2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi untuk Putu Vivi Lestari – Selamat Jalan, Penyair…

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Feature

Vivi Lestari./ Foto FB/Jengki Sunarta

Pertengahan tahun 1990-an, Teater Angin SMAN 1 Denpasar sedang suntuk-suntuknya bergaul dengan teater dan puisi. Sejumlah siswa suntuk di teater, sejumlah siswa lain tergila-gila pada puisi.

Yang suka puisi biasanya mendekatkan pergaulan pada penyair-penyair dari Sanggar Minum Kopi, seperti Warih Wisatsana, Wayan Jengki Sunarta, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie. Teater dan sastra saat itu memang sedang menjadi tuan rumah di Denpasar. Histeria sekaligus guyub.

Ada banyak siswa menunjukkan minat sangat besar pada puisi. Dalam hampir setiap kesempatan mereka akan bertanya tentang puisi, bagaimana menulisnya, bagaimana cara membangun rima, bagaimana membuat metafora, sampai cara mengirim karya ke media massa.

Penyair yang rajin meladeni siswa saat itu, salah satunya adalah Wayan Jengki Sunarta, selain juga ada Riki Dhamparan Putra. Ke mana pun Jengki dan Riki pergi untuk bikin acara sastra, bahkan hingga ke Desa Marga di Tabanan, sejumlah anak akan ikut.

Ada seorang siswa saat itu, yang sangat pendiam. Tak banyak bertanya. Tapi selalu ikut temannya untuk mengikuti para penyair-penyair dalam acara sastra. Siswa perempuan itu seolah hanya sebagai penggembira, hanya ikut-ikutan.
Namun beberapa tahun kemudian, siswa perempuan yang tak banyak bertanya itu membuat para penyair di Bali terkejut. Siswa itu menunjukkan sejumlah puisi, baik di media massa maupun yang ditunjukkannya sendiri. Puisi-puisi penuh tenaga dan kuat, terutama dalam mempertanyakan tentang diri dan kehidupan di sekitarnya.

Rupanya siswa perempuan yang pendiam itulah sesungguhnya menjadi pendengar dan penyerap paling baik dari segala petuah-petuah Jengki, Riki, dan teman-teman penyair lain. Setelah tamat SMA, siswa perempuan itu makin menunjukkan jati dirinya sebagai penyair. Puisi sempat dimuat di Jurnal Kalam dan saat itu sempat dipuji Goenawan Muhamad dalam acara sastra di Taman Budaya Denpasar yang diadakan Teater Utan Kayu (TUK).

Siswa pendiam itu adalah Putu Vivi Lestari yang kemudian dikenal sebagai salah satu penyair perempuan Bali yang kuat. Dia melesat mengikuti bakatnya. Sementara teman-teman sesama menjadi siswa SMA dulu, yang banyak bertanya tentang puisi, justru tak begitu kelihatan.

Dialah Vivi Lestari, yang sungguh mengejutkan sekaligus membuat sangat sedih, pada Sabtu, 8 April 2017 Pkl. 20.00 WITA, ia meninggalkan teman-temannya untuk selamanya, setelah menderita penyakit kanker darah.
Di laman facebook, penyair yang paling dekat dengan Vivi saat muda, Wayan Jengki Sunarta, mengabarkan kesedihannya dengan menulis puisi.

“Entah kebetulan atau bukan, sejak senja tadi aku gelisah dan merasa ada yang aneh, sebab hujan kelabu turun tiada henti, dan aku menulis puisi muram. Dan, ternyata aku dapat kabar duka, sahabat kami yang baik, penyair Putu Vivi Lestari telah pergi mendahului kami jam 8 malam tadi. Dia terkena kanker darah. Aku syok mendengar berita duka itu. Bahkan aku belum sempat menjenguknya. Bahkan buku puisiku “Montase” yang dipesannya belum pula sampai padanya. Duh, Vivi, begitu cepat kau pergi…,” demikian tulis Jengki.

Beberapa jam sebelum Vivi dikabarkan pergi, Jengki sebenarnya sudah menulis puisi muram yang kemudian ia anggap sebagai pertanda. Puisi itu kemudian didedikasikan untuk sahabatnya yang baik itu.

