13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pahlawan Bertopeng Beha

Ferry Fansuri by Ferry Fansuri
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Ferry Fansuri

ADA reaksi aneh jika Sarmin mengendus-dengus bau dari pakaian dalam wanita itu, ia tampak membuncah sumringah mirip anak jalanan saat sakauw kala menghirup bau lem kaleng ritual pagi harinya. Ia seperti kecanduan, di dalam kamar kostnya yang sempit bertumpuk-tumpuk celana dalam dan beha perempuan entah darimana Sarmin dapatkan. Koleksi lengkap mulai dari tekstur berenda, transparan dan berbagai warna.

Sarmin hanyalah seorang penggangguran, hidup tak menentu bahkan berharap belas kasihan orang sekitarnya. Tak tahu asal usul dia, darimanakah dan siapa orang tuanya. Belasan tahun yang lalu Sarmin datang di kampung ini layaknya orang urban lainya datang ke ibukota demi sesuap nasi untuk mengisi perut.

Pekerjaan kasar apa saja dilakukan Sarmin mulai dari kuli, tukang parkir, cuci piring sampai memulung botol plastik bekas. Uang yang didapat dalam sehari hanya bisa untuk membeli nasi bungkus di warteg, memang hidup slum city keras dan apapun dilakukan untuk bertahan hidup.

Tiap pagi Sarmin selalu memanggul keranjang kayu di punggung dan membawa gacu besi pengait. Berkeliling tiap komplek untuk mengais botol plastik di tempat sampah orang-orang borjuis itu, dikumpulkan dalam keranjang dan ditukarkan beberapa rupiah untuk tiap botolnya untuk sarapan pagi.

Siangnya Sarmin menjadi kuli panggul di pasar ikan ujung pelabuhan itu sampai menjelang ufuk tenggelam di barat. Tapi terkadang Sarmin tidak melakukan apapun, hanya berdiam diri di bilik bertutup triplek dan seng terselip bedeng-bedeng kumuh itu. Itulah Sarmin dengan kehidupan serabutan, sebuah potret manusia urban yang nyata adanya.

Di dalam biliknya yang reot itu tak ada televisi ataupun radio, bahkan koran untuk dibaca saja Sarmin gunakan untuk menambal lubang-lubang dinding agar tidak ada yang mengintip di dalam, apa yang ia lakukan. Ada kelakuan ganjil yang Sarmin lakukan di kala senggang, menciumi pakaian dalam wanita.

Entah Sarmin dapat darimana, ia menghirup bau dari tiap helai celana dalam dan beha itu. Bagai candu untuknya yang memasuki aliran nadi darahnya, membuat jantung Sarmin menabuh bertalu-talu bagai gendang dipukul berkali-kali. Berhalusinasi melayang di atas awan bersenggama dengan para bidadari surga di sana.

***

Tak semua tahu bahwa Sarmin punya kelakuan aneh itu karena ia jarang bergaul atau sekadar nongkrong dengan  preman-preman kampung ini. Atau bagaimana Sarmin mendapatkan semua pakaian dalam wanita itu, penghasilan yang ia dapat sehari-hari hanya mampu menganjal perutnya. Perihal yang bisa Sarmin lakukan hanyalah mencuri, kedok profesi sebagai pemulung memudahkan ia beraksi.

Suatu pagi Sarmin selalu berkeliling untuk tempat sampah kompleks perumahan seberang kampung ini. Para pembantu-pembantu orang kaya dipastikan menjemur cucian juragan di halaman jemuran mereka. Sarmin melihat itu layaknya menemukan harta karun yang tidak ternilai harganya, matanya berbinar.

“Kau adalah hartaku paling berharga dan semua ini milikku..milikku….hanya untukku”

Sarmin meraih celana dalam dan beha itu, diciumnya berkali-kali dan didekap erat bagaikan seorang kekasih yang dicintainya. Sarmin menemukan cinta sejati dalam sehelai kain bertektur halus penutup kelamin para wanita itu.

Kejadian itu terus berulang dan berulang kembali maka gemparlah kompleks rumah OKB (orang kaya baru) itu.

“Ada Pencuri Pakaian Dalam Berkeliaran!”

Penghuni perumahan sempat gusar, cucian yang di jemuran selalu hilang. Cuci pagi, sore hilang. Cuci malam, pagi raib. Tak tahu siapa pencurinya dan pernah terlihat batang hidung seperti hantu tak berwujud.

Sarmin begitu lihai untuk melancarkan aksinya dan tak pernah sekalian tertangkap oleh satpam kompleks. Kegalauan semakin memuncak, penghuni merasa kuatir dan was-was atas kejadian kehilangan pakaian dalam tiap harinya.

“Ini pasti kerjaan tukang teluh!”

“Celana dalam kita dipakai jimat guna-guna!”

“Pasti ada tuyul pencuri beha!”

“Kerjaan kolor ijo ini!”

Barbagai argumen dan khayalan para penghuni kompleks berkelebatan kesana kemari membuat pusing para pejabat RT dan RW. Bahkan sampai diadakan rapat akbar di balai pertemuan dekat lapangan kompleks perumahan  itu. Debat sengit pun bersahutan karena merasa keselamatan mereka terancam akan kehadiran maling beha itu.

“Perbanyak satpam!”

“Pasang kamera CCTV!”

