14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyelamat Bapak

Oktaria Asmarani by Oktaria Asmarani
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Oktaria Asmarani

SETIAP pukul setengah lima pagi, bapak selalu keluar rumah lewat pintu samping. Ia hendak sembahyang. Agak aneh bagiku. Sebab sepengetahuanku, mestinya kami sembahyang tepat pukul enam. Setelah itu disusul enam jam kemudian, dan enam jam setelahnya lagi. Tapi entahlah, bapak tak pernah merasa ada yang salah dengan ritualnya tersebut.

Orang-orang di rumah sudah mafhum akan kebiasaan bapak. Kami tak akan terganggu walaupun pintu samping berderit keras sekali saat dibuka. Ibu tetap pulas dalam mimpinya. Soma, anjing kurus berbulu coklat peliharaan kami juga tak terusik dari tidurnya. Ia tetap bergulung di atas keset WELCOME yang dilangkahi bapak di depan pintu. Aku pun sama, tetap mendengkur kencang.

Suatu kali pernah aku bertanya padanya tentang kebiasaannya ini. Mungkin saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mungkin kelas tiga atau empat, entahlah, aku lupa. Tapi jawaban bapak akan pertanyaanku tak pernah bisa kulupakan.

Katanya, ia sembahyang untuk memohon keselamatan pada Dewa Indra. Semakin aneh lagi bagiku. Sebab sepengetahuanku, Dewa Indra adalah dewa hujan. Tak pernah kudengar namanya dipuja untuk meminta keselamatan.

***

Walaupun kami sebagai orang rumah tak begitu peduli lagi tentang kebiasaan bapak, itu bukan berarti kami tidak tahu seperti apa kelengkapan bapak untuk sembahyang. Ia akan membakar dupa aroma cempaka sejak dari dalam rumah. Bapak, yang kini usianya sudah enam puluh enam tahun itu, sangat suka wangi bunga cempaka. Dupa yang bertumpuk di atas lemari semuanya bergambar bunga cempaka, menandakan aroma di dalamnya. Pernah suatu hari ibu membeli dupa beraroma bunga mawar. Bapak agak marah kepada ibu.

“Bapak pikir ibu sudah tahu apa kesukaan bapak,” ucapnya pelan sambil meneliti bungkus-bungkus dupa yang bertumpuk di atas lemari. Bapak memang begitu. Kalau marah tak pernah berteriak atau menaikkan nada suaranya. Orang lain selain keluarga kami pasti tak akan mengira ia sedang marah.

“Lho bukan begitu, Pak. Tadi ibu cari-cari ke empat tempat, sampai jauh ke kota. Stok dupa bapak memang habis,” sahut ibu dari arah dapur yang mengepulkan aroma bawang yang digoreng. Ia sudah tahu kemana arah pernyataan bapak tadi.

Bapak hanya menghela nafas. “Lain kali dicari sampai ketemu,” ujarnya lagi, sambil mengambil tiga buah dupa berwarna magenta itu. Kemudian ia berlalu menuju pintu samping.

Kali ini ibu yang menghela nafas. Tak habis pikir dengan permintaan suami yang sudah dia nikahi selama tiga puluh lima tahun. “Seperti anak kecil saja. Apa-apa harus dituruti,” keluhnya.

Aku sependapat dengan ibu. Kelakuan bapak memang seperti anak kecil. Hampir semua permintaan bapak harus dipenuhi. Entah soal dupa, makanan, warna kipas angin di ruang tengah, jumlah undakan tangga yang dibelinya di toko bangunan, sampai jenis kalung yang dipakai Soma. Bapak semakin rewel saban harinya, dengan cara halus. Apalagi setelah ia pensiun delapan tahun silam. Dulu ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil, di kantor dinas pendapatan kabupaten.

Dilihat dari postur tubuhnya, bapak terlihat sebagai orang yang tegas dan keras. Ia memang tinggi, dan masih tetap lebih tinggi dariku yang sekarang sudah mendewasa. Badannya tegap dan proporsional. Otot-ototnya tidak begitu besar, namun juga tidak begitu kecil. Rambutnya kini sudah memutih. Jika ia tersenyum, hanya sedikit sunggingan yang terlihat dari bibirnya. Itu membuatnya semakin terlihat tegas, bahkan terkesan angkuh. Padahal, bapak adalah orang yang suka berteman dan halus tutur katanya.

