23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lestarikan Sawah, Anak Petani Bisa Belajar dari “Game Harvest Moon”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diambil dari internet

SAAT kecil dulu bermain game itu hiburan sangat mewah. Jajan sekolah dikumpulkan seribu demi seribu hanya untuk bisa bermain play station (PS). Senang rasanya ketika bisa main game PS itu, walaupun hanya 1 jam.

Masih tergambar dengan jelas bagaimana saya, saat itu di kelas 5 sekolah dasar, sangat takjub mengenal game bernama PS. Saya tersihir. Apalagi saat Hari Raya Galungan. Saya sangat senang jika Galungan tiba. Biasanya saat itu saya banyak mendapat uang dari paman atau keluarga yang pulang kampung ke rumah untuk sembahyang. Rp 10.000, Rp 20.000 bahkan hanya Rp 5.000 pun rasa senang seakan memenuhi isi kepala.

Galungan pasti saya habiskan di tempat sewa play station. Setelah sembahyang, saya lari dengan bahagia ke tempat sewa play station. Uang 45.000 ribu rupiah sudah di kantong. Uang sejumlah itu adalah banyaaaaak bagi anak seumuran kelas 5 SD.

Harga memory card PS1 saat itu Rp 35.000. Saya sangat ingin membelinya karena kalau tidak punya itu, tidak akan bisa menyimpan data game. Apalagi saat itu sedang ramai orang main Harvest Moon. Itu game bertani, berternak dll. Pokoknya seru, seperti hidup di dunia nyata, pikir saya saat itu.

Setelah meminta sepupu untuk mengantar membelikan memory card, saya mulai memainkan game bernama Harvest Moon itu. Saya sangat senang. Hari minggu, waktu 2 jam selalu habis di warung sewa PS itu. Siang pasti dicari oleh Ibu dan menyuruh saya pulang untuk makan/sekedar tidur siang.

Setelah 14 tahun berlalu, saya kembali ingat akan kenangan yang ditawarkan Harvest Moon. Saya pikir, orang Bali dan anak petani, mesti belajar dari game ini.

Di dalam game ini kita diminta untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Biasanya dengan cara bertani. Kita membeli bibit dulu, lalu menanam, memanennya dan baru menjual hasil panen itu. Kalau pun sedikit memiliki hasil panen kita masih bisa berternak, sehingga tetap mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan hidup.

Ini sangat berbeda jika kita bandingkan dengan orang Bali kini. Karena desakan pariwisata dan raungan para pemilik modal yang tak berhenti dengan cara mengontrak tanah, kita seakan-akan sangat tidak berdaya di mata makhluk bernama pariwisata. Kita cepat menyerah kepada pariwisata dan menganggap bahwa pariwisata adalah tuan atas segalanya. Dan kitalah hambanya.

Sawah di Bali dulu sangat banyak dan kini semakin berkurang hingga bahkan ribuan hektar setiap tahun. Ini karena kita tidak terlalu banyak belajar, walaupun belajar dari hal sepele semacam game. Kita tidak pernah terlalu berusaha untuk itu, karena lebih suka mencari jalan yang paling mudah tanpa resiko besar.

Dalam game Harvest Moon, jika kita tidak punya uang, pasti ada cara lain seperti memelihara binatang ternak agar nanti bisa dijual. Tidak dengan menjual sawahnya.

Berbeda dengan kita, ketika penghasilan bertani tidak cukup untuk membeli kebutuhan hidup kita akan mengambil jalan pintas, jual saja, pakai modal usaha dagang atau modal merantau ke kota sehingga kebutuhan bisa terpenuhi. Kita juga tidak perlu lagi kerja di desa kotor-kotor macam bertani, pokoknya jual.

Ada banyak faktor memang orang Bali kini senang menjual sawah. Salah satunya adalah harapan orang tua petani pada anaknya . Anak petani biasanya diberi paham gengsi oleh orang tuanya. Sebagian besar orang pernah mendengar pesan seperti ini: “Tu yen Bapa sube dadi petani, nyaan Putu de masih dadi petani nah, yen ngidaang lebih luwung ken Bapa.” Tu, kalau Bapak sudah jadi petani, nanti Putu jangan jadi petani ya, kalau bisa lebih bagus dari pekerjaan Bapak sekarang.

Orang tua itu tidak sadar, bahwa dari kecil dia mengharapkan anaknya tidak melanjutkan apa yang dia sudah lakukan dan perjuangkan. Dia berharap anaknya nanti tidak bertani, atau mencari pekerjaan lain yang lebih bagus dari bertani.

Hingga anaknya besar, semakin besarlah harapan dan niat menjual sawah itu. Anaknya ingin menjadi pegawai negeri, sawah tidak ada yang mengolah. Daripada begitu lebih baik sawah dijual saja. Hasil menjual sawah dipakai modal nanti beli mobil/motor mahal biar ke kantor lebih keren.

Anak petani sering merasa minder kalau ditanya pekerjaannya apa. Pasti akan minder menjawab sebagai petani. Mereka lebih suka terlihat keren jika menjawab bekerja di pariwisata, atau bekerja di kapal pesiar. Wuih, keren. Anak petani akan lebih minder jika mencium bau parfurm luar negeri anak kapal pesiar sekelas Hugo boss, Hermes, Calvin Klein dan lainnya.

Padahal, bau keringat dari tubuh alami sehabis menikmati panen dari sawah sendiri sesungguhnya jauh lebih keren dan lebih seksi dari parfum buatan yang kadang baunya bikin mual itu.

Mereka tidak sadar, di tangan anak petanilah masa depan subak dan masa depan Bali nanti. Apa yang bisa diambil dari Harvest Moon? Dia bertani dari muda hingga dia menjadi orang tua tetap bertani. Tetap keren bertopi oranye dan tetap giat menanam dan memberi pupuk pertaniannya. Tidak minder apalagi gegabah sampai menjual sawah untuk modal menjadi pekerja kapal pesiar.

Pesan Harvest Moon sangat sederhana. Jadilah dirimu sendiri, jika bertani jadilah petani yang sebenar-benarnya. Belajar lewat membaca lingkungan dan tetap berusaha agar hidup dan kehidupan tetap berjalan. Tidak minder karena menjadi petani itu keren.

Di tanganmu kelak bagaimana subak dan pertanian Bali di masa depan. Yang sudah pasti, jika anak petani semakin percaya diri dengan kemampuannya, kita tidak akan lagi melkaukan hal yang namanya impor beras, buah dan kebutuhan pangan kita. Berbanggalah kamu sebagai anak petani. (T)

Tags: gameHarvest Moonnostalgiapertanianpetani
Share102TweetSendShareSend
Previous Post

Pilkada 2012, PASS Menang karena Pemilih Buleleng Rasional – Bagaimana Kini?

Next Post

Pria dengan Rasa Jeruk

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Pria dengan Rasa Jeruk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co