13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laut, Aku Bercerita Padamu

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Kabul Ketut Suasana

 

Cerpen: Devy Gita

LAUT, aku datang lagi. Kembali menduduki pasirmu yang kasar. memandangimu yang sedang tenang saat ini. Hembusan angin menggelitik pipiku lalu menelusup di belakang telinga. Kau selalu bisa memanjakanku dengan caramu. Karena itu, aku selalu datang dan datang lagi. Aku harap kau senang. Mudah-mudahan begitu. Sebab, aku tak tahu lagi ke mana aku akan pergi jika kau bosan padaku dan pada cerita-ceritaku.

Seperti biasa, aku akan berdiam di bawah pohon kelapa yang kuharap kali ini tidak membuatku terkejut. Kemarin, dia menjatuhkan buahnya tepat di sebelahku. Itu cukup membuatku terlonjak. Lain kali, mintalah dia menjatuhkan buahnya yang masih muda. Agar aku bisa menikmati segarnya. Itupun kalau aku bisa membelahnya.

Aku selalu menumpahkan isi kepalaku kepadamu, laut. Kali ini pun begitu. Senja ini, saat matahari perlihatkan semburat jingga aku sudah siap dengan kisahku. Bukan lagi kisah tentang orang tuaku yang tidak harmonis. Pasti kau sudah bosan dengan keluhku pasal rumah yang selalu sunyi sehingga membuatku kosong hingga aku selalu berlari padamu.

Lalu apa? Kau mulai penasaran, mulai bertanya-tanya apakah yang akan gadis aneh ini sampaikan. Well, aku bertemu seseorang. Ya, seorang pria. Bertemu dengannya di tempat biasa aku mengamen bersama puisi-puisiku. Dia ada di sana. Aku bagai tersihir. Tak bisa berhenti menatapnya. Dia lebih indah dari puisi yang kulantunkan bersama gitarku. Ekor mataku mengikuti kemanapun dia bergerak. Aku tidak pernah seperti ini. Kau tahu itu kan?

Dia bagai medan magnet, dan aku tertarik ke arahnya. Kami berasal dari kutub yang berbeda mungkin. Tarikan kosmis? Aku tak pernah dengar, yang aku mengerti, napasku seperti berhenti, seolah ada puluhan tentara menderapkan kaki mereka di dadaku, serta ratusan kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Mungkin kau akan mengatakan kalau aku sangat berlebihan. Tapi aku tak merasa seperti itu.

Pria itu ada di sana, saat aku memetik gitarku. Dia tidak tinggi untuk ukuran seorang pria. Kulitnya gelap dengan rambut yang rapi. Hei, dia menyapa semua orang. Mereka pun seperti sudah sangat mengenal laki-laki dengan kumis dan jenggot tipisnya itu. Tapi, kenapa aku baru kali ini menyadari kehadirannya?

Nama? Laut, kau bertanya siapa namanya? Kau tertawa saat aku mengatakan aku hanya berani menatapnya dari jauh. Bahkan, aku tidak sempat berkata halo saat itu. Aku tidak sepenakut itu, kau tahu. Ya, ya, aku tidak langsung menyapanya. Aku bertanya tentangnya pada seseorang. Kau benar, laut, nyaliku belum terlalu besar untuk bertanya langsung padanya. Tertawalah sepuasmu.

Namanya, Sakti. Dyama Sakti Wijaya. Nama yang indah bukan? Aku menelusurinya di media sosial. Tidak sulit menemukannya. Tiba-tiba aku merasa semakin rendah diri. Seperti remah-remah biskuit, terjatuh ke tanah, terinjak kemudian tersapu angin. Wow, apakah aku semenyedihkan itu? Bagaimana menurutmu, laut? Mudah-mudahan saja tidak, karena aku memberanikan diri untuk menyapanya di media sosial. Setidaknya perkembangan yang positif. Aku meleleh, dia begitu ramah. Dia memang ramah pada semua orang. Aku mulai menyusut, lagi..

Tidak seperti diriku, entah dari mana asalnya nyali ini, aku berkunjung ke tempat tinggalnya. Aku merayunya? Hmm.. Aku tidak pandai merayu. Kami bercakap, semakin dekat, semakin dekat. Kami berpeluk.. Aku bagai mendapatkan sayap. Energi yang aku tidak mengerti menjalar dari telapak kakiku. Naik perlahan berhenti di dalam perutku, berputar dan merangkak memeras dadaku. Aku terlonjak.

“Kau seorang istri, seharusnya berada di rumah dan mengurus anak!”

“Lalu, uang akan datang darimana jika kau sendiri sebagai suami tidak menafkahi?”