Tak pernah rasanya kuingat bapak memarahiku dengan keras. Apalagi sampai memukul, seperti apa yang bapak teman-temanku lakukan pada mereka jika ketahuan berkelahi dengan kesebelasan sepak bola dusun sebelah. Bapak hanya marah sebatas ucapan saja. Kadang kata-katanya menusuk. Lebih menyakitkan daripada dipukuli rotan. Tapi itulah bapak. Pria sederhana yang begitu taat akan agamanya.

***

Berbeda denganku, bapak sangat rajin sembahyang. Tak pernah ia lupa untuk Tri Sandhya tiga kali sehari. Biasanya, ia akan bangun dari duduknya di depan televisi jika tayangan sudah menggemakan Puja Tri Sandhya. Sambil pelan-pelan menggulung ke bawah bagian atas sarungnya, ia belitkan di atas pusarnya selendang merah yang tersedia di atas lemari. Lemari itu adalah lemari tempat peralatan sembahyang disimpan. Tingginya hanya sebatas perut orang dewasa. Di atasnya juga terdapat dupa yang akan bapak bakar. Jumlahnya tergantung apa jenis sembahyangnya. Saat sembahyang biasa seperti Tri Sandhya, ia akan membakar tiga buah. Tapi, saat ia sembahyang jam setengah lima pagi, ia akan membakar enam buah.

Entah dari mana bapak menemukan sabda yang menuntut untuk menggunakan enam buah dupa saat sembahyang. Entah dari mana pula bapak mendapatkan perintah untuk memohon keselamatan pada Dewa Indra. Yang jelas, ia tetap melakukannya tanpa pernah absen seharipun.

Ia akan berjalan menggunakan sandal jepit karetnya ke arah Padmasana. Kemudian ia guncangkan kakinya agar lepas dari sandal tersebut dan mulai memijakkan kakinya satu per satu di atas tangga padmasana. Di sana, ia akan menaruh satu per satu dupanya pada tempat dupa yang berbahan keramik. Pelan saja, tak tergesa-gesa. Kemudian ia duduk bersila dan diam beberapa saat. Matanya sudah terpejam tanpa gerakan apapun. Bahunya naik turun dengan teratur, menandakan irama nafasnya. Kira-kira hening itu akan berlangsung selama lima menit. Setelahnya, ia menangkupkan tangannya tepat di depan kening. Tak pernah terlihat bibirnya bergerak untuk melafalkan mantra. Ia diam saja, tenang. Setelah sekitar tiga menit seperti itu, ia akan mengusap wajahnya. Seperti gerakan membasuh muka. Saat itu pulalah ia membuka matanya perlahan. Dan kembali lagi, tanpa tergesa, ia akan turun dari padmasana. Soma tetap tak bergeming saat kaki bapak melangkahi dirinya untuk masuk ke dalam rumah.

***

“Rugi saja bapak minta keselamatan sama Dewa Indra. Toh setiap musim hujan tetap saja kita ketimpa masalah,” ceplosku di suatu pagi. Saat itu bapak hendak melaksanakan ritualnya dan aku sedang menyaksikan pertandingan piala dunia sepak bola di televisi.

Bapak berhenti sejenak di ambang pintu, membelakangiku. Aku yang sedari tadi fokus ke layar kaca kemudian melempar pandanganku ke arahnya. Diam beberapa saat, ia akhirnya berjalan keluar rumah.

Mungkin aku agak lancang mengatakan hal tersebut. Tapi sudahlah. Memang itu faktanya.

Setiap musim hujan, rasanya ada saja kemalangan yang menimpa diriku atau keluargaku. Dua kalung emas ibu pernah raib diberangus maling yang membobol jendela kamar tidur bapak dan ibu. Kebun singkong milik bapak di kampung terbakar (padahal musim hujan, aneh bukan?). Sekolah swasta tempatku mengajar dulu terancam bangkrut sehingga terpaksa memecatku dan beberapa guru lain untuk efisiensi dana. Soma hampir mati karena diracun entah siapa. Dan masih banyak kemalangan lain yang semuanya terjadi di musim hujan.

