4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pukul 5.15 Pagi

Komang Astiari by Komang Astiari
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Komang Astiari

Cerpen Komang Astiari

PARA ibu berseliweran di pasar pagi ini. Cuaca tidak begitu cerah. Seperti biasa aku menggelar barang daganganku di emperan dekat tangga pasar. Dengan rapi dan penuh suka cita. Diam- diam ada seorang gadis, aku tidak tahu pasti apakah dia masih gadis atau sudah bersuami, tapi parasnya ayu, rambutnya sering digelung, meskipun demikian itu tidak membuatnya terlihat lebih tua. Senyumnya meneduhkan. Ingin rasanya mendekatinya namun tangan ini seperti terpenjara rasa minder, siapakah aku yang pantas mendekati seorang cantik jelita seperti dia. Aku menamainya Ayu.

Aku hanyalah seorang penjual pisau. Daganganku ini cukup penting buat ibu ibu, karena pisau-pisauku ini kelak akan membantu mereka menyelesaikan pekerjaan memasaknya di pagi hari. Aku bekerja semata untuk mencukupi kebutuhanku dan keluarga kecilku; satu anak dan tentu saja satu istri.

Seandainya aku punya cukup uang, ingin rasanya aku mempersunting satu orang istri lagi, yakni gadis cantik yang selalu datang setiap pukul 5.15 pagi di pasar ini. Namun sayang, itu hanya khayalan mas-mas goblok yang bau badan dan bau napas seperti aku ini. Kehidupan rumahtanggaku mulai hambar, meskipun aku cukup setia, karena tidak ada celah bagiku untuk selingkuh. Aku pecundang abadi yang minta ditendang orang-orang kaya.

Bekerja tidak membuatku kaya, hutangku terlalu banyak. Istriku yang bekerja sebagai tukang cuci pun tak kian mampu membuat kami hidup berkecukupan. Sakitku ini menguras uang , menguras tenaga, menguras pikiran. Kami harus membeli obat setiap bulan kalau mau aku tetap sehat. Terlambat sekali saja, sakitku kambuh dan tidak bisa bekerja. Tentu saja itu menjadi ketakutan tersendiri bagi istriku. Kalau aku mati, aku hanya menambah beban hidupnya yang sudah berat, aku tidak punya warisan apapun selain kenangan buruk. Hutang-hutang itu sudah berteriak tepat di sebelah telingaku, minta segera dibayar,

Di kala daganganku sepi pengunjung, aku akan memperhatikan gerak gerik ayu yang telah membiarkan hatiku menari-nari. Jatuh cinta. Seperti biasa dia membawa tentengan tas belanja. Sampai-sampai aku hapal langganannya. Aku tahu di mana Ayu akan berhenti untuk belanja. Mulai dari dagang sayur, buah, kue hingga daging. Sudah dua bulan ini Ayu berhasil menarik perhatianku dan membuatku semangat bekerja.

Aku bak pungguk merindukan bulan, malang nian nasibku. Selama dua bulan ini tak satu kalipun Ayu mampir di daganganku. Apakah daganganku tidak cukup menarik baginya? Ataukah pemandangan dari si penjual pisau yang membuatnya enggan mampir? Yang jelas aku ingin sekali Ayu menghampiri aku, walau cuma sekali saja. Ingin rasanya mendengar suaranya apakah merdu semerdu yang aku bayangkan.

Esok paginya seperti biasa aku menggelar daganganku lagi. Seperti biasa Ayu akan datang, membeli semua kebutuhannya. Ayu memiliki ciri khas, berkaus t-shirt dengan celana pendek yang membuatnya nampak benar benar seksi. Aku hanya bisa berkhayal mampu membelai rambutnya, menciumnya, memeluknya dan ah, aku tidak perlu melanjutkan khayalanku. Aku semakin penasaran dan penasaran pada Ayu. Hari berlalu waktu berganti, Ayu tak kunjung mampir di daganganku, dia sibuk dengan daftar belanjaannya, sibuk memilih-milih sayur daging tapi bukan pisau.

Anehnya tak satu kalipun dia melirikku atau aku memang tak pantas dilirik? Sampah akan selalu diabaikan , tentu saja. Aku merasa kembali jatuh cinta. Pada Ayu. Dia ibarat angin segar yang memaksa masuk ke dalam ruang sumpek pikiranku. Ayu, kenapa tidak satu kalipun kau menghampiri aku. Agar aku bisa mendengar sekadar suaramu.

Jauh di sana, di tempat yang tak terjangkau pikiran si penjual pisau…

Seorang wanita yang diidamkan si penjual pisau tengah larut dalam derita yang berkepanjangan. Bergejolak dalam masalahnya sendiri.  Apakah hidup tidak pernah memberi ampun pada rasa cinta? Cinta hanya memunculkan derita.

