4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak Dongeng di Kepala Kompyang

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari

Dongeng-dongeng akhirnya pulang ke tutur kompyang. sesaat sebelum pagi menunjukkan diri. Lalu hari-hari memulai cerita-cerita baru lagi. Segala yang hilang hanya kembali pulang, esok akan datang, segala bisa tetap terkenang.

KERTAS ulangan, buku latihan, kotak pensil dan segala macam isinya telah rapi ia masukkan ke dalam tas gendong sekolahnya. Barisan bangku, ruang-ruang kelas, lapangan upacara, kantin sekolah, telah lebih dahulu merapikan diri membiarkan diri bersih dari segala macam keriuhan jam sekolah yang harus dilalui.

Tempat ini, lebih mirip rumah tahanan yang memaksanya menyita kebebasan ia dan teman-temannya. Begitulah, kini ia bisa menarik nafas lega, menyelamatkan diri segera dari seragam sekolahnya yang esok pagi kembali harus menjadi sekat antara mimpi dan kenyataan yang dihadapinya.

Masih pukul sepuluh pagi, kira-kira hampir menuju arah jam sebelas. Tidak terlalu terik untuk pulang menyusuri jalan perkampungan menuju rumahnya yang terletak di ujung timur batas kampung. Melangkah, melewati pagar sekolah antara jalan beraspal dan jalan semak belukar yang menawar langkahnya di depan mata ia berhenti kemudian tak begitu lama sebelum memutuskan.

Akhirnya, setelah beberapa kali menghitung  jarinya sebagai keyakinan akan nasib baik jalan yang harus ia putuskan, pada jari kesepuluh ia mengambil langkah menyusuri jalan bersemak yang setia meninggalkan kenang-kenangan dari pohon berduri pada rok merahnya yang berenda.

Sama saja baginya jalan beraspal atau yang dipenuhi belukar, jika jarak menjadi perhitungannya. Jika ia pulang melalui jalan aspal, ia akan terasa aman, sepatunya akan tetap bersih dari debu musim panas yang lama sekali tak mengairi perkampungannya. Rumput-rumput hampir tandas mengering, angin utara yang berangkat membawa hangat laut membangunkan satu persatu debu tanah. Jalan aspal itu akan cukup menyelamatkan sepatu baru yang ia beli satu minggu kemarin sebagai hadiah kenaikan kelas dari ayahnya.

Masalah sepatu bukan masalah besar baginya, ia tahu esok masih bisa dibersihkan lagi dengan beberapa wangi sabun yang akan membuatnya terlihat tetap baru. Lebih dari itu, ia malas harus mendengar beberapa kali klakson mobil atau bel sepeda motor dari pengendara yang merasa dihalangi jalannya. Hal lain, gadis itu berencana akan bertemu seseorang yang menjanjikannya sebuah akhir dari cerita yang belum selesai didengarnya malam kemarin.

Ia bergegas, berjalan lebih cepat, terasa sedikit agak berlari, meski tersangkut beberapa kali sepatu barunya pada ranting pohon, ia mengabaikannya dan terus melangkah lebih cepat.

Hampir setengah jam perjalanan ia lalui sebelum akhirnya sampai di rumah yang ia tuju sebagai alasan jalan semak ini ia pilih. Karena beberapa kali sempat berhenti memanjat buah liar yang tumbuh untuk mengganjal lapar perut dan dahaga yang ia tahan sejak bel pulang tadi, akhirnya ia harus sampai lebih lama.

Ia kemudian berhenti pada jarak kira-kira lima sampai enam meter jauhnya dari jarak rumah di depannya. Kedua tangannya masih memegang buah kalak yang merah memar setengah tergigit. Ia memperhatikan rumah itu terlihat ramai.

Satu langkah kakinya mulai bergerak ragu-ragu. Ia urung dan melangkah lebih mundur dari posisi sebelumnya. Tak ada yang tahu gadis itu berdiri di sisi itu. Ia kemudian memutuskan diam, menyandarkan dirinya pada sebatang pohon kelapa yang agak ramping untuk mengintip percakapan orang-orang di rumah itu.

Gadis itu merasakan sesuatu yang tak wajar pada rumah itu, orang-orang bicara sangat pelan, hening. Tak ada kegaduhan. Itu berarti tak ada pertengkaran di sana. Ia menarik nafas, merasakan sedikit rasa lega. Sampai salah seorang kemudian bicara terdengar agak keras dari yang lainnya.

“Syukur pula akhirnya ia bisa menyelesaikan dengan tidak begitu merepotkan dan terlalu lama,”.

