14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Langit Bumi

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

Sendirian, aku masih sendirian, menanam puluhan rindu dalam hati. Memandang percikan cahaya dari bingkai foto itu. Mengingatkan aku denganmu, pada belahan hati yang kini entah di mana gerangan engkau berada. Akankah nikmat hirup mie ayam itu kembali membawa rinduku padamu. Selamat pagi kekasih.

***

Pagi ini kuawali kisahku dengan menenteng beratnya tumpukan tugas yang diberikan dosen kepadaku. Ya, aku menjalani hidupku lagi di sini. Di tanah yang disebut tanah tandus ini, dipenuhi dengan orang-orang yang berpikir bahwa diri mereka seorang intelek yang bersahaja. Singaraja, kota pendidikan yang kujejaki, kurang lebih 2 tahun aku sudah menyelami pahitnya penderitaan di sini. Tanpa kekasih. Tanpa senyuman orang tua.

***

Awan! Indahnya awan pagi ini. Aku siap menaiki burung itu, burung yang siap membawaku dan beberapa orang pergi entah ke mana. Pergi untuk meninggalkan rumah mereka, meninggalkan rindu yang tak berujung, tapi hanya sebentar saja, mereka akan pulang, tenanglah. Semua penumpang yang kutemui selalu kutekankan dengan kata-kata manis seperti itu. Tak kan ada habisnya karena rinduku sama persis seperti rindu mereka.

***

Rinduku semakin menumpuk kasihku. Jalanan menuju kampus terasa berbuih. Mengantarkan gelembung demi gelembung yang akan mengiringi kerinduanku. Kita berada di persimpangan kasih. Aku sempat bertemu dengan kembaranmu di sudut kampus gelap ini. Senyum yang manis sepertimu. Tangan yang sehalus tanganmu, dan hati yang damai sedamai percikan air terjun. Oh aku rindu

***

ENTAH berapa surat yang telah kusampaikan padanya. Itulah kerinduan, hanya surat yang bisa mengantarkan perasaanku. Aku berjalan menuju puing demi puing pengetahuan hanya demi bertemu dengannya. Dia adalah seorang gadis yang mengudara di atas awan tanpa tahu kapan harus mendarat dan menemukan sebuah cinta. Setiap aku berjalan ke kampus, kepalaku selalu mengahadap ke langit. Melihat burung itu melintasi kepalaku, dan berharap ia ikut bersama burung itu.

Empat tahun aku melalui beribu pesakitan di tanah pendidikan itu. Kini aku siap menjelajahi beratnya tanah dan ringannya langit. Aku adalah lulusan Sarjana Pendidikan yang entah bagaimana nasibnya, sebutan “Guru” akan mengiringi setiap langkah ini. Lama sekali aku menghabiskan isi kepala dan tenagaku untuk mendapatkan gelar itu, habis sudah harta, habis sudah ceramah, sudahilah sudah memang celoteh orang sekampung.

Sarjana Pendidikan hanyalah sebuah alasan yang digunakan para pemuda sebagai kunci kebanggan orang tua. Aku pasrah dengan nasibku yang tidak karuan ini, tapi kembali kuteringat dengan seorang gadis yang yang berdiri di dalam perut burung yang selalu melewati kepalaku. Andai ia tahu keadaanku sekarang. Mungkin rindu itu perlahan akan memudar dirayu musim.

Seminggu lagi gadis rinduku pulang ke kampung dan ia berjanji untuk menemuiku di rumah. Ia mengirimiku surat lagi. Isinya tentang kerinduannya yang semakin hari semakin besar. Sementara aku memilih untuk menyerap seluruh rindu dan mengeluarkannya hingga habis.

Seminggu telah berlalu, ia pun datang menemuiku dengan beberapa kantong plastik yang berisi barang-barang yang aku tahu itu tak gratis. Ibuku sangat perhatian padanya. Aku tak dihiraukan. Ia melihatnya seperti melihat seorang bidadari yang datang dari khayangan.

Aku hanya di sudut, ya dsudut. Setelah bosan mengobrol dengan semua keluargaku. Ia pun datang menemuiku mempertilahatkan alis matanya yang sudah meruncing, bibirnya yang sudah dihiasi gincu, dan rambutnya yang dipotong pendek blow khas penampilan seorang pramugari, yang kecantikannya menenangkan seluruh penumpang yang ada di dalam pesawat.

