25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pukul 5.15 Pagi

Komang Astiari by Komang Astiari
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Komang Astiari

Cerpen Komang Astiari

PARA ibu berseliweran di pasar pagi ini. Cuaca tidak begitu cerah. Seperti biasa aku menggelar barang daganganku di emperan dekat tangga pasar. Dengan rapi dan penuh suka cita. Diam- diam ada seorang gadis, aku tidak tahu pasti apakah dia masih gadis atau sudah bersuami, tapi parasnya ayu, rambutnya sering digelung, meskipun demikian itu tidak membuatnya terlihat lebih tua. Senyumnya meneduhkan. Ingin rasanya mendekatinya namun tangan ini seperti terpenjara rasa minder, siapakah aku yang pantas mendekati seorang cantik jelita seperti dia. Aku menamainya Ayu.

Aku hanyalah seorang penjual pisau. Daganganku ini cukup penting buat ibu ibu, karena pisau-pisauku ini kelak akan membantu mereka menyelesaikan pekerjaan memasaknya di pagi hari. Aku bekerja semata untuk mencukupi kebutuhanku dan keluarga kecilku; satu anak dan tentu saja satu istri.

Seandainya aku punya cukup uang, ingin rasanya aku mempersunting satu orang istri lagi, yakni gadis cantik yang selalu datang setiap pukul 5.15 pagi di pasar ini. Namun sayang, itu hanya khayalan mas-mas goblok yang bau badan dan bau napas seperti aku ini. Kehidupan rumahtanggaku mulai hambar, meskipun aku cukup setia, karena tidak ada celah bagiku untuk selingkuh. Aku pecundang abadi yang minta ditendang orang-orang kaya.

Bekerja tidak membuatku kaya, hutangku terlalu banyak. Istriku yang bekerja sebagai tukang cuci pun tak kian mampu membuat kami hidup berkecukupan. Sakitku ini menguras uang , menguras tenaga, menguras pikiran. Kami harus membeli obat setiap bulan kalau mau aku tetap sehat. Terlambat sekali saja, sakitku kambuh dan tidak bisa bekerja. Tentu saja itu menjadi ketakutan tersendiri bagi istriku. Kalau aku mati, aku hanya menambah beban hidupnya yang sudah berat, aku tidak punya warisan apapun selain kenangan buruk. Hutang-hutang itu sudah berteriak tepat di sebelah telingaku, minta segera dibayar,

Di kala daganganku sepi pengunjung, aku akan memperhatikan gerak gerik ayu yang telah membiarkan hatiku menari-nari. Jatuh cinta. Seperti biasa dia membawa tentengan tas belanja. Sampai-sampai aku hapal langganannya. Aku tahu di mana Ayu akan berhenti untuk belanja. Mulai dari dagang sayur, buah, kue hingga daging. Sudah dua bulan ini Ayu berhasil menarik perhatianku dan membuatku semangat bekerja.

Aku bak pungguk merindukan bulan, malang nian nasibku. Selama dua bulan ini tak satu kalipun Ayu mampir di daganganku. Apakah daganganku tidak cukup menarik baginya? Ataukah pemandangan dari si penjual pisau yang membuatnya enggan mampir? Yang jelas aku ingin sekali Ayu menghampiri aku, walau cuma sekali saja. Ingin rasanya mendengar suaranya apakah merdu semerdu yang aku bayangkan.

Esok paginya seperti biasa aku menggelar daganganku lagi. Seperti biasa Ayu akan datang, membeli semua kebutuhannya. Ayu memiliki ciri khas, berkaus t-shirt dengan celana pendek yang membuatnya nampak benar benar seksi. Aku hanya bisa berkhayal mampu membelai rambutnya, menciumnya, memeluknya dan ah, aku tidak perlu melanjutkan khayalanku. Aku semakin penasaran dan penasaran pada Ayu. Hari berlalu waktu berganti, Ayu tak kunjung mampir di daganganku, dia sibuk dengan daftar belanjaannya, sibuk memilih-milih sayur daging tapi bukan pisau.

Anehnya tak satu kalipun dia melirikku atau aku memang tak pantas dilirik? Sampah akan selalu diabaikan , tentu saja. Aku merasa kembali jatuh cinta. Pada Ayu. Dia ibarat angin segar yang memaksa masuk ke dalam ruang sumpek pikiranku. Ayu, kenapa tidak satu kalipun kau menghampiri aku. Agar aku bisa mendengar sekadar suaramu.

Jauh di sana, di tempat yang tak terjangkau pikiran si penjual pisau…

Seorang wanita yang diidamkan si penjual pisau tengah larut dalam derita yang berkepanjangan. Bergejolak dalam masalahnya sendiri.  Apakah hidup tidak pernah memberi ampun pada rasa cinta? Cinta hanya memunculkan derita.

