23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terbebas dari Pedidikan yang Menindas

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Opini

Foto koleksi penulis

ALBERT Einstein pernah berkata bahwa setiap anak itu genius. Jika semua anak diibaratkan ikan air laut yang harus hidup di air tawar, semestinya sekolah harus dikritisi bahkan harus digugat di pengadilan HAM. Mana mungkin ikan laut bisa hidup di danau walaupun mereka sama-sama ikan. Inikah tujuan dari sekolah?

Sekolah sibuk mengagungkan pendidikan yang tidak masuk akal. Sistem Pendidikan dikelilingi tembok Berlin. Ruang-ruang kelas tidak lagi berjendela. Jika jendela-jendela sekolah dibiarkan terbuka, anak-anak dianggap seperti Totto Chan si anak nakal yang selalu penasaran dengan kejadian-kejadian di balik jendela.

Pikiran anak didik membatu sebatas pada cetakan printer yang sudah terprogram. Bahkan, sekolah bangga jutaan anak didiknya bisa membaca, tetapi tidak bisa memutuskan arah masa depannya. Apa lagi kebanggaan itu tanpa disadari, anak didiknya bisa membaca tetapi tidak terbiasa membaca maupun membudayakan membaca.

Anak didiknya seperti dalam adegan film Charlie Chaplin “Modern Times” yang hanya bisa menyelesaikan per bagian tanpa mengetahui secara utuh. Mengapa masalah ini terus membelenggu dunia pendidikan?
Dunia pendidikan hanya sibuk pada pemikiran, “Apa yang harus dilakukan untuk menghabiskan jutaan anggaran?” Terkurung pada paradigma serapan anggaran yang 100%.

Sekolah pun sibuk mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan maupun seminar-seminar yang seolah-olah untuk kepentingan memajukan pendidikan. Namun, tujuan yang mulia itu tercapai tetapi hanya statistik belaka.

Coba dibayangkan, selama bertahun-tahun pendidik berdogma akan kebenaran. Pendidik mendogma satu pandangan pada anak didiknya yaitu 3 x 3 = 9. Akan tetapi, murid tidak melihat pandangan lain yaitu 3 + 3 + 3 = 9, 5 + 4 = 9, atau yang lainya.

Begitu juga, anak didik mampu menggunakan dan menghafal rumus matematika tetapi tidak memahami konsep dasarnya. Misalnya, ketika berbicara rumus Teorema Pythagoras (a^2+ b^2= c^2), anak didik hanya tahu itu rumus mencari sisi-sisi segitiga.

Namun, tidak dipahami bahwa itu adalah luas persegi a dan luas persegi b sama dengan luas persegi c. Dengan demikian, sisi a segitiga sama dengan sisi a persegi, sisi b segitaga sama dengan sisi b persegi, dan sisi c segitiga sama dengan sisi c persegi.

Bahkan, pendidik ketika menanyakan tentang suatu pengertian dari materi pembelajaran maka harus sesui dengan yang disampaikan bahkan harus sesuai dengan tanda bacanya. Tidak sampai di situ saja, proses bembelajaran kadang membuat bosan dan melelahkan. Apa lagi, pendidik merasa lebih hebat atau superior dibandingkan anak didiknya.

Hal ini berdampak pada proses pembelajaran. Ketika anak didik menyampaikan tentang suatu materi yang tidak sepaham dengan pendidik, banyak pendidik yang mengatakan bahwa itu salah. Bahkan, ada yang mengatakan itu salah karena memang tidak tahu atau belum baca tentang materi tersebut. Namun, pendidik malu mengakuinya karena pantang bagi pendidik kalah dari anak didiknya.

Akan tetapi, hal yang harus disadari dalam pendidikan, sekolah yang anti kritikan. Sekilas banyak orang yang tidak menyadari. Akan tetapi, jika diperhatikan secara seksama akan terlihat menusuk diri sendiri. Visi dan misi untuk menumbuhkan karakter kritis ada di setiap sekolah, tetapi ketika dikritik dianggap menyalahi aturan, suka bikin keributan, dan tidak menghormati pendidik.

Apakah ini sebagian besar adalah potret pendidikan Indonesia? Jika ini benar terjadi di sebagian besar dalam pendidikan kita, betapa suramnya generasi bangsa ini. Apalagi, jika para pendidik tidak bisa merubah pola pikirnya itu, pendidikan kita akan terkungkung dalam pendidikan yang menindas.

Apakah mau generasi kita menikmati pendidikan yang menindas? Tentu kita berharap hal itu tidak terjadi. Namun, Bishop Mandell Creighton berkata, “Satu tujuan nyata dari pendidikan adalah membuat manusia tetap dalam kondisi terus menerus bertanya.”

Jika anak didik dikondisikan dalam kondisi terus menerus bertanya dan pendidik memiliki pandangan yang luas seperti kondisi pendidikan Finlandia, pola pendidikan yang menindas akan mudah dibongkar. Kita pun menjadi sangat terharu dan bangga ketika melihat generasi-generasi penerus tersenyum bahagia seperti Totto Chan dengan penuh tanggung jawab dan tersenyum bahagia ketika berada di sekolah baru di gerbong kereta api. Kita tidak lagi menemukan senyum-senyum yang menunjukan rasa tertidas maupun tertekan selama pembelajaran.

Kita pun akan lebih mudah menemukan pendidikan yang memanusiakan manusia. Semudah menemukan sepucuk surat yang dituliskan oleh seorang anak tentang tempat belajarnya.

Saya Anatasya Dena Lova. Saat saya kelas 4, saya mengikuti les BSB (Belajar sambil Bermain).
Di BSB saya bertemu dengan teman-teman, ada teman sekolah dan ada teman TK.
Saya senang les di BSB karena di BSB saya bisa menanyakan hal yang tidak saya ketahui dan saya berubah.
Dulu saya anak yang pemalas dan ketika saya ikut BSB, saya menjadi anak yang rajin.
Di BSB saya diajarkan tentang hal yang belum saya ketahui.
Di BSB saya diajar oleh kakak-kakak.
Saya senang ikut BSB karena di BSB semua orang sangat ramah.
Di BSB saya sangat suka belajar.
Di sana saya bisa menanyakan hal yang belum saya ketahui tentang soal-soal yang diberikan oleh guru.
BSB sangat menyenangkan.
Di BSB saya belajar mandiri.
BSB merupakan tempat belajar sambil bermain.
Les BSB sangat seru dan senang.
BSB sangat bagus.
BSB tempat saya belajar dan bermain.
BSB sangat indah.
Di BSB saya melihat kakak kelas 5 sedang bermain kelereng dan bermain bola.
BSB merupakan les yang sangat saya sukai.
Saya senang dan bahasia di BSB.
BSB terima kasih.
Saya berharap semoga BSB selalu maju.
BSB adalah les yang saya sukai.”

(Salah satu surat anak SD mengisi kegiatan sore dengan mengikuti BSB (Belajar sambil Bermain).

Dengan demikian, kita akan bertanya-tanya, “Sudah sampai manakah dunia pendidikan Indonesia?” (T)

Tags: Albert EinsteinPendidikanpendidikan usia diniTotto Chan
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

“Singaraja Movement”, Kebangkitan Skena Musik Bawah Tanah Singaraja?

Next Post

Cara Hidup dan Pola Pikir Seorang Introvert – Catatan dari Sekitar

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Cara Hidup dan Pola Pikir Seorang Introvert – Catatan dari Sekitar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co