4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyelamat Bapak

Oktaria Asmarani by Oktaria Asmarani
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Oktaria Asmarani

SETIAP pukul setengah lima pagi, bapak selalu keluar rumah lewat pintu samping. Ia hendak sembahyang. Agak aneh bagiku. Sebab sepengetahuanku, mestinya kami sembahyang tepat pukul enam. Setelah itu disusul enam jam kemudian, dan enam jam setelahnya lagi. Tapi entahlah, bapak tak pernah merasa ada yang salah dengan ritualnya tersebut.

Orang-orang di rumah sudah mafhum akan kebiasaan bapak. Kami tak akan terganggu walaupun pintu samping berderit keras sekali saat dibuka. Ibu tetap pulas dalam mimpinya. Soma, anjing kurus berbulu coklat peliharaan kami juga tak terusik dari tidurnya. Ia tetap bergulung di atas keset WELCOME yang dilangkahi bapak di depan pintu. Aku pun sama, tetap mendengkur kencang.

Suatu kali pernah aku bertanya padanya tentang kebiasaannya ini. Mungkin saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mungkin kelas tiga atau empat, entahlah, aku lupa. Tapi jawaban bapak akan pertanyaanku tak pernah bisa kulupakan.

Katanya, ia sembahyang untuk memohon keselamatan pada Dewa Indra. Semakin aneh lagi bagiku. Sebab sepengetahuanku, Dewa Indra adalah dewa hujan. Tak pernah kudengar namanya dipuja untuk meminta keselamatan.

***

Walaupun kami sebagai orang rumah tak begitu peduli lagi tentang kebiasaan bapak, itu bukan berarti kami tidak tahu seperti apa kelengkapan bapak untuk sembahyang. Ia akan membakar dupa aroma cempaka sejak dari dalam rumah. Bapak, yang kini usianya sudah enam puluh enam tahun itu, sangat suka wangi bunga cempaka. Dupa yang bertumpuk di atas lemari semuanya bergambar bunga cempaka, menandakan aroma di dalamnya. Pernah suatu hari ibu membeli dupa beraroma bunga mawar. Bapak agak marah kepada ibu.

“Bapak pikir ibu sudah tahu apa kesukaan bapak,” ucapnya pelan sambil meneliti bungkus-bungkus dupa yang bertumpuk di atas lemari. Bapak memang begitu. Kalau marah tak pernah berteriak atau menaikkan nada suaranya. Orang lain selain keluarga kami pasti tak akan mengira ia sedang marah.

“Lho bukan begitu, Pak. Tadi ibu cari-cari ke empat tempat, sampai jauh ke kota. Stok dupa bapak memang habis,” sahut ibu dari arah dapur yang mengepulkan aroma bawang yang digoreng. Ia sudah tahu kemana arah pernyataan bapak tadi.

Bapak hanya menghela nafas. “Lain kali dicari sampai ketemu,” ujarnya lagi, sambil mengambil tiga buah dupa berwarna magenta itu. Kemudian ia berlalu menuju pintu samping.

Kali ini ibu yang menghela nafas. Tak habis pikir dengan permintaan suami yang sudah dia nikahi selama tiga puluh lima tahun. “Seperti anak kecil saja. Apa-apa harus dituruti,” keluhnya.

Aku sependapat dengan ibu. Kelakuan bapak memang seperti anak kecil. Hampir semua permintaan bapak harus dipenuhi. Entah soal dupa, makanan, warna kipas angin di ruang tengah, jumlah undakan tangga yang dibelinya di toko bangunan, sampai jenis kalung yang dipakai Soma. Bapak semakin rewel saban harinya, dengan cara halus. Apalagi setelah ia pensiun delapan tahun silam. Dulu ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil, di kantor dinas pendapatan kabupaten.

Dilihat dari postur tubuhnya, bapak terlihat sebagai orang yang tegas dan keras. Ia memang tinggi, dan masih tetap lebih tinggi dariku yang sekarang sudah mendewasa. Badannya tegap dan proporsional. Otot-ototnya tidak begitu besar, namun juga tidak begitu kecil. Rambutnya kini sudah memutih. Jika ia tersenyum, hanya sedikit sunggingan yang terlihat dari bibirnya. Itu membuatnya semakin terlihat tegas, bahkan terkesan angkuh. Padahal, bapak adalah orang yang suka berteman dan halus tutur katanya.

