14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsep Catur Guru, Pendidikan Karakter, dan Penanaman Nilai Anti Korupsi

Putu Raiwata Mertanjaya by Putu Raiwata Mertanjaya
February 2, 2018
in Opini

Foto ilustrasi: Sanggar Tindak Alit Badung. /Foto: Sulastriani Wayan

 

PENDIDIKAN adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU Sisdiknas).

Pendidikan merupakan suatu usaha nyata untuk membangun masa depan bangsa ke arah yang lebih baik. Pendidikan yang baik bukan hanya mengedepankan intelektualitas, tapi juga menuntut pembangunan karakter. Pendidikan karakter inilah yang dituntut oleh pemerintah melalui penerapan Kurikulum 2013 (K-13).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dapat pula diartikan sebagai tabiat atau watak. Menurut W.B. Saunders, karakter merupakan sifat nyata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu. Karakter dapat dilihat dari berbagai macam atribut yang ada dalam pola tingkah laku individu.

Karakter seseorang pada dasarnya dibentuk melalui proses yang sangat panjang. Karakter ini terbentuk dari kontak langsung dengan lingkungan terdekat, bukan dibawa sejak lahir. Jika seseorang dibesarkan di lingkungan yang keras, maka karakter yang terbentuk juga keras. Jika seseorang berada di lingkungan yang lembut, maka karakter yang terbentuk juga lembut. Sama halnya dengan mengajari burung beo berkicau. Jika beo tersebut dipelihara oleh orang yang terus–menerus berbicara kasar, maka beo tersebut akan fasih berbicara kasar.

Karakter seorang anak juga seperti itu. Kalau anak tersebut melihat orang tuanya berkata kasar, bertindak kasar, apalagi secara terus menerus, maka sang anak akan menganggap itu semua sebagai hal yang biasa dan sah untuk dilakukan.

Pembentukan dan pendidikan karakter seorang anak bukan hanya tanggung jawab lingkungan sekolah, tetapi juga lingkungan keluarga dan lingkungan sosial lainnya yang dekat dengan kehidupan anak tersebut. Oleh sebab itu, orang tua, guru dan pihak sekolah, serta pemerintah harus berperan aktif dan bersinergi dalam penguatan pendidikan karakter.

Dalam budaya dan agama Hindu Bali, dikenal adanya konsep Catur Guru. Catur berarti empat, sedangkan Guru berarti orang yang memberikan pengetahuan. Jadi, Catur Guru dapat diartikan empat guru yang mengajarkan manusia tentang kehidupan serta nilai-nilai yang lekat dengan kehidupan itu sendiri. Kearifan lokal ini perlu kita amalkan lagi apalagi di tengah-tengah kampanye pemerintah untuk menguatkan kembali pendidikan karakter.

Catur Guru ini meliputi Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa, dan Guru Swadyaya. Inilah empat guru yang berperan besar dalam mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan pembentukan karakter seorang manusia.

Guru yang pertama adalah Guru Rupaka. Guru Rupaka berarti guru yang ngerupaka atau ngereka yang membuat seseorang dari tidak ada menjadi ada. Beliau adalah orang tua kita. Beliau berjasa besar dalam kehidupan seorang manusia. Beliaulah orang yang telah melahirkan kita, senantiasa melindungi kita dari bahaya, memberikan makan dan minum, membuat upacara-upacara keagamaan untuk kita, serta mengajarkan kita nilai-nilai kehidupan. Guru Rupaka adalah pendidik paling pertama dan utama.

Pembentukan karakter manusia dimulai dari lingkungan keluarga dan ro­le model-nya tentu saja orang tua. Seorang anak akan melihat dan merekam setiap perbuatan, tutur kata, serta pemikiran dari orang tuanya. Ingatlah peribahasa: “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Artinya, sifat seorang anak tidak akan jauh berbeda dari orang tuanya. Oleh sebab itu, sebagai orang tua hendaknya memberikan contoh Tri Kaya Parisudha kepada anaknya.

Berkata yang baik (Wacika) akan membuat anak ikut berkata-kata yang baik. Berbuat yang baik (Kayika) akan menjadikan anak juga berbuat yang baik. Contoh perbuatan yang baik ini, misalnya selalu mematuhi peraturan yang berlaku, tidak melakukan korupsi, dan lain sebagainya. Berpikir yang baik (Manacika) akan membuat anak berpikir secara jernih dulu sebelum berkata ataupun bertindak.

Lingkungan keluarga adalah sekolah pertama dalam pembentukan karakter. Seorang anak akan terbentuk karakternya dari kehidupan di lingkungan keluarga. Dari kecil haruslah ditumbuhkan kesadaran akan kepemilikan (sense of belonging). Mana yang menjadi hak milik pribadi dan hak milik kelompok/golongan/masyarakat/publik harus dibedakan secara jelas. Anak harus diajarkan untuk berkata jujur. Walaupun terkadang kejujuran itu menyakitkan, bukan?

Jangan ajarkan anak untuk mengejar hasil saja dengan mengesampingkan proses. Kadang orang tua bersaing satu sama lain perihal predikat juara sang anak. Sehingga sang anak akan berusaha mendapatkan nilai besar dengan cara apapun. Jangan biasakan anak untuk me-mark up harga. Misalnya, kalau harga buku tulis Rp. 18.000 jangan katakan Rp. 20.000. Kadangkala, hal-hal kecil seperti inilah yang menjadi bibit-bibit korupsi di masa depan.

