2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terbebas dari Pedidikan yang Menindas

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Opini

Foto koleksi penulis

ALBERT Einstein pernah berkata bahwa setiap anak itu genius. Jika semua anak diibaratkan ikan air laut yang harus hidup di air tawar, semestinya sekolah harus dikritisi bahkan harus digugat di pengadilan HAM. Mana mungkin ikan laut bisa hidup di danau walaupun mereka sama-sama ikan. Inikah tujuan dari sekolah?

Sekolah sibuk mengagungkan pendidikan yang tidak masuk akal. Sistem Pendidikan dikelilingi tembok Berlin. Ruang-ruang kelas tidak lagi berjendela. Jika jendela-jendela sekolah dibiarkan terbuka, anak-anak dianggap seperti Totto Chan si anak nakal yang selalu penasaran dengan kejadian-kejadian di balik jendela.

Pikiran anak didik membatu sebatas pada cetakan printer yang sudah terprogram. Bahkan, sekolah bangga jutaan anak didiknya bisa membaca, tetapi tidak bisa memutuskan arah masa depannya. Apa lagi kebanggaan itu tanpa disadari, anak didiknya bisa membaca tetapi tidak terbiasa membaca maupun membudayakan membaca.

Anak didiknya seperti dalam adegan film Charlie Chaplin “Modern Times” yang hanya bisa menyelesaikan per bagian tanpa mengetahui secara utuh. Mengapa masalah ini terus membelenggu dunia pendidikan?
Dunia pendidikan hanya sibuk pada pemikiran, “Apa yang harus dilakukan untuk menghabiskan jutaan anggaran?” Terkurung pada paradigma serapan anggaran yang 100%.

Sekolah pun sibuk mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan maupun seminar-seminar yang seolah-olah untuk kepentingan memajukan pendidikan. Namun, tujuan yang mulia itu tercapai tetapi hanya statistik belaka.

Coba dibayangkan, selama bertahun-tahun pendidik berdogma akan kebenaran. Pendidik mendogma satu pandangan pada anak didiknya yaitu 3 x 3 = 9. Akan tetapi, murid tidak melihat pandangan lain yaitu 3 + 3 + 3 = 9, 5 + 4 = 9, atau yang lainya.

Begitu juga, anak didik mampu menggunakan dan menghafal rumus matematika tetapi tidak memahami konsep dasarnya. Misalnya, ketika berbicara rumus Teorema Pythagoras (a^2+ b^2= c^2), anak didik hanya tahu itu rumus mencari sisi-sisi segitiga.

Namun, tidak dipahami bahwa itu adalah luas persegi a dan luas persegi b sama dengan luas persegi c. Dengan demikian, sisi a segitiga sama dengan sisi a persegi, sisi b segitaga sama dengan sisi b persegi, dan sisi c segitiga sama dengan sisi c persegi.

Bahkan, pendidik ketika menanyakan tentang suatu pengertian dari materi pembelajaran maka harus sesui dengan yang disampaikan bahkan harus sesuai dengan tanda bacanya. Tidak sampai di situ saja, proses bembelajaran kadang membuat bosan dan melelahkan. Apa lagi, pendidik merasa lebih hebat atau superior dibandingkan anak didiknya.

Hal ini berdampak pada proses pembelajaran. Ketika anak didik menyampaikan tentang suatu materi yang tidak sepaham dengan pendidik, banyak pendidik yang mengatakan bahwa itu salah. Bahkan, ada yang mengatakan itu salah karena memang tidak tahu atau belum baca tentang materi tersebut. Namun, pendidik malu mengakuinya karena pantang bagi pendidik kalah dari anak didiknya.

Akan tetapi, hal yang harus disadari dalam pendidikan, sekolah yang anti kritikan. Sekilas banyak orang yang tidak menyadari. Akan tetapi, jika diperhatikan secara seksama akan terlihat menusuk diri sendiri. Visi dan misi untuk menumbuhkan karakter kritis ada di setiap sekolah, tetapi ketika dikritik dianggap menyalahi aturan, suka bikin keributan, dan tidak menghormati pendidik.

Apakah ini sebagian besar adalah potret pendidikan Indonesia? Jika ini benar terjadi di sebagian besar dalam pendidikan kita, betapa suramnya generasi bangsa ini. Apalagi, jika para pendidik tidak bisa merubah pola pikirnya itu, pendidikan kita akan terkungkung dalam pendidikan yang menindas.

Apakah mau generasi kita menikmati pendidikan yang menindas? Tentu kita berharap hal itu tidak terjadi. Namun, Bishop Mandell Creighton berkata, “Satu tujuan nyata dari pendidikan adalah membuat manusia tetap dalam kondisi terus menerus bertanya.”

Jika anak didik dikondisikan dalam kondisi terus menerus bertanya dan pendidik memiliki pandangan yang luas seperti kondisi pendidikan Finlandia, pola pendidikan yang menindas akan mudah dibongkar. Kita pun menjadi sangat terharu dan bangga ketika melihat generasi-generasi penerus tersenyum bahagia seperti Totto Chan dengan penuh tanggung jawab dan tersenyum bahagia ketika berada di sekolah baru di gerbong kereta api. Kita tidak lagi menemukan senyum-senyum yang menunjukan rasa tertidas maupun tertekan selama pembelajaran.

Kita pun akan lebih mudah menemukan pendidikan yang memanusiakan manusia. Semudah menemukan sepucuk surat yang dituliskan oleh seorang anak tentang tempat belajarnya.

Saya Anatasya Dena Lova. Saat saya kelas 4, saya mengikuti les BSB (Belajar sambil Bermain).
Di BSB saya bertemu dengan teman-teman, ada teman sekolah dan ada teman TK.
Saya senang les di BSB karena di BSB saya bisa menanyakan hal yang tidak saya ketahui dan saya berubah.
Dulu saya anak yang pemalas dan ketika saya ikut BSB, saya menjadi anak yang rajin.
Di BSB saya diajarkan tentang hal yang belum saya ketahui.
Di BSB saya diajar oleh kakak-kakak.
Saya senang ikut BSB karena di BSB semua orang sangat ramah.
Di BSB saya sangat suka belajar.
Di sana saya bisa menanyakan hal yang belum saya ketahui tentang soal-soal yang diberikan oleh guru.
BSB sangat menyenangkan.
Di BSB saya belajar mandiri.
BSB merupakan tempat belajar sambil bermain.
Les BSB sangat seru dan senang.
BSB sangat bagus.
BSB tempat saya belajar dan bermain.
BSB sangat indah.
Di BSB saya melihat kakak kelas 5 sedang bermain kelereng dan bermain bola.
BSB merupakan les yang sangat saya sukai.
Saya senang dan bahasia di BSB.
BSB terima kasih.
Saya berharap semoga BSB selalu maju.
BSB adalah les yang saya sukai.”

(Salah satu surat anak SD mengisi kegiatan sore dengan mengikuti BSB (Belajar sambil Bermain).

Dengan demikian, kita akan bertanya-tanya, “Sudah sampai manakah dunia pendidikan Indonesia?” (T)

Tags: Albert EinsteinPendidikanpendidikan usia diniTotto Chan
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

“Singaraja Movement”, Kebangkitan Skena Musik Bawah Tanah Singaraja?

Next Post

Cara Hidup dan Pola Pikir Seorang Introvert – Catatan dari Sekitar

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Cara Hidup dan Pola Pikir Seorang Introvert – Catatan dari Sekitar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co