Aku tak mengerti. Mungkinkah ada hubungan antara pemujaan bapak pada Dewa Indra dan segala musibah yang menimpa keluargaku di musim hujan? Apakah ada yang salah dengan cara bapak memuja Dewa Indra? Apakah Dewa Indra marah karena kesalahan itu? Entahlah. Semua dewa memang banyak maunya. Maka dari itu aku tak begitu peduli pada mereka. Tapi tidak dengan bapak.

***

Bulan ini Bulan Juni. Seperti murid-murid yang kuajar di salah satu sekolah negeri di kota, aku juga menikmati hari libur panjang. Dengan begitu, aku bisa menikmati waktu seharian di rumah tanpa harus menilai pekerjaan mereka yang penuh angka dan tanda matematika. Aku bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah untuk meringankan beban ibu. Tak mengapa jika aku disuruh menyapu, menjemur pakaian, atau memasak. Pekerjaan ini adalah pekerjaan orang dewasa, bukan pekerjaan wanita, batinku. Aku juga membantu bapak memanjat pohon mangga di belakang rumah yang sudah puluhan tahun usianya. Biasanya untuk memotong ranting-ranting yang mengganggu. Soma yang senang dengan air juga tak lupa kumandikan.

Hujan masih turun di bulan ini. Aneh sekali. Jadwal munculnya dua musim yang kupelajari saat SD dulu tampaknya mesti dikaji ulang. Hujan dan kemarau kini sudah berteman baik sehingga bisa bertemu di bulan apapun.

“Halo, selamat siang,” ucapku sambil menempelkan gagang telepon di telinga kananku. Telepon rumah berdering di siang hari yang berhujan. Tumben sekali.

“Halo, apa betul ini kediaman Bapak Darsana?” sahut seseorang di seberang. Seorang perempuan.

“Iya benar, saya anak Bapak Darsana. Ada apa ya?”

“Bapak Anda baru saja mengalami kecelakaan di Jalan Arjuna,” jawabnya lagi.

Aku bergegas bersama ibu untuk pergi ke rumah sakit. Jaraknya memang agak jauh, sekitar sepuluh kilometer dari rumahku.

Bapak ternyata tertabrak sebuah truk berkecepatan tinggi dari arah berlawanan. Bapak yang memang seorang pengendara motor yang lamban, tak bisa menghindar ketika truk tersebut malah melaju ke arahnya. Akibatnya, kini tangan kanan bapak harus digips karena beberapa bagian tulang yang retak.

“Saya heran, Bu. Tadi tabrakannya keras sekali. Saya sudah takut suami ibu kenapa-kenapa,” suara perempuan yang bercakap dengan ibu sama dengan suara yang kudengar di telepon. Sepertinya ia saksi mata kejadian bapak tadi.

Kudengar dari percakapan mereka, bagian depan truk tadi hancur. Motor tua bapak juga sudah tak karuan bentuknya, sudah kutengok tadi. Tapi keparahan itu tak terjadi pada bapak. Ia masih terlihat seperti orang tua yang sehat bugar, hanya ditambah gips di tangan. Tak masuk akal.

“Bapak selamat karena Dewa Indra menyelamatkan bapak,” ucap bapak sambil memperhatikan gipsnya. Aku diam saja.

“Di jalan raya tadi, setelah bapak ditabrak, bapak melihat seorang tampan yang menunggangi gajah putih. Bercahaya. Itu pasti Dewa Indra,” sambungnya lagi.

Aku diam mematung. Mungkinkah Dewa Indra benar-benar menyelamatkan bapak? Dari segala kemalangan yang terjadi di musim hujan, mungkinkah Dewa Indra yang selalu menyelamatkan kami?

Baru kusadari bahwa Dewa Indra tidak pernah marah dan banyak maunya, seperti dugaanku dulu. Ternyata malah ia yang menyelamatkan kami. Ia penyelamat bapak. (T)

Tags: Cerpen
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Kumpulan Esai Serba-serbi KKN: Cinlok, Uji Kesetiaan dan Pembuktian Kaum Jomlo

Next Post

Muhammad Husein Heikal# Perplexed, Promiscuous, Rafferty, Distracted

Oktaria Asmarani

Oktaria Asmarani

Berkuliah di Ilmu Filsafat UGM. Aktif di organisasi jurnalistik BPPM Balairung dan BPMF Pijar. Suka buku, mi instan, dan keliling kota sambil bernyanyi-nyanyi.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post

Muhammad Husein Heikal# Perplexed, Promiscuous, Rafferty, Distracted

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co