23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Curangologi: Filsafat Curang Seri 4 – Tas Edy Asparanggi, Andy Warhol, atawa Gratifikasi

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Esai

Foto dok penulis dan google

 

HARI libur Natal, seseorang mengantar paket ke rumah saya. Sebuah bungkusan yang membuat saya bertanya-tanya. Apa gerangan isi paket tersebut. Apakah kado Natal, parcel, atau gratifikasi? Ah saya bukan pejabat, siapa berkepentingan memberi gratifikasi pada saya? Andai itu gratifikasi, apa pula kepentingannya pada saya yang tak punya ‘kuasa’?

Saya memang punya jabatan kepala, tapi itu merupakan jabatan lumrah setiap lelaki normal. Ya kepala rumah tangga adalah jabatan resmiku. Heeyyy….saya tak boleh berprasangka buruk dengan memunculkan pemikiran tentang relasi kekuasaan dan gratifikasi. Mungkin saja memang tak ada hubungan antara gratifikasi dan kekuasaan. Mungkin ya, mungkin tak.

Dengan penuh tanda tanya dan mencoba meramu kajian filsafat gratifikasi (biar kelihatan serem dan intelektual, pakai istilah filsafat) saya buka paket misteri yang saya ‘curigai’ gratifikasi itu.

Wooouuw ternyata, sebuah produk senirupa berupa tas gendong dari bahan kanvas yang di-print karya perupa Putu Edy Asparanggi. Tapi mengapa, tiba-tiba ada semacam gangguan proses ‘paranoia’. Ah….saya tak mau gejala ini disebut sebagai gangguan, ini sama artinya ada persoalan psikis secara permanen.

Saya tak mau menderita paranoia permanen. Saya hanya ingin menderita paranoia dalam hitungan detik. Itu menandakan saraf kritisku masih sehat. Itu saja.

Tapi gejala paranoia ini masih pelan-pelan merambat di nadi. Apa ini gratifikasi atau bukan? Pertanyaan itu masih bermunculan. Tidak mungkin Putu Edy memberi gratifikasi pada saya, karena saya bukan kepala lingkungan yang bisa menutup jalan desa untuk kepentingan Putu Edy. Dia sudah memiliki Art Space yang apik di daerah Ubud. Di tepi jalan. Jadi gugurlah stigma gratifikasi dalam relasi persahabatan saya dengan Putu Edy.

Dengan rasa bahagia dan tak merasa jadi korban gratifikasi, saya amati tas yang bergambarkan karya rupa Putu Edy. Sembari mengamati karya rupa itu, pikiran saya melayang-layang soal gratifikasi tadi.

Dulu, waktu saya masih sekolah dasar, tak kenal kata-kata gratifikasi. Saya hanya kenal dua pengertian yang artinya berdekatan dengan gratifikasi. Yang berkonotasi positif adalah ‘pemberian’, ‘hadiah’, dan beberapa kata lainnya. Yang berkonotasi negative, ‘sogokan’, ‘suap’. ‘salam tempel’, dan lain-lain. Terus yang berada di tengah-tengah, bisa berarti positif atau negatif adalah ‘tip’, ‘imbalan’, dan beberapa kata lainnya.

Dan masih banyak lagi padanan kata yang artinya sama dengan gratifikasi. Baik yang berkonotasi positif, maupun negatif. Saya tak hendak mengkaji lebih dalam soal penempatan kata-kata tersebut. Semuanya tergantung kepentingan pemakainya. Maksudnya, orang yang menyuap bisa saja berdalih memberi hadiah. Dan kendali logika kata itu, kembali pada pemikiran penggunanya.

Yang tertanam dalam tempurung kepala saya sejak kecil adalah bahwa ‘memberi’ dan ‘menerima’ adalah merupakan hubungan yang erat dalam etik pergaulan.

Sepertinya, pada perkembangan selanjutnya — demi kepentingan tertentu, relasi antara ‘memberi’ dan ‘menerima’ – dimanipulir. Etik pergauluan bergeser ke kepentingan. Korban dari tabiat me-‘manipulasi’ relasi antara ‘memberi’ dan ‘menerima’ itu adalah negara dan masyarakat luas. Soal korban ini, akan kita telisik di kesempatan lain.

Waduh….kenapa waktu sekolah dasar, saya tak cerdas untuk mengembangkan pengertian ‘memberi’ dan ‘menerima’. Atau setidaknya belajar ‘memanipulir’ pengertian itu untuk kepentingan sendiri. Menyontek teman sebang saat ulangan, kemudian mentraktirnya di kantin, misalnya. Ah…tapi syukur juga bahwa saya tak belajar meng-‘korupsi’ kepercayaan guru pada saat itu. Yang artinya, saya tak sedang belajar memakai ‘rompi oranje’.

