24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gede Juta

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Made Adnyana Ole

 WAJAH Gede Juta tiba-tiba menyala. Usianya dekat 70, namun seperti seseorang hendak berperang dan siap menghadapi apa saja, bahkan kematian, ia berdiri tegak. Ia memandang Jero Perebekel yang pada malam itu tiba-tiba bertamu ke rumahnya.

“Tidak kulepaskan! Setidaknya sampai aku mati! Jadi, aku harus dibunuh agar tanah itu bisa lepas dari tanganku!”

Jero Perbekel – sang kepala desa, seketika mendongak. Sejak sekitar 50 tahun baru kali ini ia mendengar Gede Juta mengucapkan kata-kata jelas. Kata-kata yang bahkan mengandung kemarahan dan tantangan. Padahal, sudah sejak lama Gede Juta dikenal mengidap gangguan saraf dan kelainan jiwa. Hilang ingatan, hilang pikiran.

Sejenak Jero Perbekel diam. Ia seperti mengatur strategi untuk menyusun kembali kata bujuk-rayu agar terdengar lebih tajam. Bujuk-rayu yang sesungguhnya sejak awal sudah ditolak Gede Juta, yakni menjual seluruh tanah sawah dan kebun termasuk kandang ternak di tengahnya.

Tentu saja, Gede Juta tak akan bisa melepaskan begitu saja tanah kebun dan sawah miliknya termasuk kandang ternak di tengahnya  Bukan karena tanah itu peninggalan orang tua paling berharga, namun lebih karena kebun dan sawah sudah menjadi wilayah sakral baginya untuk menyembunyikan ingatan. Di sawah saat bekerja, ia bisa abai pada ruang, lupa pada waktu, tak peduli pada keadaan dan pikun pada diri sendiri.

Masa kecil Gede Juta makmur. Ia lahir dari keluarga petani kaya, setahun setelah Indonesia dikabarkan merdeka. Ayahnya petani tulen yang kerap dijuluki tuan si pemilik sawah seluas tiga danau. Ibunya penjual hasil tani yang dagangannya tak mudah ditawar namun tetap dicari para tengkulak. Pada setiap putaran panen, keluarga itu bisa mengantongi uang sebanyak dua puluh kali lipat dari rata-rata uang yang dikantongi petani lain. Belum lagi ditambah hasil penjualan ternak sapi. Serta sesekali masuk juga penghasilan dari penjualan sayur dan buah-buahan.   

Biasalah orang di desa, antara kagum dan sirik, kekayaan keluarga itu selalu jadi gosip. Orang-orang yang suka berkerumun di rompyok kopi dengan sukarela berebut menghitung peningkatan jumlah kekayaan keluarga itu pada setiap habis panen. Dan berhamburanlah decak takjub disertai gumam panjang ketika beberapa orang dengan hitungan ngawur sampai pada kesimpulan angka satu juta rupiah. Kekayaan keluarga petani itu mungkin tak sampai satu juta. Tapi saat itu, untuk mengatakan jumlah amat banyak, orang-orang memang terbiasa menyebut kata juta. Bagi mereka, jutaan adalah angka tertinggi. Mereka tak tahu miliar apalagi triliun.

Nama yang disandang Gede Juta tercipta sebagai lanjutan dari gosip semacam itu. Nama lahirnya hanya Gede. Akibat heboh gosip kekayaan satu juta, orang desa seakan sepakat memanggilnya Juta. Nama Gede Juta resmi dipakai ketika ia masuk sekolah. Ketika itu, ayahnya mendaftarkannya di SR. Satu guru iseng bertanya kenapa nama anak itu hanya Gede.  Ayahnya lantas spontan menambahi kata Juta di belakang Gede. Maka, jadilah Gede Juta. Tentu ayahnya tak menyesal. Meski nama itu muncul dari gosip, sesungguhnya ia punya harapan besar, kelak anaknya benar-benar jadi jutawan yang bisa menjaga kekayaan keluarga sekaligus menggelembungkannya. Dengan harapan besar juga, setamat SR, Gede Juta dikirim ke sekolah menengah di Denpasar.

“Kau harus sekolah tinggi, Gede! Karena petani dan peternak harus pintar. Hanya petani dan peternak pintar yang bisa menyelamatkan sawah, kebun, ternak dan seluruh kekayaan keluarga di kemudian hari,” kata ayahnya.

Gede Juta mengangguk. Dan jalan pun terbuka. Selulus ia SMA, universitas baru di Denpasar kebetulan membuka jurusan peternakan. Ia masuk jurusan itu. Cita-citanya, kelak, di sela kerja mengolah sawah, ia membangun usaha peternakan sapi yang besar.

“Tetap tinggal di asrama. Semua keperluanmu akan Ayah kirim.  Dan jangan pulang sebelum membawa ijazah!” kata ayahnya ketika mengantar Gede Juta ke asrama mahasiswa di dekat kampus.

Gede Juta sepakat, tapi nasib tidak. Suatu senja, ketika langit dipenuhi pantulan warna darah, ia pulang dengan wajah pucat. Tanpa ijazah. Ia tak bicara meski terus diburu pertanyaan dari ayah, ibu, kerabat dan tetangga. Ia menolak bercerita. Berhari-hari hanya diam. Jika pertanyaan kian bertubi, ia kemudian hanya menggeleng. Ia jadi terbiasa menggeleng meski tak ada lagi orang bertanya. Sejak itu, Gede Juta dianggap mengidap gangguan saraf, tak waras. Hilang ingatan, hilang pikiran. Ayah dan ibunya sedih, sakit, dan keduanya kemudian meninggal.

