10 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menunggu Kabar Ibu

Komang Astiari by Komang Astiari
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Komang Astiari

 

Cerpen: Komang Astiari

SUNGGUH sebuah rutinitas yang tidak mengherankan. Selalu, pagi-pagiku aku sambut dengan girang, kegirangan karena menunggu kabar ibu. Kabar yang kubayangkan muncul tanpa perlu diundang dengan gambaran indah wajah bulatnya yang ayu.

Meskipun usia ibu sudah lebih dari setengah abad, aku masih mengagumi wajahnya sebagai sebuah lukisan terindah, bak garis pantai menenangkan hati. Kedua bola mata ibu berwarna coklat, tatapannya dalam menyelidik. Ibu adalah sosok yang peka. Barangkali ketika menciptakannya, Tuhan sedang membayangkan surga atau nyayian merdu kidung Samarandana. Berkedip pun rasanya tak sanggup.

Lantai terlalu dingin untuk telapak kakiku yang sudah dingin sejak bangun tadi, terlalu empuk kasur ini untuk kutinggalkan demi sebuah rutinitas yang menunggu-nunggu di depan sana. Diam-diam aku mengatakan, tunggulah barang satu menit saja. Aku sedang menunggu kabar dari ibu.

Ada ribuan kata yang hendak keluar seolah tak sabar menunggu gilirannya. Banyak cerita tercatat dalam ingatan, semuanya berisi kesedihan, kegalauan hati. Aku tahu ibu pun sudah paham apa yang ingin aku ucapkan. Rela memberikan kedua daun telinganya untuk mendengarkan keluhanku. Setiap mengakhiri pembicaraan, ada satu pesan ibu, pesan penuh makna, tentang menjadi cantik.

“Perhiasan, pakaian indah, bisa menjadikan fisikmu cantik, tapi yang lebih penting jadilah cantik karena hatimu” kata ibu.

Ibu juga sering bercerita tentang Tuhan. Di dunia ini, kata ibu, Tuhan seakan punya hutang pada manusia. Manusia banyak menuntut, seolah Tuhan melakukan kesalahan terbesar saat tidak mengabulkannya. Manusia mengumpat Tuhan atas takdirnya yang getir.

“Tuhan itu letaknya di hati, engkau hanya melakukan hal yang sia-sia telah mengumpat hatimu sendiri. Hati kotor butuh waktu dan pengertian untuk mengembalikan keindahan serta kecantikannya” tutur ibu.

Detik berlalu, suara ibu masih tergiang, namun kini raganya tidak ada di sini. Masih kuingat kisah tentang hari-hari kemarin. Hari-hari dengan suasana hati yang tak menyenangkan. Aku ingin memutuskan pikiranku pada keburukan-keburukan yang hadir dalam kehidupanku. Ada beban. Ada kecewa. Ketidaknyamanan secara tidak sopan masuk diam-diam ke dalam hati.

Aku merasa aku pantas menunggu ibu, tapi ibu tidak akan datang. Ibu hanya bisa menghubungiku lewat telepon atau video call. Kami akan berbicara tentang pagi, tentang cuaca yang bahkan masih sama seperti kemarin-kemarin. Tentang langit, ibu sering berkisah, ada udara yang tak kasat mata, namun mampu kaurasakan, itu adalah cinta kasih.

Hati ibu ibarat udara. Udara bagiku, mustahil hidup tanpanya. Tak satu haripun aku sanggup kehilangannya. Ada suara tak bisa aku dengar, ibu sering memintaku untuk belajar, menyentuh kata hati. Kata ibu, di sana semua jawaban akan aku temukan.

Yang dinantikan tiba, dering telepon berbunyi, di layar nampak nama ibu. Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku, buru-buru kupencet tombol hijau. Suara merdu itu menyapa dari kejauhan. Mendengar satu patah kata darimu saja cukup membuatku merasa lebih tenang. Ada riak api yang bergitu dahsyat lalu padam tiba-tiba.

Aku seperti nelayan yang hendak berlabuh setelah perjalanan panjang. Aku bak bayi yang merindukan selimut di musim dingin, ketika suara ibu menyapa ramah dan lembut.

Keluhanku klise. Tentang sekolah. Tentang pacar. Tentang nilai. Tentang teman. Tentang musuh. Tentang Mowgle, anjing kesayanganku, yang sering buang air besar di mana-mana yang sering membuatku kewalahan. Terlalu sepele, barangkali jika aku bandingkan dengan beban berat yang dipikul ibu.

Aku tahu aku secara tidak sengaja telah meletakkan batu besar di atas pundaknya yang kecil. Aku paham ibu mungkin saja tidak mampu memikul hal kecil sekalipun karena di atas pundak itu ada memar-memar yang sulit sembuh karena terlalu lama menanggung beban. Terlalu banyak.

Dalam pikiranku, jauh dalam pikiranku, aku membaca keinginan ibu bahwa dia pun berharap kasih sayang. Itu saja. Namun ada ego yang besar, yang menjajahku untuk senantiasa mendahulukan beban-bebanku daripada beban-bebannya. Mendorong mulutku untuk berkata apapun daripada mendengar kata-kata ibu.

Ibu, aku nyaman. Maka aku mohon biarkan kenyamanan ini berada di atas ketidaknyamananmu. Aku tahu ibu mencari rasa hangat agar bisa terus melangkah, tapi kepentinganku jauh lebih besar, ibu. Maka dengarkanlah apa yang menjadi  keluh kesahku.

