12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebiasaan Baik Wartawan: Ingkar Janji pada Istri

Komang Yudha by Komang Yudha
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diolah dari sejumlah sumber materi di Google

 

BANYAK orang berkata, jika kita berjanji harus segera ditepati. Apalagi ingkar janji sama pacar, jika tak ingin ditinggal nikah. Apalagi sama istri dan anak, jika tak ingin mereka bersedih.

Kata-kata itu tampaknya kurang berpengaruh bagi kami, setidaknya saya sendiri, yang bekerja sebagai wartawan di media massa. Saya mah biasa ingkar janji pada istri dan anak-anak, dan saya biasa sedih melihat mereka sedih.

Saya sering sekali berjanji  kepada istri dan keluarga kecil saya. Misalnya, suatu kali, saya janji ngajak mereka liburan di suatu tempat. Persiapan sudah dilakukan, barang-barang sudah di-packing sedemikian rupa, kendaraan sudah siap meluncur ke tempat liburan.

Tiba-tiba apa yang terjadi? HP bunyi. Seseorang mengabarkan, “Di wilayah Gitgit, jalur Denpasar-Singaraja, ada musibah tanah longsor yang lumayan besar. Arus lalu lintas lumpuh total.”

Dengan berat hati, atau hati yang berat, saya minta maaf sama istri jika piknik ditunda. Saya melaju perlahan kea rah Gitgit, meliput bencana tanah longsor pada jam dan hari yang bertepatan dengan jadwal kami berlibur. Dalam pikiran saya, betapa saya menyesal telah mengingkari janji yang saya buat sendiri besama istri dan keluarga.

Jadi, saya pilih kerja, bukan liburan. Jika pilih liburan, lalu media lain menyiarkan berita longsor besar-besaran, lalu redaktur bertanya saya ke mana, masak saya jawab “Sori, lagi liburan, Bos!”

Beruntung, istri dan keluarga saya masih mengerti posisi yang saya alami. Tapi bagaimana jika sayaingkar janji pada leluhur atau kawitan?

Hari itu, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, di kawitan saya kebetulan merayakan odalan di setiap malam Kuningan. Jauh-jauh hari saya sudah berkomitmen untuk sembahyang bersama keluarga besar. Di malam yang suci itu, kami berangkat menuju Pura Kawitan.

Tapi musibah tak mengenal hari raya atau hari suci.

Tepat saat mau sembahyang, tiba-tiba HP bunyi. Seorang teman menelepon. Katanya ada musibah bus terbalik di wilayah Desa Pumahan, Sukasada. Sekitar 15 orang dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi luka cukup serius.

Dengan berat hati saya mengingkari janji sembahyang terhadap leluhur saya dengan memilih liputan bus terbalik itu. Dengan pakaian sembahyang, dan meninggalkan keluarga di Pura Kawitan, saya cus ke lokasi kejadian.

Bisa dibayangkan coba, bagaimana berdosanya saya.. Janji sembahyang di pura leluhur saja saya ingkari, apalagi janji yang lain.

Tapi di balik semua itu ada hikmah yang saya rasakan selama ini. Pikiran saya tetaplah positif. Istri bisa paham, leluhur tak mungkin marah pada keturunannya yang bekerja untuk hidup. Maka, saya belajar banyak hal. Belajar memaklumi, belajar memahami pekerjaan dengan baik, belajar memahami hidup bersama orang yang amat dikenal seperti istri dan keluarga sekaligus belajar memahami hidup bersama orang-orang tak dikenal semisal narasumber berita.

Ingkar janji pada istri bisa dianggap sebagai kebiasaan baik. Tentu saja setelah istri paham pekerjaan suami, dan suami tak menyalahgunakan kepercayaan istri. Jangan sampai tiba-tiba keluar memenuhi janji sama teman ke tempat hiburan malam, eh, ngakunya liputan berita. Begitu ketahuan, eh, bilangnya tugas dari kantor untuk wawancara waitress pemandu lagu.

Istri yang mengerti, dengan segala kekuatannya untuk jadi korban ingkar, harus dihargai dengan segera mencari waktu luang untuk menebus ingkar. Atau dengan memanfaatkan waktu di rumah dengan sebaik-baiknya. Jadikan waktu istirahat di rumah sebagai waktu yang bermutu bersama istri dan anak-anak.

Dari semua itu, saya belajar paham bahwa menjadi wartawan itu tidak mudah, apalagi wartawan sekelas kontributor wilayah yang harus siap tempur dalam kondisi dan situasi apa pun. Karena tidak mudah, maka belajar terus adalah keharusan. Sekaligus belajar terus menenangkan istri dan keluarga.

Coba ditanya ke beberapa wartawan,lebih takut dimarah pimpinan redaksi atau dimarah pacar atau istri? Kebanyakan akan jawab lebih takut dimarah pimpinan redaksi.  Bagi seorang wartawan, perintah atau tugas dari redaksi adalah raja yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. Belum lagi ikut campurnya sejumlah pihak di luar redaksi.

Kadang kala masyarakat awam belum banyak tahu resiko bekerja di dunia jurnalistik. Bukan hanya resiko seringnya terpaksa ingkar janji sama istri. Tapi ancaman yang lebih gawat.

Mereka anggap kita para pencari berita bekerja dengan santai, berpakain bebas atau dengan seragam kantor, ke sana-sini bawa kamera, dekat dengan pejabat. Namun di balik hal itu, ada ancaman besar yang mengahantui mereka.

Ancamannya bukan dimarahi istri. Tapi bisa saja ancamannya nyawa, jika kinerja tak bagus dan asal-asalan dalam membuat berita, misalnya bikin berita dengan data tak jelas tanpa minta konfirmasi secara langsung dari sumber-sumber terpercaya.

Saya kerap melihat sejumlah orang sok jago, sok punya pengetahuan luas dengan mengupload sinformasi tak jelas di media sosial. Dengan begitu mereka merasa bangga karena menganggap dirinya telah ikut membangun suatu wilayah, misalnya dengan mengunggah info dengan kata-kata mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kata hatinya.

Padahal, apa yang dilakukannya bisa saja membuat kegaduhan lain yang justru tak menyelesaikan persoalan. Misalnya ada yang mengunggah foto jalan rusak di desa, lalu diisi tulisan, “Jalan rusak, perbekel ke mana ini. Tak becus!”

Dalam hati kecil saya tertawa, orang ini baru bisa membuat status begitu saja sudah bangga sekali jadi orang, dan merasa ikut membangun desa. Bukan meremehkan dan saya bukannya sombong. Bekerja di dunia jurnalistik sekaligus ikut membangun wilayah itu tidaklah semudah nulis status di media sosial.

Wartawan dan media massa bekerja dengan aturan yang harus dipelajari dan dipahami dengan baik. Wartawan dan media massa, bukan sombong, tentu ikut membangun daerahnya. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan akhir. Namun bagaimana nantinya para pemirsa, pembaca, dan pendengar, mendapat sajian berita menarik dari hasil ketikan tangan dan gambar yang jelas dan bisa dipercaya.

Untuk tujuan itulah kami, para wartawan, kerap ingkar janji pada istri. (T)

Tags: jurnalismeKeluargamedia massaprofesiwartawan
Share167TweetSendShareSend
Previous Post

Generasi Pelurus Bangsa

Next Post

Kerampokan Negeri Pertiwi

Komang Yudha

Komang Yudha

Lahir di Buleleng., bercita-cita membangun desa, eh, bukannya jadi kepala desa, malah jadi wartawan

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Kerampokan Negeri Pertiwi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co