22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Stadion Dipta Makin Ramah bagi PDIP – Antara Koster, Rai Mantra, dan Cerita Kostum Merah

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Rai Mantra (Bacagub Bali dari PDIP) bersalaman dengan pemain Bali United

 

STADION Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, kini bak berubah menjadi ladang pembantaian bagi lawan-lawan Bali United. Betapa tidak, dua kali menjalani laga kandang, skuat Serdadu Tridatu melumat tim tamu dengan skor mencolok. Pada Jumat (14/07/2017), anak asuh Jacksen F Tiago, Barito Putra, lebih awal dipermak Fadil Sausu dan kawan-kawan dengan skor 5-0.

Minggu (23/07/2018) giliran tim kuat “Ayam Jantan dari Timur” PSM Makassar diluluhlantahkan anak asuh Widodo C Putro dengan skor 3-0. Tiga gol masing-masing diceploskan oleh Marcos Flores menit ke-58 (penalti), Sylvano Comvalius menit ke-74, dan Miftahul Hamdi pada menit ke-88. Catatan rekor fantastis di kandang ini menumbuhkan rasa begitu angkernya Stadion Dipta. Tak kenal kompromi bagi tim lawan baik itu berstatus tim kuat apalagi tim lemah.

Di sisi lain, Stadion Dipta selalu menjadi tempat ramah bagi penonton atau fans. Tidak ada kegaduhan antar-suporter atau saling serang antar-fans, dan itu memang tidak dikenal di dalam maupun luar Stadion Dipta. Para Semeton Dewata atau apalah namanya yang selalu riuh dengan lagu atau chant mereka, membakar semangat para pemain Bali United di medan laga. Jumlah penonton yang datang langsung mencapai ribuan penonton di setiap laga. Angka yang belum pernah dicapai  kala tim Bali lainnya memilih berkandang di Stadion Dipta.

Maka, harap maklum, jumlah penonton yang selalu melimpah serta keramahan dan kenyamanan Stadion Dipta sengan seisinya ini membuat “kepincut” kalangan politikus. Kondisi itu dimanfaatkan betul oleh kalangan politikus, apalagi oleh bakal calon kepala daerah untuk menebarkan citranya.

Satu gambaran, pada laga kedua perempat final Piala Presiden antara Bali United kontra Arema Cronus pada 30 September 2015 lalu misalnya. Waktu itu, menurut panitia pelaksana (panpel), jumlah penonton yang hadir mencapai 30.000 penonton. Angka yang fantastis dan menggoreskan rekor baru dalam sejarah sepak bola di Bali dan menjadi yang terbanyak sejak stadion yang memiliki kapasitas 25.000 penonton ini. Bisa dihitung berapa suara yang bakal didulang “jika” seisi Stadion Dipta memilihnya. Seperti diketahui, total Daftar Penduduk Tetap (DPT) Bali mencapai 2.942.282.  Angka di stadion tentu belum lagi, pengaruh disiarkan live televisi.

Angka penonton yang selalu besar itu membuat para politikus dan calon gubernur kepincut. Para calon yang sebelumnya seakan punya jarak dengan hingar-bingar sepak bola, mendadak demam Bali United. Mereka sengaja meluangkan waktu datang ke Stadion Dipta.

Di zaman Bali United ini misalnya, sosok I Wayan Koster lebih dulu menonton langsung di Stadion Dipta. Ketua DPD PDI Perjuangan (PDIP) Bali ini menyaksikan Bali United saat meladeni Persipura Jayapura pada lanjutan Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016.

Nah, pada laga penuh big match Bali United melawan PSM Makassar, Minggu (23/07/2018), muncul bakal calon Gubernur (Cagub) Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra atau Rai Mantra. Ya, sosok yang kini bersaing dengan Koster mencari tanda tangan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi Cagub melalui kendaraan PDIP pada Pilgub Bali 2018.

Rai Mantra bahkan tak sekadar duduk menonton di VVIP bersama penonton “kelas wahid” lain, seperti Gary Neville (legenda Manchester United), namun menginjakkan kakinya di “altar suci” sepakbola. Rai Mantra pun seolah “masa bodoh” dengan suporter “garis keras” NSB12 yang dikenal terdepan menyampaikan aksi kritik, saran, dan protes serta mengontrol kebijakan-kebijakan  manajemen klub dan federasi yang dianggap “kotor”. Rai Mantra dengan santai menjalani seremoni jabat tangan dengan punggawa Serdadu Tridatu. Ya, kini, Stadion Dipta kini semakin ramah bagi PDIP. Apakah salah?