Ia memberikanku barang yang ia peroleh selama perjalanannya menuju Prancis. Di sana katanya ia melihat Menara Eiffel yang tingginya menjulang sampai ke langit. Ia juga menceritakan betapa senang ia di sana karena setiap hari ia bisa berganti parfum dan berganti busana tren masa kini. Tetapi disela-sela ceritanya aku menanyakan satu hal.

“Kapan kau akan menginjak bumi kasihku?”

Ia hanya terdiam, tapi setelah itu ia menjawab diimbangi dengan tertawa “Saat Tuhan, memberikanmu pekerjaan, memberikanmu sebuah kewibawaan, setelah itu aku akan menginjak bumi Gusti, dan hidup bersama denganmu.”

“Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi.”

Aku mengalihkan pembicaraan, takut membuat rinduku semakin hilang.

Tiga hari berselang, ia kembali mengepakkan sayapnya lagi dan bergegas melanjutkan tugasnya sebagai seorang pramugari. Mengepakkan sayap dan mengarungi luasnya langit yang tak kan pernah habis. Sementara aku, masih dalam pesakitan bumi, menyelami lautan dan mengembara di tengah gurun kehidupan. Cintaku padanya bagai bumi dan langit, bersatu namun tak diperkenankan menyatu, karena kalau langit dan bumi bersatu maka yang terjadi adalah kehancuran.

Kehancuran, kehancuran yang senyatanya adalah kami sepasang kekasih yang berbeda kasta. Ya, Bali masih menyimpan kegelisahanya, walaupun dewasa ini kasta tak kan jadi masalah tapi hal tersebut tak kan disetujui oleh para tetua. Mereka yakin kalau perkawinan sesama kasta akan menghasilkan keturunan yang mulia dan menjadi kebangaan keluarga.

Dulu orang berkasta adalah orang yang dipenuhi dengan kemewahan, dipenuhi dengan keagungan, dulu, wangsa Kesatria, wangsa yang berkasta menjadi seorang polisi, petinggi negara, pejabat. Tapi sekarang, di tahun 2015 ini, semua serasa terbalik. Tuhan telah membalik roda kereta kudanya. Kaum Sudra yang tak berkasta kini membalaskan dendamnya.

Sekarang merekalah yang kebanyakan meduduki kursi pejabat, sebagai seseorang yang disegani dan dipandang di masyarakat. Dan dia, dia, gadis yang kucintai, yang menelan rinduku ini adalah kaum sudra dan menjadi tulang punggung di keluarganya menjadi seorang pramugari. Sementara aku wangsa ksatria, yang hingga kini luntang-lantung mencari pekerjaan yang entah kapan akan mendapatkannya.

Rasa sakit ini menusuk piluku, tapi keajaibanpun muncul. Akhirnya setelah 3 tahun aku menapaki krikil berduri ini. Aku akhirnya medapatkan pekerjaan menjadi tenaga pengajar di Sekolah Menengah Atas dekat dengan rumahku. Aku bersyukur kepada Tuhan walau aku sedikit kecewa. Seminggu kemudian, Ayah Iluh menemuiku dan mengantarkan kabar yang menggembirakan kepadaku, katanya.

“Gusti Ngurah! Besok Iluh akan pulang, dan dia ingin membicarakan sesuatu dengan Gusti Ngurah, Penting katanya.”

“Baik, Pak Yan!”

Keesokan harinya dengan rasa gembira aku menyambut kedatangan gadis rinduku di bandara. Sesampainya di bandara, tak perlu waktu lama untuk menunggunya. Senyum manisnya sudah menggiringku untuk memeluknya dengan erat. Tak kusadari Pak Yan berada di belakangku bersama istrinya. Dan tiba-tiba berkata.

“Ayo, apa yang kalian tunggu lagi, kami sudah tidak sabar untuk menggendong cucu”

“Iya Gusti, sekarang Gusti sudah memiliki pekerjaan, tiang akan mendampingi Gusti sampai maut memisahkan kita.”

Sekarang giliranku yang terdiam mendengarkan pernyataanya. Lalu pertanyaan yang selalu aku tanyakan kembali aku tanyakan padanya.

