14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rai Sri Artini# Cara Mengenangmu, Pohon Puisi, Sungai di Belakang Rumah

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 2, 2018
in Puisi

Lukisan Nyoman Erawan

SABDA PALON

/1/
Udara malam berdesir
Membelai perut buncitmu
Sepotong cahaya lahir
Seusai ketuban pecah dari rahim mulut
Selarik kidung jawa membelai anganmu
Bhre Kerthabumi termangu diantara huruf-huruf yang lahir
Dari kulum liurmu

/2/
Musim dingin. Paling dingin
Tiang-tiang istana menggigil
Air mata membeku hanya cemas bersijatuh
Menjadi warna darah yang berceceran di alun-alun ibukota
Menjadi saksi pertikaian
Kau berjanji berjaga di gerbang kehidupan dan kematian

/3/
Mengapa kau berduka ?
Aku rela menyaru dalam tubuh manusia
Memulai perjalanan dari sudut sunyi sekali pun
Memastikan mercusuar nusantara terjaga

/4/
Buah Pala. Kau tahu rasanya ?
Kecaplah dalam lidahmu
Kau akan merasa tetap hidup
Diantara asin peluh kuli-kuli di pelabuhan
Atau diantara lolong tangis Dewi Amaravati
Saat giginya tanggal

/5/
Nujummu selalu jadi kompas
Jarum jam dalam jiwamu berpacu dengan
Waktu reinkarnasi
Sebab kau sangatlah peduli
Pada jejaring laba-laba di sudut langit istana
Laksana arus pikirmu yang tajam

/6/
Napak tilas. Bumi Swarnadwipa kau pilih
Diantara tempat di peta
Kau abadi memilih lahir dari rahim nusantara
Bersulih ke riuh dunia untuk satu cita-cita

Tegaljaya, Maret 2017

CARA MENGENANGMU

Seperti itulah aku senantiasa mengenangmu
Kuntum-kuntum kenangan kami mekarkan
Memilah dan memilih buku-buku diantara debu-debu kotak usang
Kukecup peluhmu untuk mengumpulkan tekad atau
Menarik canda tawamu ke lingkaran energiku agar
Menyala semangat yang taksa
Kucatat cuaca dan peringai hari keenam bulan Juli
Mengaksarakan jiwamu dalam sayapku
Mematangkan barisan doa
Dan mencelupkan roti tawar ke dalam susu yang manis
Kuniatkan menguapi dingin dengan memahami kepergianmu
Sebab jika tak demikian,
Stigma ini akan selalu tertatah di hitam yang liang
Seperti itulah aku senantiasa mengenangmu
Menghidangkan kematian dalam nampan waktu
Membersihkan lumut-lumut di atas batu pijak yang licin
Dan mengarak jiwamu di setiap kata dalam puisi
Sebab Tuhan selalu lahir dari jiwamu paling ceruk

Kerobokan, Juni 2017

POHON PUISI

Di hatiku tak boleh apa pun dan siapa pun mencatat luka
Tidak juga kau
Kau boleh mampir di tamannya
Menulis puisi dan tawa dari serbuk kehidupan
Mestilah kau menumbuhkan segala yang patut
Bukan menciptakan jarak dan melabeli
Terang atau gelap
Pantas atau tidak
Dua tiga pelor mungkin mampir
Namun tak akan berdiam lama
Sebab pohon-pohon puisi mengusirnya sebelum kau melapar
Dalam rasa asing
Di hatiku kata-kata tak boleh mati
Meski puting beliung menari
Mestilah kutiup ruh dalam kata yang mati suri
Agar ia tetap nyala pohon-pohon puisi
Bangkit dari kefanaan yang hujan

Tegaljaya, Juni 2017

TELAGA AGENG LINGSAR

Titipkanlah kalimat permohonan dalam koin-koin ini
Terbanglah lalu berendamlah di dasar telaga
Dingin air telaga akan memeram segala permohonan
Sebelum terbang ke langit ketujuh

Seorang perempuan menangis di tepi telaga
Memohon anaknya kembali
Ia titipkan nama anaknya dalam koin dan
Karam dalam perayaan kematian
Bersenyawa dengan air mata dan bayangan yang
Ia ciptakan sendiri

Di telaga ini air mata menjelma lumut-lumut di dasarnya
Emosi bersulih menjadi bebatuan
Menciptakan jarak antara bumi dan langit

Perempuan itu kuyup dalam tangis
Sebab lima tahun kemudian langit terbelah
Tongkat yang menjelma ikan
Membagikan ruh anak-anak dalam tubuhnya
Ia menjerit dalam rasa hampa

Lalu ia berhenti menangis
Ketika sepotong cahaya lahir dari koin-koin
Dan saat itu juga ia berhenti
Menciptakan bayangan sendiri

Tegaljaya, Juni 2017

SUNGAI DI BELAKANG RUMAH

Cuaca mengeras di wajahmu
Membentuk lintasan dosa dan doa
Matahari selalu berdetak menjauh dari matamu
Rumpun alis rebah memisahkan berkas-berkas rindu yang sekarat
Lidahmu sayup-sayup menggemakan nyanyian ibu
Antara lelap dan jaga

Lalu
Kau pulang ke sungai di belakang rumah
Merumahkan kental sesal yang mengganggu tidur
Kau hanyutkan air mata, kata-kata berikut pertanyaan-pertanyaan

Sungai itu yang dulu jernih
Kini keruh oleh limbah
Sebab keras kepalamu telah berkeping-keping
Daun-daun canging berhamburan memungut lendir-lendir sesal
Molekul-molekul air menanti dengan sabar
muntahan lapili jiwamu
juga mantra-mantra ganjil dari mulut berbau kencur

Kau berjanji akan meminangnya menjadi puisi
Sebab ia telah melahirkanmu setiap hari
Ia pun berjanji akan membawamu
Ke luas lepas samudera tak berbatas

Tegaljaya, Juni 2017

SEPASANG KUNANG-KUNANG

Mengawali perjalanan ini
Kita tak mau berhitung kecuali kesanggupan
Untuk saling melengkapi

Kita berharap ada pagi yang lain
Tak pincang lagi dengan irama baru
Duduk di serambi senja
Menatap kemilau langit
Melahirkan nyanyian dari uap kopi
Menepikan kerikil-kerikil yang menahan
Telapak kaki

Kita dapat mengingat
Ayat-ayat dalam kitab
Yang menyala di ufuk waktu
Atau bagian tubuh yang mulai bertumbuh
Sehingga saat sabit cuaca menyayat
Kita tetap bisa tersenyum

Sebab kita tak ingin terlambat
Memekarkan kuntum jiwa
Sebelum cangkang senja renta dan retak
Kita tak ingin hanya menafsir lalu
Mengarang cerita sendiri
“ Terlalu boros energi,” Katamu

Lebih baik menjadi sepasang kunang-kunang
Berbagi cahaya
Sebab bukan hanya kita yang tumbuh
Melainkan semesta

Tuka, Juni 2017

Tags: Puisi
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Saat Fidget Spinner Menyerang, Orang Tua pun Rogoh Dompet Demi Mainan Tak Dipahami

Next Post

Pukul 5.15 Pagi

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post

Pukul 5.15 Pagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co