2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi untuk Putu Vivi Lestari – Selamat Jalan, Penyair…

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Feature

Vivi Lestari./ Foto FB/Jengki Sunarta

Pertengahan tahun 1990-an, Teater Angin SMAN 1 Denpasar sedang suntuk-suntuknya bergaul dengan teater dan puisi. Sejumlah siswa suntuk di teater, sejumlah siswa lain tergila-gila pada puisi.

Yang suka puisi biasanya mendekatkan pergaulan pada penyair-penyair dari Sanggar Minum Kopi, seperti Warih Wisatsana, Wayan Jengki Sunarta, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie. Teater dan sastra saat itu memang sedang menjadi tuan rumah di Denpasar. Histeria sekaligus guyub.

Ada banyak siswa menunjukkan minat sangat besar pada puisi. Dalam hampir setiap kesempatan mereka akan bertanya tentang puisi, bagaimana menulisnya, bagaimana cara membangun rima, bagaimana membuat metafora, sampai cara mengirim karya ke media massa.

Penyair yang rajin meladeni siswa saat itu, salah satunya adalah Wayan Jengki Sunarta, selain juga ada Riki Dhamparan Putra. Ke mana pun Jengki dan Riki pergi untuk bikin acara sastra, bahkan hingga ke Desa Marga di Tabanan, sejumlah anak akan ikut.

Ada seorang siswa saat itu, yang sangat pendiam. Tak banyak bertanya. Tapi selalu ikut temannya untuk mengikuti para penyair-penyair dalam acara sastra. Siswa perempuan itu seolah hanya sebagai penggembira, hanya ikut-ikutan.
Namun beberapa tahun kemudian, siswa perempuan yang tak banyak bertanya itu membuat para penyair di Bali terkejut. Siswa itu menunjukkan sejumlah puisi, baik di media massa maupun yang ditunjukkannya sendiri. Puisi-puisi penuh tenaga dan kuat, terutama dalam mempertanyakan tentang diri dan kehidupan di sekitarnya.

Rupanya siswa perempuan yang pendiam itulah sesungguhnya menjadi pendengar dan penyerap paling baik dari segala petuah-petuah Jengki, Riki, dan teman-teman penyair lain. Setelah tamat SMA, siswa perempuan itu makin menunjukkan jati dirinya sebagai penyair. Puisi sempat dimuat di Jurnal Kalam dan saat itu sempat dipuji Goenawan Muhamad dalam acara sastra di Taman Budaya Denpasar yang diadakan Teater Utan Kayu (TUK).

Siswa pendiam itu adalah Putu Vivi Lestari yang kemudian dikenal sebagai salah satu penyair perempuan Bali yang kuat. Dia melesat mengikuti bakatnya. Sementara teman-teman sesama menjadi siswa SMA dulu, yang banyak bertanya tentang puisi, justru tak begitu kelihatan.

Dialah Vivi Lestari, yang sungguh mengejutkan sekaligus membuat sangat sedih, pada Sabtu, 8 April 2017 Pkl. 20.00 WITA, ia meninggalkan teman-temannya untuk selamanya, setelah menderita penyakit kanker darah.
Di laman facebook, penyair yang paling dekat dengan Vivi saat muda, Wayan Jengki Sunarta, mengabarkan kesedihannya dengan menulis puisi.

“Entah kebetulan atau bukan, sejak senja tadi aku gelisah dan merasa ada yang aneh, sebab hujan kelabu turun tiada henti, dan aku menulis puisi muram. Dan, ternyata aku dapat kabar duka, sahabat kami yang baik, penyair Putu Vivi Lestari telah pergi mendahului kami jam 8 malam tadi. Dia terkena kanker darah. Aku syok mendengar berita duka itu. Bahkan aku belum sempat menjenguknya. Bahkan buku puisiku “Montase” yang dipesannya belum pula sampai padanya. Duh, Vivi, begitu cepat kau pergi…,” demikian tulis Jengki.

Beberapa jam sebelum Vivi dikabarkan pergi, Jengki sebenarnya sudah menulis puisi muram yang kemudian ia anggap sebagai pertanda. Puisi itu kemudian didedikasikan untuk sahabatnya yang baik itu.