Lho..lho…lho kenapa saya jadi melupakan pemberian Putu Edy? Bahkan lupa berterima kasih. Oke, ucapan terima kasih kutitipkan pada angin yang bertiup menuju Batubulan, Ubud sampai Tampaksiring. Di ujung bulan Desember ini, tentu arah menuju Ubud agak macet. Semoga angin yang membawa ucapan terima kasih itu tak terhenti di Banjar Delod Tangluk – Sukawati, tempat Nyoman Erawan bermukim.

Tapi saya percaya kekuatan angin dalam menembus hambatan kokoh lewat celah-celah yang tampak maupun tak tampak. Saya jadi ingin belajar pada angin.

Saya masih mengamati cenderamata berupa tas pemberian Putu Edy. Ingatan 5 tahun lalu lantas meloncat dari tempurung kepala. Tahun 2012, putri saya mengajak untuk melihat pameran Andy Warhol di ArtScience Museum, Marina Bay Sands – Singapura.

Pameran apresiasi yang disponsori oleh The Bank of New York Mellon, The Andy Warhol Museum, dan Andy Warhol Foundation for the Visual Arts itu juga menjual cenderamata, kaos, buku-buku, produk-produk sablon, dan repro benda-benda memorable lainnya. Pameran ini untuk memperingati 25 tahun kematiannya.

Andy Warhol dan benda-benda memorable

Dalam dunia pop art, Warhol menjadi inspirasi bagi banyak seniman. Ia, seperti ‘menghancurkan’ pola pikir kebudayaan Eropa yang terlalu lama mendominasi dunia dan meng’sakral-sakral’kan karya seni. Ia menciptakan frasa ’15 minute of fame’. “Di masa depan, semua orang akan menjadi terkenal di dunia selama 15 menit”, begitu kata-kata Warhol.

Berpijak dari kata-kata Warhol itulah, maka pameran yang dibuka tgl 17 Maret 2012 itu bertajuk “Andy Warhol: 15 Minutes Eternal”. Pameran tersebut, menampilkan lebih dari 260 lukisan, gambar, patung, film, dan video karya sang seniman legendaris. Pameran juga disertai berbagai dokumen terkait, jadwal interaktif, foto, dan bahan-bahan arsip.

BACA JUGA:

  • Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul
  • Curangologi: Filsafat Curang Seri 2 – Sekuni Milenial
  • Curangologi: Filsafat Curang Seri 3 – Paleokultur

Pelukis Amerika Andy Warhol, yang memiliki nama asli Andrew Warhol (6 Agustus 1928-22 Februari 1987), merupakan seorang pelukis, seniman grafis, dan pembuat film. Dia adalah tokoh terkemuka dalam gerakan seni rupa yang dikenal sebagai pop art. Warhol terkenal karena menggunakan produksi massal budaya populer, seperti iklan, buku komik, dan produk merek, sebagai dasar dari seni. Ia juga mempopulerkan karya seni sebagai produk massal lewat sablon, cetak saring, repro, print dan semacamnya. Warhol, seperti mengaburkan batas karya seni dan ilustrasi.

Tapi, ia tak peduli itu. Karyanya yang bertajuk ‘Rorschach’, yang ia buat tahun 1980 dengan warna monokrom dan menggunakan cat air di atas kanvas berukuran besar, dianggap suatu kesalahan fatal bagi pengamat seni konvensional (yang berpikir linear?). Namun, setelah Warhol tiada, banyak kritikus seni dunia memuji karya tersebut. Salah satunya kritikus. Rosalind E.Krauss.

Ia mengatakan ‘Rorschach’ adalah gumpalan seni abstrak Warhol yang mengaburkan batas seni. “Setiap penikmat, bermain psikolog dan menganalisa setiap noda dari simetris yang berubah-ubah,” ujar Krauss

Putu Edy, dan beberapa perupa lainnya apakah (mungkin) ingin mengikuti jejak Warhol, dengan menyesuaikan era kekinian/milenial yang memang condong ke pop art (dan sesuai dengan frasa nya; ’15 minute of fame’)?

Wah…pertanyaan itu bukan saya yang harus menjawab, kembali ke Putu Edy dan teman-teman perupa lainnya, tentunya. Yang jelas, kiriman paket dari Putu Edy bukanlah gratifikasi, melainkan apresiasi (sama-sama berakhiran ‘i’ kan?). Semoga saya dijauhkan dengan kata (dan mungkin mahluk) yang bernama gratifikasi tersebut. Kalau gravitasi is oke. Karena saya memang masih membutuhkan gaya tarik bumi. Agar tak ‘melangit’. Lho, judul di atas kayaknya gak nyambung deh…maafin deh..ya. (T/dari berbagai sumber dan dari tempurung kepala)

Tags: cinderamatagratifikasiSeni Rupa
Share2TweetSendShareSend
Previous Post

Trotoar dan Hal Remeh yang Terasa Hilang – Cerita Kecil dari Desa Wisata

Next Post

Liburan di Yogya

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Liburan di Yogya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co