Tak pernah rasanya kuingat bapak memarahiku dengan keras. Apalagi sampai memukul, seperti apa yang bapak teman-temanku lakukan pada mereka jika ketahuan berkelahi dengan kesebelasan sepak bola dusun sebelah. Bapak hanya marah sebatas ucapan saja. Kadang kata-katanya menusuk. Lebih menyakitkan daripada dipukuli rotan. Tapi itulah bapak. Pria sederhana yang begitu taat akan agamanya.

***

Berbeda denganku, bapak sangat rajin sembahyang. Tak pernah ia lupa untuk Tri Sandhya tiga kali sehari. Biasanya, ia akan bangun dari duduknya di depan televisi jika tayangan sudah menggemakan Puja Tri Sandhya. Sambil pelan-pelan menggulung ke bawah bagian atas sarungnya, ia belitkan di atas pusarnya selendang merah yang tersedia di atas lemari. Lemari itu adalah lemari tempat peralatan sembahyang disimpan. Tingginya hanya sebatas perut orang dewasa. Di atasnya juga terdapat dupa yang akan bapak bakar. Jumlahnya tergantung apa jenis sembahyangnya. Saat sembahyang biasa seperti Tri Sandhya, ia akan membakar tiga buah. Tapi, saat ia sembahyang jam setengah lima pagi, ia akan membakar enam buah.

Entah dari mana bapak menemukan sabda yang menuntut untuk menggunakan enam buah dupa saat sembahyang. Entah dari mana pula bapak mendapatkan perintah untuk memohon keselamatan pada Dewa Indra. Yang jelas, ia tetap melakukannya tanpa pernah absen seharipun.

Ia akan berjalan menggunakan sandal jepit karetnya ke arah Padmasana. Kemudian ia guncangkan kakinya agar lepas dari sandal tersebut dan mulai memijakkan kakinya satu per satu di atas tangga padmasana. Di sana, ia akan menaruh satu per satu dupanya pada tempat dupa yang berbahan keramik. Pelan saja, tak tergesa-gesa. Kemudian ia duduk bersila dan diam beberapa saat. Matanya sudah terpejam tanpa gerakan apapun. Bahunya naik turun dengan teratur, menandakan irama nafasnya. Kira-kira hening itu akan berlangsung selama lima menit. Setelahnya, ia menangkupkan tangannya tepat di depan kening. Tak pernah terlihat bibirnya bergerak untuk melafalkan mantra. Ia diam saja, tenang. Setelah sekitar tiga menit seperti itu, ia akan mengusap wajahnya. Seperti gerakan membasuh muka. Saat itu pulalah ia membuka matanya perlahan. Dan kembali lagi, tanpa tergesa, ia akan turun dari padmasana. Soma tetap tak bergeming saat kaki bapak melangkahi dirinya untuk masuk ke dalam rumah.

***

“Rugi saja bapak minta keselamatan sama Dewa Indra. Toh setiap musim hujan tetap saja kita ketimpa masalah,” ceplosku di suatu pagi. Saat itu bapak hendak melaksanakan ritualnya dan aku sedang menyaksikan pertandingan piala dunia sepak bola di televisi.

Bapak berhenti sejenak di ambang pintu, membelakangiku. Aku yang sedari tadi fokus ke layar kaca kemudian melempar pandanganku ke arahnya. Diam beberapa saat, ia akhirnya berjalan keluar rumah.

Mungkin aku agak lancang mengatakan hal tersebut. Tapi sudahlah. Memang itu faktanya.

Setiap musim hujan, rasanya ada saja kemalangan yang menimpa diriku atau keluargaku. Dua kalung emas ibu pernah raib diberangus maling yang membobol jendela kamar tidur bapak dan ibu. Kebun singkong milik bapak di kampung terbakar (padahal musim hujan, aneh bukan?). Sekolah swasta tempatku mengajar dulu terancam bangkrut sehingga terpaksa memecatku dan beberapa guru lain untuk efisiensi dana. Soma hampir mati karena diracun entah siapa. Dan masih banyak kemalangan lain yang semuanya terjadi di musim hujan.