Hujan Kelabu
-untuk penyair Putu Vivi Lestari-

mengenangmu,
hujan kelabu
membasahi kalbu
dua kucing hitam
mendengkur
di atas kasur
serangga senja
bernyanyi lirih dan ragu
bunga-bunga kamboja
luruh di halaman rumah
langit bagai kerak kopi
hujan kelabu belum henti
aku pun tak usai
mengenangmu…
(WJS, Sabtu, 8 April 2017)

Penyair Pranita Dewi juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya setelah mendengar kabar Vivi pergi menghadap Sang Kahlik. Ia menulis puisi untuk Vivi:

Vivi Lestari,
memang hujan
mengganti air
mata di pipiku
merembesi bumi
memengapkan hati
kehilanganmu
begitu mencengkam
maut begitu
mencengkeram.
selamat jalan…

Vivi adalah penyair bersahaja, namun banyak memiliki teman. Salah seorang penyair yang juga wartawan Made Sujaya juga menuliskan rasa sedihnya:

Terbenam dalam rasa kehilangan yang dalam. Selamat jalan, Vivi Lestari, kawan sepermainan di rahim puisi. Angin mungkin menyapu bayangmu, tapi puisimu tetap abadi, di hati kami

Sementara penyair Sinduputra menulis:

……bukan kematian yang kau takutkan..
Tapi air mataku mengalir deras…….

Vivi memang layak dikukuhkan sebagai penyair perempuan yang sudah memberi sumbangan kepada dunia sastra Indonesia dengan mewariskan puisi-puisi yang baik. Inilah dua puisi Vivi Lestari:

UPACARA AKHIR TAHUN

“Ke barat kekasihku”
Jalan makin hitam
merapat di sisi tahun
anak-anak gerimis
menari
pada layangan angin
Detik ini
biarkan lilin mengurai
tangis
di sela jemari bunga
hingga cahaya yang lahir
menuntunmu berteduh
pada bayangan sendiri
“Ke barat kekasihku”
Di sana laron melepas sayap
kunang-kunang berbagi cahaya
pada langit
pada bulan yang ragu
merangkai detik
Sementara daun-daun kenangan
meranggas
menuai badai
keluh kesah kabut
menyayat
doa harapan

CABO

Di bulan juni
Yang resah
Selalu kata-kataku
Sesat
Entah di rambutmu
Di ujung suaramu
Atau di liku tubuhku
Aku tahu
Sebuah legenda kaca
(kesetian yang tak selesai)
Telah usai
Kau bukan kaisar shahjahan
Di penjara masa tua
Yang tersalib
Dinding pualam
(oleh cinta ataukah sesak birahi)
Bukan pula Kalindi Kunj
Dimana mata air
Menyindir kesendirianku
:”janda yang haus
Tersesat di belantara
Tanpa rimba”.
Di bulan juni
Yang resah
senja gelisah
Sejarah memaku pintu dekapan sisi kubah
Kaca-kaca bergambar
Burung merak terlunta
Terlupa lorong
Kalyana Manta
Meski pilar-pilar menopang
Runtuhan sesaji
Para dewa
Barisan restu
Nenek moyang
Tetap saja
Aku tergagap
Warna merah
Di belahan rambut
Sebuah ikatan ataukah pengabdian
Tanpa batas?
Di bulan juni
Yang resah
Sejarah cemas
Bergegas
Menerka musim
:”Kenapa setia tak menunggu
Di ujung ranjang”.
Ada camar
Yang sesat
Saat langit
Mengirim
Senja yang lain
Di mataku
Antara angin masa lalu
Dan hari ini
Buih ombak
Mendesah lebih riuh
(mungkin suaramu
Atau nafasmu)
Di dadaku
antara renda bermotif bunga
dengan lapisan
busa halus
antara bercak
tanganmu
yang tertinggal 10 tahun
silam
ada camar
tersesat
saat mania Giorgio Armani
mengngirim wewangian
rempah
di leherku
atau Christian Dior
menyelipkan
dedaunan luruh
di kulitku
di pantai yang jauh
sebuah dosa indah
terselip
di lipatan bibirku
dan di ujung
rambutku
yang gemetar
kata-kata hilang makna
“puasaku batal
Hari ini”

Selamat Jalan, Penyair, bersama Tuhan teruslah menulis puisi-puisi yang baik…

Tags: in memoriamPenyairPuisi
Share2220TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (2), Hakekatnya Memang Batasan

Next Post

Gede Juta

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails
Next Post

Gede Juta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co