2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lestarikan Sawah, Anak Petani Bisa Belajar dari “Game Harvest Moon”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diambil dari internet

SAAT kecil dulu bermain game itu hiburan sangat mewah. Jajan sekolah dikumpulkan seribu demi seribu hanya untuk bisa bermain play station (PS). Senang rasanya ketika bisa main game PS itu, walaupun hanya 1 jam.

Masih tergambar dengan jelas bagaimana saya, saat itu di kelas 5 sekolah dasar, sangat takjub mengenal game bernama PS. Saya tersihir. Apalagi saat Hari Raya Galungan. Saya sangat senang jika Galungan tiba. Biasanya saat itu saya banyak mendapat uang dari paman atau keluarga yang pulang kampung ke rumah untuk sembahyang. Rp 10.000, Rp 20.000 bahkan hanya Rp 5.000 pun rasa senang seakan memenuhi isi kepala.

Galungan pasti saya habiskan di tempat sewa play station. Setelah sembahyang, saya lari dengan bahagia ke tempat sewa play station. Uang 45.000 ribu rupiah sudah di kantong. Uang sejumlah itu adalah banyaaaaak bagi anak seumuran kelas 5 SD.

Harga memory card PS1 saat itu Rp 35.000. Saya sangat ingin membelinya karena kalau tidak punya itu, tidak akan bisa menyimpan data game. Apalagi saat itu sedang ramai orang main Harvest Moon. Itu game bertani, berternak dll. Pokoknya seru, seperti hidup di dunia nyata, pikir saya saat itu.

Setelah meminta sepupu untuk mengantar membelikan memory card, saya mulai memainkan game bernama Harvest Moon itu. Saya sangat senang. Hari minggu, waktu 2 jam selalu habis di warung sewa PS itu. Siang pasti dicari oleh Ibu dan menyuruh saya pulang untuk makan/sekedar tidur siang.

Setelah 14 tahun berlalu, saya kembali ingat akan kenangan yang ditawarkan Harvest Moon. Saya pikir, orang Bali dan anak petani, mesti belajar dari game ini.

Di dalam game ini kita diminta untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Biasanya dengan cara bertani. Kita membeli bibit dulu, lalu menanam, memanennya dan baru menjual hasil panen itu. Kalau pun sedikit memiliki hasil panen kita masih bisa berternak, sehingga tetap mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan hidup.

Ini sangat berbeda jika kita bandingkan dengan orang Bali kini. Karena desakan pariwisata dan raungan para pemilik modal yang tak berhenti dengan cara mengontrak tanah, kita seakan-akan sangat tidak berdaya di mata makhluk bernama pariwisata. Kita cepat menyerah kepada pariwisata dan menganggap bahwa pariwisata adalah tuan atas segalanya. Dan kitalah hambanya.

Sawah di Bali dulu sangat banyak dan kini semakin berkurang hingga bahkan ribuan hektar setiap tahun. Ini karena kita tidak terlalu banyak belajar, walaupun belajar dari hal sepele semacam game. Kita tidak pernah terlalu berusaha untuk itu, karena lebih suka mencari jalan yang paling mudah tanpa resiko besar.

Dalam game Harvest Moon, jika kita tidak punya uang, pasti ada cara lain seperti memelihara binatang ternak agar nanti bisa dijual. Tidak dengan menjual sawahnya.

Berbeda dengan kita, ketika penghasilan bertani tidak cukup untuk membeli kebutuhan hidup kita akan mengambil jalan pintas, jual saja, pakai modal usaha dagang atau modal merantau ke kota sehingga kebutuhan bisa terpenuhi. Kita juga tidak perlu lagi kerja di desa kotor-kotor macam bertani, pokoknya jual.

Ada banyak faktor memang orang Bali kini senang menjual sawah. Salah satunya adalah harapan orang tua petani pada anaknya . Anak petani biasanya diberi paham gengsi oleh orang tuanya. Sebagian besar orang pernah mendengar pesan seperti ini: “Tu yen Bapa sube dadi petani, nyaan Putu de masih dadi petani nah, yen ngidaang lebih luwung ken Bapa.” Tu, kalau Bapak sudah jadi petani, nanti Putu jangan jadi petani ya, kalau bisa lebih bagus dari pekerjaan Bapak sekarang.

Orang tua itu tidak sadar, bahwa dari kecil dia mengharapkan anaknya tidak melanjutkan apa yang dia sudah lakukan dan perjuangkan. Dia berharap anaknya nanti tidak bertani, atau mencari pekerjaan lain yang lebih bagus dari bertani.

Hingga anaknya besar, semakin besarlah harapan dan niat menjual sawah itu. Anaknya ingin menjadi pegawai negeri, sawah tidak ada yang mengolah. Daripada begitu lebih baik sawah dijual saja. Hasil menjual sawah dipakai modal nanti beli mobil/motor mahal biar ke kantor lebih keren.

Anak petani sering merasa minder kalau ditanya pekerjaannya apa. Pasti akan minder menjawab sebagai petani. Mereka lebih suka terlihat keren jika menjawab bekerja di pariwisata, atau bekerja di kapal pesiar. Wuih, keren. Anak petani akan lebih minder jika mencium bau parfurm luar negeri anak kapal pesiar sekelas Hugo boss, Hermes, Calvin Klein dan lainnya.

Padahal, bau keringat dari tubuh alami sehabis menikmati panen dari sawah sendiri sesungguhnya jauh lebih keren dan lebih seksi dari parfum buatan yang kadang baunya bikin mual itu.

Mereka tidak sadar, di tangan anak petanilah masa depan subak dan masa depan Bali nanti. Apa yang bisa diambil dari Harvest Moon? Dia bertani dari muda hingga dia menjadi orang tua tetap bertani. Tetap keren bertopi oranye dan tetap giat menanam dan memberi pupuk pertaniannya. Tidak minder apalagi gegabah sampai menjual sawah untuk modal menjadi pekerja kapal pesiar.

Pesan Harvest Moon sangat sederhana. Jadilah dirimu sendiri, jika bertani jadilah petani yang sebenar-benarnya. Belajar lewat membaca lingkungan dan tetap berusaha agar hidup dan kehidupan tetap berjalan. Tidak minder karena menjadi petani itu keren.

Di tanganmu kelak bagaimana subak dan pertanian Bali di masa depan. Yang sudah pasti, jika anak petani semakin percaya diri dengan kemampuannya, kita tidak akan lagi melkaukan hal yang namanya impor beras, buah dan kebutuhan pangan kita. Berbanggalah kamu sebagai anak petani. (T)

Tags: gameHarvest Moonnostalgiapertanianpetani
Share102TweetSendShareSend
Previous Post

Pilkada 2012, PASS Menang karena Pemilih Buleleng Rasional – Bagaimana Kini?

Next Post

Pria dengan Rasa Jeruk

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Pria dengan Rasa Jeruk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co