Kau dan aku adalah sebuah cerita yang mengiba-iba ingin dilanjutkan si empunya. Kau dan aku adalah nyanyian kodok dan hujan yang berharap tiada pernah berakhir. Kau dan aku adalah sebuah dosa yang indah. Hidup membawa kau senantiasa bertemu denganku, lagi. Setelah waktu seolah tak memberikan ijin untuk kisah ini dimulai kembali.

Waktu terkadang amat kejam, dia berlalu terlalu cepat, tergesa gesa. Di sisi lain dia berjalan sangat lambat. Aku merasakan kecepatan waktu dan sering kali ingin kuteriakkan saja: “Hei bisakah kau berhenti satu jam saja atau satu hari saja?”  Namun dia tak kian menjawab. Waktu melangkah derapnya begitu cepat dan pasti, berlalu dan berlalu.

Dia pun seenaknya melambatkan geraknya ketika hati ini terlalu lelah menunggu. Bahkan waktu terasa enggan melaju. Bahkan tanpa ragu-ragu dia menghiburku dengan rasa cemas, was was, rasa rindu yang amat dalam. Usia ini sudah bersiap menuju 50 tahun,  garis garis di wajah terlihat semakin jelas. Kecantikan yang mulai memudar. Wajah yang menampakkan tanda-tanda mulai lelah, enggan menampakkan kilaunya. Enggan tersenyum. Di usia ini aku masih harus bekerja, sebuah hal yang membosankan bukan?  Bagaimana setiap pagi pada pk 5.00,  ketika pertama kali aku membuka mata lalu membayangkan kau akan dikejar-kejar oleh waktu, ah, lagi-lagi waktu.

Aku ingin menamparnya, menampar dia yang telah mempermainkan hidupku. Mempersiapkan segala hal, makanan, sarapan, memastikan kebersihan rumah, memastikan kebutuhan suami selama seharian, sebelum akhirnya mempersiapkan diri sendiri yang alakadarnya. Tiba di kantor dengan wajah kusut dan tegang karena takut terlambat dan dipotong gaji. Bagaimana mata-mata jtu memandang aneh pada penampilanku yang tidak pernah rapi.

Dan sakitnya ketika mulut-mulut itu membicarakan kehidupanku yang kacau. Seorang suami yang cacat. Pelengkap penderitaanku. Aku dulu memilihnya bukan karena dia cacat tapi kecakapannya bekerja membuat hatiku kagum. Dia lelaki bertanggungjawab setidaknya itu kesan pertama yang aku dapat, bertubuh tegap dan atletis. Seorang atlit yang sehat. Namun kejadian yang sekejap itu mengubahnya sangat cepat. Menjadi lelaki tak berdaya yang menunggu dilayani menunggu seseorang datang menuntunnya.

Sementara waktu terus berjalan, aku bahkan terlalu lelah untuk meminta lagi dan lagi, hingga pria lain hadir dalam kehidupanku dan suami. Dia adalah seorang pengusaha, kaya raya dan memenuhi kebutuhanku akan materi yang sudah lama tak kunikmati. Dia lembut.

Setidaknya itu yang terlihat. Saat mata-mata memandangku aneh, lelaki ini memiliki sihir yang seolah mengatakan padaku bahwa aku tetap cantik , aku menawan meskipun hatiku tiada berkata demikian. Lelaki ini adalah langitku, yang memberi rasa damai tiap kali mata ini menyelidik ke dalam dalam hatinya yang baik. Aku terpesona, hatiku larut dalam bingkai kisah kami berdua. Bingkai indah yang penuh kesalahan.

Pagi ini, kembali pukul 5.15 pagi.

Pasar tempat di mana si penjual pisau dan Ayu bertemu dalam bisu, akan digusur.  Apakah kisah mereka akan usai? Oh, betapa memilukan .  Tentu bagi si penjual pisau, tidak akan ada lagi paras ayu yang selalu datang pada pagi hari. Ayu, mungkin Ayu tidak merasakan penderitaan yang dirasakan si penjual pisau. Tapi Ayu juga manusia biasa yang hanya dapat menikmati penderitaannya sendiri. Masing-masing dari mereka memeluk derita itu tiap detik tiap menit dan tiap jam yang berlalu  perlahan dihembus-hembuskan sepoi angin.

TIdak ada satu pun yang pernah menjadi kekal, pun pada kisah cinta si penjual pisau pada pukul 5.15 pagi. (T)

Tags: Cerpen
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Rai Sri Artini# Cara Mengenangmu, Pohon Puisi, Sungai di Belakang Rumah

Next Post

Jayaprana Layonsari Rasa Rujak Campur – Sebuah Catatan Kecil

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Jayaprana Layonsari Rasa Rujak Campur - Sebuah Catatan Kecil

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co