Sepeninggal orang tua, Gede Juta mengolah sawah dengan amat giat. Ia berlumur lumpur dan mengurus kebun, juga memelihara ternak, dari pagi hingga malam, bahkan sering kerja hingga 24 jam sehari. Ia mencangkul, membajak, menanam, dan menunaikan panen sendirian. Ia tak menikah dan benar-benar sendiri. Padahal seperti perumpamaan orang-orang, luas sawahnya mencapai tiga danau. Sementara itu, ia tetap enggan bicara dan terus menggeleng. Ia bungkam karena takut bercerita. Ia jarang istirahat karena takut melamun. Ia jarang tidur karena takut bermimpi.

Jika melamun dan bermimpi, potongan-potongan gambar yang muncul tak lain dari peristiwa yang justru ingin ia lupakan: satu pasukan bersenjata menyerbu asrama mahasiswa dan dia bersembunyi seperti tikus got di balik drum minyak tanah. Ia menyaksikan dari lubang drum yang robek bagaimana sejumlah mahasiswa yang hampir semua adalah temannya diseret dan dibantai tanpa melawan. Asrama itu diserbu karena dianggap sebagai sarang organisasi mahasiswa beraliran komunis. Ia sendiri selamat dan pulang ke desa dengan wajah serupa mayat.

Kerja di sawah tanpa henti adalah cara ampuh membenamkan lamunan busuk dan mimpi-mimpi keparat ke kubang lumpur. Ketika cangkul diayunkan ke udara ia seakan mengibaskan seluruh ingatan ke langit. Begitu bajak bergerak ia seperti memporakporandakan gambaran getir tentang satu adegan sadis yang membuatnya selalu mual. Saat benih padi ditanam, ia seakan membenamkan seluruh kisah hidupnya ke sebalik lumpur.  

Dan kerja tak henti itu tentu saja membuat hasil panennya juga melimpah. Hampir setiap hari Gede Juta mengantongi uang jutaan rupiah dari hasil penjualan padi, hasil kebun, sayur, dan ternak. Ia tak pernah berbelanja, kecuali sesekali membeli pakaian. Ia tak banyak kena iuran listrik desa karena rumahnya lebih sering gelap. Ia tak membeli radio dan TV karena selalu ngeri mendengar berita. Bahkan ia tak sudi mendengar obrolan rakyat tentang politik atau keputusan-keputusan pemerintah yang kadang menggelikan, misalnya naik-turun harga BBM, perubahan mata uang, atau tentang presiden baru. Seluruh informasi ditolaknya. Ia merasa tak bernegara. Ia seperti tak membutuhkan apa-apa, bahkan uang hasil sawah, kebun dan ternak, yang diperolehnya hampir saban hari, dimasukkan begitu saja ke dalam lemari kayu.     

Sampai suatu hari, tiba juga deru pariwisata di desa itu. Ada pengusaha besar hendak membangun hotel, restoran dan lapangan golf.  Pengusaha itu perlu lahan luas, dan warga desa dengan mudah menjual sawah mereka karena tergiur harga mahal. Hanya Gede Juta yang menolak. Ketika diajak tawar-menawar, ia terus menggeleng. Ia akan terus menggeleng tanpa henti, siapa pun yang mencoba mendekatinya.  

Akhirnya Jero Perbekel yang ternyata merangkap calo tanah menemuinya pada malam itu. Gede Juta jengah. Ia tak lagi menggeleng. Ia menjadi waras.

“Jika Jero Perbekel tak paham saat aku menggeleng, maka kini dengarkan suaraku. Aku tak akan menjual tanah itu!” suara Gede Juta makin keras dan jelas meski umurnya dekat 70 tahun.

“Apa Gede tidak kasihan dengan warga yang lain?” Jero Perbekel mencoba tetap bersuara pelan. Jelas sekali ia memiliki strategi untuk menjerat Gede Juta.

“Kasihan bagaimana?” Gede Juta balik bertanya.

“Pengusaha itu tak akan mencairkan dananya kepada warga, sebelum tanah Gede didapatkannya. Warga bingung. Kasihan. Sawah sudah diratakan, tapi mereka belum terima duit!”

“Orang bodoh tak perlu dikasihani. Kenapa mau tanda tangan akte jual-beli jika uang belum ada!?” 

Jero Perbekel makin heran saat Gede Juta tampak makin waras.

 “Begini saja,” kata Gede Juta kemudian. “Batalkan penjualan tanah itu. Aku yang akan membeli semua tanah warga. Aku bayar sekarang juga!”

Gede Juta kemudian mengajak Jero Perbekel masuk ke dalam kamar besar di dalam rumahnya yang besar. Di dalam kamar ia memperlihatkan 30 lemari kayu ukuran sedang. Ia membuka lemari satu per satu. Begitu lemari terbuka, uang berdesakan menyembul dan berserakan ke lantai. Kamar itu jadi penuh uang. “Semua ini kukumpulkan selama setengah abad, ditambah warisan orang tua!” bisiknya.

Jero Perbekel berjongkok, meneliti. Ternyata hanya sekitar lima lemari berupa uang kertas baru. Selebihnya adalah uang logam dan uang kertas dengan angka tahun 1960-an hingga 1990-an yang kini sudah tak bisa dibelanjakan. Uang itu lecek, kucel dan banyak robek dimakan tikus atau rayap. Jero Perbekel memandang Gede Juta dengan gemas sekaligus iba. Gede Juta seperti menyadari sesuatu. Tiba-tiba ia kembali menggeleng, kali ini dengan gerakan semakin cepat.   
  

Singaraja, Januari 2015

Tags: Cerpen
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi untuk Putu Vivi Lestari – Selamat Jalan, Penyair…

Next Post

Musik Pop Gamelan – Musik yang Sudah “Terkunyah Habis”

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Musik Pop Gamelan – Musik yang Sudah “Terkunyah Habis”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co