13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menunggu Kabar Ibu

Komang Astiari by Komang Astiari
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Komang Astiari

 

Cerpen: Komang Astiari

SUNGGUH sebuah rutinitas yang tidak mengherankan. Selalu, pagi-pagiku aku sambut dengan girang, kegirangan karena menunggu kabar ibu. Kabar yang kubayangkan muncul tanpa perlu diundang dengan gambaran indah wajah bulatnya yang ayu.

Meskipun usia ibu sudah lebih dari setengah abad, aku masih mengagumi wajahnya sebagai sebuah lukisan terindah, bak garis pantai menenangkan hati. Kedua bola mata ibu berwarna coklat, tatapannya dalam menyelidik. Ibu adalah sosok yang peka. Barangkali ketika menciptakannya, Tuhan sedang membayangkan surga atau nyayian merdu kidung Samarandana. Berkedip pun rasanya tak sanggup.

Lantai terlalu dingin untuk telapak kakiku yang sudah dingin sejak bangun tadi, terlalu empuk kasur ini untuk kutinggalkan demi sebuah rutinitas yang menunggu-nunggu di depan sana. Diam-diam aku mengatakan, tunggulah barang satu menit saja. Aku sedang menunggu kabar dari ibu.

Ada ribuan kata yang hendak keluar seolah tak sabar menunggu gilirannya. Banyak cerita tercatat dalam ingatan, semuanya berisi kesedihan, kegalauan hati. Aku tahu ibu pun sudah paham apa yang ingin aku ucapkan. Rela memberikan kedua daun telinganya untuk mendengarkan keluhanku. Setiap mengakhiri pembicaraan, ada satu pesan ibu, pesan penuh makna, tentang menjadi cantik.

“Perhiasan, pakaian indah, bisa menjadikan fisikmu cantik, tapi yang lebih penting jadilah cantik karena hatimu” kata ibu.

Ibu juga sering bercerita tentang Tuhan. Di dunia ini, kata ibu, Tuhan seakan punya hutang pada manusia. Manusia banyak menuntut, seolah Tuhan melakukan kesalahan terbesar saat tidak mengabulkannya. Manusia mengumpat Tuhan atas takdirnya yang getir.

“Tuhan itu letaknya di hati, engkau hanya melakukan hal yang sia-sia telah mengumpat hatimu sendiri. Hati kotor butuh waktu dan pengertian untuk mengembalikan keindahan serta kecantikannya” tutur ibu.

Detik berlalu, suara ibu masih tergiang, namun kini raganya tidak ada di sini. Masih kuingat kisah tentang hari-hari kemarin. Hari-hari dengan suasana hati yang tak menyenangkan. Aku ingin memutuskan pikiranku pada keburukan-keburukan yang hadir dalam kehidupanku. Ada beban. Ada kecewa. Ketidaknyamanan secara tidak sopan masuk diam-diam ke dalam hati.

Aku merasa aku pantas menunggu ibu, tapi ibu tidak akan datang. Ibu hanya bisa menghubungiku lewat telepon atau video call. Kami akan berbicara tentang pagi, tentang cuaca yang bahkan masih sama seperti kemarin-kemarin. Tentang langit, ibu sering berkisah, ada udara yang tak kasat mata, namun mampu kaurasakan, itu adalah cinta kasih.

Hati ibu ibarat udara. Udara bagiku, mustahil hidup tanpanya. Tak satu haripun aku sanggup kehilangannya. Ada suara tak bisa aku dengar, ibu sering memintaku untuk belajar, menyentuh kata hati. Kata ibu, di sana semua jawaban akan aku temukan.

Yang dinantikan tiba, dering telepon berbunyi, di layar nampak nama ibu. Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku, buru-buru kupencet tombol hijau. Suara merdu itu menyapa dari kejauhan. Mendengar satu patah kata darimu saja cukup membuatku merasa lebih tenang. Ada riak api yang bergitu dahsyat lalu padam tiba-tiba.

Aku seperti nelayan yang hendak berlabuh setelah perjalanan panjang. Aku bak bayi yang merindukan selimut di musim dingin, ketika suara ibu menyapa ramah dan lembut.

Keluhanku klise. Tentang sekolah. Tentang pacar. Tentang nilai. Tentang teman. Tentang musuh. Tentang Mowgle, anjing kesayanganku, yang sering buang air besar di mana-mana yang sering membuatku kewalahan. Terlalu sepele, barangkali jika aku bandingkan dengan beban berat yang dipikul ibu.

Aku tahu aku secara tidak sengaja telah meletakkan batu besar di atas pundaknya yang kecil. Aku paham ibu mungkin saja tidak mampu memikul hal kecil sekalipun karena di atas pundak itu ada memar-memar yang sulit sembuh karena terlalu lama menanggung beban. Terlalu banyak.

Dalam pikiranku, jauh dalam pikiranku, aku membaca keinginan ibu bahwa dia pun berharap kasih sayang. Itu saja. Namun ada ego yang besar, yang menjajahku untuk senantiasa mendahulukan beban-bebanku daripada beban-bebannya. Mendorong mulutku untuk berkata apapun daripada mendengar kata-kata ibu.