“Tiap malam harus ada ronda keliling!”

“Pintu masuk pasang portal pengaman!”

Semua orang berteriak dan bersahutan bagai lomba kicau burung yang akan dijuri. Tapi apa yang dilakukan penghuni perumahan itu sia-sia belaka, celana dalam-celana dalam itu tetap raib pada tempatnya dan tak tersisa. Itupun tak pernah diketahui siapakah pencuri dan terjadi berbulan-bulan.

Sarmin bukan tak terlihat kasat mata, ini disebabkan sebuah jimat yang selalu dikalungkan di lehernya. Warisan orang tuanya sebelum Sarmin merantau di kota, jimat berisikan kain mori putih berajah tulisan Arab diberikan untuk penjagaan. Tapi namanya tupai sepandai-pandainya meloncat pasti jatuh juga.

Sial pagi itu Sarmin sewaktu mandi sealu melepaskan kalung jimatnya karena pantangan dan kalung itu lupa ia pakaikan kembali. Aksinya pun dilancarkan kembali, sewaktu tangan Sarmin menjarah celana dalam dan beha itu kepergok oleh pemilik rumah.

“Maling… Maling.. Tolong…!!”

Teriakan itu membahana menggelegar seantero kompleks perumahan maka gemparlah penghuni di sana. Sarmin pun kaget bukan kepalang, ia pun lari tunggang langgang sambil membawa barang jarahannya. Tapi Sarmin tak sempat membawa banyak bahkan keranjang dan gacu pemulungnya ditinggalkan begitu saja karena ketakutan akan ketangkap jadi bulan-bulanan warga.

Sarmin terus berlari dan lari tanpa henti, barang jarahan berceceran meninggalkan jejak dan yang tersisa sehelai celana dalam ia sisipkan di atas kepala bersamaan beha yang ia ikatkan di atas dahi hampir menutupi kedua matanya.

Sarmin bergerak lurus tanpa menoleh sekalipun ke belakang dan terus berlari menjauh dari tempat itu.

***

Gang sempit itu terlihat sepi sunyi tanpa orang melewati tapi saat itu seorang gadis berpakaian putih abu-abu melintas. Wajahnya polos tanpa polesan gincu ataupun bedak, gerai rambut memanjang menandakan  cita rasa perawan yang sedang mekar-mekarnya. Gerak-geriknya yang centil dan menggoda mampu menarik perhatian lawan jenis siapapun memandangnya. Cantik itu berbahaya.

“Nona cantik, mau ke mana?

Suara-suara itu menghentikan langkah-langkah kecilnya.

“Kalian mau apa?”

“Semua yang dimau tiap lelaki pada seorang wanita!” Wajah-wajah itu menyeringai.

Gerombolan pria tak kenal itu mungkin berjumlah 3-4 orang yang bersiap menyingsingkan lengan baju dan menanggalkan ikat pinggang mereka. Iblis dalam selangkangan mereka akan keluar dari wadah manusianya. Proses pengganyangan kelamin akan dimulai dan semua itu ada di depan mata, gadis itu terpojok dengan terkoyak pakaian putih abu-abu. Teriakan itu tertelan hilang dalam gang sempit.

Tapi tiba-tiba saat batang kemaluan itu akan melakukan penetrasi, “Braakkk!!”

Gerombolan preman tanggung itu bertumbangan seperti diterjang angin puting beliung yang melanda mereka. Bertumbangan satu per satu bak layangan yang putus hubungan dari talinya.

Tak tahu apa yang menimpa mereka, yang diingatnya teriakan maling para warga sekitar membuat mereka mengurungkan niat bejat dan berlari tunggang langgang meninggalkan gadis yang ranum itu.

***

Pahlawan itu cuma pengecut yang beruntung.

Peristiwa pemerkosaan yang gagal itu jadi heboh di media massa dan viral di medsos, gadis itu jadi populer secara instan di mana-mana karena selamat atas kejadian biadab itu.

Dalam sesi wawancara dalam suatu talk show terkenal dipandu presenter botak berjas hitam berdasi merah, kronologis kejadian dijabarkan oleh sang gadis.

“Waktu itu bagaimana sebenarnya terjadi?”

“Tampak samar-samar karena mereka sudah merobek-robek bajuku. Mereka membekap mulutku. Menggeranyangi seluruh tubuhku.”

“Apakah mereka berhasil melakukan itu pada Anda?”

“Hampir berhasil dan saya pasrah saat itu tapi tiba-tiba mereka seperti dihantam truk dari belakang dan jatuh bergelimpangan dalam selokan.”

“Apa yang Anda lihat saat itu?”

“Semua tak jelas tapi yang kuingat sekelebatan itu ada sosok memakai tutup mata berupa kutang beha.”

“Itu saja yang kuingat. Pahlawan bertopeng beha itu yang menyelamatkan diriku!” (T)

Surabaya,  April 2017

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

“Tangkil” ke Pura Besakih – Ketika Bersama, Ketika Berbeda…

Next Post

Alexander Robert Nainggolan# Ctrl + A, Alt + Tab, Shift + F3, Ctrl + X

Ferry Fansuri

Ferry Fansuri

Lahir di Surabaya, 23 Maret 1980. Penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Alexander Robert Nainggolan# Ctrl + A, Alt + Tab, Shift + F3, Ctrl + X

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co