Kepungan Tokoh PDIP

Stadion Kapten I Wayan Dipta awalnya merupakan markas tim Persegi Persatuan Sepakbola (Persegi) Gianyar. Kostum atau jersey pemain Persegi Gianyar didominasi biru, bukan merah. Namun pada musim 2006/2017, Stadion Dipta menjadi kandang klub Persegi Bali FC. Kostum yang dipakai tim berjuluk “Laskar Kuda Jingkrak” ini dominan merah. Tradisi kostum merah di Stadion Dipta berlanjut.

Setelah vakum, muncul dualisme kompetisi, Bali memiliki tim bernama Bali Devata FC. Tim yang berlaga di Liga Primer Indonesia (LPI) dan Stadion Dipta menjadi homebase lagi. Kostum yang dipakai pun dominan merah. Puncaknya pada 2015, Bali United Pusam (BUP) yang kini resmi menyandang nama Bali United FC pindah homebase ke Stadion Dipta. Lagi-lagi, warna kostum yang dipakai Irfan Bachdim dan kawan-kawan merah.

Warna biru harus “rela” diganti warna merah. Sebagian tokoh di Gianyar pun yakin betul perubahan warna ini meredupkan prestasi tim Persegi Bali FC. Mereka juga paham betul ada taksu di balik warna biru. Selain itu ada aroma kental unsur politik perubahan warna biru menjadi merah. Dan kini, stadion yang dibangun tahun 2003 silam ini, sekarang benar-benar menjadi merah.

Mari kita telusuri lagi sejak kapan Stadion Dipta ramah dengan warna merah. Dalam kawah candradimuka perpolitikan, warna merah di Gianyar sebenarnya tidak se-digdaya di kabupaten/kota lain di Bali. Bahkan Gianyar pernah menjadi kandang Partai Golkar. Bak home base partai dengan warna dominan kuning, selain Kabupaten Karangasem dan Badung. Waktu itu, menjadi “noda” bagi PDIP untuk menguasai Bali seutuhnya.

Puncaknya, Tjokorda Gde Budi Suryawan (CBS) dedengkot Partai Golkar menjadi Bupati Gianyar dua periode 1993-2003. Usai menjabat sebagai Bupati Gianyar, CBS menjadi anggota DPRD Propinsi Bali. CBS juga menjabat Ketua DPD I Partai Golkar Bali. Bahkan Partai Golkar akhirnya memilih CBS sebagai calon gubernur (Cagub) Bali bersaing dengan I Made Mangku Pastika pada Pilgub Bali 2008.

PDIP sebenarnya mampu “menggulingkan” Golkar melalui duet AAG Agung Bharata dan I Dewa Putu Wardhana yang terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Gianyar 2003-2008, namun hanya satu periode. Dan Gianyar dipegang lagi oleh trah Partai Golkar dengan Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace dan Dewa Made Sutanaya yang terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Gianyar 2008-2013.

Nah, di sela-sela itulah, PDIP seolah tidak mau tinggal diam. PDIP bergerak melalui “invasi” ke dunia sepak bola. Langkahnya, mengambil lisensi Persegi Gianyar untuk berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia musim kompetisi 2006/2007. Nama Gianyar dihilangkan dan dikaburkan menjadi Bali FC, sehingga menjadi Persegi Bali FC. Home base tetap di Stadion Dipta yang secara pelan-pelan simbol-simbolnya  “diambilalih” dengan warna kebesaran PDIP.

Perubahan warna dimulai dengan sebuah yayasan, yaitu Yayasan Persegi Bali FC yang diisi hampir seluruhnya dari tokoh dan kader PDIP. Manajer Tim dipegang I Made Sumer (almarhum) yang saat itu menjadi Ketua DPC PDIP Badung berduet dengan IGN Wirasana (Ketua DPC PDIP Tabanan). Kemudian Ketua Yayasan dipegang I Wayan Candra (Ketua DPC PDIP Klungkung) dan I Gede Winasa (Ketua DPC PDIP Jembrana, waktu itu), Sekum dan Humas Wayan Nuastha (Anggota F PDIP DPRD Provinsi Bali).

