25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Agung Terbangun, Solidaritas Orang Bali Mesti Terus Terbangun – Tanpa atau Sambil Selfie

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 2, 2018
in Opini

Kegiatan relawan hingga malam hari di posko pengungsian Gunung Agung. /Foto: Kardian

 

GUNUNG AGUNG tidak hanya bangun dari tidurnya , tapi juga membangunkan solidaritas orang Bali. Kira-kira begitu bunyi status facebook yang aku tulis beberapa hari lalu. Bukan tanpa alasan, tapi memang itu yang aku rasakan. Kendati sedang tidak di Bali, getaran solidaritas itu cukup hangat hingga tiba di Malang.

Gunung Agung mungkin sedang mengingatkan orang Bali bukan hanya tentang alam. Bukan hanya tentang sebuah siklus mengerikan yang jauh setelahnya akan berbuah anugerah. Gunung Agung mungkin sedang mengingatkan orang Bali tentang semangat menyama braya yang dia rasa kian memudar. Gunung Agung mungkin sedang mengistirahatkan sejenak orang Bali dari berbagai konflik. Konflik rumah tangga, urusan pekerjaan, bahkan mungkin konflik pasangan yang sedang pacaran viagadget (LDR).

Sejak tanggal 22 September 2017 kira-kira pukul 20.30 WITA, status Gunung Agung resmi ditingkatkan ke level IV (awas). Sederhananya, menurut pandangan awam, Gunung Agung sudah pasti meletus, tinggal tunggu waktunya kapan. Sejak malam itu, arus pengungsi bergerak dari kawasan rawan bencana dengan radius 12 km dari puncak Gunung Agung ke seluruh kabupaten di Bali.

Apa yang terjadi setelahnya? Esok harinya, atau mungkin juga sudah dari malam itu, mulai bermunculan flyerdi mesia sosial tentang pembukaan donasi untuk para pengungsi. Bahkan, aku ingat, aku sempat membaca flyer pengumpulan donasi sebelum Gunung Agung ada di level awas, di instagram.

Lambat laun, penggalangan donasi itu semakin masif. Beraneka rupa bentuknya. Dari penyebaran flyeropen donation di media sosial, turun ke jalan, juga ada ngamen bareng. Mungkin masih banyak lagi. Itu dilakukan oleh banyak kalangan lintas profesi. Tidak memandang tua muda. Bahkan, aku lihat, di facebook anak SD pun turut menyumbang. Satu lagi, yang paling mengesankan, di instagram aku baca seorang nenek paruh baya mendatangi posko bantuan, juga untuk berdonasi.

Donasinya, beraneka rupa. Dari kebutuhan sandang dan pangan, hingga keperluan emosional. Semua itu mengalir dengan cepat dan hangat. Di media sosial dan banyak grup instant messagebahkan banyak tulisan tentang permohonan informasi posko pengungsian yang belum tersentuh bantuan, tentang posko yang kekurangan bantuan.

Apa artinya? Mereka bukan hanya ingin sekadar berdonasi, tapi memang ingin membantu, tepat sasaran.Selain uang dan barang, tidak kalah banyak juga teman-temanku di Bali langsung ngayah di posko pengungsian. Membantu memasak, mengajar, menghibur, dan masih banyak lagi. Bahkan, ada juga yang memberikan tempat untuk penitipan ternak warga yang ditinggal pergi mengungsi oleh pemiliknya. Banyak, sangat banyak.

Wali Kota Denpasar, Rai Mantra, datang dengan busung dan slepan. Unik, aku baca di instagram, katanya agar para pengungsi tidak bosan, diam, tidak produktif. Betul juga, ini salah satu penghilang kebosanan, dengan fakta di pengungsian pasti membosankan, terutama bagi Ibu-Ibu. Di Bali, orang tua tidak akan stress karena pekerjaan, mereka justru akan stress kalau sedang diam. Mungkin fenomena itu yang disadari oleh Pak Walikota.

Sekolah-sekolah di Denpasar pun, setahuku, dan mungkin juga ada di kabupaten lain, menerima anak usia sekolah untuk bersekolah sementara sesuai dengan satuan pendidikan mereka. Bijak, iya bijak, karena pendidikan tidak boleh dibatasi apapun, termasuk bencana. Dan yang paling penting, mereka tidak dipungut biaya, gratis. Sekolah-sekolah itu paham, nilai kemanusiaan jauh di atas materi, seberapapun banyaknya.

Lalu, aku berpikir, Bali sedang benar-benar menyatu. Semua seperti memiliki Karangasem sebagai bagian darinya. Media sosial akhirnya digunakan merekatkan, setelah selama ini sering memanaskan, bahkan cenderung memecah. Media sosial dimanfaatkan dengan bijak, untuk menggalang donasi, dan menyebarkan pesan solidaritas.

Namun, tadi siang aku membaca sebuah post instagram di akun infobadung, ada seorang anak kecil yang memegang kertas manila putih bertuliskan “Jangan Jadikan Bencana Ajang Cari Muka, Peduli Tak Harus Diumbar”. Benar, aku sepakat dengan tulisan itu. Tapi, penulis itu semestinya sadar bahwa yang dia/mereka tulis mungkin saja menjadi antiklimaks gerakan solidaritas ini.

Aku berpendapat begini, kalau mengunggah foto yang sedang menggalang atau memberi bantuan di media sosial dianggap mencari muka, lalu media apa yang bisa digunakan oleh para donatur untuk menyebarkan semangat optimisme dan solidaritasnya. Di era Kali Yuga, aku pikir semangat positif mutlak harus ditularkan.

Bagiku ini bukan perkara cari muka, tapi tentang penularan solidaritas. Bagiku memang peduli tak harus diumbar, tapi itu cara untuk melaporkan kepada para donatur kemana dan untuk apa saja uang dan barang yang mereka donasikan.

Kalaupun, kemungkinan terburuk, memang itu untuk cari muka, aku pikir sebaiknya itu menjadi urusan si pencari muka. Sebaiknya si penulis tidak menyebarkan psimisme di tengah situasi begini. Ya, bagiku itu pesan pesimisme.

Kenapa media sosial? Aku pikir itu solusi yang paling murah dan sederhana di era digital. Mohon maaf, aku justru berpikir si penulis itu belum siap menerima kemajuan era digital, pikirannya masih belum terbuka. Tidakkah dia/mereka malu dengan nenek dan anak SD yang ku sebutkan di atas? Tapi begini, mengutip post dari akun instagram@rarekual_topeng yang berbunyi “berbuat baik pun nu ade nak nyelekang, sing masalah tooo”, jadi diamkan saja. Bagiku, mari terus bergerak, bagi kita yang pintu keikhlasan dan kemanusiannya masih bisa diketuk.

Terakhir, aku berharap Gunung Agung sedang bersandiwara. Dia tidak sungguh ingin melontarkan isinya ke permukaan. Dia pun tidak sungguh ingin memberi bencana. Tetapi, aku harap, dia hanya sekadar ingin mengingatkan orang Bali tentang makna menyama braya. Agar Bali selalu damai dan dilingkupi kehangatan persaudaraan yang kuat di bawah lindungan Hyang Widhi.

Rahayu, salam dari Kota Malang. (T)

Tags: balierupsiGunung Agungmedia sosialsolidaritas
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Gerakan Moral “Keluarga Asuh Pengungsi Gunung Agung” – Sebuah Gagasan

Next Post

Cinta Suci “Di Bawah Letusan Gunung Agung” – Membaca Novel Djelantik Santha

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Cinta Suci "Di Bawah Letusan Gunung Agung" – Membaca Novel Djelantik Santha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co