Guru yang kedua adalah Guru Pengajian yang mengajarkan kita ilmu-ilmu dan pengajaran di sekolah formal. Pendidikan di sekolah ini melanjutkan pendidikan karakter yang sudah terbentuk di rumah. Dengan belajar di sekolah, diharapkan karakter seorang murid menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Namun, sekolah bukanlah tempat utama dalam pembentukan karakter. Seorang anak datang ke sekolah sudah dengan karakter yang dibentuk di rumah. Sulit mengubah karakter seseorang, perlu usaha yang lebih. Oleh sebab itu, pihak sekolah maupun keluarga harus saling bahu-membahu, bersinergi dalam pembentukan dan penguatan karakter seorang anak.

Pada masa sekarang, pendidikan karakter sedang hangat-hangatnya dilakukan di sekolah. Penerapan Kurikulum 2013 (K-13) adalah bukti sahihnya. Dengan tajuk Revolusi Mental yang didengungkan oleh pemerintah, sekolah diharapkan lebih mengedepankan pendidikan karakter daripada nilai atau angka yang tertera di raport.

Bahkan saking antusiasnya, sudah beredar Mars Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang sudah beredar di grup-grup Whatsapp sekolah. Karakter yang termuat dalam Mars PPK antara lain Religius, Nasionalis, Integritas, Mandiri, dan Gotong Royong. Penguatan karakter-karakter tersebut diharapkan untuk membentuk insan Indonesia yang berbudi luhur, beretika, bermoral, dan tidak melakukan korupsi tentunya. Tapi, bukankah lebih baik karakter itu diamalkan oleh seseorang daripada hanya didendangkan saja?

Guru yang ketiga adalah Guru Wisesa atau Pemerintah. Tentu saja pemerintah yang dimaksud adalah sesuai dengan Trias Politica, dimana kekuasaan dipisah pada 3 (tiga) lembaga, yaitu Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Lembaga legislatif adalah lembaga yang bertugas membuat hukum, contohnya MPR, DPR, dan DPRD. Eksekutif adalah lembaga yang bertanggung jawab untuk menjalankan kebijakan atau hukum, contohnya Presiden, Gubernur, dan Bupati. Yudikatif adalah lembaga yang bertugas untuk mempertahankan pelaksanaan undang-undang, contohnya Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MK), dan yang lainnya.

Guru Wisesa atau pemerintah inilah yang menjadi panutan serta pamong masyarakat. Setiap orang akan menilai bagaimana tindak tanduk pemerintah ini. Baik anggota dewan, seorang Bupati, maupun hakim tidak luput dari perhatian “Netizen Zaman Now”. Apalagi dengan peranan media elektronik, media cetak, maupun media sosial yang ada sekarang. Kasus Papa misalnya, sudah menyedot perhatian semua masyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya (Netizen). Entah itu pakar hukum, pakar ekonomi, pakar pendidikan, maupun pakar gossip ikut membicarakannya. Inilah gambaran bagaimana hebatnya peranan teknologi di masa sekarang ini.

Berita yang beredar di televisi, media cetak, maupun media sosial akan memberikan pengetahuan secara langsung maupun tidak langsung kepada seorang anak. Bagaimana mungkin seorang anak bisa paham dengan nilai anti korupsi, jika pemerintahan yang dilihatnya penuh dengan korupsi? Bagaimana mungkin seorang anak tidak terpengaruh dengan korupsi, apabila koruptor dapat melenggang dengan mudah bahkan tak tersentuh hukum?

Pemerintah, baik itu legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, harus menjadi role model bagi masyarakat untuk dapat menciptakan good governance, pemerintahan yang transparan, bersih dan anti terhadap korupsi. Dengan demikian, terbentuk sinergi yang baik antara keluarga, sekolah, maupun pemerintah dalam mewujudkan karakter yang baik dan nilai anti korupsi dapat ditanamkan.

Guru yang keempat adalah Guru Swadyaya. Guru Swadyaya ini adalah Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran akan adanya Tuhan dan hukum sebab-akibat atau hukum Karma-Phala harus ditanamkan kepada seorang anak. “You reap what you sow”. Artinya, Apa yang kau tabur, itu yang kau petik. Seorang anak harus diajarkan bahwa setiap perbuatan pasti akan ada konsekuensinya. Dalam hukum karma-phala, setiap karma (perbuatan) akan menerima phala (buah/hasil) yang sesuai, entah sekarang, di masa yang akan datang, maupun di kehidupan mendatang.

Sir Isaac Newton pun menyatakannya lewat Hukum III Newton yang berbunyi: “untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah”. Kalau anda pernah memukul, anda akan menerima pukulan. Kalau anda rajin merawat pohon, anda akan menerima buahnya. Kalau anda korupsi, anda akan menjadi artis dalam berita-berita kriminal. Oh ya, ditunggu juga sinema religi dengan judul “Azab Sang Koruptor”. Dengan demikian mungkin emak-emak kekinian bisa mengajarkan sang anak untuk tidak korupsi. (T)

Catatan: Esai ini peserta Lomba Festival Anti Korupsi Bali 2017

Tags: Festival Anti Korupsi BaliguruKorupsiPendidikan
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Pentas Emoni: Ketut Garing Masih Garing

Next Post

Level IV (Awas) Gunung Korupsi di Indonesia

Putu Raiwata Mertanjaya

Putu Raiwata Mertanjaya

Guru honorer di sebuah SMP di Negara, Jembrana. Alumni Jurusan Pendidikan Kimia di Undiksha Singaraja.

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post

Level IV (Awas) Gunung Korupsi di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co