14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lestarikan Sawah, Anak Petani Bisa Belajar dari “Game Harvest Moon”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diambil dari internet

SAAT kecil dulu bermain game itu hiburan sangat mewah. Jajan sekolah dikumpulkan seribu demi seribu hanya untuk bisa bermain play station (PS). Senang rasanya ketika bisa main game PS itu, walaupun hanya 1 jam.

Masih tergambar dengan jelas bagaimana saya, saat itu di kelas 5 sekolah dasar, sangat takjub mengenal game bernama PS. Saya tersihir. Apalagi saat Hari Raya Galungan. Saya sangat senang jika Galungan tiba. Biasanya saat itu saya banyak mendapat uang dari paman atau keluarga yang pulang kampung ke rumah untuk sembahyang. Rp 10.000, Rp 20.000 bahkan hanya Rp 5.000 pun rasa senang seakan memenuhi isi kepala.

Galungan pasti saya habiskan di tempat sewa play station. Setelah sembahyang, saya lari dengan bahagia ke tempat sewa play station. Uang 45.000 ribu rupiah sudah di kantong. Uang sejumlah itu adalah banyaaaaak bagi anak seumuran kelas 5 SD.

Harga memory card PS1 saat itu Rp 35.000. Saya sangat ingin membelinya karena kalau tidak punya itu, tidak akan bisa menyimpan data game. Apalagi saat itu sedang ramai orang main Harvest Moon. Itu game bertani, berternak dll. Pokoknya seru, seperti hidup di dunia nyata, pikir saya saat itu.

Setelah meminta sepupu untuk mengantar membelikan memory card, saya mulai memainkan game bernama Harvest Moon itu. Saya sangat senang. Hari minggu, waktu 2 jam selalu habis di warung sewa PS itu. Siang pasti dicari oleh Ibu dan menyuruh saya pulang untuk makan/sekedar tidur siang.

Setelah 14 tahun berlalu, saya kembali ingat akan kenangan yang ditawarkan Harvest Moon. Saya pikir, orang Bali dan anak petani, mesti belajar dari game ini.

Di dalam game ini kita diminta untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Biasanya dengan cara bertani. Kita membeli bibit dulu, lalu menanam, memanennya dan baru menjual hasil panen itu. Kalau pun sedikit memiliki hasil panen kita masih bisa berternak, sehingga tetap mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan hidup.

Ini sangat berbeda jika kita bandingkan dengan orang Bali kini. Karena desakan pariwisata dan raungan para pemilik modal yang tak berhenti dengan cara mengontrak tanah, kita seakan-akan sangat tidak berdaya di mata makhluk bernama pariwisata. Kita cepat menyerah kepada pariwisata dan menganggap bahwa pariwisata adalah tuan atas segalanya. Dan kitalah hambanya.

Sawah di Bali dulu sangat banyak dan kini semakin berkurang hingga bahkan ribuan hektar setiap tahun. Ini karena kita tidak terlalu banyak belajar, walaupun belajar dari hal sepele semacam game. Kita tidak pernah terlalu berusaha untuk itu, karena lebih suka mencari jalan yang paling mudah tanpa resiko besar.

Dalam game Harvest Moon, jika kita tidak punya uang, pasti ada cara lain seperti memelihara binatang ternak agar nanti bisa dijual. Tidak dengan menjual sawahnya.

Berbeda dengan kita, ketika penghasilan bertani tidak cukup untuk membeli kebutuhan hidup kita akan mengambil jalan pintas, jual saja, pakai modal usaha dagang atau modal merantau ke kota sehingga kebutuhan bisa terpenuhi. Kita juga tidak perlu lagi kerja di desa kotor-kotor macam bertani, pokoknya jual.

Ada banyak faktor memang orang Bali kini senang menjual sawah. Salah satunya adalah harapan orang tua petani pada anaknya . Anak petani biasanya diberi paham gengsi oleh orang tuanya. Sebagian besar orang pernah mendengar pesan seperti ini: “Tu yen Bapa sube dadi petani, nyaan Putu de masih dadi petani nah, yen ngidaang lebih luwung ken Bapa.” Tu, kalau Bapak sudah jadi petani, nanti Putu jangan jadi petani ya, kalau bisa lebih bagus dari pekerjaan Bapak sekarang.

Orang tua itu tidak sadar, bahwa dari kecil dia mengharapkan anaknya tidak melanjutkan apa yang dia sudah lakukan dan perjuangkan. Dia berharap anaknya nanti tidak bertani, atau mencari pekerjaan lain yang lebih bagus dari bertani.

Hingga anaknya besar, semakin besarlah harapan dan niat menjual sawah itu. Anaknya ingin menjadi pegawai negeri, sawah tidak ada yang mengolah. Daripada begitu lebih baik sawah dijual saja. Hasil menjual sawah dipakai modal nanti beli mobil/motor mahal biar ke kantor lebih keren.

Anak petani sering merasa minder kalau ditanya pekerjaannya apa. Pasti akan minder menjawab sebagai petani. Mereka lebih suka terlihat keren jika menjawab bekerja di pariwisata, atau bekerja di kapal pesiar. Wuih, keren. Anak petani akan lebih minder jika mencium bau parfurm luar negeri anak kapal pesiar sekelas Hugo boss, Hermes, Calvin Klein dan lainnya.

Padahal, bau keringat dari tubuh alami sehabis menikmati panen dari sawah sendiri sesungguhnya jauh lebih keren dan lebih seksi dari parfum buatan yang kadang baunya bikin mual itu.

Mereka tidak sadar, di tangan anak petanilah masa depan subak dan masa depan Bali nanti. Apa yang bisa diambil dari Harvest Moon? Dia bertani dari muda hingga dia menjadi orang tua tetap bertani. Tetap keren bertopi oranye dan tetap giat menanam dan memberi pupuk pertaniannya. Tidak minder apalagi gegabah sampai menjual sawah untuk modal menjadi pekerja kapal pesiar.

Pesan Harvest Moon sangat sederhana. Jadilah dirimu sendiri, jika bertani jadilah petani yang sebenar-benarnya. Belajar lewat membaca lingkungan dan tetap berusaha agar hidup dan kehidupan tetap berjalan. Tidak minder karena menjadi petani itu keren.

Di tanganmu kelak bagaimana subak dan pertanian Bali di masa depan. Yang sudah pasti, jika anak petani semakin percaya diri dengan kemampuannya, kita tidak akan lagi melkaukan hal yang namanya impor beras, buah dan kebutuhan pangan kita. Berbanggalah kamu sebagai anak petani. (T)

Tags: gameHarvest Moonnostalgiapertanianpetani
Share102TweetSendShareSend
Previous Post

Pilkada 2012, PASS Menang karena Pemilih Buleleng Rasional – Bagaimana Kini?

Next Post

Pria dengan Rasa Jeruk

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post

Pria dengan Rasa Jeruk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co