Hujan Kelabu
-untuk penyair Putu Vivi Lestari-

mengenangmu,
hujan kelabu
membasahi kalbu
dua kucing hitam
mendengkur
di atas kasur
serangga senja
bernyanyi lirih dan ragu
bunga-bunga kamboja
luruh di halaman rumah
langit bagai kerak kopi
hujan kelabu belum henti
aku pun tak usai
mengenangmu…
(WJS, Sabtu, 8 April 2017)

Penyair Pranita Dewi juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya setelah mendengar kabar Vivi pergi menghadap Sang Kahlik. Ia menulis puisi untuk Vivi:

Vivi Lestari,
memang hujan
mengganti air
mata di pipiku
merembesi bumi
memengapkan hati
kehilanganmu
begitu mencengkam
maut begitu
mencengkeram.
selamat jalan…

Vivi adalah penyair bersahaja, namun banyak memiliki teman. Salah seorang penyair yang juga wartawan Made Sujaya juga menuliskan rasa sedihnya:

Terbenam dalam rasa kehilangan yang dalam. Selamat jalan, Vivi Lestari, kawan sepermainan di rahim puisi. Angin mungkin menyapu bayangmu, tapi puisimu tetap abadi, di hati kami

Sementara penyair Sinduputra menulis:

……bukan kematian yang kau takutkan..
Tapi air mataku mengalir deras…….

Vivi memang layak dikukuhkan sebagai penyair perempuan yang sudah memberi sumbangan kepada dunia sastra Indonesia dengan mewariskan puisi-puisi yang baik. Inilah dua puisi Vivi Lestari:

UPACARA AKHIR TAHUN

“Ke barat kekasihku”
Jalan makin hitam
merapat di sisi tahun
anak-anak gerimis
menari
pada layangan angin
Detik ini
biarkan lilin mengurai
tangis
di sela jemari bunga
hingga cahaya yang lahir
menuntunmu berteduh
pada bayangan sendiri
“Ke barat kekasihku”
Di sana laron melepas sayap
kunang-kunang berbagi cahaya
pada langit
pada bulan yang ragu
merangkai detik
Sementara daun-daun kenangan
meranggas
menuai badai
keluh kesah kabut
menyayat
doa harapan

CABO

Di bulan juni
Yang resah
Selalu kata-kataku
Sesat
Entah di rambutmu
Di ujung suaramu
Atau di liku tubuhku
Aku tahu
Sebuah legenda kaca
(kesetian yang tak selesai)
Telah usai
Kau bukan kaisar shahjahan
Di penjara masa tua
Yang tersalib
Dinding pualam
(oleh cinta ataukah sesak birahi)
Bukan pula Kalindi Kunj
Dimana mata air
Menyindir kesendirianku
:”janda yang haus
Tersesat di belantara
Tanpa rimba”.
Di bulan juni
Yang resah
senja gelisah
Sejarah memaku pintu dekapan sisi kubah
Kaca-kaca bergambar
Burung merak terlunta
Terlupa lorong
Kalyana Manta
Meski pilar-pilar menopang
Runtuhan sesaji
Para dewa
Barisan restu
Nenek moyang
Tetap saja
Aku tergagap
Warna merah
Di belahan rambut
Sebuah ikatan ataukah pengabdian
Tanpa batas?
Di bulan juni
Yang resah
Sejarah cemas
Bergegas
Menerka musim
:”Kenapa setia tak menunggu
Di ujung ranjang”.
Ada camar
Yang sesat
Saat langit
Mengirim
Senja yang lain
Di mataku
Antara angin masa lalu
Dan hari ini
Buih ombak
Mendesah lebih riuh
(mungkin suaramu
Atau nafasmu)
Di dadaku
antara renda bermotif bunga
dengan lapisan
busa halus
antara bercak
tanganmu
yang tertinggal 10 tahun
silam
ada camar
tersesat
saat mania Giorgio Armani
mengngirim wewangian
rempah
di leherku
atau Christian Dior
menyelipkan
dedaunan luruh
di kulitku
di pantai yang jauh
sebuah dosa indah
terselip
di lipatan bibirku
dan di ujung
rambutku
yang gemetar
kata-kata hilang makna
“puasaku batal
Hari ini”

Selamat Jalan, Penyair, bersama Tuhan teruslah menulis puisi-puisi yang baik…

Tags: in memoriamPenyairPuisi
Share2220TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (2), Hakekatnya Memang Batasan

Next Post

Gede Juta

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails
Next Post

Gede Juta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co