14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Debat Pilkada Buleleng: Menunggu Konsep SURYA dan PASS Bangun Daya Kreatif Anak Muda

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Opini

DEBAT tahap pertama pasangan Calon (Paslon) Bupati/Wakil Bupati Buleleng digelar Senin, 30 Januari 2017, di Hotel Melka, Lovina, Singaraja. Debat itu disiarkan langsung sejumlah radio di Buleleng.

Tema debat pada tahap pertama ini menarik: “Membangun Generasi Sehat, Cerdas, Kreatif, Bersih Narkoba untuk Menciptakan Lapangan Kerja buat Buleleng”. Ini tentu debat yang ditunggu masyarakat Buleleng, bagaimana paslon Dewa Sukrawan/Dharma Wijaya (SURYA) dan paslon Putu Agus Suradnyana/Nyoman Sutjidra (PASS) mendedahkan konsep mereka tentang pemberdayaan anak-anak muda di Buleleng.

Saya duga KPU Buleleng punya “misi khusus” kenapa tema itu diusung dalam debat. Selain dikenal memiliki cuaca panas (dalam pengertian sesungguhnya), sejak dulu Buleleng juga memiliki iklim kreatif, terutama dalam seni dan kebudayaan dalam arti seluas-luasnya.

Di Buleleng tercipta banyak karya seni unik yang tercipta dari daya kreatif anak-anak muda di masa lalu, semisal gong kebyar, tari kekebayaran, joged bumbung, ukiran postmodern (semisal ukiran orang naik sepeda di Pura Meduwe Karang), dan drama gong khas Buleleng.

Di bidang seni modern, anak-anak muda Buleleng di masa lalu banyak yang jadi pelopor. Misalnya, AA Panji Tisna menjadi sastrawan modern pertama di Bali yang menulis novel berbahasa Indonesia. Di Indonesia ia disejajarkan dengan sastrawan Pujangga Baru lain seperti Sutan Takdir Alisyahbana.
Karya-karya Sastra Bali Modern (sastra berbahasa Bali dengan gaya modern) juga pertama kali dibuat oleh orang Buleleng. Namanya Guru Made Pasek yang berkarya sejak1913.

Film pertama di Bali juga dipercaya dibuat di Buleleng. Selain Panji Tisna, ada AA Ngurah Sentanu yang membuat film secara komersial dan diputar keliling desa-desa di Bali Utara. Ada sejumlah film yang dibuat Sentanu, antara lain ”Karmapala” (1970), ”Mayadenawa” (1972), ”Jaya Umbara” (1973) dan ”Titah Dewata” (1974).

Di bidang pers, Buleleng juga bisa disebut pelopor. Anak-anak muda Buleleng yang intelek dan kreatif menerbitkan berbagai jurnal kebudayaan, seperti Shanti Adnyana (1923), Bali Adnyana (1924—1929), Surya Kanta (1925—1927), Bhawanagara (1931—1935), Djatajoe (1936—1941), dan Bhakti (1952—1954). Penerbitan itu adalah cikal-bakal pers di Bali.

Daya Kreatif dan Daya Usaha

Data-data yang ditulis di atas itu bisa ditambah lagi. Misalnya di bidang musik dan seni pertunjukan modern semacam teater. Satu lagi, Buleleng juga menciptakan kuliner unik yang tiada dua di Bali, semisal Siobak dan Sate Plecing.
Data itu sudah cukup membuktikan bahwa daya kreatif anak-anak muda Buleleng di masa lalu memang sangat besar.

Seharusnya daya kreatif yang besar dan kuat di masa lalu itu makin besar dan makin kuat di masa modern ini. Tentu saja, karena saat ini kesehatan anak-anak muda makin membaik dengan dibangunnya sejumlah rumah sakit, dan kecerdasan anak-anak muda juga makin tajir dengan dibangunnya sekolah-sekolah baru yang disertai sistem pendidikan yang cukup maju.

Namun, saya (secara pribadi) merasakan daya kreatif anak-anak muda Buleleng makin luntur. Setidaknya, tak sekuat daya kreatif di masa lalu. Kini, anak-anak muda lebih banyak terpengaruh (untuk tak bilang meniru) produk-produk kreatifitas yang sudah berkembang sebelumnya, di Bali atau di Indonesia.

Secara teknis mereka tetap pintar, misalnya dalam bidang seni, namun tak banyak dari mereka yang punya daya cipta yang menggebu, misalnya daya cipta yang kekuatannya setara dengan masa-masa ketika gong kebyar diciptakan di Buleleng, atau ketika drama gong bisa membuktikan diri sebagai drama yang berbeda dengan drama Bali selatan dan tetap laku ditonton.