Aku tak mengerti. Mungkinkah ada hubungan antara pemujaan bapak pada Dewa Indra dan segala musibah yang menimpa keluargaku di musim hujan? Apakah ada yang salah dengan cara bapak memuja Dewa Indra? Apakah Dewa Indra marah karena kesalahan itu? Entahlah. Semua dewa memang banyak maunya. Maka dari itu aku tak begitu peduli pada mereka. Tapi tidak dengan bapak.

***

Bulan ini Bulan Juni. Seperti murid-murid yang kuajar di salah satu sekolah negeri di kota, aku juga menikmati hari libur panjang. Dengan begitu, aku bisa menikmati waktu seharian di rumah tanpa harus menilai pekerjaan mereka yang penuh angka dan tanda matematika. Aku bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah untuk meringankan beban ibu. Tak mengapa jika aku disuruh menyapu, menjemur pakaian, atau memasak. Pekerjaan ini adalah pekerjaan orang dewasa, bukan pekerjaan wanita, batinku. Aku juga membantu bapak memanjat pohon mangga di belakang rumah yang sudah puluhan tahun usianya. Biasanya untuk memotong ranting-ranting yang mengganggu. Soma yang senang dengan air juga tak lupa kumandikan.

Hujan masih turun di bulan ini. Aneh sekali. Jadwal munculnya dua musim yang kupelajari saat SD dulu tampaknya mesti dikaji ulang. Hujan dan kemarau kini sudah berteman baik sehingga bisa bertemu di bulan apapun.

“Halo, selamat siang,” ucapku sambil menempelkan gagang telepon di telinga kananku. Telepon rumah berdering di siang hari yang berhujan. Tumben sekali.

“Halo, apa betul ini kediaman Bapak Darsana?” sahut seseorang di seberang. Seorang perempuan.

“Iya benar, saya anak Bapak Darsana. Ada apa ya?”

“Bapak Anda baru saja mengalami kecelakaan di Jalan Arjuna,” jawabnya lagi.

Aku bergegas bersama ibu untuk pergi ke rumah sakit. Jaraknya memang agak jauh, sekitar sepuluh kilometer dari rumahku.

Bapak ternyata tertabrak sebuah truk berkecepatan tinggi dari arah berlawanan. Bapak yang memang seorang pengendara motor yang lamban, tak bisa menghindar ketika truk tersebut malah melaju ke arahnya. Akibatnya, kini tangan kanan bapak harus digips karena beberapa bagian tulang yang retak.

“Saya heran, Bu. Tadi tabrakannya keras sekali. Saya sudah takut suami ibu kenapa-kenapa,” suara perempuan yang bercakap dengan ibu sama dengan suara yang kudengar di telepon. Sepertinya ia saksi mata kejadian bapak tadi.

Kudengar dari percakapan mereka, bagian depan truk tadi hancur. Motor tua bapak juga sudah tak karuan bentuknya, sudah kutengok tadi. Tapi keparahan itu tak terjadi pada bapak. Ia masih terlihat seperti orang tua yang sehat bugar, hanya ditambah gips di tangan. Tak masuk akal.

“Bapak selamat karena Dewa Indra menyelamatkan bapak,” ucap bapak sambil memperhatikan gipsnya. Aku diam saja.

“Di jalan raya tadi, setelah bapak ditabrak, bapak melihat seorang tampan yang menunggangi gajah putih. Bercahaya. Itu pasti Dewa Indra,” sambungnya lagi.

Aku diam mematung. Mungkinkah Dewa Indra benar-benar menyelamatkan bapak? Dari segala kemalangan yang terjadi di musim hujan, mungkinkah Dewa Indra yang selalu menyelamatkan kami?

Baru kusadari bahwa Dewa Indra tidak pernah marah dan banyak maunya, seperti dugaanku dulu. Ternyata malah ia yang menyelamatkan kami. Ia penyelamat bapak. (T)

Tags: Cerpen
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Kumpulan Esai Serba-serbi KKN: Cinlok, Uji Kesetiaan dan Pembuktian Kaum Jomlo

Next Post

Muhammad Husein Heikal# Perplexed, Promiscuous, Rafferty, Distracted

Oktaria Asmarani

Oktaria Asmarani

Berkuliah di Ilmu Filsafat UGM. Aktif di organisasi jurnalistik BPPM Balairung dan BPMF Pijar. Suka buku, mi instan, dan keliling kota sambil bernyanyi-nyanyi.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post

Muhammad Husein Heikal# Perplexed, Promiscuous, Rafferty, Distracted

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co