Ibu, aku nyaman. Maka aku mohon biarkan kenyamanan ini berada di atas ketidaknyamananmu. Aku tahu ibu mencari rasa hangat agar bisa terus melangkah, tapi kepentinganku jauh lebih besar, ibu. Maka dengarkanlah apa yang menjadi  keluh kesahku.

Aku bertengkar dengan Rendy, pacarku tadi malam. Kami jadian baru dua bulan tapi dia begitu egois. Ibu, jangan tutup telepon ini dulu. Aku masih ingin bicara dari hati ke hati. Aku merindukan jalan keluar darimu, kata-katamu yang menyejukkan. Aku merindukan suara bidadarimu, sehingga sirna sudah beban-beban dalam kepalaku. Itu saja.

Aku tahu ibu belum makan, saat waktu makan tiba, aku minta ibu menunda dulu. Kadang ceritaku yang terlalu panjang ini menyita semua waktu makan siangmu. Tinggallah ibu dan perut kosongmu untuk melanjutkan perjalananmu mencari materi untukku.

Ibu tolong kali ini dengarkan aku lagi. Aku tidak tahan berhadapan dengan para teman yang selalu mengejek aku miskin. Aku tidak  menuntutmu untuk memberikan aku uang yang banyak,.ibu. Aku hanya ingin mengatakan aku tidak tahan, itu saja. Maka hanya dengarkan saja keluhanku, jangan biarkan hatimu mengambil kata-kata yang menyakitkan ini karena aku tahu bebanmu terlalu berat, maka selepas kubercerita, buanglah jauh-jauh energi negatif dariku agar esok hari, damai itu masih ada dalam hatimu, ibu.

Satu lagi tentang pagi yang terlalu dingin, selimut yang tidak tebal dan mulai menipis. Aku sering malas beranjak dari tempat tidur, ingin malas-malasan sepanjang hari. Andai saja ada ibu  di sini, aku bisa memintamu untuk melakukan semua untukku. Aku merasa senang meskipun kesenanganku menjajah kesenanganmu.

Ibu, sedikit lagi. Tadi siang ketika melintas di depan butik Meyra, aku melihat sebuah dress hitam dan casual. Aku jatuh cinta pada dress itu. Ibu, aku ingin membelinya, tapi harganya terlalu mahal. Andai aku punya pekerjaan paruh waktu ,bisalah kiranya kubeli dress itu dengan uangku, bukan uangmu.

Setengah jam sudah. Ibu, sekarang waktumu untuk bercerita. Aku mau mendengar tentang suasana kantor, pekerjaanmu atau hari-hari yang engkau hadapi. Dengan tersenyum, seperti biasa kamu berkata, semua baik-baik saja.

Kecupan lembut dari seberang sana mengakhiri. Ada desir angin. Lalu kembali sepi. Aku benci suasana ini. Aku benci ketika sang waktu memberikanku rasa sepi itu lagi. Ada keinginan untuk selalu mendengar suara ibu. Meskipun dari jauh. Karena sepiku akan sirna. Wajah kubenamkan di atas bantal. Aku terisak pelan. Lalu isakku semakin lama semakin pelan. Malam membungkusku dengan mimpi.

Ketika terbangun, dengan segera aku beranjak dari atas kasur. Aku kesiangan. Biasanya aku bangun pukul 5 pagi, ini sudah 30 menit lewat dari pukul 5 pagi. Kenapa tak ada satu suara pun yang membangunkanku?

Segera kubereskan selimut, kasur, dan bergegas menuju dapur. Ada seorang wanita yang nampaknya sudah memulai aktivitasnya sedari pagi tadi. Berdaster merah, berwajah garang, seolah hendak menelanku hidup-hidup. Aku gemetar, aku tahu apa yang menjadi konsekuensi dari bangun kesiangan, tidak ada sarapan pagi dan bekal untuk ke sekolah hari ini.

Dia berkata dengan wajah murka yang tidak dibuat-buat. “Ibu mau kamu cuci piring itu , menyapu halaman rumah, menguras  bak mandi!”

“Tapi, Bu, aku akan terlambat ke sekolah jika melakukan itu semua!”

“Hukuman. Karena bangun kesiangan. Hukuman adalah hukuman!”

Aku bergegas menuju kamar mandi, menangis pelan, nyaris tidak terdengar. Sesuai perintahnya, aku bersihkan bak mandi yang penuh jentik itu. Kugosok pelan dan berusaha berdendang tapi tidak mampu, aku lapar, terlalu lapar untuk melakukan pekerjaan ini.  Pelan-pelan aku berharap,

“Ibu, telepon aku. Aku membutuhkanmu saat ini, Ibu….Ibu….!” Berulang-ulang kusebutkan nama itu sambil terisak “Ibu…Ibu…”

Namun hanya sunyi. (T)

Tags: Cerpen
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

“Nandu” dan “Nandur” – Siapakah Pemilik Tanah yang Kita Tanami?

Next Post

Buleleng Mimpi Bandara dan Kapal Terbang, Datangnya Kapal Laut Raksasa

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Buleleng Mimpi Bandara dan Kapal Terbang, Datangnya Kapal Laut Raksasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co