25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Leluhur Orang Bali adalah Orang India

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Sumber foto google

HASIL penelitian dan pemetaan DNA orang Bali yang dilakukan tim gabungan ahli-ahli dari berbagai universitas di Amerika: Tatiana M. Karafet (University of Arizona), J S. Lansing (University of Arizona), Alan J. Redd (University of Tucson), Svetlana Reznikova (University of Tucson), yang dipublikasikan dengan judul “Balinese Y-Chromosome Perspective on the Peopling of Indonesia: Genetic Contributions from Pre-Neolithic Hunter- Gatherers, Austronesian Farmers, and Indian Traders”, menarik untuk dijadikan pedoman memahami leluhur kita dengan pedoman hasil test pemetaan genetik (bukan gugon tuwon, bukan balian).

Riset genetika melalui test DNA dengan sampling orang Bali ini menunjukkan bahwa secara genetik orang Bali leluhurnya adalah migrasi orang India yang terjadi dari awal abad masehi. Jadi bukannya orang India yang mengajari Hindu kepada orang Bali, tapi orang-orang India yang bermigrasi ke Nusantara/Dvipantara yang menjadi penduduk Bali dan menurunkan penduduk Bali sekarang. Ini terjadi awal abad masehi, bahkan bisa jadi sebelum 1 masehi.

Berikut kutipan akademik hasil pemetaan genetik keterkaitan orang Bali yang leluhurnya orang India.

– Genetic variation on the Y chromosomes of 551 Balinese men to investigate the relative contributions of Austronesian farmers and pre-Neolithic hunter-gatherers to the contemporary Balinese paternal gene pool and to test the hypothesis of recent paternal gene flow from the Indian subcontinent.

– Seventy-one Y-chromosome binary polymorphisms (single nucleotide polymorphisms, SNPs) and 10 Y-chromosome-linked short tandem repeats (STRs) were genotyped on a sample of 1,989 Y chromosomes from 20 populations representing Indonesia (including Bali), southern China, Southeast Asia, South Asia, the Near East, and Oceania.

– SNP genotyping revealed 22 Balinese lineages, 3 of which (O-M95, O-M119, and O-M122) account for nearly 83.7% of Balinese Y chromosomes.

– Phylogeographic analyses suggest that all three major Y-chromosome haplogroups migrated to Bali with the arrival of Austronesian speakers; however, STR diversity patterns associated with these haplogroups are complex and may be explained by multiple waves of Austronesian expansion to Indonesia by different routes.

– Approximately 2.2% of contemporary Balinese Y chromosomes (i.e., K-M9*, K-M230, and M lineages) may represent the pre-Neolithic component of the Indonesian paternal gene pool.

– In contrast, eight other haplogroups (e.g., within H, J, L, and R), making up approximately 12% of the Balinese paternal gene pool, appear to have migrated to Bali from India.

– These results indicate that the Austronesian expansion had a profound effect on the composition of the Balinese paternal gene pool and that cultural transmission from India to Bali was accompanied by substantial levels of gene flow.

Secara kultural bukan hanya India berpengaruh ke Bali tapi para migran dari India yang bermigrasi ke pulau-pulau sepi penghuni seperti Bali dll itu yang menurunkan warga Bali dan kepulauan Nusantara. Dalam naskah-naskah kuno India kepulauan Nusantara disebut sebagai Dvipantara.

Secara genetik orang Bali berkembang lewat pembauran genetika dengan ras Nusantara, ras China, Kamboja, dan ras lainnya. Demikian juga “genetika keagamaan” leluhur Bali mengalami perkembangan dalam sejarahnya yang tiada terpisah dengan pembauran dan pembaharuan.

Riset ini menjadi tempat bercermin kenapa agama India modern dan Hindu di Nusantara punya perbedaan cara perayaan dan punya di Nusantara punya kadar lokalitas yang kuat. Perbedaan ini muncul karena migrasi orang India yang ke Indonesia di awal masehi dengan membawa kepercayaan kuno telah berbaur dengan kepercayaan kuno Dvipantara.