Gadis itu mencoba lebih mendekatkan diri, tetapi tubuhnya terperosok jatuh pada gundukan tanah dengan beberapa ranting yang membawa suara renyah memecah percakapan orang-orang dari arah rumah. Orang-orang menoleh ke arah gadis itu. Ia kemudian terbangun dengan gugup. Merasakan malu bercapur takut akan ia dicurigai sesuatu.

Segera berdiri, kemudian ia bersihkan kotoran pada baju. Perempuan yang bicara tadi, ia mengenakan baju warna hijau menoleh paling keras lalu segera memanggil gadis itu.

“Warini, kemarilah. Kenapa diam di sana?”

Gadis itu semakin gugup. Seperti salah bertindak dan tidak bisa mengambil keputusan yang selanjutnya harus ia laukukan.

“Kemarilah. Kompyangmu memanggil. Ke sini jangan takut.”

Wanita itu dilihatnya seperti mengancam dengan bujukan yang Warini tahu memiliki tipuan. Warini gugup mulai menunjukan ketakutan. Perempuan tadi yang memanggilnya melangkah mencoba menjeput Warini segera. Warini lari, lari kencang menuju arah jalan pulang. Sangat cepat. Ia tahu ada yang tidak bisa ia percayai dari apa yang ia lihat dan tidak bisa ia tahu dari apa yang sudah ia dengar.

Langkahnya masih sangat cepat. Meski pintu rumah sudah selangkah lagi ia tetap menghentakkan kaki keras dan cepat menuju kamar tidur yang langsung dipeluknya bantal dan menjatuhkan tubuhnya di kasur.

Warini menangis terisak. Isakannya terdengar keras hingga menghentikan suara kelapa yang diparut ibunya dari arah dapur. Di tangan ibunya masih tersisa bekas parutan kelapa yang sebelumnya hanya dibersihkan pada daster. Ibu segera merangkul Warini yang berurai air mata.

“Ada apa menangis sepulang sekolah?” Ibunya tampak khawatir dan cemas. “Apa sesorang menyakitimu, ada yang memukul atau kamu berkelahi?”

Warini masih dalam tangisan dan isakannya yang keras. Sebisa mungkin Warini ditenangkan ibunya. Sambil mencoba mencari tahu kenapa putrinya menangis, ia mengelus kepala Warini dan bertanya jauh lebih tenang dari sebelumnya.

“Apa seseorang menyakitimu?”

Tangisan itu masih terdengar, tetapi kini lebih pelan, beberapa kali segukan keras keluar dari bibir Warini. Segukan itu menghalangi kalimat-kalimat yang diucapkan anaknya. “A…aa..k..u…dibohongi.”

Ibunya terus mencoba menenangkannya.

“Kompyang…rumahnya, banyak orang.”

Ibunya tak begitu dapat menangkap jelas apa yang sesungguhnya terjadi.

Tangannya tetap membelai rambut Warini, sampai semua terasa berhenti, pagi hari seperti warna matahari baru yang membawa merah dan biru di mata gadis itu. Tangan ibunya terasa masih membelai, semakin lama semakin menipis, terasa ia semakin jauh dari suara, dari segala, tubuhnya meringan, semua menjadi terasa damai. Tenang.

***

 ott cunaide no mici wo oyu keba

ming enang ko wa i koto ri mi n ate

utau uta e ba kutsuna naru

ott cunaide no mici wo oyu keba

ming enang ko wa i koto ri mi n ate

utau uta e ba kutsuna naru

Suara yang tua menembang, menghapiri mendekatkan setiap baitnya mengalir bersama nada yang sayup-sayup terdengar seperti pelukan kangen yang membangunkan seribu kenangan dalam hati.

Mata Warini mulai terbuka pelan. Ia mendengar sayup tembang asing pada telinganya tetap mengalun, lalu ia temukan dirnya tengah terbaring, baru saja terbangun dari istirahat yang nyenyak, tak bermimpi dan ia terbangun dengan bahagia. Sembari mengusap pelan sisa kantuk pada wajahnya, ia menggoyangkan kakinya perlahan di bibir tempat tidur kayu yang mulai renta.

ott cunaide no mici wo oyu keba

ming enang ko wa i koto ri mi n ate

utau uta e ba kutsuna naru

Warini mengulang lagu dengan fasih, dan tembang dari suara tua itu berheti. Warini menghentikan pula nyanyiannnya. Ia tersenyum lebar, berlari memeluk perempuan tua di hadapannya yang sibuk menjahit sarung bantal. Perempuan itu membelai rambut Warini.

“Lagu apa yang baru saja kau nyanyikan, kompyang?”