Kau dan aku adalah sebuah cerita yang mengiba-iba ingin dilanjutkan si empunya. Kau dan aku adalah nyanyian kodok dan hujan yang berharap tiada pernah berakhir. Kau dan aku adalah sebuah dosa yang indah. Hidup membawa kau senantiasa bertemu denganku, lagi. Setelah waktu seolah tak memberikan ijin untuk kisah ini dimulai kembali.

Waktu terkadang amat kejam, dia berlalu terlalu cepat, tergesa gesa. Di sisi lain dia berjalan sangat lambat. Aku merasakan kecepatan waktu dan sering kali ingin kuteriakkan saja: “Hei bisakah kau berhenti satu jam saja atau satu hari saja?”  Namun dia tak kian menjawab. Waktu melangkah derapnya begitu cepat dan pasti, berlalu dan berlalu.

Dia pun seenaknya melambatkan geraknya ketika hati ini terlalu lelah menunggu. Bahkan waktu terasa enggan melaju. Bahkan tanpa ragu-ragu dia menghiburku dengan rasa cemas, was was, rasa rindu yang amat dalam. Usia ini sudah bersiap menuju 50 tahun,  garis garis di wajah terlihat semakin jelas. Kecantikan yang mulai memudar. Wajah yang menampakkan tanda-tanda mulai lelah, enggan menampakkan kilaunya. Enggan tersenyum. Di usia ini aku masih harus bekerja, sebuah hal yang membosankan bukan?  Bagaimana setiap pagi pada pk 5.00,  ketika pertama kali aku membuka mata lalu membayangkan kau akan dikejar-kejar oleh waktu, ah, lagi-lagi waktu.

Aku ingin menamparnya, menampar dia yang telah mempermainkan hidupku. Mempersiapkan segala hal, makanan, sarapan, memastikan kebersihan rumah, memastikan kebutuhan suami selama seharian, sebelum akhirnya mempersiapkan diri sendiri yang alakadarnya. Tiba di kantor dengan wajah kusut dan tegang karena takut terlambat dan dipotong gaji. Bagaimana mata-mata jtu memandang aneh pada penampilanku yang tidak pernah rapi.

Dan sakitnya ketika mulut-mulut itu membicarakan kehidupanku yang kacau. Seorang suami yang cacat. Pelengkap penderitaanku. Aku dulu memilihnya bukan karena dia cacat tapi kecakapannya bekerja membuat hatiku kagum. Dia lelaki bertanggungjawab setidaknya itu kesan pertama yang aku dapat, bertubuh tegap dan atletis. Seorang atlit yang sehat. Namun kejadian yang sekejap itu mengubahnya sangat cepat. Menjadi lelaki tak berdaya yang menunggu dilayani menunggu seseorang datang menuntunnya.

Sementara waktu terus berjalan, aku bahkan terlalu lelah untuk meminta lagi dan lagi, hingga pria lain hadir dalam kehidupanku dan suami. Dia adalah seorang pengusaha, kaya raya dan memenuhi kebutuhanku akan materi yang sudah lama tak kunikmati. Dia lembut.

Setidaknya itu yang terlihat. Saat mata-mata memandangku aneh, lelaki ini memiliki sihir yang seolah mengatakan padaku bahwa aku tetap cantik , aku menawan meskipun hatiku tiada berkata demikian. Lelaki ini adalah langitku, yang memberi rasa damai tiap kali mata ini menyelidik ke dalam dalam hatinya yang baik. Aku terpesona, hatiku larut dalam bingkai kisah kami berdua. Bingkai indah yang penuh kesalahan.

Pagi ini, kembali pukul 5.15 pagi.

Pasar tempat di mana si penjual pisau dan Ayu bertemu dalam bisu, akan digusur.  Apakah kisah mereka akan usai? Oh, betapa memilukan .  Tentu bagi si penjual pisau, tidak akan ada lagi paras ayu yang selalu datang pada pagi hari. Ayu, mungkin Ayu tidak merasakan penderitaan yang dirasakan si penjual pisau. Tapi Ayu juga manusia biasa yang hanya dapat menikmati penderitaannya sendiri. Masing-masing dari mereka memeluk derita itu tiap detik tiap menit dan tiap jam yang berlalu  perlahan dihembus-hembuskan sepoi angin.

TIdak ada satu pun yang pernah menjadi kekal, pun pada kisah cinta si penjual pisau pada pukul 5.15 pagi. (T)

Tags: Cerpen
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Rai Sri Artini# Cara Mengenangmu, Pohon Puisi, Sungai di Belakang Rumah

Next Post

Jayaprana Layonsari Rasa Rujak Campur – Sebuah Catatan Kecil

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post

Jayaprana Layonsari Rasa Rujak Campur - Sebuah Catatan Kecil

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co