2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laut, Aku Bercerita Padamu

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Kabul Ketut Suasana

 

Cerpen: Devy Gita

LAUT, aku datang lagi. Kembali menduduki pasirmu yang kasar. memandangimu yang sedang tenang saat ini. Hembusan angin menggelitik pipiku lalu menelusup di belakang telinga. Kau selalu bisa memanjakanku dengan caramu. Karena itu, aku selalu datang dan datang lagi. Aku harap kau senang. Mudah-mudahan begitu. Sebab, aku tak tahu lagi ke mana aku akan pergi jika kau bosan padaku dan pada cerita-ceritaku.

Seperti biasa, aku akan berdiam di bawah pohon kelapa yang kuharap kali ini tidak membuatku terkejut. Kemarin, dia menjatuhkan buahnya tepat di sebelahku. Itu cukup membuatku terlonjak. Lain kali, mintalah dia menjatuhkan buahnya yang masih muda. Agar aku bisa menikmati segarnya. Itupun kalau aku bisa membelahnya.

Aku selalu menumpahkan isi kepalaku kepadamu, laut. Kali ini pun begitu. Senja ini, saat matahari perlihatkan semburat jingga aku sudah siap dengan kisahku. Bukan lagi kisah tentang orang tuaku yang tidak harmonis. Pasti kau sudah bosan dengan keluhku pasal rumah yang selalu sunyi sehingga membuatku kosong hingga aku selalu berlari padamu.

Lalu apa? Kau mulai penasaran, mulai bertanya-tanya apakah yang akan gadis aneh ini sampaikan. Well, aku bertemu seseorang. Ya, seorang pria. Bertemu dengannya di tempat biasa aku mengamen bersama puisi-puisiku. Dia ada di sana. Aku bagai tersihir. Tak bisa berhenti menatapnya. Dia lebih indah dari puisi yang kulantunkan bersama gitarku. Ekor mataku mengikuti kemanapun dia bergerak. Aku tidak pernah seperti ini. Kau tahu itu kan?

Dia bagai medan magnet, dan aku tertarik ke arahnya. Kami berasal dari kutub yang berbeda mungkin. Tarikan kosmis? Aku tak pernah dengar, yang aku mengerti, napasku seperti berhenti, seolah ada puluhan tentara menderapkan kaki mereka di dadaku, serta ratusan kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Mungkin kau akan mengatakan kalau aku sangat berlebihan. Tapi aku tak merasa seperti itu.

Pria itu ada di sana, saat aku memetik gitarku. Dia tidak tinggi untuk ukuran seorang pria. Kulitnya gelap dengan rambut yang rapi. Hei, dia menyapa semua orang. Mereka pun seperti sudah sangat mengenal laki-laki dengan kumis dan jenggot tipisnya itu. Tapi, kenapa aku baru kali ini menyadari kehadirannya?

Nama? Laut, kau bertanya siapa namanya? Kau tertawa saat aku mengatakan aku hanya berani menatapnya dari jauh. Bahkan, aku tidak sempat berkata halo saat itu. Aku tidak sepenakut itu, kau tahu. Ya, ya, aku tidak langsung menyapanya. Aku bertanya tentangnya pada seseorang. Kau benar, laut, nyaliku belum terlalu besar untuk bertanya langsung padanya. Tertawalah sepuasmu.

Namanya, Sakti. Dyama Sakti Wijaya. Nama yang indah bukan? Aku menelusurinya di media sosial. Tidak sulit menemukannya. Tiba-tiba aku merasa semakin rendah diri. Seperti remah-remah biskuit, terjatuh ke tanah, terinjak kemudian tersapu angin. Wow, apakah aku semenyedihkan itu? Bagaimana menurutmu, laut? Mudah-mudahan saja tidak, karena aku memberanikan diri untuk menyapanya di media sosial. Setidaknya perkembangan yang positif. Aku meleleh, dia begitu ramah. Dia memang ramah pada semua orang. Aku mulai menyusut, lagi..

Tidak seperti diriku, entah dari mana asalnya nyali ini, aku berkunjung ke tempat tinggalnya. Aku merayunya? Hmm.. Aku tidak pandai merayu. Kami bercakap, semakin dekat, semakin dekat. Kami berpeluk.. Aku bagai mendapatkan sayap. Energi yang aku tidak mengerti menjalar dari telapak kakiku. Naik perlahan berhenti di dalam perutku, berputar dan merangkak memeras dadaku. Aku terlonjak.

“Kau seorang istri, seharusnya berada di rumah dan mengurus anak!”

“Lalu, uang akan datang darimana jika kau sendiri sebagai suami tidak menafkahi?”

