12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Langit Bumi

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

Sendirian, aku masih sendirian, menanam puluhan rindu dalam hati. Memandang percikan cahaya dari bingkai foto itu. Mengingatkan aku denganmu, pada belahan hati yang kini entah di mana gerangan engkau berada. Akankah nikmat hirup mie ayam itu kembali membawa rinduku padamu. Selamat pagi kekasih.

***

Pagi ini kuawali kisahku dengan menenteng beratnya tumpukan tugas yang diberikan dosen kepadaku. Ya, aku menjalani hidupku lagi di sini. Di tanah yang disebut tanah tandus ini, dipenuhi dengan orang-orang yang berpikir bahwa diri mereka seorang intelek yang bersahaja. Singaraja, kota pendidikan yang kujejaki, kurang lebih 2 tahun aku sudah menyelami pahitnya penderitaan di sini. Tanpa kekasih. Tanpa senyuman orang tua.

***

Awan! Indahnya awan pagi ini. Aku siap menaiki burung itu, burung yang siap membawaku dan beberapa orang pergi entah ke mana. Pergi untuk meninggalkan rumah mereka, meninggalkan rindu yang tak berujung, tapi hanya sebentar saja, mereka akan pulang, tenanglah. Semua penumpang yang kutemui selalu kutekankan dengan kata-kata manis seperti itu. Tak kan ada habisnya karena rinduku sama persis seperti rindu mereka.

***

Rinduku semakin menumpuk kasihku. Jalanan menuju kampus terasa berbuih. Mengantarkan gelembung demi gelembung yang akan mengiringi kerinduanku. Kita berada di persimpangan kasih. Aku sempat bertemu dengan kembaranmu di sudut kampus gelap ini. Senyum yang manis sepertimu. Tangan yang sehalus tanganmu, dan hati yang damai sedamai percikan air terjun. Oh aku rindu

***

ENTAH berapa surat yang telah kusampaikan padanya. Itulah kerinduan, hanya surat yang bisa mengantarkan perasaanku. Aku berjalan menuju puing demi puing pengetahuan hanya demi bertemu dengannya. Dia adalah seorang gadis yang mengudara di atas awan tanpa tahu kapan harus mendarat dan menemukan sebuah cinta. Setiap aku berjalan ke kampus, kepalaku selalu mengahadap ke langit. Melihat burung itu melintasi kepalaku, dan berharap ia ikut bersama burung itu.

Empat tahun aku melalui beribu pesakitan di tanah pendidikan itu. Kini aku siap menjelajahi beratnya tanah dan ringannya langit. Aku adalah lulusan Sarjana Pendidikan yang entah bagaimana nasibnya, sebutan “Guru” akan mengiringi setiap langkah ini. Lama sekali aku menghabiskan isi kepala dan tenagaku untuk mendapatkan gelar itu, habis sudah harta, habis sudah ceramah, sudahilah sudah memang celoteh orang sekampung.

Sarjana Pendidikan hanyalah sebuah alasan yang digunakan para pemuda sebagai kunci kebanggan orang tua. Aku pasrah dengan nasibku yang tidak karuan ini, tapi kembali kuteringat dengan seorang gadis yang yang berdiri di dalam perut burung yang selalu melewati kepalaku. Andai ia tahu keadaanku sekarang. Mungkin rindu itu perlahan akan memudar dirayu musim.

Seminggu lagi gadis rinduku pulang ke kampung dan ia berjanji untuk menemuiku di rumah. Ia mengirimiku surat lagi. Isinya tentang kerinduannya yang semakin hari semakin besar. Sementara aku memilih untuk menyerap seluruh rindu dan mengeluarkannya hingga habis.

Seminggu telah berlalu, ia pun datang menemuiku dengan beberapa kantong plastik yang berisi barang-barang yang aku tahu itu tak gratis. Ibuku sangat perhatian padanya. Aku tak dihiraukan. Ia melihatnya seperti melihat seorang bidadari yang datang dari khayangan.

Aku hanya di sudut, ya dsudut. Setelah bosan mengobrol dengan semua keluargaku. Ia pun datang menemuiku mempertilahatkan alis matanya yang sudah meruncing, bibirnya yang sudah dihiasi gincu, dan rambutnya yang dipotong pendek blow khas penampilan seorang pramugari, yang kecantikannya menenangkan seluruh penumpang yang ada di dalam pesawat.

