24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Debat Pilkada Buleleng: Menunggu Konsep SURYA dan PASS Bangun Daya Kreatif Anak Muda

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Opini

DEBAT tahap pertama pasangan Calon (Paslon) Bupati/Wakil Bupati Buleleng digelar Senin, 30 Januari 2017, di Hotel Melka, Lovina, Singaraja. Debat itu disiarkan langsung sejumlah radio di Buleleng.

Tema debat pada tahap pertama ini menarik: “Membangun Generasi Sehat, Cerdas, Kreatif, Bersih Narkoba untuk Menciptakan Lapangan Kerja buat Buleleng”. Ini tentu debat yang ditunggu masyarakat Buleleng, bagaimana paslon Dewa Sukrawan/Dharma Wijaya (SURYA) dan paslon Putu Agus Suradnyana/Nyoman Sutjidra (PASS) mendedahkan konsep mereka tentang pemberdayaan anak-anak muda di Buleleng.

Saya duga KPU Buleleng punya “misi khusus” kenapa tema itu diusung dalam debat. Selain dikenal memiliki cuaca panas (dalam pengertian sesungguhnya), sejak dulu Buleleng juga memiliki iklim kreatif, terutama dalam seni dan kebudayaan dalam arti seluas-luasnya.

Di Buleleng tercipta banyak karya seni unik yang tercipta dari daya kreatif anak-anak muda di masa lalu, semisal gong kebyar, tari kekebayaran, joged bumbung, ukiran postmodern (semisal ukiran orang naik sepeda di Pura Meduwe Karang), dan drama gong khas Buleleng.

Di bidang seni modern, anak-anak muda Buleleng di masa lalu banyak yang jadi pelopor. Misalnya, AA Panji Tisna menjadi sastrawan modern pertama di Bali yang menulis novel berbahasa Indonesia. Di Indonesia ia disejajarkan dengan sastrawan Pujangga Baru lain seperti Sutan Takdir Alisyahbana.
Karya-karya Sastra Bali Modern (sastra berbahasa Bali dengan gaya modern) juga pertama kali dibuat oleh orang Buleleng. Namanya Guru Made Pasek yang berkarya sejak1913.

Film pertama di Bali juga dipercaya dibuat di Buleleng. Selain Panji Tisna, ada AA Ngurah Sentanu yang membuat film secara komersial dan diputar keliling desa-desa di Bali Utara. Ada sejumlah film yang dibuat Sentanu, antara lain ”Karmapala” (1970), ”Mayadenawa” (1972), ”Jaya Umbara” (1973) dan ”Titah Dewata” (1974).

Di bidang pers, Buleleng juga bisa disebut pelopor. Anak-anak muda Buleleng yang intelek dan kreatif menerbitkan berbagai jurnal kebudayaan, seperti Shanti Adnyana (1923), Bali Adnyana (1924—1929), Surya Kanta (1925—1927), Bhawanagara (1931—1935), Djatajoe (1936—1941), dan Bhakti (1952—1954). Penerbitan itu adalah cikal-bakal pers di Bali.

Daya Kreatif dan Daya Usaha

Data-data yang ditulis di atas itu bisa ditambah lagi. Misalnya di bidang musik dan seni pertunjukan modern semacam teater. Satu lagi, Buleleng juga menciptakan kuliner unik yang tiada dua di Bali, semisal Siobak dan Sate Plecing.
Data itu sudah cukup membuktikan bahwa daya kreatif anak-anak muda Buleleng di masa lalu memang sangat besar.

Seharusnya daya kreatif yang besar dan kuat di masa lalu itu makin besar dan makin kuat di masa modern ini. Tentu saja, karena saat ini kesehatan anak-anak muda makin membaik dengan dibangunnya sejumlah rumah sakit, dan kecerdasan anak-anak muda juga makin tajir dengan dibangunnya sekolah-sekolah baru yang disertai sistem pendidikan yang cukup maju.

Namun, saya (secara pribadi) merasakan daya kreatif anak-anak muda Buleleng makin luntur. Setidaknya, tak sekuat daya kreatif di masa lalu. Kini, anak-anak muda lebih banyak terpengaruh (untuk tak bilang meniru) produk-produk kreatifitas yang sudah berkembang sebelumnya, di Bali atau di Indonesia.

Secara teknis mereka tetap pintar, misalnya dalam bidang seni, namun tak banyak dari mereka yang punya daya cipta yang menggebu, misalnya daya cipta yang kekuatannya setara dengan masa-masa ketika gong kebyar diciptakan di Buleleng, atau ketika drama gong bisa membuktikan diri sebagai drama yang berbeda dengan drama Bali selatan dan tetap laku ditonton.