Ia tak melepaskan pelukan, ia menyampaikan rasa penasarannya.

***

“Lagu itu tak pernah selesai bernyanyi di telinga. Sekali ia berhenti, hari itu segala pasti telah kutinggalkan semuanya. Kelak saat kau menyadari tubuh dan pikiranmu mulai terasa rumit, memperhitungkan banyak hal yang tiada pernah kau pikirkan hari ini, menumpuk banyak ketakutan dan keragu-raguan akan segala yang kau harapkan di sana kau akan paham ada satu hal yang membuat kau tetap hidup dari sekian pertemuan yang telah kauhadapi sebelumnya.”

Kompyang mulai bicara. Sementara Warini tak jua melepaskan pelukannya, tak memberi jawaban atau pertanyaan kembali, sebab semua yang ia dengar terasa rumit.

“Penangkap udang yang pernah kuceritakan padamu, kau ingat sayang? Ia juga telah tumbuh dewasa jauh sebelum kau ada. Tetapi kau tetap merasakan ia adalah anak-anak sebatang kara yang memasang bubu di pinggir sungai  kampung kita sebagai rumahnya. Di musim apa, ia tiada tahu udang-udang kan datang padanya atau tidak. Ia tetap memasang bubu. Satu-dua udang yang tertangkap, ia tawarkan ke rumah-rumah warga. Menukarnya dengan uang atau benda lain yang bisa mengisi perutnya hingga kenyang. Kau juga bertanya, pernahkah ia datang ke rumahmu.

Tentu saja, ia selalu menawarkan udangnya kali pertama pada ninikmu. Warini sayangku, setiap kali kuulang cerita kau tidak pernah bertanya berapa usianya kini. Ia tetap menjadi anak-anak dalam pikiranmu bukan?”

Warini mengangguk pelan. Mereka berdua mulai melangkah menuju tempat tidur kayu dan melanjutkan cerita. Di luar hujan turun gerimis. Kompyangnya memulai kembali.

“Demikianlah Warini, nyanyian itu tetap suara anak-anak yang tinggal di kepalaku menjadi kerinduan yang membuatku tidur dan memberikan mimpi yang baik, atau sesekali mimpi itu menjadi waktu pengingat bangun tidurku.”

“Ke mana perginya anak-anak yang bernyanyi itu?” Warini mencoba ingin tahu. “Dapatkah aku bermain bersama mereka?”

Kompyangnya tersenyum, memulai bicaranya lagi sambil mengelus perlahan rambut Warini.

“Aku sudah memperkenalkannya padamu, esok kau akan memilikinya untukku. Kau hanya perlu merawat nyanyian itu. Aku tiada pernah bisa mendewasakan mereka semua. Kelak kaulah yang sanggup memberinya kehidupan yang benar-benar tumbuh.”

“Apa yang kau ceritakan padaku sebuah dongeng, kompyang? Kenapa ia tidak bisa kumengerti seperti dongeng-dongeng sebelumnya? Tentang wanita yang memberi begitu banyak ular di  kampung kita karena buah pernikahannya dengan ular raksasa, atau seorang gadis baik yang merawat anak tikus dan dihadiahi banyak perhiasan mewah.”

“Ini kisah cucuku, ia sangat panjang, kau akan mengerti setelah sampai pada ujung cerita. Ini hanya bagian awal yang perlu belajar kaudengarkan saja. Kisah-kisah sebelumnya akan tetap hidup dalam dirimu, tetapi mungkin dunia akan menenggelamkannya kecuali kau bisa menjaganya dengan baik selagi aku tak bisa lagi menceritakan sebelum kau berangkat  tidur. Tentang anak-anak yang menyanyi itu, Warini, ia adalah kerinduan kedewasaanku, kerinduan setiap ibu, kebahagiaan setiap pasangan. Sama halnya rasa bahagia dan rindu ayah atau ibumu ketia ia memilikimu. Mereka akan kangen saat kau berlama-lama kurebut.”

***

Satu minggu berlalu setelah cerita yang merumitkan pikiran Warini itu, Warini berencana bermain kembali ke rumah kompyangnya. Ia rindu didongengi, harapannya ia mendapat kisah baru yang akan membuatnya tidur nyenyak lagi.

Pulang sekolah, ia berangkat menuju rumah kompyangnya yang hanya beberapa langkah dari pagar sekolah. Ia menemukan rumah itu kosong, semua peralatan masih utuh tapi sepi sekali. Warini memberanikan diri bertanya pada tetangga sebelah rumah.

