meski pedagang dan para jukir (juru parkir) menjerit. Apakah seniman Yogya bisa mengembalikan roh Malioboro seperti era PSK (Persada Studi Klub) dan Umbu? Belum tentu. Sebab mall dan swalayan sudah lebih dulu mencengkram, melebihi toko-toko kecil, pedagang kaki lima dan lesehan.

Tapi, lupakan sejenak keniscayaan sebuah kota. Sebab, tulis Umbu Landu Paranggi dalam Melodia,”Kapan dan di mana pun hidup tak kan pernah aman.” Dan yakini sajalah: “Cintalah yang membuat diri untuk betah sesekali bertahan.” (T)

Tags: BudayaPariwisataUmbu Landu ParanggiYogyakarta
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Curangologi: Filsafat Curang Seri 4 – Tas Edy Asparanggi, Andy Warhol, atawa Gratifikasi

Next Post

Kuburan Ayah

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Kuburan Ayah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co