Aku bertengkar dengan Rendy, pacarku tadi malam. Kami jadian baru dua bulan tapi dia begitu egois. Ibu, jangan tutup telepon ini dulu. Aku masih ingin bicara dari hati ke hati. Aku merindukan jalan keluar darimu, kata-katamu yang menyejukkan. Aku merindukan suara bidadarimu, sehingga sirna sudah beban-beban dalam kepalaku. Itu saja.

Aku tahu ibu belum makan, saat waktu makan tiba, aku minta ibu menunda dulu. Kadang ceritaku yang terlalu panjang ini menyita semua waktu makan siangmu. Tinggallah ibu dan perut kosongmu untuk melanjutkan perjalananmu mencari materi untukku.

Ibu tolong kali ini dengarkan aku lagi. Aku tidak tahan berhadapan dengan para teman yang selalu mengejek aku miskin. Aku tidak  menuntutmu untuk memberikan aku uang yang banyak,.ibu. Aku hanya ingin mengatakan aku tidak tahan, itu saja. Maka hanya dengarkan saja keluhanku, jangan biarkan hatimu mengambil kata-kata yang menyakitkan ini karena aku tahu bebanmu terlalu berat, maka selepas kubercerita, buanglah jauh-jauh energi negatif dariku agar esok hari, damai itu masih ada dalam hatimu, ibu.

Satu lagi tentang pagi yang terlalu dingin, selimut yang tidak tebal dan mulai menipis. Aku sering malas beranjak dari tempat tidur, ingin malas-malasan sepanjang hari. Andai saja ada ibu  di sini, aku bisa memintamu untuk melakukan semua untukku. Aku merasa senang meskipun kesenanganku menjajah kesenanganmu.

Ibu, sedikit lagi. Tadi siang ketika melintas di depan butik Meyra, aku melihat sebuah dress hitam dan casual. Aku jatuh cinta pada dress itu. Ibu, aku ingin membelinya, tapi harganya terlalu mahal. Andai aku punya pekerjaan paruh waktu ,bisalah kiranya kubeli dress itu dengan uangku, bukan uangmu.

Setengah jam sudah. Ibu, sekarang waktumu untuk bercerita. Aku mau mendengar tentang suasana kantor, pekerjaanmu atau hari-hari yang engkau hadapi. Dengan tersenyum, seperti biasa kamu berkata, semua baik-baik saja.

Kecupan lembut dari seberang sana mengakhiri. Ada desir angin. Lalu kembali sepi. Aku benci suasana ini. Aku benci ketika sang waktu memberikanku rasa sepi itu lagi. Ada keinginan untuk selalu mendengar suara ibu. Meskipun dari jauh. Karena sepiku akan sirna. Wajah kubenamkan di atas bantal. Aku terisak pelan. Lalu isakku semakin lama semakin pelan. Malam membungkusku dengan mimpi.

Ketika terbangun, dengan segera aku beranjak dari atas kasur. Aku kesiangan. Biasanya aku bangun pukul 5 pagi, ini sudah 30 menit lewat dari pukul 5 pagi. Kenapa tak ada satu suara pun yang membangunkanku?

Segera kubereskan selimut, kasur, dan bergegas menuju dapur. Ada seorang wanita yang nampaknya sudah memulai aktivitasnya sedari pagi tadi. Berdaster merah, berwajah garang, seolah hendak menelanku hidup-hidup. Aku gemetar, aku tahu apa yang menjadi konsekuensi dari bangun kesiangan, tidak ada sarapan pagi dan bekal untuk ke sekolah hari ini.

Dia berkata dengan wajah murka yang tidak dibuat-buat. “Ibu mau kamu cuci piring itu , menyapu halaman rumah, menguras  bak mandi!”

“Tapi, Bu, aku akan terlambat ke sekolah jika melakukan itu semua!”

“Hukuman. Karena bangun kesiangan. Hukuman adalah hukuman!”

Aku bergegas menuju kamar mandi, menangis pelan, nyaris tidak terdengar. Sesuai perintahnya, aku bersihkan bak mandi yang penuh jentik itu. Kugosok pelan dan berusaha berdendang tapi tidak mampu, aku lapar, terlalu lapar untuk melakukan pekerjaan ini.  Pelan-pelan aku berharap,

“Ibu, telepon aku. Aku membutuhkanmu saat ini, Ibu….Ibu….!” Berulang-ulang kusebutkan nama itu sambil terisak “Ibu…Ibu…”

Namun hanya sunyi. (T)

Tags: Cerpen
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

“Nandu” dan “Nandur” – Siapakah Pemilik Tanah yang Kita Tanami?

Next Post

Buleleng Mimpi Bandara dan Kapal Terbang, Datangnya Kapal Laut Raksasa

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails
Next Post

Buleleng Mimpi Bandara dan Kapal Terbang, Datangnya Kapal Laut Raksasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan
Pendidikan

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk...

by Wahyu Mahaputra
June 9, 2026
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong
Esai

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa
Pendidikan

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan...

by tatkala
June 8, 2026
Sihir Tiga Kode Huruf
Bahasa

Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

by I Made Sudiana
June 8, 2026
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari
Panggung

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam
Pariwisata

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia
Pameran

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang...

by Nyoman Budarsana
June 9, 2026
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022
Panggung

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co