Kompyang sakit. Ia harus dirawat dan dipindahkan ke rumah anak tirinya yang agak jauh dari pusat perkapungan.  Rumah itu harus melewati banyak semak. Malam hari tiba, Warini berangkat menemui kompyangnya. Perempuan tua itu, ia nampak tidak berdaya, tubuhnya terbujur lemas di tempat tidur. Warini hanya mengelus kakinya yang sedang tertidur.

Dari cerita menantu anaknya pada ibu Warini, sudah sejak kompyangnya sakit ia tak mau makan. Hanya minum teh hangat saja. Beberapa kali kompyang selalu menanyakan Warini. Warini mencoba menggoyangkan tubuh kompyangnya.

Sekali saja, sambil berbisik Warini mengatakan kedatangannya, kompyangnya terbangun. Ia memberi senyum yang sangat puas dan memeluknya. Dengan suara berat perempuan tua itu ingin trahu bagaimana kabar Warini seminggu ini yang tak ia temui.

Perempuan tua itu mulai membisikan sesuatu pada Warini, ia menyampaikan kisahnya yang belum selesai. Warini mengiyakan, sambil memegang tangan kompyangnya. Warini mulai mendengarkan cerita kembali. Nada yang pelan, seperti tertahan, kisah yang belum selesai tersampaikan mulai diceritakan kembali.

***

“Seorang lelaki membawa anak-anak yang bernyanyi itu pergi, Warini. Ia membawanya bersama segala rasa cintaku ke sebuah rumah yang ia rahasiakan dari semua orang. Ia meninggalkan aku pada sebuah bulan yang bahagia, tepat ketika semua orang merayakan dunia dengan hingar-binar sebagai penyambutan tahun yang baru.

Ia menghilang, meninggalkan selembar potretnya dengan pesan singkat. Ia mengatakan anak-anak yang bernyanyi itu membawanya lebih dahulu ke rumah rahasia kami. Aku hanya perlu menunggu dan bersabar untuk hidup bersama-sama tanpa pertanyaan atau kutukan dari keyakinan dunia. Setengah dari potret lelaki yang kucintai itu sudah termakan hujan, aku hanya melihat cintanya yang utuh bernyanyi bersama anak-anak itu pada telingaku setiap saat.

Cucuku sayang, kau tiada lahir dari rahim seorang pun anak-anak yang bernyanyi itu. Tetapi kau memberi cinta mereka semua yang menungguku di rumah rahasia.”

***

Warini menangis, ia memeluk perempuan tua itu erat sekali. Warini menyandarkan kepala pada tangan kompyangnya. Dalam sekali, malam seperti menenggelamkan percakapan mereka berdua hari itu. Warini merasa tubuhnya diguncang-guncangkan. Sisa air matanya terasa lengket menyekat kelopak matanya.

Ibunya menggoyangkan tubuh Warini yang masih berseragam, hari telah sore. Seragam sekolahnya yang ia bawa berlari sejak pagi tadi masih melekat erat bersama debu pada tubuhnya yang mungil.

“Kita akan berangkat ke rumah kompyang, gantilah pakaianmu.”

Warini bergegas berganti pakaian, sepanjang perjalanan ia mencoba mengingat peristiwa terbangunnya ia dari tidur yang berseragam. Tetapi sebelum berhasil ingatan memberinya jawaban, ia melihat laju sepeda motor ibunya jauh ke arah timur meninggalkan desa.

Berhentilah roda motor mereka pada sebuah jalan penuh keramaian. Tangan Warini dipegang erat oleh ibunya. Semua orang menatap Warini penuh prihatin, lalu beberapa kali orang mengelus dada Warini mengatakan. “Sana, lihatlah kompayngmu sudah menunggu.”

Menantu kompyang menyerahkan selembar potret, wajah kompyang. Menyingkir seluruh tubuh di hadapan Warini. Sebuah makam, Rumah rahasia yang membawa nyanyian anak-anak bersama cinta seorang lelaki lengkap bersama kompyangnya kini. Dongeng-dongeng akhirnya pulang ke tutur kompyang, sesaat sebelum pagi menunjukan diri.

Lalu hari-hari memulai cerita-cerita baru lagi. Segala yang hilang hanya kembali pulang, esok akan datang, segala bisa tetap terkenang. Nyanyi anak-anak itu kini hidup dalam diri Warini, pada kedua telinganya setiap saat yang harus ia rawat hingga dewasa dalam kedewasaannya. (T)

Singaraja, 07 Desember 2016

Tags: Cerpen
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Halo Penyair, Ini Undangan Nulis Puisi dari Festival Puisi Bangkalan 2

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Leluhur Orang Bali adalah Orang India

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Leluhur Orang Bali adalah Orang India

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co