24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menunggu Kabar Ibu

Komang Astiari by Komang Astiari
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Komang Astiari

 

Cerpen: Komang Astiari

SUNGGUH sebuah rutinitas yang tidak mengherankan. Selalu, pagi-pagiku aku sambut dengan girang, kegirangan karena menunggu kabar ibu. Kabar yang kubayangkan muncul tanpa perlu diundang dengan gambaran indah wajah bulatnya yang ayu.

Meskipun usia ibu sudah lebih dari setengah abad, aku masih mengagumi wajahnya sebagai sebuah lukisan terindah, bak garis pantai menenangkan hati. Kedua bola mata ibu berwarna coklat, tatapannya dalam menyelidik. Ibu adalah sosok yang peka. Barangkali ketika menciptakannya, Tuhan sedang membayangkan surga atau nyayian merdu kidung Samarandana. Berkedip pun rasanya tak sanggup.

Lantai terlalu dingin untuk telapak kakiku yang sudah dingin sejak bangun tadi, terlalu empuk kasur ini untuk kutinggalkan demi sebuah rutinitas yang menunggu-nunggu di depan sana. Diam-diam aku mengatakan, tunggulah barang satu menit saja. Aku sedang menunggu kabar dari ibu.

Ada ribuan kata yang hendak keluar seolah tak sabar menunggu gilirannya. Banyak cerita tercatat dalam ingatan, semuanya berisi kesedihan, kegalauan hati. Aku tahu ibu pun sudah paham apa yang ingin aku ucapkan. Rela memberikan kedua daun telinganya untuk mendengarkan keluhanku. Setiap mengakhiri pembicaraan, ada satu pesan ibu, pesan penuh makna, tentang menjadi cantik.

“Perhiasan, pakaian indah, bisa menjadikan fisikmu cantik, tapi yang lebih penting jadilah cantik karena hatimu” kata ibu.

Ibu juga sering bercerita tentang Tuhan. Di dunia ini, kata ibu, Tuhan seakan punya hutang pada manusia. Manusia banyak menuntut, seolah Tuhan melakukan kesalahan terbesar saat tidak mengabulkannya. Manusia mengumpat Tuhan atas takdirnya yang getir.

“Tuhan itu letaknya di hati, engkau hanya melakukan hal yang sia-sia telah mengumpat hatimu sendiri. Hati kotor butuh waktu dan pengertian untuk mengembalikan keindahan serta kecantikannya” tutur ibu.

Detik berlalu, suara ibu masih tergiang, namun kini raganya tidak ada di sini. Masih kuingat kisah tentang hari-hari kemarin. Hari-hari dengan suasana hati yang tak menyenangkan. Aku ingin memutuskan pikiranku pada keburukan-keburukan yang hadir dalam kehidupanku. Ada beban. Ada kecewa. Ketidaknyamanan secara tidak sopan masuk diam-diam ke dalam hati.

Aku merasa aku pantas menunggu ibu, tapi ibu tidak akan datang. Ibu hanya bisa menghubungiku lewat telepon atau video call. Kami akan berbicara tentang pagi, tentang cuaca yang bahkan masih sama seperti kemarin-kemarin. Tentang langit, ibu sering berkisah, ada udara yang tak kasat mata, namun mampu kaurasakan, itu adalah cinta kasih.

Hati ibu ibarat udara. Udara bagiku, mustahil hidup tanpanya. Tak satu haripun aku sanggup kehilangannya. Ada suara tak bisa aku dengar, ibu sering memintaku untuk belajar, menyentuh kata hati. Kata ibu, di sana semua jawaban akan aku temukan.

Yang dinantikan tiba, dering telepon berbunyi, di layar nampak nama ibu. Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku, buru-buru kupencet tombol hijau. Suara merdu itu menyapa dari kejauhan. Mendengar satu patah kata darimu saja cukup membuatku merasa lebih tenang. Ada riak api yang bergitu dahsyat lalu padam tiba-tiba.

Aku seperti nelayan yang hendak berlabuh setelah perjalanan panjang. Aku bak bayi yang merindukan selimut di musim dingin, ketika suara ibu menyapa ramah dan lembut.

Keluhanku klise. Tentang sekolah. Tentang pacar. Tentang nilai. Tentang teman. Tentang musuh. Tentang Mowgle, anjing kesayanganku, yang sering buang air besar di mana-mana yang sering membuatku kewalahan. Terlalu sepele, barangkali jika aku bandingkan dengan beban berat yang dipikul ibu.

Aku tahu aku secara tidak sengaja telah meletakkan batu besar di atas pundaknya yang kecil. Aku paham ibu mungkin saja tidak mampu memikul hal kecil sekalipun karena di atas pundak itu ada memar-memar yang sulit sembuh karena terlalu lama menanggung beban. Terlalu banyak.

Dalam pikiranku, jauh dalam pikiranku, aku membaca keinginan ibu bahwa dia pun berharap kasih sayang. Itu saja. Namun ada ego yang besar, yang menjajahku untuk senantiasa mendahulukan beban-bebanku daripada beban-bebannya. Mendorong mulutku untuk berkata apapun daripada mendengar kata-kata ibu.