Tiba-tiba aku terpekik, dia kaget. Aku teringat orang tuaku, suasana rumahku. Ayah dan ibuku yang saling tidak bicara. Kalaupun mereka bicara hanya ada teriakan, cacian. Aku tidak boleh mencintai siapapun. Aku tak boleh jatuh ke pelukan siapapun. Mereka membuatku muak akan cinta. Akupun terisak. Sakti menciumi keningku. Turun pelan menyentuh bibirku. Memelukku semakin erat, mataku terpejam. Tidak, laut, aku belum menyerahkan diriku sepenuhnya.

Tenang saja, aku masih ingat akan diriku. Aku tidak mau mengulang tragedi yang terjadi pada ibu. Harus menikah di usianya yang sangat muda, melahirkanku, kehilangan separuh hidup dan mengubur mimpinya.

Lantas? Biarkan aku bernapas sebentar sebelum aku melanjutkan kisahku. Saat ini bayangan ayah yang mengendap-endap dalam kepalaku. Dia pulang dalam keadaan mabuk lagi malam kemarin, sementara ibuku belum tiba di rumah. Aku mengunci diriku di dalam kamar. Ayah melempar barang-barang yang ada di luar. Dia belum lagi mendapatkan pekerjaan, wanita simpanannya merongrongnya, lalu dia mengosongkan dompet ibu.

Airmataku sudah beku akan kelakuan mereka. Apa yang mereka pertahankan? Sebaiknya mereka berpisah saja. Atau aku saja yang pergi dari mereka?

Semakin dingin saja, andai Sakti ada di sini berpeluk denganku. Aku masih merasakan napasnya, detak jantungnya. Bayanganku pada dekapnya semakin nyalang. Liar, Sakti mulai menghujam kecupan pada sekujur tubuhku. Aku membeku, kaku.

“Mintalah perempuan jalang itu mengurusmu, jangan aku!”

“Setidaknya perempuan itu lebih bernafsu, dari pada kau!”

Kututup telingaku, sial.. Nafsu? Sakti memandangku penuh tanya. Matanya indah menyusuri wajah dan leherku. Ini bukan cinta, tidak ada cinta di antara kami. Aku sebatas mengaguminya. Mereka menyebutnya nafsu, aku belum mengerti. Sakti mendekapku tak membiarkanku pergi. Menahanku penuh pesona. Aku berbisik di telinganya:

Belum ku memuja. Hanya terkesima. Kau tenang saja, waktu takkan memaksa. Bait-bait terlantun untukmu. Rinai dan pelangi kan bertemu. Mungkin bagimu semu. Saat kau buat tubuhku kaku.

“Apa alasanmu, menahanku?” tanyaku lirih

“Aku tak perlu alasan untuk setiap tindakanku.” jawabnya

Ranjangnya berderit saat aku beranjak dan melepaskan pelukannya. Dia bergeming, kami saling tatap. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Kami bukan siapa-siapa tapi sama-sama menikmati sentuhan itu. Ini salah, aku tahu kau menyalahkanku, laut. Dia tidak menganggapku siapa-siapa, namun aku mengijinkannya mennyentuhku, menciumku dan sialnya aku menyukainya. Perempuan macam apa aku ini? Aku tidak peduli.

Aku sedang menghukum diriku, atau mungkin sedang memberikan liburan pada tubuh dan jiwaku. Mereka terlalu jenuh akan cinta palsu dari orang tua palsu yang berpura-pura saling mencintai di depan semua orang. Aku menikmati sentuhan tanpa cinta sebab aku tidak mengijinkan diriku untuk mencintai. Untuk apa cinta dan status jika kita bisa menari di atas tubuh satu sama lain? Ikatan bagiku hanya ilusi. Bukan ketakutan, hanya saja bagiku itu semua semu. Aku tak percaya cinta, yang ada nafsu untuk menguasai satu sama lain. Menguasai jiwa dan juga raga.  Jatuh cinta, terikat, bosan, penghianatan. Itu-itu saja.

Di sinilah aku sekarang, bercerita padamu di bawah terang rembulan. Masih sendiri seperti biasa. Ditemani hanya deburan pelan ombakmu dan bisikkan angin malam. Di mana Sakti? Aku tak tahu dan sedang tak ingin tahu. Dan kau tahu aku berbohong soal itu kan? Sakti bukan siapa-siapa, rindu tak bertali tapi dia mengikatku dengan ajaib. Rindu itu pun akan lepas, terbang, hilang. (T)

Denpasar, 26 Juli 2017

Tags: Cerpen
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

“Susah Ya, Gak Ada Orang Jawa” – Sebuah Catatan Budaya

Next Post

Putri Maestro Gde Manik Miskin – Apakah Tari Teruna Jaya Tak Menghasilkan Royalti?

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Putri Maestro Gde Manik Miskin – Apakah Tari Teruna Jaya Tak Menghasilkan Royalti?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co