Tiba-tiba aku terpekik, dia kaget. Aku teringat orang tuaku, suasana rumahku. Ayah dan ibuku yang saling tidak bicara. Kalaupun mereka bicara hanya ada teriakan, cacian. Aku tidak boleh mencintai siapapun. Aku tak boleh jatuh ke pelukan siapapun. Mereka membuatku muak akan cinta. Akupun terisak. Sakti menciumi keningku. Turun pelan menyentuh bibirku. Memelukku semakin erat, mataku terpejam. Tidak, laut, aku belum menyerahkan diriku sepenuhnya.

Tenang saja, aku masih ingat akan diriku. Aku tidak mau mengulang tragedi yang terjadi pada ibu. Harus menikah di usianya yang sangat muda, melahirkanku, kehilangan separuh hidup dan mengubur mimpinya.

Lantas? Biarkan aku bernapas sebentar sebelum aku melanjutkan kisahku. Saat ini bayangan ayah yang mengendap-endap dalam kepalaku. Dia pulang dalam keadaan mabuk lagi malam kemarin, sementara ibuku belum tiba di rumah. Aku mengunci diriku di dalam kamar. Ayah melempar barang-barang yang ada di luar. Dia belum lagi mendapatkan pekerjaan, wanita simpanannya merongrongnya, lalu dia mengosongkan dompet ibu.

Airmataku sudah beku akan kelakuan mereka. Apa yang mereka pertahankan? Sebaiknya mereka berpisah saja. Atau aku saja yang pergi dari mereka?

Semakin dingin saja, andai Sakti ada di sini berpeluk denganku. Aku masih merasakan napasnya, detak jantungnya. Bayanganku pada dekapnya semakin nyalang. Liar, Sakti mulai menghujam kecupan pada sekujur tubuhku. Aku membeku, kaku.

“Mintalah perempuan jalang itu mengurusmu, jangan aku!”

“Setidaknya perempuan itu lebih bernafsu, dari pada kau!”

Kututup telingaku, sial.. Nafsu? Sakti memandangku penuh tanya. Matanya indah menyusuri wajah dan leherku. Ini bukan cinta, tidak ada cinta di antara kami. Aku sebatas mengaguminya. Mereka menyebutnya nafsu, aku belum mengerti. Sakti mendekapku tak membiarkanku pergi. Menahanku penuh pesona. Aku berbisik di telinganya:

Belum ku memuja. Hanya terkesima. Kau tenang saja, waktu takkan memaksa. Bait-bait terlantun untukmu. Rinai dan pelangi kan bertemu. Mungkin bagimu semu. Saat kau buat tubuhku kaku.

“Apa alasanmu, menahanku?” tanyaku lirih

“Aku tak perlu alasan untuk setiap tindakanku.” jawabnya

Ranjangnya berderit saat aku beranjak dan melepaskan pelukannya. Dia bergeming, kami saling tatap. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Kami bukan siapa-siapa tapi sama-sama menikmati sentuhan itu. Ini salah, aku tahu kau menyalahkanku, laut. Dia tidak menganggapku siapa-siapa, namun aku mengijinkannya mennyentuhku, menciumku dan sialnya aku menyukainya. Perempuan macam apa aku ini? Aku tidak peduli.

Aku sedang menghukum diriku, atau mungkin sedang memberikan liburan pada tubuh dan jiwaku. Mereka terlalu jenuh akan cinta palsu dari orang tua palsu yang berpura-pura saling mencintai di depan semua orang. Aku menikmati sentuhan tanpa cinta sebab aku tidak mengijinkan diriku untuk mencintai. Untuk apa cinta dan status jika kita bisa menari di atas tubuh satu sama lain? Ikatan bagiku hanya ilusi. Bukan ketakutan, hanya saja bagiku itu semua semu. Aku tak percaya cinta, yang ada nafsu untuk menguasai satu sama lain. Menguasai jiwa dan juga raga.  Jatuh cinta, terikat, bosan, penghianatan. Itu-itu saja.

Di sinilah aku sekarang, bercerita padamu di bawah terang rembulan. Masih sendiri seperti biasa. Ditemani hanya deburan pelan ombakmu dan bisikkan angin malam. Di mana Sakti? Aku tak tahu dan sedang tak ingin tahu. Dan kau tahu aku berbohong soal itu kan? Sakti bukan siapa-siapa, rindu tak bertali tapi dia mengikatku dengan ajaib. Rindu itu pun akan lepas, terbang, hilang. (T)

Denpasar, 26 Juli 2017

Tags: Cerpen
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

“Susah Ya, Gak Ada Orang Jawa” – Sebuah Catatan Budaya

Next Post

Putri Maestro Gde Manik Miskin – Apakah Tari Teruna Jaya Tak Menghasilkan Royalti?

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Putri Maestro Gde Manik Miskin – Apakah Tari Teruna Jaya Tak Menghasilkan Royalti?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co