Ibu, aku nyaman. Maka aku mohon biarkan kenyamanan ini berada di atas ketidaknyamananmu. Aku tahu ibu mencari rasa hangat agar bisa terus melangkah, tapi kepentinganku jauh lebih besar, ibu. Maka dengarkanlah apa yang menjadi  keluh kesahku.

Aku bertengkar dengan Rendy, pacarku tadi malam. Kami jadian baru dua bulan tapi dia begitu egois. Ibu, jangan tutup telepon ini dulu. Aku masih ingin bicara dari hati ke hati. Aku merindukan jalan keluar darimu, kata-katamu yang menyejukkan. Aku merindukan suara bidadarimu, sehingga sirna sudah beban-beban dalam kepalaku. Itu saja.

Aku tahu ibu belum makan, saat waktu makan tiba, aku minta ibu menunda dulu. Kadang ceritaku yang terlalu panjang ini menyita semua waktu makan siangmu. Tinggallah ibu dan perut kosongmu untuk melanjutkan perjalananmu mencari materi untukku.

Ibu tolong kali ini dengarkan aku lagi. Aku tidak tahan berhadapan dengan para teman yang selalu mengejek aku miskin. Aku tidak  menuntutmu untuk memberikan aku uang yang banyak,.ibu. Aku hanya ingin mengatakan aku tidak tahan, itu saja. Maka hanya dengarkan saja keluhanku, jangan biarkan hatimu mengambil kata-kata yang menyakitkan ini karena aku tahu bebanmu terlalu berat, maka selepas kubercerita, buanglah jauh-jauh energi negatif dariku agar esok hari, damai itu masih ada dalam hatimu, ibu.

Satu lagi tentang pagi yang terlalu dingin, selimut yang tidak tebal dan mulai menipis. Aku sering malas beranjak dari tempat tidur, ingin malas-malasan sepanjang hari. Andai saja ada ibu  di sini, aku bisa memintamu untuk melakukan semua untukku. Aku merasa senang meskipun kesenanganku menjajah kesenanganmu.

Ibu, sedikit lagi. Tadi siang ketika melintas di depan butik Meyra, aku melihat sebuah dress hitam dan casual. Aku jatuh cinta pada dress itu. Ibu, aku ingin membelinya, tapi harganya terlalu mahal. Andai aku punya pekerjaan paruh waktu ,bisalah kiranya kubeli dress itu dengan uangku, bukan uangmu.

Setengah jam sudah. Ibu, sekarang waktumu untuk bercerita. Aku mau mendengar tentang suasana kantor, pekerjaanmu atau hari-hari yang engkau hadapi. Dengan tersenyum, seperti biasa kamu berkata, semua baik-baik saja.

Kecupan lembut dari seberang sana mengakhiri. Ada desir angin. Lalu kembali sepi. Aku benci suasana ini. Aku benci ketika sang waktu memberikanku rasa sepi itu lagi. Ada keinginan untuk selalu mendengar suara ibu. Meskipun dari jauh. Karena sepiku akan sirna. Wajah kubenamkan di atas bantal. Aku terisak pelan. Lalu isakku semakin lama semakin pelan. Malam membungkusku dengan mimpi.

Ketika terbangun, dengan segera aku beranjak dari atas kasur. Aku kesiangan. Biasanya aku bangun pukul 5 pagi, ini sudah 30 menit lewat dari pukul 5 pagi. Kenapa tak ada satu suara pun yang membangunkanku?

Segera kubereskan selimut, kasur, dan bergegas menuju dapur. Ada seorang wanita yang nampaknya sudah memulai aktivitasnya sedari pagi tadi. Berdaster merah, berwajah garang, seolah hendak menelanku hidup-hidup. Aku gemetar, aku tahu apa yang menjadi konsekuensi dari bangun kesiangan, tidak ada sarapan pagi dan bekal untuk ke sekolah hari ini.

Dia berkata dengan wajah murka yang tidak dibuat-buat. “Ibu mau kamu cuci piring itu , menyapu halaman rumah, menguras  bak mandi!”

“Tapi, Bu, aku akan terlambat ke sekolah jika melakukan itu semua!”

“Hukuman. Karena bangun kesiangan. Hukuman adalah hukuman!”

Aku bergegas menuju kamar mandi, menangis pelan, nyaris tidak terdengar. Sesuai perintahnya, aku bersihkan bak mandi yang penuh jentik itu. Kugosok pelan dan berusaha berdendang tapi tidak mampu, aku lapar, terlalu lapar untuk melakukan pekerjaan ini.  Pelan-pelan aku berharap,

“Ibu, telepon aku. Aku membutuhkanmu saat ini, Ibu….Ibu….!” Berulang-ulang kusebutkan nama itu sambil terisak “Ibu…Ibu…”

Namun hanya sunyi. (T)

Tags: Cerpen
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

“Nandu” dan “Nandur” – Siapakah Pemilik Tanah yang Kita Tanami?

Next Post

Buleleng Mimpi Bandara dan Kapal Terbang, Datangnya Kapal Laut Raksasa

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post

Buleleng Mimpi Bandara dan Kapal Terbang, Datangnya Kapal Laut Raksasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co