12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lestarikan Sawah, Anak Petani Bisa Belajar dari “Game Harvest Moon”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diambil dari internet

SAAT kecil dulu bermain game itu hiburan sangat mewah. Jajan sekolah dikumpulkan seribu demi seribu hanya untuk bisa bermain play station (PS). Senang rasanya ketika bisa main game PS itu, walaupun hanya 1 jam.

Masih tergambar dengan jelas bagaimana saya, saat itu di kelas 5 sekolah dasar, sangat takjub mengenal game bernama PS. Saya tersihir. Apalagi saat Hari Raya Galungan. Saya sangat senang jika Galungan tiba. Biasanya saat itu saya banyak mendapat uang dari paman atau keluarga yang pulang kampung ke rumah untuk sembahyang. Rp 10.000, Rp 20.000 bahkan hanya Rp 5.000 pun rasa senang seakan memenuhi isi kepala.

Galungan pasti saya habiskan di tempat sewa play station. Setelah sembahyang, saya lari dengan bahagia ke tempat sewa play station. Uang 45.000 ribu rupiah sudah di kantong. Uang sejumlah itu adalah banyaaaaak bagi anak seumuran kelas 5 SD.

Harga memory card PS1 saat itu Rp 35.000. Saya sangat ingin membelinya karena kalau tidak punya itu, tidak akan bisa menyimpan data game. Apalagi saat itu sedang ramai orang main Harvest Moon. Itu game bertani, berternak dll. Pokoknya seru, seperti hidup di dunia nyata, pikir saya saat itu.

Setelah meminta sepupu untuk mengantar membelikan memory card, saya mulai memainkan game bernama Harvest Moon itu. Saya sangat senang. Hari minggu, waktu 2 jam selalu habis di warung sewa PS itu. Siang pasti dicari oleh Ibu dan menyuruh saya pulang untuk makan/sekedar tidur siang.

Setelah 14 tahun berlalu, saya kembali ingat akan kenangan yang ditawarkan Harvest Moon. Saya pikir, orang Bali dan anak petani, mesti belajar dari game ini.

Di dalam game ini kita diminta untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Biasanya dengan cara bertani. Kita membeli bibit dulu, lalu menanam, memanennya dan baru menjual hasil panen itu. Kalau pun sedikit memiliki hasil panen kita masih bisa berternak, sehingga tetap mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan hidup.

Ini sangat berbeda jika kita bandingkan dengan orang Bali kini. Karena desakan pariwisata dan raungan para pemilik modal yang tak berhenti dengan cara mengontrak tanah, kita seakan-akan sangat tidak berdaya di mata makhluk bernama pariwisata. Kita cepat menyerah kepada pariwisata dan menganggap bahwa pariwisata adalah tuan atas segalanya. Dan kitalah hambanya.

Sawah di Bali dulu sangat banyak dan kini semakin berkurang hingga bahkan ribuan hektar setiap tahun. Ini karena kita tidak terlalu banyak belajar, walaupun belajar dari hal sepele semacam game. Kita tidak pernah terlalu berusaha untuk itu, karena lebih suka mencari jalan yang paling mudah tanpa resiko besar.

Dalam game Harvest Moon, jika kita tidak punya uang, pasti ada cara lain seperti memelihara binatang ternak agar nanti bisa dijual. Tidak dengan menjual sawahnya.

Berbeda dengan kita, ketika penghasilan bertani tidak cukup untuk membeli kebutuhan hidup kita akan mengambil jalan pintas, jual saja, pakai modal usaha dagang atau modal merantau ke kota sehingga kebutuhan bisa terpenuhi. Kita juga tidak perlu lagi kerja di desa kotor-kotor macam bertani, pokoknya jual.

Ada banyak faktor memang orang Bali kini senang menjual sawah. Salah satunya adalah harapan orang tua petani pada anaknya . Anak petani biasanya diberi paham gengsi oleh orang tuanya. Sebagian besar orang pernah mendengar pesan seperti ini: “Tu yen Bapa sube dadi petani, nyaan Putu de masih dadi petani nah, yen ngidaang lebih luwung ken Bapa.” Tu, kalau Bapak sudah jadi petani, nanti Putu jangan jadi petani ya, kalau bisa lebih bagus dari pekerjaan Bapak sekarang.

Orang tua itu tidak sadar, bahwa dari kecil dia mengharapkan anaknya tidak melanjutkan apa yang dia sudah lakukan dan perjuangkan. Dia berharap anaknya nanti tidak bertani, atau mencari pekerjaan lain yang lebih bagus dari bertani.

Hingga anaknya besar, semakin besarlah harapan dan niat menjual sawah itu. Anaknya ingin menjadi pegawai negeri, sawah tidak ada yang mengolah. Daripada begitu lebih baik sawah dijual saja. Hasil menjual sawah dipakai modal nanti beli mobil/motor mahal biar ke kantor lebih keren.

Anak petani sering merasa minder kalau ditanya pekerjaannya apa. Pasti akan minder menjawab sebagai petani. Mereka lebih suka terlihat keren jika menjawab bekerja di pariwisata, atau bekerja di kapal pesiar. Wuih, keren. Anak petani akan lebih minder jika mencium bau parfurm luar negeri anak kapal pesiar sekelas Hugo boss, Hermes, Calvin Klein dan lainnya.

Padahal, bau keringat dari tubuh alami sehabis menikmati panen dari sawah sendiri sesungguhnya jauh lebih keren dan lebih seksi dari parfum buatan yang kadang baunya bikin mual itu.

Mereka tidak sadar, di tangan anak petanilah masa depan subak dan masa depan Bali nanti. Apa yang bisa diambil dari Harvest Moon? Dia bertani dari muda hingga dia menjadi orang tua tetap bertani. Tetap keren bertopi oranye dan tetap giat menanam dan memberi pupuk pertaniannya. Tidak minder apalagi gegabah sampai menjual sawah untuk modal menjadi pekerja kapal pesiar.

Pesan Harvest Moon sangat sederhana. Jadilah dirimu sendiri, jika bertani jadilah petani yang sebenar-benarnya. Belajar lewat membaca lingkungan dan tetap berusaha agar hidup dan kehidupan tetap berjalan. Tidak minder karena menjadi petani itu keren.

Di tanganmu kelak bagaimana subak dan pertanian Bali di masa depan. Yang sudah pasti, jika anak petani semakin percaya diri dengan kemampuannya, kita tidak akan lagi melkaukan hal yang namanya impor beras, buah dan kebutuhan pangan kita. Berbanggalah kamu sebagai anak petani. (T)

Tags: gameHarvest Moonnostalgiapertanianpetani
Share102TweetSendShareSend
Previous Post

Pilkada 2012, PASS Menang karena Pemilih Buleleng Rasional – Bagaimana Kini?

Next Post

Pria dengan Rasa Jeruk

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Pria dengan Rasa Jeruk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co