Demikian juga ras India yang ke Nusantara telah berbaur dengan ras Asia lainnya, seperti ras China dan kepulauan Nusantara. Sehingga jika kini kulit dan wajah orang Bali kini cukup berbeda dengan leluhur mereka di abad pertama, demikian juga dengan kepercayaan atau Agama Siwa dan Agama Buddha di Nusantara punya ragam dan variasi yang cukup berbeda dengan di India.

Test atau riset DNA ini juga menjadi pelajaran bersama bahwa pemetaan kawitan/leluhur orang Bali janganlah berhenti pada babad-babad yang baru ditulis paling tua sekitar abad 16 (dan berkembang pesat menulisannya di abad 19 dan 20, juga direka ulang di abad 21).

Belajar dari hasil riset genetika ini, ada baiknya kita mencari leluhur kita tidak mandek dan berhenti pada periode Majapahit. Kita bisa merentang ke masa Borobudur dan Prambanan dibuat, sekitar 7 abad sebelum periode Majapahit. Atau kita menelusur sampai ke awal masehi, 14-15 abad sebelum berdiri Majapahit, seperti yang dikerjakan atau dicontohkan melalui riset genetik para ahli universitas Amerika yang hasilnya telah dikutip di atas.

Di tengah kegandrungan orang Bali mencari leluhur dan kawitan, riset tersebut seolah mencibir kita: “Mencari leluhur, mencari silsilah genetika, raihlah dengan peta genetika. Jika peta genetika ditelusur lewat tutur atau sekedar bualan dukun, yang kita dapat hanya klaim yang tiada berdasar dan sangat lemah kita bisa pegang keabsahannya.

Dan, catatan ujung dari pelajaran yang bisa kita petik dari pemetaan DNA tersebut, dalam DNA kita manusia itu tidak dibedakan atas “kasta”: Mereka dibedakan atas kelenturannya dalam membaur dengan berbagai ras lain. Kelenturan dan keterbukaan ini menjadi ciri khas DNA warga Bali.

Di tubuh dan darah warga Bali ada peta masa lalu yang tidak terpisah dari pembauran, sebagai ciri keterbukaan berhubungan dengan etnis atau ras lain. Di tubuh dan darah orang Bali ada masa lalu panjang merentang ke abad-abad awal masehi yang tidak terkotak-kotak dalam soroh/klan/jaringan kekeluargaan yang tertutup.

Juga, DNA orang Bali menunjukkan leluhur kita adalah petualang antar dataran dan lintas kontinental. Petualangan, pembauran, dan keterbukaan adalah peta DNA orang Bali. Tiga ciri khas ini menarik kita jadikan cermin dalam memandang kawitan kita, pantas diaktivasi kembali dan diteladani.

Apapun komentar dan pemikiran baliknya, tulisan ini menurut saya salah satu tulisan kecil yang bisa merangsang pemikiran besar kita. Tentang siapa kita. Setuju tidak setuju urusan berbeda.

Semoga nanti akan ada peneliti Bali dan Indonesia yang melakukan penelitian sejenis atau dengan disiplin ilmu yang berbeda. Agar lebih holistik lagi hasilnya.
Penelitian ala Bali dengan metodologi Baas Pipis, tetapi dengan kemajuan teknologi perlu juga melakukannya dengan jejak ilmiah. (T)

8 Nopember 2016

Tags: baliDNAindialeluhurorang bali
Share711TweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Dongeng di Kepala Kompyang

Next Post

Ha ha ha, Inilah Kisah Rakyat “Bodoh-bodoh Pintar” di Musim Pilkada

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Ha ha ha, Inilah Kisah Rakyat “Bodoh-bodoh Pintar” di Musim Pilkada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co