Ia memberikanku barang yang ia peroleh selama perjalanannya menuju Prancis. Di sana katanya ia melihat Menara Eiffel yang tingginya menjulang sampai ke langit. Ia juga menceritakan betapa senang ia di sana karena setiap hari ia bisa berganti parfum dan berganti busana tren masa kini. Tetapi disela-sela ceritanya aku menanyakan satu hal.

“Kapan kau akan menginjak bumi kasihku?”

Ia hanya terdiam, tapi setelah itu ia menjawab diimbangi dengan tertawa “Saat Tuhan, memberikanmu pekerjaan, memberikanmu sebuah kewibawaan, setelah itu aku akan menginjak bumi Gusti, dan hidup bersama denganmu.”

“Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi.”

Aku mengalihkan pembicaraan, takut membuat rinduku semakin hilang.

Tiga hari berselang, ia kembali mengepakkan sayapnya lagi dan bergegas melanjutkan tugasnya sebagai seorang pramugari. Mengepakkan sayap dan mengarungi luasnya langit yang tak kan pernah habis. Sementara aku, masih dalam pesakitan bumi, menyelami lautan dan mengembara di tengah gurun kehidupan. Cintaku padanya bagai bumi dan langit, bersatu namun tak diperkenankan menyatu, karena kalau langit dan bumi bersatu maka yang terjadi adalah kehancuran.

Kehancuran, kehancuran yang senyatanya adalah kami sepasang kekasih yang berbeda kasta. Ya, Bali masih menyimpan kegelisahanya, walaupun dewasa ini kasta tak kan jadi masalah tapi hal tersebut tak kan disetujui oleh para tetua. Mereka yakin kalau perkawinan sesama kasta akan menghasilkan keturunan yang mulia dan menjadi kebangaan keluarga.

Dulu orang berkasta adalah orang yang dipenuhi dengan kemewahan, dipenuhi dengan keagungan, dulu, wangsa Kesatria, wangsa yang berkasta menjadi seorang polisi, petinggi negara, pejabat. Tapi sekarang, di tahun 2015 ini, semua serasa terbalik. Tuhan telah membalik roda kereta kudanya. Kaum Sudra yang tak berkasta kini membalaskan dendamnya.

Sekarang merekalah yang kebanyakan meduduki kursi pejabat, sebagai seseorang yang disegani dan dipandang di masyarakat. Dan dia, dia, gadis yang kucintai, yang menelan rinduku ini adalah kaum sudra dan menjadi tulang punggung di keluarganya menjadi seorang pramugari. Sementara aku wangsa ksatria, yang hingga kini luntang-lantung mencari pekerjaan yang entah kapan akan mendapatkannya.

Rasa sakit ini menusuk piluku, tapi keajaibanpun muncul. Akhirnya setelah 3 tahun aku menapaki krikil berduri ini. Aku akhirnya medapatkan pekerjaan menjadi tenaga pengajar di Sekolah Menengah Atas dekat dengan rumahku. Aku bersyukur kepada Tuhan walau aku sedikit kecewa. Seminggu kemudian, Ayah Iluh menemuiku dan mengantarkan kabar yang menggembirakan kepadaku, katanya.

“Gusti Ngurah! Besok Iluh akan pulang, dan dia ingin membicarakan sesuatu dengan Gusti Ngurah, Penting katanya.”

“Baik, Pak Yan!”

Keesokan harinya dengan rasa gembira aku menyambut kedatangan gadis rinduku di bandara. Sesampainya di bandara, tak perlu waktu lama untuk menunggunya. Senyum manisnya sudah menggiringku untuk memeluknya dengan erat. Tak kusadari Pak Yan berada di belakangku bersama istrinya. Dan tiba-tiba berkata.

“Ayo, apa yang kalian tunggu lagi, kami sudah tidak sabar untuk menggendong cucu”

“Iya Gusti, sekarang Gusti sudah memiliki pekerjaan, tiang akan mendampingi Gusti sampai maut memisahkan kita.”

Sekarang giliranku yang terdiam mendengarkan pernyataanya. Lalu pertanyaan yang selalu aku tanyakan kembali aku tanyakan padanya.