“Ketika kau sudah mendampingiku, akankah kau menginjak bumi dan berhenti mengudara?”

Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Aku tahu ia berbohong pada dirinya sendiri, karena jarang sekali ia kulihat tersenyum selebar itu.

Sesampainya di rumah, aku menyampaikan suatu hal menggembirakan kepada keluargaku tapi bagi keluargaku hal tersebut bukanlah hal yang menggembirakan. Kabar gembiraku tak lebih dari penghinaan terhadap keluarga. Aku tak habis pikir, dahulu Iluh sangat disegani oleh keluargaku tapi kenapa sekarang mereka sangat membencinya. Aku tak habis pikir, aku tak habis pikir.

“Gusti Ngurah Bhakti Yuda, apakah kamu sudah mempertimbangkan semua hal yang kamu sampaikan tadi?”. Ibuku membentak.

“Sudah matang sekali, Biang.”

“Dia itu seorang sudra, seorang gadis jabe, tak pantas bersanding dengan wangsa kesatria seperti kita, lagipula ia juga seorang pramugari, dan dia bukan istri yang pantas untukmu, dia akan meninggalkanmu di bumi sedangkan ia akan kembali ke kahyangan.”

Ibuku mengomel seakan-akan bercerita tentang cerita kisah Raja Pala dengan Ken Sulasih. Kisah cinta seorang bidadari yang berasal dari kahyangan dengan seorang pemuda yang berasal dari bumi. Tapi, yang aku takutkan adalah, cerita tersebut akan mirip dengan kisahku bersama Iluh. Tapi akan kujalani walau dosa akan menimpa keluarga kecilku bersama Iluh.

***

Upacara pernikahan begitu sepi, yang terdengar bukanlah riuh para undangan tapi yang terdengar hanyalah merdunya suara angklung yang mengiringi upacara pernikahan kami.

Sebulan sudah aku lewati bersama Iluh. Akhirnya aku akan menjadi seorang ayah, akhirnya akan ada seorang putra atau putri dalam kehidupan kami. Sembilan bulan aku menunggu dan berharap. Akhirnya lahirlah seorang putra. Wajahnya mirip sekali dengan ibunya, hanya alis matanya saja menyerupai alis mataku. Kulitnya putih secerah ibunya. Oh, betapa bahagianya hatiku kala itu. Hidupku penuh warna setiap aku bermain bersama anaku.

Kini usia anaku genap 5 tahun dan ia harus bersekolah. Tabungan istriku semakin menipis, dan gajiku sebagai guru honorer tak kan mampu membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi. Kegembiraan keluarga kecil kami serasa musnah diterpa ombak pasir, tak menyegarkan, hanya menyakitkan. Kini Iluh yang kukenal tak lagi seperti Iluh yang dulu, yang setia melayani suami di kala sedih maupun senang. Sampai akhirnya ia membungkus sebuah kain lalu memasukannya ke koper dan berkata.

“Aku sudah bosan, kita telah berdosa mengingkari adat dan aku telah berdusta kepada diriku sendiri.”

“Apa maksudmu?”

“Sekarang, ternyata uang adalah segalanya bagi kita, bukan berarti aku tak cinta kepadamu tapi, kita harus berusaha mencari uang sendiri-sendiri.”

“Jangan katakan kau akan meninggalkan bumi lagi, Luh.”

“Hanya dengan begitu Jik, kalau kita punya uang, kita bisa makan, bisa menyenangkan hati kita, bisa membiayai sekolah anak kita, dan bisa bahagia.”

Kalimat terakhir dari Iluh sangat menyayat hatiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyuruhnya berhenti. Ia mengudara lagi, meninggalkan Aku, dan anak kami. Berat hati ini merelakannya pergi hanya untuk selembar kertas kecil berwarna merah. Sekarang Ken Sulasih telah meninggalkan suami dan anaknya di Bumi, dan memilih untuk berada dalam perut burung raksasa itu, pergi ke langit.

 

Tags: Cerpen
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Reting Kiri Belok Kanan itu Biasa, Ibu Baca Puisi itu Luar Biasa

Next Post

Mereguk Toleransi di Wilayah Tanpa Batas – Catatan Seorang Jurnalis

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Mereguk Toleransi di Wilayah Tanpa Batas – Catatan Seorang Jurnalis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co