Sungguh melegakan, daya bisnis anak-anak muda di Buleleng belakangan tampak besar. Banyak muncul wirausahawan muda dengan niat tulus sekaligus menggebu demi terciptanya usaha-usaha baru sekaligus terciptanya lapangan pekerjaan bagi teman-teman sesama anak muda yang lain. Namun karena daya kreatifitas yang lemah, banyak usaha terlihat pasang-surut, maju-bangkrut, buka-tutup.

Ada masa ketika banyak muncul kafetaria, semacam tempat minum dan makan sekaligus tempat nongkrong anak-anak muda. Namun yang bertahan hingga kini tidaklah banyak. Ada masa distro bertebaran, namun belakangan tak banyak juga yang bertahan.

Gejala itu bisa dilihat dalam dunia seni. Ada masa ketika grup musik menjamur, namun yang “bisa dijual” hanya beberapa dan beberapa lagi bubar jalan. Ketika bondres tampak laris, muncullah banyak grup bondres. Namun yang manggung di pasar-pasar hiburan hanya itu-itu saja.

Itu terjadi, salah satunya karena daya kreatif dan daya cipta yang melemah. Banyak anak-anak muda yang melakukan sesuatu karena orang lain sudah sukses melakukannya. Padahal, jika iklim kreativitas sungguh cerah, seseorang pasti punya ambisi sukses untuk menjadi pelopor, dengan menciptakan sesuatu yang baru, yang tak dilakukan orang lain.

Mencipta dan “Menjual”

Jangan tersinggung dulu. Saya tak seperti orang tua nyinyir yang dengan mudah menyalahkan anak-anak muda zaman sekarang sambil membandingkan dengan kesuksesan anak-anak muda zaman dulu.

Anak-anak yang punya daya kreatif yang besar di zaman dulu juga memiliki sejumlah kelemahan. Dulu, ketika banyak produk tercipta, anak-anak muda di zaman itu tak sekaligus punya kecerdasan untuk “menjual”. Artinya, daya bisnis mereka lemah. Kreativitas itu tak sekaligus menciptakan iklim usaha dan penciptaan lapangan usaha.

Atau, pada zaman itu, tak banyak pihak lain, seperti lembaga pemerintah dan lembaga nonpemerintah, yang membantu para kreator untuk mengembangkan produk kreatif mereka agar bisa “dijual” dan mendatangkan kesejahteraan bagi kreator dan masyarakat di sekitarnya. Terciptanya kreasi seni baru, misalnya, tak dibarengi dengan adanya pembangunan gedung kesenian yang representatif, sehingga mereka tak memiliki “tempat jualan” yang bagus.

Terciptanya desain-desain baru dalam dunia kerajinan perak, kerajinan kayu dan kerajinan bambu, misalnya, tak dibantu dengan pembangunan pasar seni kerajinan. Atau mereka tak dibantu untuk memperkenalkan produk mereka ke dunia luar.
Ada banyak anak muda yang jago bikin film, misalnya, namun tak ada yang punya keinginan membangun tempat putar film sekaligus menciptakan kecintaan pada film. Banyak seniman yang menciptakan lukisan-lukisan bagus, misalnya, namun hingga kini Buleleng tak punya galeri yang bagus untuk memamerkan karya-karya mereka agar para kolektor luar negeri mau datang ke Buleleng.

Kondisi-kondisi seperti itulah yang membuat daya cipta dan daya kreatif anak-anak muda Buleleng menjadi melemah. Tak ada lembaga, termasuk lembaga pemerintah, yang membantu anak-anak muda kreatif itu dengan cara yang benar. Lembaga pemerintah bikin lomba seni saja sudah merasa berjasa mengembangkan kesenian, padahal banyak hal lain seharusnya dikerjakan dengan serius.

Sehingga, jangan salah, muncul banyak ungkapan dengan nada menyindir: “Buleleng hanya bisa mencipta, kabupaten lain yang menjualnya!”

Debat Konsep

Saya berharap, dalam debat paslon Pilkada Buleleng, 30 Januari 2017, terungkap konsep-konsep yang bernas dari paslon tentang bagaimana menggairahkan kembali iklim penciptaan dan kreativitas anak-anak muda, sekaligus membuat konsep agar hasil kreasi anak-anak muda itu bisa “dijual” dan tercipta dunia usaha yang khas dan unik di Buleleng.

Anak-anak muda Buleleng sudah siap mendengarnya. (T)

Tags: bulelengKreativitasPilkadaproses kreatifSeniwirausaha
Share71TweetSendShareSend
Previous Post

Pesan Cinta yang Tak Pernah Terkirim

Next Post

Belajar Filsafat dari Anak Band Sekaliber Bob Dylan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Belajar Filsafat dari Anak Band Sekaliber Bob Dylan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co