15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rai Sri Artini# Cara Mengenangmu, Pohon Puisi, Sungai di Belakang Rumah

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 2, 2018
in Puisi

Lukisan Nyoman Erawan

SABDA PALON

/1/
Udara malam berdesir
Membelai perut buncitmu
Sepotong cahaya lahir
Seusai ketuban pecah dari rahim mulut
Selarik kidung jawa membelai anganmu
Bhre Kerthabumi termangu diantara huruf-huruf yang lahir
Dari kulum liurmu

/2/
Musim dingin. Paling dingin
Tiang-tiang istana menggigil
Air mata membeku hanya cemas bersijatuh
Menjadi warna darah yang berceceran di alun-alun ibukota
Menjadi saksi pertikaian
Kau berjanji berjaga di gerbang kehidupan dan kematian

/3/
Mengapa kau berduka ?
Aku rela menyaru dalam tubuh manusia
Memulai perjalanan dari sudut sunyi sekali pun
Memastikan mercusuar nusantara terjaga

/4/
Buah Pala. Kau tahu rasanya ?
Kecaplah dalam lidahmu
Kau akan merasa tetap hidup
Diantara asin peluh kuli-kuli di pelabuhan
Atau diantara lolong tangis Dewi Amaravati
Saat giginya tanggal

/5/
Nujummu selalu jadi kompas
Jarum jam dalam jiwamu berpacu dengan
Waktu reinkarnasi
Sebab kau sangatlah peduli
Pada jejaring laba-laba di sudut langit istana
Laksana arus pikirmu yang tajam

/6/
Napak tilas. Bumi Swarnadwipa kau pilih
Diantara tempat di peta
Kau abadi memilih lahir dari rahim nusantara
Bersulih ke riuh dunia untuk satu cita-cita

Tegaljaya, Maret 2017

CARA MENGENANGMU

Seperti itulah aku senantiasa mengenangmu
Kuntum-kuntum kenangan kami mekarkan
Memilah dan memilih buku-buku diantara debu-debu kotak usang
Kukecup peluhmu untuk mengumpulkan tekad atau
Menarik canda tawamu ke lingkaran energiku agar
Menyala semangat yang taksa
Kucatat cuaca dan peringai hari keenam bulan Juli
Mengaksarakan jiwamu dalam sayapku
Mematangkan barisan doa
Dan mencelupkan roti tawar ke dalam susu yang manis
Kuniatkan menguapi dingin dengan memahami kepergianmu
Sebab jika tak demikian,
Stigma ini akan selalu tertatah di hitam yang liang
Seperti itulah aku senantiasa mengenangmu
Menghidangkan kematian dalam nampan waktu
Membersihkan lumut-lumut di atas batu pijak yang licin
Dan mengarak jiwamu di setiap kata dalam puisi
Sebab Tuhan selalu lahir dari jiwamu paling ceruk

Kerobokan, Juni 2017

POHON PUISI

Di hatiku tak boleh apa pun dan siapa pun mencatat luka
Tidak juga kau
Kau boleh mampir di tamannya
Menulis puisi dan tawa dari serbuk kehidupan
Mestilah kau menumbuhkan segala yang patut
Bukan menciptakan jarak dan melabeli
Terang atau gelap
Pantas atau tidak
Dua tiga pelor mungkin mampir
Namun tak akan berdiam lama
Sebab pohon-pohon puisi mengusirnya sebelum kau melapar
Dalam rasa asing
Di hatiku kata-kata tak boleh mati
Meski puting beliung menari
Mestilah kutiup ruh dalam kata yang mati suri
Agar ia tetap nyala pohon-pohon puisi
Bangkit dari kefanaan yang hujan

Tegaljaya, Juni 2017

TELAGA AGENG LINGSAR

Titipkanlah kalimat permohonan dalam koin-koin ini
Terbanglah lalu berendamlah di dasar telaga
Dingin air telaga akan memeram segala permohonan
Sebelum terbang ke langit ketujuh

Seorang perempuan menangis di tepi telaga
Memohon anaknya kembali
Ia titipkan nama anaknya dalam koin dan
Karam dalam perayaan kematian
Bersenyawa dengan air mata dan bayangan yang
Ia ciptakan sendiri

Di telaga ini air mata menjelma lumut-lumut di dasarnya
Emosi bersulih menjadi bebatuan
Menciptakan jarak antara bumi dan langit

Perempuan itu kuyup dalam tangis
Sebab lima tahun kemudian langit terbelah
Tongkat yang menjelma ikan
Membagikan ruh anak-anak dalam tubuhnya
Ia menjerit dalam rasa hampa

Lalu ia berhenti menangis
Ketika sepotong cahaya lahir dari koin-koin
Dan saat itu juga ia berhenti
Menciptakan bayangan sendiri

Tegaljaya, Juni 2017

SUNGAI DI BELAKANG RUMAH

Cuaca mengeras di wajahmu
Membentuk lintasan dosa dan doa
Matahari selalu berdetak menjauh dari matamu
Rumpun alis rebah memisahkan berkas-berkas rindu yang sekarat
Lidahmu sayup-sayup menggemakan nyanyian ibu
Antara lelap dan jaga

Lalu
Kau pulang ke sungai di belakang rumah
Merumahkan kental sesal yang mengganggu tidur
Kau hanyutkan air mata, kata-kata berikut pertanyaan-pertanyaan

Sungai itu yang dulu jernih
Kini keruh oleh limbah
Sebab keras kepalamu telah berkeping-keping
Daun-daun canging berhamburan memungut lendir-lendir sesal
Molekul-molekul air menanti dengan sabar
muntahan lapili jiwamu
juga mantra-mantra ganjil dari mulut berbau kencur

Kau berjanji akan meminangnya menjadi puisi
Sebab ia telah melahirkanmu setiap hari
Ia pun berjanji akan membawamu
Ke luas lepas samudera tak berbatas

Tegaljaya, Juni 2017

SEPASANG KUNANG-KUNANG

Mengawali perjalanan ini
Kita tak mau berhitung kecuali kesanggupan
Untuk saling melengkapi

Kita berharap ada pagi yang lain
Tak pincang lagi dengan irama baru
Duduk di serambi senja
Menatap kemilau langit
Melahirkan nyanyian dari uap kopi
Menepikan kerikil-kerikil yang menahan
Telapak kaki

Kita dapat mengingat
Ayat-ayat dalam kitab
Yang menyala di ufuk waktu
Atau bagian tubuh yang mulai bertumbuh
Sehingga saat sabit cuaca menyayat
Kita tetap bisa tersenyum

Sebab kita tak ingin terlambat
Memekarkan kuntum jiwa
Sebelum cangkang senja renta dan retak
Kita tak ingin hanya menafsir lalu
Mengarang cerita sendiri
“ Terlalu boros energi,” Katamu

Lebih baik menjadi sepasang kunang-kunang
Berbagi cahaya
Sebab bukan hanya kita yang tumbuh
Melainkan semesta

Tuka, Juni 2017

Tags: Puisi
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Saat Fidget Spinner Menyerang, Orang Tua pun Rogoh Dompet Demi Mainan Tak Dipahami

Next Post

Pukul 5.15 Pagi

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post

Pukul 5.15 Pagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co