“Ketika kau sudah mendampingiku, akankah kau menginjak bumi dan berhenti mengudara?”

Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Aku tahu ia berbohong pada dirinya sendiri, karena jarang sekali ia kulihat tersenyum selebar itu.

Sesampainya di rumah, aku menyampaikan suatu hal menggembirakan kepada keluargaku tapi bagi keluargaku hal tersebut bukanlah hal yang menggembirakan. Kabar gembiraku tak lebih dari penghinaan terhadap keluarga. Aku tak habis pikir, dahulu Iluh sangat disegani oleh keluargaku tapi kenapa sekarang mereka sangat membencinya. Aku tak habis pikir, aku tak habis pikir.

“Gusti Ngurah Bhakti Yuda, apakah kamu sudah mempertimbangkan semua hal yang kamu sampaikan tadi?”. Ibuku membentak.

“Sudah matang sekali, Biang.”

“Dia itu seorang sudra, seorang gadis jabe, tak pantas bersanding dengan wangsa kesatria seperti kita, lagipula ia juga seorang pramugari, dan dia bukan istri yang pantas untukmu, dia akan meninggalkanmu di bumi sedangkan ia akan kembali ke kahyangan.”

Ibuku mengomel seakan-akan bercerita tentang cerita kisah Raja Pala dengan Ken Sulasih. Kisah cinta seorang bidadari yang berasal dari kahyangan dengan seorang pemuda yang berasal dari bumi. Tapi, yang aku takutkan adalah, cerita tersebut akan mirip dengan kisahku bersama Iluh. Tapi akan kujalani walau dosa akan menimpa keluarga kecilku bersama Iluh.

***

Upacara pernikahan begitu sepi, yang terdengar bukanlah riuh para undangan tapi yang terdengar hanyalah merdunya suara angklung yang mengiringi upacara pernikahan kami.

Sebulan sudah aku lewati bersama Iluh. Akhirnya aku akan menjadi seorang ayah, akhirnya akan ada seorang putra atau putri dalam kehidupan kami. Sembilan bulan aku menunggu dan berharap. Akhirnya lahirlah seorang putra. Wajahnya mirip sekali dengan ibunya, hanya alis matanya saja menyerupai alis mataku. Kulitnya putih secerah ibunya. Oh, betapa bahagianya hatiku kala itu. Hidupku penuh warna setiap aku bermain bersama anaku.

Kini usia anaku genap 5 tahun dan ia harus bersekolah. Tabungan istriku semakin menipis, dan gajiku sebagai guru honorer tak kan mampu membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi. Kegembiraan keluarga kecil kami serasa musnah diterpa ombak pasir, tak menyegarkan, hanya menyakitkan. Kini Iluh yang kukenal tak lagi seperti Iluh yang dulu, yang setia melayani suami di kala sedih maupun senang. Sampai akhirnya ia membungkus sebuah kain lalu memasukannya ke koper dan berkata.

“Aku sudah bosan, kita telah berdosa mengingkari adat dan aku telah berdusta kepada diriku sendiri.”

“Apa maksudmu?”

“Sekarang, ternyata uang adalah segalanya bagi kita, bukan berarti aku tak cinta kepadamu tapi, kita harus berusaha mencari uang sendiri-sendiri.”

“Jangan katakan kau akan meninggalkan bumi lagi, Luh.”

“Hanya dengan begitu Jik, kalau kita punya uang, kita bisa makan, bisa menyenangkan hati kita, bisa membiayai sekolah anak kita, dan bisa bahagia.”

Kalimat terakhir dari Iluh sangat menyayat hatiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyuruhnya berhenti. Ia mengudara lagi, meninggalkan Aku, dan anak kami. Berat hati ini merelakannya pergi hanya untuk selembar kertas kecil berwarna merah. Sekarang Ken Sulasih telah meninggalkan suami dan anaknya di Bumi, dan memilih untuk berada dalam perut burung raksasa itu, pergi ke langit.

 

Tags: Cerpen
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Reting Kiri Belok Kanan itu Biasa, Ibu Baca Puisi itu Luar Biasa

Next Post

Mereguk Toleransi di Wilayah Tanpa Batas – Catatan Seorang Jurnalis

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post

Mereguk Toleransi di Wilayah Tanpa Batas – Catatan Seorang Jurnalis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co