Pendanaan pun mereka gotong-royong dari masing-masing kabupaten penyokong. Bahkan untuk membuktikan keseriusan dengan Persegi Bali FC, Winasa sebagai Bupati Jembrana dan Wirasana menjabat Wakil Bupati Tabanan) sepakat menggelontor dana APBD untuk keperluan tim. Winasa waktu itu siap mengucurkan dana sebesar Rp 500 juta.

Dalam perjalanan persepakbolaan, Persegi Bali FC menjadi tim yang  gagal berprestasi dan bertahan diri. Pada edisi Divisi Utama LI 2008/2009, Persegi Bali FC akhirnya mundur dengan alasan tidak memiliki dana. Mantan Manajer Persegi Bali FC, Made Sumer waktu itu beralasan, problem tim sangat kompleks. Selain masalah tunggakan gaji pemain selama tiga bulan, menanggung utang sebesar Rp 1,2 miliar, sisa masa sanksi FIFA juga membuat posisi Persegi Bali FC terjepit. Sumer juga saat itu mengaku ingin istirahat karena kondisi kesehatan.

Namun di balik Persegi Bali FC tersebut brand warna merah telah menancak dalam di Stadion Dipta. Bahkan kemudian dilanjutkan trend merah saat Bali Devata, dan kini menjadi warna pujaan Bali United.

Di sisi politik, Gianyar kembali di pangkuan PDIP dengan menempatkan AAG Agung Bharata dan I Made Mahayastra menjadi Bupati dan wakil Bupati sejak 2008-2018 atau dua periode. Dengan bupati dari PDIP, maka kepentingan partai untuk masuk ke ranah sepak bola sangat terbuka lebar. Apalagi menjelang Pilgub dan Pilkada Gianyar. Para calon bisa keluar masuk Stadion Dipta dengan berbagai agenda.

Contoh Koster dan Rai Mantra sudah menggambarkan Stadion Dipta begitu ramahnya bagi PDIP. Keduanya dengan mudah melihat lautan suara yang akan diperebutkan pada Pilgub Bali maupun Pilkada nanti. Bukan tidak mungkin, calon Gubernur atau Bupati yang lain tertarik masuk ke Stadion Dipta. Apalagi kompetisi Liga I baru akan masuk pada putaran kedua.

Kamuflase dan bungkusan agenda politik dalam dunia sepakbola sesungguhnya bukan rahasia umum lagi. Orang awam pun bisa membaca arah para calon yang datang langsung ke stadion. Niat meraih simpati, mencari suara, minimal melihat angka bruto pendukung dari ranah sepak bola. Namun, mudah-mudahan politikus dan calon kepala daerah justru mempelajari cara bermain dan aturan sepak bola positif. Menjunjung semangat fair play dan menaati aturan. Penonton dan pemain dipisahkan di tempat yang jelas. Tidak ada suporter Pilkada masuk ke stadion menggantikan peran penonton sepak bola.

FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia secara tegas menggarisbawahi dan warning politik dalam sepak bola. FIFA tegas, sepak bola adalah olah raga yang terbebas dari politik, atau alat politik kepentingan tertentu. Kampanye sikap netralitas sebagai tameng mengatasi batasan-batasan politis. Seperti ditulis Zen RS dalam Simulakra Sepak Bola (IBS:2016), netralitas akhirnya dijadikan alasan FIFA untuk mereduksi kemungkinan adanya friksi yang mungkin timbul antar-kelompok atau golongan.

Boleh saja punya afiliasi politik, tetapi selama 90 menit tidak boleh menunjukkan di lapangan hijau. Selama 90 menit, cukuplah 22 pemain dan 1 bola yang berada di lapangan. Selama 90 menit, cukuplah para suporter yang datang ke stadion melupakan identitas diri mereka sejenak dan merasa terhibur oleh keindahan permainan sepak bola. (T)

Tags: bali unitedPolitikRai MantrasepakbolaWayan Koster
Share181TweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Jomblo, Kenapa Pacaran jadi Asyik? – Ilmu Kimia Punya Cerita

Next Post

Novy Rainy #Sajak untuk Dena

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Novy Rainy #Sajak untuk Dena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co