Sungguh melegakan, daya bisnis anak-anak muda di Buleleng belakangan tampak besar. Banyak muncul wirausahawan muda dengan niat tulus sekaligus menggebu demi terciptanya usaha-usaha baru sekaligus terciptanya lapangan pekerjaan bagi teman-teman sesama anak muda yang lain. Namun karena daya kreatifitas yang lemah, banyak usaha terlihat pasang-surut, maju-bangkrut, buka-tutup.

Ada masa ketika banyak muncul kafetaria, semacam tempat minum dan makan sekaligus tempat nongkrong anak-anak muda. Namun yang bertahan hingga kini tidaklah banyak. Ada masa distro bertebaran, namun belakangan tak banyak juga yang bertahan.

Gejala itu bisa dilihat dalam dunia seni. Ada masa ketika grup musik menjamur, namun yang “bisa dijual” hanya beberapa dan beberapa lagi bubar jalan. Ketika bondres tampak laris, muncullah banyak grup bondres. Namun yang manggung di pasar-pasar hiburan hanya itu-itu saja.

Itu terjadi, salah satunya karena daya kreatif dan daya cipta yang melemah. Banyak anak-anak muda yang melakukan sesuatu karena orang lain sudah sukses melakukannya. Padahal, jika iklim kreativitas sungguh cerah, seseorang pasti punya ambisi sukses untuk menjadi pelopor, dengan menciptakan sesuatu yang baru, yang tak dilakukan orang lain.

Mencipta dan “Menjual”

Jangan tersinggung dulu. Saya tak seperti orang tua nyinyir yang dengan mudah menyalahkan anak-anak muda zaman sekarang sambil membandingkan dengan kesuksesan anak-anak muda zaman dulu.

Anak-anak yang punya daya kreatif yang besar di zaman dulu juga memiliki sejumlah kelemahan. Dulu, ketika banyak produk tercipta, anak-anak muda di zaman itu tak sekaligus punya kecerdasan untuk “menjual”. Artinya, daya bisnis mereka lemah. Kreativitas itu tak sekaligus menciptakan iklim usaha dan penciptaan lapangan usaha.

Atau, pada zaman itu, tak banyak pihak lain, seperti lembaga pemerintah dan lembaga nonpemerintah, yang membantu para kreator untuk mengembangkan produk kreatif mereka agar bisa “dijual” dan mendatangkan kesejahteraan bagi kreator dan masyarakat di sekitarnya. Terciptanya kreasi seni baru, misalnya, tak dibarengi dengan adanya pembangunan gedung kesenian yang representatif, sehingga mereka tak memiliki “tempat jualan” yang bagus.

Terciptanya desain-desain baru dalam dunia kerajinan perak, kerajinan kayu dan kerajinan bambu, misalnya, tak dibantu dengan pembangunan pasar seni kerajinan. Atau mereka tak dibantu untuk memperkenalkan produk mereka ke dunia luar.
Ada banyak anak muda yang jago bikin film, misalnya, namun tak ada yang punya keinginan membangun tempat putar film sekaligus menciptakan kecintaan pada film. Banyak seniman yang menciptakan lukisan-lukisan bagus, misalnya, namun hingga kini Buleleng tak punya galeri yang bagus untuk memamerkan karya-karya mereka agar para kolektor luar negeri mau datang ke Buleleng.

Kondisi-kondisi seperti itulah yang membuat daya cipta dan daya kreatif anak-anak muda Buleleng menjadi melemah. Tak ada lembaga, termasuk lembaga pemerintah, yang membantu anak-anak muda kreatif itu dengan cara yang benar. Lembaga pemerintah bikin lomba seni saja sudah merasa berjasa mengembangkan kesenian, padahal banyak hal lain seharusnya dikerjakan dengan serius.

Sehingga, jangan salah, muncul banyak ungkapan dengan nada menyindir: “Buleleng hanya bisa mencipta, kabupaten lain yang menjualnya!”

Debat Konsep

Saya berharap, dalam debat paslon Pilkada Buleleng, 30 Januari 2017, terungkap konsep-konsep yang bernas dari paslon tentang bagaimana menggairahkan kembali iklim penciptaan dan kreativitas anak-anak muda, sekaligus membuat konsep agar hasil kreasi anak-anak muda itu bisa “dijual” dan tercipta dunia usaha yang khas dan unik di Buleleng.

Anak-anak muda Buleleng sudah siap mendengarnya. (T)

Tags: bulelengKreativitasPilkadaproses kreatifSeniwirausaha
Share71TweetSendShareSend
Previous Post

Pesan Cinta yang Tak Pernah Terkirim

Next Post

Belajar Filsafat dari Anak Band Sekaliber Bob Dylan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post

Belajar Filsafat dari Anak Band Sekaliber Bob Dylan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co